KAITO Chapter 1

Title: KAITO

kaito

Author: Nine-tailed Fox

Cast: Kim Jongin, Do Kyungsoo

Other Cast: Oh Sehun, Lu Han

Genre: romance, comedy, sci-fi

Length: 1 of ?

Rate: 15+

Summary: –

Disclaimer: –

 

Terinspirasi dari…udah pada tau dong~ Yup! Benar sekali, DETECTIVE CONAN.

 

Kaido pertama saya, semoga memuaskan!

 

Kalo ada beberapa bagian yang sama dengan kisah lain, atau kalian merasa pernah membaca cerita ini sebelumnya, itu hal yang tidak disengaja…mungkin saya juga pernah membaca cerita itu sebelumnya, jadi terinspirasi secara tidak langsung.

 

Okeeee?

Lanjut mau?!!

Pegangan!

Pasang sabuk pengaman!!

 

ME-LUN-CUR!

 

… … … … …

 

Kabarnya, ia akan ditunangkan dengan seorang anak dari keluarga terpandang…terpandang dalam segala hal tentunya. Kedudukan tinggi, relasi luas, harta melimpah serta menjunjung tinggi nilai kebangsawanan. Jongin tak habis fikir dengan ideology kedua orang tuanya yang begitu kuno dan ketinggalan zaman, mungkin mereka fikir waktu tidak bergulir dan tetap berputar pada saat ketika keluarga kerajaan masih Berjaya, tinggal disuatu kastil megah, melakukan perjalanan dengan kereta kencana yang ditarik oleh kuda putih, berkirim surat melalui burung merpati, dimana para rakyat sebagian besar masih bermata pencaharian dengan bertani, menggunakan system barter untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, menulis dengan tinta dan bulu, lalu—

 

Okay, yang pasti ibunya telah menetapkan tanggal pertunangan bahkan sebelum ia sempat mengibarkan bendera perlawanan.

 

Namanya Do Kyungsoo. Anak bungsu dari empat bersaudara dimana ketiga kakaknya yang merupakan lelaki, telah meraih sukses dan mengharumkan nama keluarga. Dilihat dari potret yang diberikan sang bunda kepadanya, paras Kyungsoo lebih cocok terpasang pada tubuh seorang wanita. Ia manis— sangat manis, ehem, kulitnya putih bersih tanpa noda, bentuk bibirnya sempurna dan berwarna merah pekat, senyumnya sangat alami dan tulus…juga, kedua matanya yang sanggup menandingi indahnya bulan purnama.

 

Perlu Jongin akui, ia pernah menghabiskan waktu tiga puluh menit hanya untuk memandangi foto Kyungsoo. Beruntunglah sang bunda tak menangkap basah dirinya ketika itu.

 

“Anak orang kaya, bukan berarti anak manja dan egois. Kau terlalu banyak menonton drama romantic, huh? Sempit sekali pemikiranmu.”Sehun mencibir setelah mendengar keluh kesah Jongin yang hampir membunuh 60 menit waktu kerjanya.

 

“Tapi setidaknya, itu yang banyak berlaku bukan? Mana mau aku memiliki istri seperti itu.”

 

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Mengancam bunuh diri agar kedua orang tua-mu membatalkan perjodohan ini?”

 

“Paling tidak, aku harus tahu orang seperti apa calon tunanganku itu.”

 

“Caranya?”

 

“Akan kufikirkan.”

 

Sehun mendengus sambil melirik Jongin sekilas, teman baiknya itu masih nyaman duduk dikusen jendela dan memandang keluar dengan tatapan merana, seolah dunia akan kiamat esok hari. Ia berdiri dari kursinya untuk mengambil sebuah tabung ukur dari dalam lemari, kembali kemejanya kemudian memindahkan sebuah cairan merah berasap dari tabung ukur lain kedalam tabung ukur yang baru saja diambilnya.

 

Pekerjaan Sehun merupakan seorang dokter disebuah perusahaan farmasi yang memproduksi berbagai jenis obat. Kesehariannya, ia memang bekerja menggunakan jas putih layaknya seorang professor, maka jangan heran jika pemuda tampan ini kerap kali melakukan percobaan serta meracik benda aneh berbahan dasar kimia dan herbal.

 

Tak lama kemudian, Sehun memutuskan keluar laboratorium tempatnya berada saat ini guna mengambil keperluan lainnya diluar.Ia sengaja tak mengatakan apapun, karena fikirnya…toh saat ini Jongin tengah berada diluar bumi dan tak akan mengubrisnya.

 

“Sehun, kau punya permen? Aku butuh makanan manis untuk mengubah suasana hati.”

 

Jongin, dengan tingkah seolah dialah presiden Korea Selatan, berbicara tanpa sudi mengalihkan perhatiannya dari pemandangan diluar jendela.Namun tentu saja tak ada sahutan untuknya.

 

“Sehun, kau dengar—“ Jongin berhenti bersuara ketika menyadari bahwa ia hanya seorang diri diruangan ini, teman baiknya yang cinta mati terhadap benda kimia itu telah meninggalkannya seenaknya.

 

Pemuda itu mendengus kesal seraya merutuk dalam hati, berdiri dari tempatnya lalu menelusuri seisi ruangan, mencari-cari benda manis yang mungkin saja tersimpan disuatu tempat. Ia lihai sekali membuka satu persatu laci, seolah diantara dirinya dan Sehun tak ada yang namanya privasi sama sekali. Sebenarnya, mereka memang sahabat sehidup semati sejak usia lima tahun.

 

Raut wajahnya berubah sedikit cerah ketika menemukan toples berisi penuh bola-bola Kristal kecil aneka warna, dalam sebuah lemari kaca bersama hasil percobaan Sehun lainnya.Dilihat dari wujudnya, sudah pasti benda ini lebih pantas disebut permen, mengapa teman ajaibnya itu menyimpannya didalam sini?

 

Siapa peduli, rasanya pasti enak…Jongin mengambil satu yang berwarna merah lalu melemparkannya kedalam mulut.Mengulumnya sampai benda itu lumer menjadi air dan meleleh melintasi tenggorokannya.

 

Jongin terbatuk kecil, lelehan permen itu membuat tenggorokannya terasa gatal.Ia terbatuk lagi, rasa gatal itu berubah menjadi panas…tenggorokannya seperti didiami sebuah bara api kecil.

 

“Khhhh~”

 

Ia mengusap lehernya seraya terus mengerang. Kedua matanya mulai menyipit akibat rasa tak nyaman diarea pernafasannya.Jongin mengambil sebotol air dan meneguknya, namun air tersebut malah membuatnya tersedak dan terbatuk semakin parah.

 

“Arrrhhhh~ arrgghh!!”

 

.

.

.

 

Sehun terbelalak tepat ketika ia membuka pintu dan memasuki ruang laboratorium, melihat temannya, Kim Jongin terkapar dilantai dalam kondisi seperti tengah menahan sakit yang teramat sangat. Erangan dan jerit kesakitan tak putus terlontar dari mulutnya.

 

“Jongin! Ada apa denganmu?! Kau baik-baik saja?!!”Sehun menghampiri Jongin dan mengangkat tengkuknya serta mengguncangkan tubuh temannya itu dengan panic.

 

Pemuda yang tengah kesakitan itu menggeleng dengan susah payah “A-ku…tidak tahu, aaakh…sekujur tu-tubuh…ku, rasa…rasanya pa-nas…ARRGHH!”

 

“Jongin, bertahanlah!!!”

 

Sehun panic bukan main, ia menatap tajam seisi ruangan dengan harapan dapat menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengurangi rasa sakit yang Jongin alami. Tatapannya lalu terpaku pada benda yang seharusnya ia simpan rapat dalam lemari kaca, kini berada diatas meja kerjanya…sebuah toples berisi bola-bola Kristal aneka warna.

 

Bangkai busuk, ia memaki dalam hati.

 

Sebodoh apa dirinya sampai bisa lupa mengunci pintu lemari.

 

“ARRGGHH!”

 

Tubuh Jongin mengucurkan peluh derasanya bukan main. Nafas Sehun memburu karena panic, setelah menelan liur pahit…pemuda berkulit lebih putih dari Jongin itu memutuskan untuk meletakan tubuh sahabatnya begitu saja dilantai, lalu perlahan berdiri dan memundurkan langkah dengan gerakan lamban. Layaknya slow motion dalam film.

 

Tidak ada cara lain, ucapnya dalam hati setelah kembali menelan liur.

 

Jongin membuka matanya perlahan ditengah rasa sakit yang menerjang sekujur tubuhnya, samar-samar ia dapat melihat Sehun melangkah mundur menjauhinya. Nafasnya semakin sulit ditarik, lehernya seolah tercekik oleh sesuatu tak kasat mata…apakah seperti ini rasanya menjemput ajal?

 

Satu tarikan nafas ia ambil dengan susah payah…sebelum menutup kedua matanya dengan rapat.

 

.

.

.

 

Hal pertama yang ia tangkap setelah kedua kelopak matanya terangkat adalah, samar-samar sosok Sehun yang berdiri didepan lemari kaca seraya mengamati sebuah toples berisi benda aneka warna ditangannya, oh~ mungkin saja toples permen yang dimakannya beberapa waktu lalu. Sehun berdiri cukup jauh darinya, dan dari sudut pandang seperti ini…Jongin yakin jika dirinya tengah berbaring, disofa karena bagian bawah tubuhnya tidak terasa dingin.

 

“Eeengh~” erangnya seraya mengurut kening.Ia memaksakan diri untuk mendorong tubuhnya menjadi posisi duduk.

 

“Kau sudah sadar?”

 

Jongin menoleh dan menatap Sehun dengan tatapan sayu, kesadarannya belum kembali sempurna.

 

“Apa yang terjadi padaku?” tanyanya dengan suara parau, aneh sekali suaranya sekarang.

 

Sehun tak langsung menjawab, melainkan mengangkat kedua bahunya seraya melempar pandang kearah lain, ia nampak gugup “Ehm~ yah…kau pingsan.”

 

“Pingsan?”

 

“…Begitulah.”

 

Jongin tak mau repot memikirkan alasan dibalik sikap aneh Sehun saat ini, kepalanya masih terlalu pusing untuk itu. Ia membutuhkan sedikit peregangan tubuh untuk membuyarkan pening diotaknya. Digerakan kaki-kainya memijak lantai.Dan Jongin tertegun.

 

Hanya bayangannya saja atau…kakinya memang sekecil, sekurus dan sependek ini?

 

Ia menoleh pada Sehun, kepalanya sampai menegadah…Jongin semakin bingung. Sejak kapan Sehun jadi raksasa?

 

“Err~ Jongin…kau…baik-baik saja?”

 

Tidak, ia tidak baik-baik saja! Semua nampak aneh! Bahkan sikap Sehun, yah meski temannya memang aneh…namun aneh kali ini berbeda, sangat berbeda! Seolah ada sesuatu yang tak berjalan sebagaimana seharusnya.

 

Jongin memandang kedua tangannya yang kini nampak begitu mungil, seperti anak kecil…jemarinya yang dulu kokoh dan panjang, kini kecil dan pendek.Telapak tangannya yang dahulu lebar dan mampu menangkup apapun, kini nampak sempit dan ringkih.

 

Kedua bola mata Jongin kini nampak hendak melompat keluar dari tempatnya.

 

Ia melihat kakinya, masih kecil…celana yang ia kenakan nampak begitu kebesaran. Ia melihat lagi tangannya, masih kecil juga…lingkar lengannya kini terlihat dua kali lipat lebih lebar.

 

Tanpa memedulikan Sehun yang berusaha menenangkannya, Jongin berdiri dari sofa dan berlari kehadapan sebuah lemari kaca.Ia menatap bayangan dirinya yang terpantul disana.

 

Bukan dirinya!!

 

Melainkan bayangan seorang anak kecil. Tapi tepat berada dihadapannya!

 

“Demi malaikat maut!!!”

 

Jongin meraba wajahnya.Dagunya, hidungnya, pipinya, mulutnya, matanya, keningnya.

 

Kedua matanya semakin melebar.

 

“APA YANG TERJADI PADAKU?!!”

 

.

.

.

 

Sehun masih mengamati bola-bola aneka warna dalam toples ditangannya.Benda yang sebenarnya bukanlah permen melainkan hasil percobaan barunya.

 

Formula pengecil ukuran tubuh.

 

Berbentuk bulat seperti Kristal bening, beragam warna dan dalam ukuran kecil…mirip seperti obat atau permen. Meski bentuknya menarik, namun bukan berarti rasanya pun akan enak dan manis, Jongin lah percobaan pertamanya…jujur saja. Selama ini Sehun sama sekali belum pernah melakukan percobaan kepada makhluk hidup, kebetulan saja Jongin memakannya. Dan hasilnya—

 

“Bisa jelaskan padaku.Tuan-Oh-Se-Hun?”

 

Suara asing namun sesungguhnya amat ia kenal itu mengharuskannya berbalik. Kedua belah bibirnya segera saja mencerminkan perasaan geli, lewat senyum tipisnya yang meledek.

 

Dihadapannya kini, adalah seorang Kim Jongin…dalam wujud anak-anak setelah memakan sebutir formula pengecil ukuran tubuh ciptaannya.Ia baru saja berganti pakaian, mengenakan pakaian anak kecil yang dibeli Sehun secara kilat di toko pakaian anak terdekat. Hanya berupa kaus putih bergambar teddy bear, celana jeans biru tua, sepatu kets merah serta jaket kaus oranye, ah~ dan jangan lupakan sebuah topi rajut merah dikepalanya.

 

“Wah, percobaanku berhasil.Kau benar-benar menjadi anak kecil.” tanggap Sehun seraya mengusap dagunya dengan menatap kagum Jongin versi anak kecil dihadapannya.

 

“Jangan banyak bicara! Cepat ubah aku kembali ke ukuran semula!” hardik Jongin murka, sebenarnya sejak tadi wajahnya sudah menampilkan raut kemarahan, Sehun saja yang tak memedulikannya sama sekali.

 

Sehun menghela nafas mendengar permintaan temannya itu, ia meletakan toples berisi benda ciptaannya kembali kedalam lemari, lalu duduk dimeja kerja dalam posisi berhadapan dengan kursi yang entah sejak kapan juga telah diduduki Jongin.

 

“Itulah masalahnya.”

 

“Apa?”

 

“Aku belum berhasil menemukan formula agar tubuhmu kembali ke bentuk semula.”

 

Hujan turun deras, petir menggelegar menyambar-nyambar, badai salju, badai matahari, pemanasan global…semua fenomena alam tersebut bercampur menjadi satu didalam kepala Jongin. Rasanya sekarang ini, ia begitu ingin menceburkan diri ke kawah merapi karena mendapati kenyataan bahwa dirinya tak dapat kembali ke wujud aslinya sebagai lelaki dewasa.

 

Mulut mungil Jongin terbuka lebar.

 

Ia segera melompat kearah Sehun dan mencengkram kerah kemeja ditubuh sahabatnya itu kuat-kuat dengan perasaan geram.

 

“A-pa-ka-ta-mu?!!”

 

“Te-tenang dulu Jongin.” Gugup Sehun seraya menahan tubuh kecil Jongin yang semakin memojokkannya.

 

Akhirnya setelah beberapa menit terbuang sia-sia, Jongin bersedia kembali duduk dikursinya dengan tenang. Meski dengan bersendekap dan masih melayangkan tatapan mautnya pada sang sahabat baik.

 

Sehun berdeham kecil “Jadi begini…kau belum dapat kembali ke bentuk semula, bukannya tidak bisa kembali.Aku hanya belum menemukan penawarnya, okay?”

 

“Hanya kau bilang?!!Apa kau bisa menjamin tubuhku dapat kembali kebentuk semula, utuh tanpa cacat sedikit pun?!!!”

 

Satu yang kini menjadi orang yang lebih tua secara teknis itu bersendekap, menunduk dengan kedua alis mengerut tanda berfikir. Sikap Sehun seperti orang tua, Jongin fikir.

 

“Sepertinya aku bisa membuat formula baru sebagai penawarnya, karena tidak mungkin juga kubiarkan kau terus menjadi anak kecil.” ucap Sehun −sedikit− meyakinkan.

 

“Kalau begitu cepat buatkan detik ini juga!!”

 

“Wah, adik Jongin lucu sekali kalau sedang marah.”Sehun mencubit gemas salah satu pipi Jongin.

 

“Mau mati kau, hah?!!” Jongin bersiap menerjang kembali tubuh Sehun, dan untuk kali ini…ia tak ragu lagi untuk menghajar teman baiknya itu sampai tewas.

 

“Baiklah, baiklah.Maafkan aku, maaf…tenang dulu.”

 

Suasana kembali damai.

 

Sehun berdiri dari kursinya.

 

“Baiklah kalau begitu.”

 

Kemudian meraih sebelah tangan Jongin dan menarik teman kecilnya itu turun dari kursi. Jongin dalam tubuh anak kecil hanya menatapnya –seraya menengadah− dengan penuh tanya…dan harap semoga Sehun segera membuat penawar agar ia dapat memperoleh kembali tubuh dewasanya yang seksi dan menawan.

 

“Ayo kita pergi jalan-jalan untuk merayakan keberhasilan percobaanku!” seru Sehun penuh semangat.

 

Tanya Tanya dikepala Jongin semakin menumpuk.

 

“Ha-haa?”

 

.

.

.

 

Jika ditanya siapa orang nomor satu yang paling membuatnya kesal saat ini.

Jawabannya adalah…Oh Sehun.

 

Jika ditanya siapa orang nomor satu yang paling ingin ia lemparkan guna-guna.

Jawabannya adalah…Oh Sehun.

 

Jika ditanya siapa orang nomor satu yang paling ingin ia kuliti hidup-hidup.

Jawabannya adalah…Oh Sehun.

 

Jika ditanya siapa orang nomor satu yang akan ia biarkan begitu saja tanpa ditolong saat terjadi tsunami.

Jawabannya adalah…Oh Sehun.

 

Demi para leluhur, umpat Jongin dalam hati.

 

Haruskah temannya itu bersenang-senang diatas penderitaan temannya sendiri, mengabaikan fakta bahwa dialah yang membuat dirinya merana seperti ini? Terperangkap dalam wujud seorang anak kecil yang manis, lucu, imut dan menggemaskan −ehem−?

 

Harus ia akui memang, Sehun sungguh jenius melebihi semua nerdy yang ada dialam semesta. Formula pengecil ukuran tubuh kedengarannya memang seperti lelucon belaka, namun Jongin kini mengalaminya sendiri, secara langsung…tubuhnya menyusut, kembali ke ukuran anak usia tujuh tahun dan sosoknya saat ini, sama persis dengan sosoknya ketika ia masih duduk dikelas dua sekolah dasar, imut, lucu dan menggemaskan −ehem−.

 

Tapi ini bukan saat yang tepat untuk melayangkan pujian pada teman jenius sekaligus bodohnya itu…

 

“Nah, Jongin temanku yang setia dan berhati mulia. Silahkan pesan makanan apa pun yang kau inginkan…anggap saja permintaan maaf dariku sekaligus ucapan terima kasih karena kau telah bersedia menjadi bahan percobaanku yang pertama.”

 

Jongin bersumpah, hanya orang dungu lah yang dapat memperlihatkan senyum seperti senyum diwajah Sehun saat ini.Kalau tidak ingat hubungan pertemanan mereka yang telah terjalin begitu erat melebihi Patrick dan Spongebob, Jongin sudah sedari tadi melayangkan pukulan mautnya pada orang dungu yang duduk dihadapannya ini.

 

“Sudah, sudah…jangan berwajah menyeramkan seperti itu, adik Jongin.” ujar Sehun yang akhirnya menyadari bahwa sejak tadi Jongin menatapnya marah “Ah, benar juga…aku ingin dengar kau memanggilku ‘Sehun-Hyung’ coba lakukan.”

 

“Che! Dalam mimpi-mu saja Tuan-Jenius-tapi-bodoh.” maki Jongin seraya membuka buku menu dengan gerakan kasar.

 

Saat ini mereka tengah berada disebuah restoran Western Styleyang mana, lebih banyak dikunjungi oleh anak muda seperti siswa SMA, mahasiswa dan para eksekutif muda. Tempat yang sesungguhnya merupakan favorit Sehun dan Jongin ketika SMA dahulu, ketika mereka berdua lebih sering menghabiskan waktu dengan bermain dan bersenang-senang, pesta, kencan buta dan hal lainnya yang menguras waktu serta uang.

 

Sehun melihat sekeliling tempat yang belum banyak berubah, ia bahkan masih dapat menemukan coretan iseng yang dibuatnya bersama Jongin disudut meja yang mereka tempati sekarang.

 

Pemuda berkulit putih itu tersenyum, saat ketika mereka belum disibukan akan pekerjaan dan beban pikiran menyangkut kehidupan, sungguh sangat menyenangkan. Sekarang?Ketika tersadar, Jongin hanya tinggal selangkah menemukan pendamping hidupnya.

 

“Aku pesan Double Cheeseburger, kentang goreng dan BlackCoffee.” ucap Jongin seraya menutup buku menu lalu mendorongnya kearah Sehun, mengenai tangannya dan membuat teman baiknya itu sedikit tersentak.

 

“Hei, tidak baik bagi anak kecil meminum kopi.Ganti, Milkshake saja…” putus Sehun seenaknya, tanpa mengindahkan tatapan membunuh seorang anak kecil dihadapannya.

 

Setelah itu, Sehun memanggil pelayan dan menyebutkan apa saja pesanan mereka. Ia benar-benar mengganti kopi pesanan Jongin dengan milkshake rupanya. Sang pelayan pun pergi setelah mengangguk paham dan berkata bahwa pesanan mereka akan segera diantar.

 

“Sudah lama sekali, kau ingat tempat ini, Jongin?”Sehun memulai pembicaraan normal, seraya mengamati sekeliling yang cukup ramai pengunjung.

 

“Yah, begitulah.” jawab Jongin seadanya, entah sejak kapan tatapannya lurus memandang keluar jendela.

 

Menyadari hal tersebut, Sehun menghela nafas pelan “Kau masih memikirkan calon tunanganmu itu?Siapa namanya— biar kutebak…K-Kyung…Kyungjoo?”

 

“Kyungsoo. Do Kyungsoo.”

 

Whoever.Jangan-jangan…kau telah jatuh cinta lebih dulu padanya.” goda Sehun yang langsung membuat Jongin terbelalak menatapnya.

 

“Apa katamu?!”

 

“Ck, ck, ck.” Sehun menggeleng pelan lalu bersendekap “Kau benar-benar anak kecil yang tidak ada manis-manisnya sama sekali…”

 

Sudah bersalah, meledek pula…itulah Sehun.Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah Jongin.

 

Pelayan pun datang membawakan pesanan, mencegah Jongin bertindak anarkis sekaligus menyelamatkan nyawa seorang Oh Sehun.

 

“Aku benar-benar penasaran.”

 

“Soal apa?”

 

“Do Kyungsoo.”

 

Sehun menghela nafas setelah menelan makanannya “Tenang saja, aku akan membantumu.”

 

.

.

.

 

“Biarkan aku berjalan sendiri!!”

 

“Tidak bisa, anak kecil tidak boleh dibiarkan jalan sendiri begitu saja, bagaimana kalau tersesat?” Sehun menggandeng tangan Jongin, sementara sang pemilik tangan semakin bersungut-sungut tak karuan. Sehun benar-benar mengerjainya habis-habisan.Awas saja.

 

Seusai makan, keduanya –hanya Sehun− memutuskan untuk berjalan-jalan menghabiskan waktu disekitar daerah pertokoan. Jongin berkali-kali mengingatkan Sehun mengenai jam kerjanya yang seharusnya masih harus berlanjut, dengan kata lain temannya itu harus segera kembali ke laboratorium…sebenarnya, Jongin ingin agar Sehun cepat membuat formula penawar untuknya, ia tidak tahan…bukan karena berwujud anak kecil, melainkan karena tidak tahan dikerjai Sehun terus-terusan.

 

Namun, Sehun yang keras kepala mana pernah peduli?Ia tak pernah bosan meminta Jongin kecil mencoba barang dagangan yang dijual pedagang kaki lima ditepi jalan. Topi binatang, kacamata berbentuk hati, bahkan pakaian princess untuk anak perempuan.

 

“Dasar maniak!!” maki Jongin frustasi ketika Sehun memasangkan bando dengan pita besar warna merah muda dikepalanya.

 

Lelah berjalan, ditambah memasuki tengah hari dimana cuaca semakin panas. Keduanya memutuskan untuk rehat disebuah taman yang kebetulan kosong.

 

“Aku beli minum dulu, jangan kemana-mana.” titah Sehun setelah Jongin menempatkan diri sebuah bangku taman.

 

“Ok.”

 

“Jangan bicara pada orang asing, jangan mau diajak pergi orang asing, jangan pergi jauh-jauh…jangan buat Sehun-hyung cemas, ok?”

 

“Mati saja kau!!”

 

Setelah itu, Sehun pun berlari meninggalkan Jongin seraya memegangi perutnya yang terasa luar biasa geli akibat menahan tawa.

 

Meninggalkan area taman, Sehun memperlambat langkah menuju mesin penjual minuman otomatis. Ia mengeluarkan beberapa keping koin dari saku celananya dan memasukkannya kedalam slot mesin. Memilih satu kaleng cola untuknya dan satu kaleng jus apel untuk Jongin.

 

Sampai sebuah suara lembut menghentikan gerak tubuhnya.

 

“Sehun?”

 

Sang pemuda tampan menoleh dan detik selanjutnya, segera saja tubuhnya membeku sempurna…kedua matanya nampak tertegun.

 

“Luhan?”

 

.

.

.

 

Waktu berjalan dengan lambat seperti siput bagi Jongin.Ia sudah menyia-nyiakan waktunya yang berharga selama berjam-jam ditaman hanya untuk menunggu seorang Oh Sehun, teman baiknya tersayang sekaligus terjelek.

 

Sebenarnya, apa saja yang Sehun lakukan? Ia membeli minuman dimana? Kutub utara, sekalian bercengkrama dengan kerabat dekatnya yang sama-sama bertubuh putih yaitu beruang kutub?

 

Jongin menghela nafas, helaan nafas terpanjang yang ditariknya seharian ini.Sepulangnya nanti, ia benar-benar akan melempar Sehun ketempat pembakaran sampah. Sialan temannya itu, membuatnya menunggu selama lebih dari dua jam…dalam tubuh anak kecil pula. Apa mungkin ia bertemu Luhan tanpa sengaja? Luhan…pemuda manis incaran Sehun yang merupakan rekan kerja dikantornya− haha…mustahil, seingatnya Luhan tengah melakukan perjalanan bisnis ke pulau Jeju. Mustahil, mustahil.

 

Jadi?

Intinya, Jongin sudah tidak peduli mau kemana lenyapnya makhluk bernama Oh Sehun itu…ia telah siap dengan rencana spektakulernya untuk membumihanguskan teman tapi ‘perusak kehidupannya’ tersebut.

 

Seseorang melangkah mendekat dan merendahkan tubuh dihadapan Jongin yang kini tengah berjongkok seraya menulis-nulis tanah dengan sebatang ranting.

 

“Sedang apa?”tanya orang tersebut.By the way, suaranya lembut sekali.

 

Jongin mengabaikannya saja…melirik pun tidak, ia hanya membisu. Kesal.Bibirnya cemberut, wajahnya bersungut-sungut.

 

“Kenapa kau hanya sendiri?Tidak bersama papa dan mama?”

 

Kenapa orang ini bertanya dengan nada suara yang begitu lembut dan penuh perhatian? Meski sedang kesal, Jongin jadi tidak tega memarahi atau membentaknya, karena jujur saja…ia amat sangat membutuhkan pelampiasan rasa kesal saat ini. Tidak, ia hanya membutuhkan Sehun…ia butuh Sehun untuk disiksa.

 

“Apa kau tidak pegal?Bagaimana kalau kita duduk saja?”

 

Sekali, dua kali, tiga kali…Jongin masih bertahan untuk diam, ia masih bisa sabar, ia masih dapat menahan diri untuk hanya mengutuk Sehun dalam hati dan tidak langsung mengamuk untuk melampiaskan amarahnya terhadap orang bersuara lembut ini.

 

Okay.

 

“Hei, apa kau sedang menunggu seseorang?”

 

Tiga kali, okay. Empat kali, no way!

Jongin geram.Ia melempar begitu saja ranting ditangannya dan ia sudah siap memarahi orang dihadapannya ini—

 

“Beris—!!”

 

−−Sampai ketika ia mengangkat kepala dan menemukan wujud sesungguhnya, sosok yang sedari tadi sibuk mencampuri urusannya.

 

Kedua mata Jongin seolah hendak melompat keluar.Nafasnya tercekat.Mulutnya terbuka dan…darah dengan cepat naik kekepalanya seperti cairan merah dalam thermometer yang melesat naik ketika benda itu dicelupkan kedalam air panas.Ia merasa seperti teko yang mendidih. Wajahnya panas.

 

“Do…Kyungsoo!!!” pekiknya tanpa sadar.

 

Oh my God, jadi maksudnya…orang yang sedari tadi sibuk merecokinya adalah…Do to the Kyungsoo?

 

“Hee~ bagaimana kau bisa mengetahui namaku, adik kecil?” tanya Kyungsoo dengan kedua mata purnamanya yang berbinar penuh rasa ingin tahu.

 

Jongin meneguk liur paksa.Ia masih tak sanggup memercayai bahwa yang berada dihadapannya saat ini adalah Do Kyungsoo. Calon −pasti− tunangannya.Seseorang yang selama ini hanya dilihatnya dari selembar foto tanpa pernah bertatap muka langsung.

 

Ia mengakui kalau sosoknya sebagai anak kecil saat ini, sangat imut, lucu dan menggemaskan −ehem−. Namun melihat sosok Kyungsoo secara langsung seperti ini, membuatnya berkecil hati…pasalnya Kyungsoo jauh lebih manis dari yang ia lihat difoto. Wajahnya benar-benar lugu, senyumnya cerah, suaranya lembut dan…bibirnya −ehem− sangat menggiurkan.Lihat saja sikapnya yang kini tengah berjongkok seraya menopang dagu dengan kedua tangan.

 

Oh, ibu…manis sekali tunangan yang kau pilihkan untuk anakmu yang berbakti ini, kata hati Jongin terharu.

 

“Hei, adik kecil.Bagaimana kau bisa tahu namaku?Kau ini…apa sebenarnya penguntit?” goda Kyungsoo seraya mencubit sebelah pipi Jongin.

 

Jantung Jongin kini beralih fungsi menjadi drum.

 

Sosok yang kini berwujud bocah kecil itu segera menundukan kepala. Disamping mati-matian menahan malu…ia bingung juga, harus berkata apa. Mustahil berkata kalau sebenarnya ia adalah Kim Jongin, tunangannya yang jadi mengecil akibat tanpa sengaja mengkonsumsi formula aneh ciptaan temannya.

 

Bukan karena takut dianggap gila, tapi karena takut Kyungsoo tidak mau menjadi tunangannya.

 

“Ka-karena aku pintar!Aku tahu segalanya!!” Jongin reflex mengambil sebuah batu dan mulai menulis lagi diatas tanah. Sungguh ia gugup!

 

“Uwaaa~ anak yang lucu sekali!!” pekik Kyungsoo senang, ia mengusap puncak kepala Jongin penuh kasih. Sepertinya ia menyukai anak kecil, sifatnya sungguh menghangatkan hati.

 

Jongin merasa bibirnya mengeriting layaknya mie instan yang belum direbus. Mengurung rapat seluruh suara yang seharusnya dapat ia serukan. Ia ingin menangis— tidak, jangan! Ia bukan anak kecil, apalagi anak perempuan cengeng…yah, setidaknya jiwanya bukan jiwa anak-anak.

 

Tapi sungguh.Demi para dewa dilangit, tolong aku Sehun!Pekik Jongin dalam hati.

 

“Siapa namamu, adik lucu?”Kyungsoo menarik dagu mungil Jongin guna menghadapkan wajah mereka, tepat dan sangat dekat.

 

Kyungsoo tersenyum lembut.

 

Kedua pipi Jongin kembali memanas.

 

Wajah Kyungsoo sangat dekat. Jongin belum siap untuk sebuah ciuman! Bodoh, mana mungkin Kyungsoo melakukannya pada anak kecil! Oh tapi syukurlah, pemikirannya masih dewasa.

 

“Ka-Ka…” niatnya, Jongin ingin berkata ‘Kim’ namun entah mengapa malah ‘Ka’ yang ia ucapkan. Otaknya benar-benar sudah rusak parah.

 

Kyungsoo menatapnya penuh harap, matanya semakin melebar dan berbinar “Ka—?“

 

“K-Ka-Ka…Kai…Kai…to.” Jongin meluncurkan begitu saja kata yang terlintas dikepalanya.

 

“Kaito?”

 

Habis sudah.Tamatlah riwayatnya.Kim Jongin telah gugur dimedan perang. Bagaimana bisa ia menyebutkan nama seaneh itu? Oh my God

 

“Hee~ nama yang bagus.”

 

Eh?

Benarkah?

Pipi Jongin memerah lagi.

Oh please Jongin~ ia hanya menyukai namamu…bukan dirimu.

 

Suara gagak yang berkoak menghancurkan damainya suasana.Tak terasa senja telah tiba menjemput mentari.Jongin dan Kyungsoo menengadahkan kepala, menatap awan kelabu yang mulai menyelimuti permukaan langit.

 

“Hari sudah mulai gelap.Bagaimana kalau kau menunggu ditempatku saja, disini bisa berbahaya untuk anak kecil.Tidak perlu khawatir, taman ini dapat terlihat dari kamarku…kau mau?”

 

Dengan cepat otak kecil Jongin bekerja, menyimpulkan bahwa mungkin saja ia tengah mengalami apa yang disebut dengan ‘Kesempatan dalam kesempitan’.

 

.

.

.

 

Sehun menatap tanpa berkedip seorang pemuda berparas amat menawan yang kini tengah sibuk menggeledah isi tasnya sendiri.

 

“Astaga, kemana perginya benda itu…” keluh Luhan seraya membuka satu persatu resleting tasnya.

 

Sementara pemuda dihadapannya, yang berwajah tampan dan berkulit seputih bulu beruang kutub, Oh Sehun…melukiskan senyum layaknya seorang yang tengah menikmati lumeran coklat dalam mulutnya. Luhan seperti coklat, rasanya manis…Sehun mendesah bahagia. Waktu bersama Luhan, baginya jauh lebih berharga dari pada tumpukan emas batangan.

 

“Ah! Aku menemukannya!” pekik Luhan gembira, mampu membuyarkan renungan Sehun.

 

Kini Luhan menyodorkan pada Sehun sebuah kotak berwarna coklat dengan desain etnik yang unik.Ia menatap Sehun yang nampak bingung lalu menganggukan kepala seraya tersenyum lembut. Luhan nampak menggigit bibir seraya menahan tawa ketika Sehun mulai mengangkat tutup kotak tersebut.

 

Kedua mata Sehun sedikit melebar, rasa kerterkejutan menyentuh binar mata jernihnya.Perlahan satu tangannya mengangkat sebuah jam saku berwarna perak dari dalam kotak, jika dikalungkan mungkin akan sepanjang dada.

 

“Aku menemukan itu disebuah toko barang antic dipulau jeju.Kupikir benda itu cocok untukmu, jadi kuputuskan untuk membelinya dan menjadikannya sebagai hadiah untukmu.Kau suka?”

 

Sehun mengangguk mantap tanpa berkata-kata.Ia terlampau senang karena Luhan peduli padanya dan memberinya hadiah. Ia membuka jam saku berbentuk bulat tersebut, dan tanpa diduga sebuah music mengalun indah. Terdapat orgel mini didalam rupanya.

 

“Ini bagus sekali Luhan.Terima kasih.”

 

“Kembali kasih.”

 

Pemuda tampan itu memasukan kembali jam saku pada tempatnya, menutupnya rapat agar tidak sampai terguncang. Dan bersumpah dalam hati, bahwa ia akan menjaga benda itu sebaik mungkin serta selalu membawanya kemana pun melangkah. Sehun memutuskan untuk menyisipkannya kedalam saku jas bagian dalam karena ia tak membawa tas saat ini.

 

“Oh ya, bagaimana perkejaanmu di Jeju?Apa kerjasama dengan pihak luar berjalan baik?”

 

“Tentu saja!” jawab Luhan seraya mengacungkan ibu jarinya “Mereka mengikat kontrak dengan perusahaan kita untuk sepuluh tahun kedepan, ini adalah proyek besar!”

 

“Sudah kuduga kau mampu melakukannya.” Sehun tersenyum, bukan karena keberhasilan Luhan…melainkan karena ia menangkap secercah rona merah dikedua pipi Luhan.

 

Keduanya kini tengah menghabiskan waktu disebuah restoran yang khusus menyediakan makanan manis. Luhan sangat suka makanan manis, Sehun hafal benar hal tersebut. Luhan sama dengan Jongin, sama-sama menyukai makanan manis…sementara Sehun sendiri tidak terlalu menyukai manis yang berlebih…Luhan pengecualian tentunya.

 

“Seharusnya aku cuti istirahat hari ini, namun aku ingin segera memberikan hadiah itu kepadamu, karena itu kuputuskan untuk datang kekantor, tapi kita malah bertemu dijalan…kebetulan sekali, aku jadi tidak perlu datang kekantor.”

 

“Kebetulan sering terjadi pada orang yang berjodoh, apa kau tahu?”

 

Ucapan Sehun membuat paras Luhan kembali tersentuh rona merah muda. Astaga~ manisnya, tidak sia-sia ia mencatat semua ungkapan gombal Jongin ketika mereka mengikuti kencan buta ketika SMA dulu.

 

“Ng. Sehun, kalau boleh tahu…untuk apa kau membeli dua minuman kaleng itu.” Luhan menunjuk dua buah minuman kaleng yang terletak disudut meja “Kau sengaja membeli dua untuk diminum sendiri atau…kau sedang bersama seseorang?”

 

Butuh waktu beberapa detik bagi otak Sehun untuk menyaring kalimat Luhan. Ah, benar juga…untuk apa ia membeli dua kaleng minuman? Cola masih dapat ia minum, tapi jus apel…ayolah~ ia bukan anak kecil lagi bu…kan?

 

Sehun menepuk keningnya sekuat mungkin. Astaga ia lupa, Jongin kecil!

 

Pemuda berkulit putih itu segera bangkit dari duduknya “Luhan, aku menyukai hadiahmu, tapi aku jauh lebih menyukai dirimu! Maaf aku harus pergi sekarang, sampai jumpa!!”

 

Dan melesat pergi begitu saja meninggalkan Luhan yang terdiam, kali ini ia yang harus mencerna ucapan Sehun.

 

Apa maksudnya dengan…’Aku jauh lebih menyukai dirimu?’?

 

Sementara Sehun berlari secepat jetcoaster melaju. Mengumpat dalam hati karena kecerobohannya melupakan Jongin…bahkan sampai dua jam! Oh my God~ untunglah saat ini Jongin berwujud anak kecil, bisa tamat riwayatnya ditangan Jongin jika sahabatnya itu telah kembali berwujud orang dewasa. Setidaknya, Jongin tidak akan menghajarnya habis-habisan jika dalam wujud anak kecil.

 

Sehun menambah kecepatan, senja mulai menampakan diri, Jongin pasti kesal padanya.

 

Ia berhenti dan segera terengah ketika sampai ditaman tempat ia meninggalkan Jongin bertubuh anak kecil. Tatapannya meneliti kesegala arah berupaya menemukan sosok sahabat baiknya itu…dan ia menemukannya, tak seberapa jauh didepannya, Jongin bertubuh anak kecil tengah bergandengan tangan serta berjalan bersama dengan seorang pemuda.

 

“Jongin!!” seru Sehun. Namun sang pemilik nama tak mengindahkannya.

 

Sehun berdecak, ia telah siap melangkah untuk menghampiri Jongin dan mencoba kembali memanggilnya.

 

“Hei! Kim Jong—“

 

Mulutnya terkatup sempurna ketika sosok anak kecil dikejauhan itu menoleh kebelakang, kepadanya…ia menempelkan jari telunjuknya dibibir yang ketika itu nampak tersenyum penuh arti, jelas sekali tersirat maksud tertentu disana.

 

Sehun mendadak bingung, tentu saja…apa yang sebenarnya Jongin pikirkan?

 

Ia melihat sosok pemuda yang berjalan disamping Jongin. Sehun meneliti tepat kearah wajahnya, dan segeralah ia terperangah ketika menyadari bahwa orang tersebut adalah Do Kyungsoo…calon tunangan sahabatnya sendiri.

 

Sehun terpaksa mengurungkan niat mengejar Jongin dan membiarkan teman baiknya itu pergi begitu saja.Seraya menatap punggung mereka menjauh, Sehun bersendekap dan menggeleng kecil.

 

Dasar setan kecil, pikir Sehun.

 

~To be Continue~

 

Semoga yang ini lancar, amin~

Lanjutannya setelah uas ya…

 

Bagi yang tidak mengerti…tidak usah komen, ingat! Please ga usah komen~

 

Maaf kalau ada cerita yang mirip, mungkin tanpa sengaja saya juga terinspirasi dari sana.

129 thoughts on “KAITO Chapter 1

  1. eoh
    sehun bener bener jenius🙂
    tapi jongin yang berubah jadi anak kecil?
    gimana nasib pertunangan nya sama kyungsoo?

  2. karena aku CONAN shipper jd sdh bs di pastikan aku suka cerita epep ini….lanjutanya ditunggu (pake banget) lho thor…..#chuuuuuuuuuu

  3. huahahaha^^
    lucu ini mah ff’nya,, jong in jd anak kecil nama.nya Kaito?!!
    gg ngebayangin klo’ jong in beneran jd anak kecil yg unyu munyu gitu^^ kkkkk
    trus dia carkemdalkem => Cari Kesempatan Dalam Kesempitan sama do to the kyungsoo dlm wujud kecil!
    gereget dah q pokok.nya`~

    ah, pokok.nya ditunggu next chapter.nya kakak!

  4. haha, ini lucu banget masa😀
    Jongin nya berubah jadi anak kecil yang unyu-unyu berkat Sehun si Jenius. whahaha😄
    Jadi penasaran sama kelanjutannya, gimana ya kalo Kyungsoo tau Kaito itu Jongin? terus acara pertunangannya gimana? wah, So curious~~

  5. penasaran sama lanjutanya …
    kalau jongin jd anak anak kira kira bisa balik lg g y??
    trus nasib sehun gimana kalau ketemu jongin jangan jangan bisa jd perkedel nich si jenius…wkwkwkwk

  6. Aaaa….aq Conan shipper….aq pnua smua edisinya…dri komik ampe film….hehehe

    I like this FF…Tlong d lnjt yhaa…jgn lma2

  7. Aaa, ini bangus banget kak author😀 g pdlu badannya kecil apa gak Jongin tetep aja licik. bener kata Sehun Setan Kecil, cocok buat Jongin, haha.

  8. keren banget ceritanya!! Love it!!! Jongin kecil pasti imut banget,,,,,,
    apa dia bisa besar lagi? bisa pedo si Kyungsoo kawinin bocah 7 tahun… wkwkwkwk

  9. GYYYAAAA !!!!!!!!!!!!!!!
    jongin pastiii imuuttt >.<
    duh duh duh ~ ini namanya Kaito – tp dia perannya kek Conan ya ???
    ditunggu next chap nyaa ^o^/

  10. hahahahaha sehun jenius banget ..ngerubah jongin jdi bocah cute jdi pingin nyubit pipi jongin kecil yg unyu2 ceritanya kocak .. tpi kenapa bru chap 1 T.T ..ditunggu next chapnya thor ! hwaiting! cepetannya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s