ONESHOT | HANASE [ KRISTAO VER.]

Title: Hanase

hnse

Author: Nine-tailed Fox

Cast: Krisno dan Taoco

Other Cast: kesepuluh penjaga pos ronda

Genre: FTV

Rate: Sebaiknya jangan makan dulu sebelum baca ini…ntar bisa pengen Hoeek~

Length: We are one, we are EKSO!! *apa coba =___=

 

Saya kembali dengan KRISTAO….membawa Hanase versi mereka! Untuk KAITO sabar ya, susah dapet feel KAISOO.Hanase ini gak ada hubungannya sama Hanase CHANBAEK!

Meski dalam cerita kehidupan Ekso seperti kenyataan, tapi sisi keartisan mereka kurang diangkat ya, ini lebih ke cerita mengenai si tokoh utama.

Karena ini hanya fiksi, mohon abaikan hal yg ga penting…kayak Chanyeol misal, misalnya nih ya…aslinya ga suka anime disini saya bikin suka. Okeh ga usah dibahas, penting banget soalnya~

INGAT! INI FIKSI MENGENAI KRISTAO…KRIS-TAO. SHOUNEN-AI. BOYXBOY. CERITA CINTA-NYA KRISTAO. TOKOH UTAMANYA KRISTAO. YG GA SUKA LEBIH BAIK TIDAK USAH BACA. Meski sebenernya saya nulis ini dalam keadaan lagi mabok SuTao – SuhoxTao =____________= eer~ maaf, abaikan saja.

… … … … … … … … … …

 

Didunia ini, harapan akan selalu ada. Jadilah kuat.

 

Banyak alasan bagi seseorang untuk mengakhiri hidupnya, banyak alasan mengapa banyak orang sesumbar untuk melakukan bunuh diri. Mereka berkata seolah-olah nyawa hanyalah lembaran kertas usang tak layak pakai yang siap dibuang.

 

Tao pun sebenarnya, saat ini, mungkin telah menemukan alasan yang tepat untuk mengakhiri hidup. Pertama, kekasih tercintanya berhati dua. Kedua, orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan ketiga…seluruh hidupnya telah hancur berantakan.

 

Namun jika ia benar-benar bunuh diri, adakah seseorang yang berani menjamin kalau ia akan masuk surga setelahnya? Memang siapa yang tidak pernah mendengar kisah surga dan neraka? Ibarat surga adalah putih sementara neraka adalah hitam, tentu saja seluruh manusia didunia akan lebih memilih putih ketimbang hitam. Lagipula setelah diberikan nyawa oleh Tuhan, dan manusia dengan seenaknya memutus tali takdir hidup mereka…Tuhan tidak akan marah dan masih mengizinkan kita memasuki tempat indahnya?

 

Menurut Tao, orang yang berkata lebih baik mati adalah orang paling tolol sedunia.

Menurut Tao, orang yang memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri adalah orang paling konyol sedunia.

 

Bunuh diri hanyalah jalan pintas untuk melarikan diri.

Orang yang memilih bunuh diri adalah orang yang pengecut.

Orang yang pengecut…adalah orang yang lemah.

 

Dan Tao…bukanlah orang yang lemah.

 

“Didunia ini, harapan akan selalu ada! Jadilah kuat, Zitao!!” teriak Joonmyeon tepat dihadapan batang hidung Tao.

 

Ini adalah kali pertama Joonmyeon berteriak kepadanya, benar-benar berteriak melebihi amukannya ketika Chanyeol dan Baekhyun melakukan kebisingan dimalam hari hingga membuat anggota keluarga lain sulit beristirahat.

 

“Akan muncul masalah-masalah lain, hal-hal menyakitkan lain dan kepedihan lain yang akan kau alami kelak. Hal yang lebih berat dari ini, kau tahu kenapa? Karena kita hidup, Zitao! Hidup bukan hanya mengenai hal-hal yang menyenangkan saja, kau harus ingat itu! Jangan manja! Jangan menjadi orang yang putus harapan, kau dengar?!!”

 

Joonmyeon masih mencengkram kuat kerah kaus ditubuh Zitao. Sepertinya ia sangat murka menangkap basah adik kesayangannya itu tengah berniat menyayat pergelangan tangannya sendiri. Dan pisau yang digunakan Zitao, telah berhasil ditepisnya hingga terpental kedekat closet, mereka bergumul dan dengan kekuatan amarahnya, Joonmyeon berhasil menumbangkan tubuh tinggi Zitao dan mengurung pergerakannya.

 

“Kau boleh berfikir tidak akan ada yang sedih setelah kau mati, kau boleh berfikir kalau tak ada lagi orang yang sayang padamu. Tapi setidaknya fikirkan dirimu sendiri! Apa kau ingin meninggalkan dunia dengan cara konyol seperti itu?!!”

 

Joonmyeon terlihat hendak menampar Zitao untuk kedua kali, namun melihat lintasan air mata terbentuk dipermukaan pipi pemuda China tersebut, ia mengurungkan niat. Suara isakan kecil Zitao membuat tangannya lemas, ia pun menghela nafas panjang yang terasa berat…menghembuskan segala penat didada, serta rasa perih melihat kehancuran Zitao saat ini. Tatapan tajam Joonmyeon perlahan meluluh, ia menyingkir dari atas tubuh Zitao dan menuntun saudara kecilnya tersebut untuk duduk.

 

“Sudahlah, maafkan aku. Aku sangat takut kau benar-benar mati Zitao. Aku sangat marah melihatmu melakukan hal itu, maafkan aku telah membuatmu takut. Tapi syukurlah kau baik-baik saja.”

 

Dan Tao pun menangis setelahnya. Meraung kencang dalam pelukan hangat Joonmyeon tanpa peduli luka dipergelangan tangan kirinya.

 

Ia…hanya ingin menangis.

 

.

.

.

 

 

“Papa berkata padaku kalau mama berselingkuh, tapi mama berkata padaku kalau papa yang berselingkuh dengan sekretarisnya.”

 

“Lalu?”

 

“Karena tidak tahan, mama menggugat cerai papa.” Tao berhenti sejenak mengeluarkan suara untuk menyesap susu coklat kotak ditangannya “Menurut Joonmyeon-hyung, diantara papa dan mama-ku, siapa yang benar?”

 

Joonmyeon berhenti membalut perban ditangan kiri Tao. Ia menjemput sunyi dengan sorot mata tertuju pada pergelangan tangan Tao yang digenggamnya, ia bingung harus mengatakan apa pada anak selugu Zitao. Anak yang tak pernah terluka dan tak pernah mengenal penderitaan. Ia melirik pada sang bocah chinayang saat ini tengah kesulitan membuka bungkus wafer coklat camilannya hanya dengan satu tangan, Joonmyeon mengulum senyum tipis sebelum meraih wafer coklat dari tangan Tao dan membukanya dengan cepat.

 

“Terima kasih, hyung.” Tao menerimanya dengan riang dan segera menggigitnya.

 

Joonmyeon kembali pada pekerjaan awal membalut luka ditangan Tao, cukup sulit memang, ia tidak terbiasa melakukan pekerjaan yang membutuhkan ketekunan seperti ini, berbeda dengan Kyungsoo atau Luhan…atau juga…Yixing.

 

Terdengar suara renyah wafer yang Tao gigit “Kalau menurutku, aku sendiri bingung siapa yang benar.” lelaki yang lebih muda menelan kunyahan dimulutnya “Aku tidak bisa memilih untuk memihak papa atau mama. kalau Hyung menjadi diriku, apa yang akan hyung lakukan?”

 

“Selesaikan dulu makanmu.” Joonmyeon mengais remah wafer disekitar mulut Tao. Sejujurnya ia masih bingung harus menjawab apa sebaiknya, orang tuanya tidak bercerai…ia tidak bisa memahami sepenuhnya perasaan Tao.

 

“Mereka bilang, perceraian ini bukan masalah besar. Mereka beranggapan aku akan baik-baik saja karena aku sudah dewasa dan memiliki pekerjaan sendiri. Mereka bahkan berpisah tanpa memberi kabar padaku. Apa mereka sudah tidak memikirkanku? Aku ini siapa-nya mereka? Aku ini apa bagi mereka?! Aku ini bukan hanya sekedar seorang ‘anak’!! Aku ini—“

 

“Tao…”

 

Tao membungkam mulutnya saat menyadari ucapannya yang semakin meninggi, ia terbawa emosi, sebelah tangannya tanpa sadar meremas bungkus kue hingga tak berbentuk.

 

“Maaf, hyung…” lalu tertunduk seraya menghapus setetes bening yang menodai paras lugunya.

 

Hening kembali menyeruak. Keduanya kini berada di kamar mandi, duduk berhadapan dalam bathtub kering yang terasa dingin namun tak mereka pedulikan.

 

“Mama, Papa mau pun Wufan…-gege. Mereka tidak menyayangiku lagi.” kali ini Tao membiarkan lintasan air matanya terbentuk bebas, tanpa berniat menghapusnya. Hingga tetesan itu sampai pada belah bibirnya dan terasa sedikit asin di dalam mulut.

 

Tao kembali hancur dimata Joonmyeon, Tao bagaikan kepingan Puzzle yang tak utuh, sesuatu yang berharga telah direngut dari dirinya. Semangat, kegembiraan, senyum…Tao yang sekarang tidak memiliki semua itu. Ia hanya mampu mengusap kening Zitao yang ditutupi poni rambut nan halus, membuatnya tidak teratur hingga sedikit menutupi mata berlingkar hitam sang bocah tirai bambu. Tao hanya terseguk dan tak menghindari sentuhan Joonmyeon, mata dan hidungnya telah memerah…Joonmyeon menyesal kenapa ia tak terfikir untuk membawa tissu saat mengambil peralatan P3K dan makanan ringan untuk Zitao tadi.

 

“Kau harus berdiri dengan kedua kakimu sendiri. Jika kau terjatuh, kau harus bangun sendiri, jangan tunggu seseorang datang dan mengulurkan tangannya padamu. Kau harus menciptakan harapan, untuk dirimu sendiri. Mengerti?”

 

Tao mengangguk pelan. Hanya hal-hal klise semacam itulah yang dapat Joonmyeon ungkapkan, layaknya dialog dalam drama dan film animasi superhero. Ia hanya tidak ingin, Tao terpuruk pada akhirnya. Pengkhianatan Wufan adalah pukulan terbesar dan terberat dalam hidupnya. Karena ia faham…betapa Tao mengasihi pria itu.

 

“Aku akan mencobanya.”

 

“Ya, kau harus mencobanya dan kau harus berhasil.”

 

Joonmyeon kembali memeluk tubuh rapuh Zitao, menepuknya lembut beberapa kali guna mengirimkan rasa nyaman dan mengusir resah. Kemudian menuntun Tao berdiri dan meninggalkan bathtub.

 

“Sudahlah, jangan pedulikan itu. Biar aku yang bersihkan nanti.” cegah Joonmyeon ketika Tao hendak mengumpulkan sampah makanan ringannya didalam bathtub.

 

Tao hanya menurut dan membiarkan Joonmyeon menarik tangannya keluar kamar mandi.

 

“Apa yang Kyungsoo masak hari ini…” gumam Joonmyeon seraya mengusap perut kosongnya.

 

“Aku tidak akan makan malam.” ucap Tao yang membuat langkah keduanya berhenti.

 

Joonmyeon menoleh dan memandangnya penuh tanya “Eh? Kau yakin? Tidak lapar?”

 

Tao menggeleng pelan “Aku sudah sangat kenyang dengan semua makanan ringan itu. Aku ingin langsung tidur saja.”

 

“Begitukah?” ucap Joonmyeon paham, Tao mungkin merasa berat untuk berhadapan dengan Wufan “Kalau begitu kuantar kau sampai kamar.”

 

Keduanya berjalan menuju kamar Tao dan Baekhyun. Sejak dua hari lalu tanpa alasan jelas Tao memohon pada Chanyeol untuk bertukar kamar…dan alasan tersebut telah Joonmyeon ketahui beberapa saat lalu, ketika Tao hendak mengakhiri hidupnya dikamar mandi setelah menerima telpon dari kedua orang tuanya.

 

Belum lama ini Tao menemukan kenyataan bahwa Wufan bermain hati dengan Yixing. Dan pagi ini, ia menerima telpon yang mengatakan bahwa kedua orang tuanya telah resmi bercerai tanpa memberi kabar.

 

Mungkin kini Tao telah tiada jikalau Joonmyeon tak mendobrak pintu kamar mandi dan segera menamparnya.

 

Seusai mengantar Tao, menyelimuti tubuh Tao dengan selimut juga mematikan lampu kamar…Joonmyeon menuju ruang makan dimana semua saudara lainnya telah menunggu, untuk makan malam.

 

Ia sempat menatap tajam tangan Yixing dan Wufan yang saling bertautan dibalik meja. Tak ada seorang pun yang menyadari atau pun curiga kedua orang itu duduk sangat rapat.

 

“Hyung, kau lama sekali!” pekik Sehun kesal, sepertinya kekasih Luhan itu sudah sangat kelaparan “Oh iya, tadi aku mendengar sedikit keributan dikamar mandi? Ada apa? Apa kecoa muncul lagi?”

 

“Ya begitulah. Tao menjerit panik karena kecoa itu terbang kearahnya.”

 

“Lalu…dimana Tao sekarang? Dia tidak ikut makan?” kali ini Yixing yang bertanya dengan sedikit kecemasan dalam nada suaranya…dan entah mengapa, kepala Joonmyeon terasa membara karena hal tersebut.

 

Diam-diam sang Korean-leader menghela nafas dan melempar pandang kearah lain, kedua tangannya berpura-pura sibuk mengambil beberapa peralatan makan.

 

“Tidak. Tao sudah tidur.” jawabnya singkat.

 

Detik selanjutnya, terdengar suara kursi bergeser. Semua memandang Wufan yang telah berdiri dari duduknya “Kalau begitu, aku pergi menemui Tao sebentar.”

 

“Jangan ganggu Tao.” suara dingin Joonmyeon kembali terdengar.

 

Wufan berbalik dan menatapnya bingung “Aku hanya akan melihatnya dan menanyakan keadaannya. Jangan berlebihan, Joonmyeon.”

 

Terdengar suara benturan. Joonmyeon memukul permukaan meja dengan telapak tangannya, meski tidak terlalu keras namun mampu membuat semua yang ada disana membeku ditempat…termasuk Wufan yang pada awalnya hendak menyambung langkah menemui Tao.

 

Dan Joonmyeon kembali berucap dengan suaranya yang membeku, mengarahkan tatapannya yang penuh ancaman tepat kearah sang pria tinggi “Kubilang. Jangan ganggu dia.”

 

Sunyi menjemput. Tak ada seorang pun yang berkenan angkat bicara…suara Joonmyeon yang dingin dan penuh ancaman, membuat suasana hangat lenyap tak bersisa.

 

Wufan dan Joonmyeon masih setia saling melempar tatapan sengit. Sampai akhirnya Wufan yang merasa tak mengerti akan sikap saudaranya itu…mengerutkan kening.

 

“Kenapa kau—“

 

“Waaaa!! Kyungsoo, sayurnya dingin!!” lengkingan suara seseorang menghancurkan suasana dingin dalam sekejap.

 

Dan siapa lagi seseorang yang memiliki suara melengking yang khas, terdengar kekanakan dan manja selain…Byun Baekhyun. Semua menoleh kearahnya dengan cepat, sementara pemuda manis yang bersangkutan hanya menatap polos pada sekitarnya seraya mengemut sendok.

 

“Apa? Kenapa? Kalau sayurnya dingin ‘kan tidak enak rasanya. Memang kalian mau makan makanan yang tidak enak rasanya?” ungkapnya polos tanpa ditanya.

 

Anggota keluarga lain mulai mengambil sikap, meregangkan otot tubuh yang kaku dengan cara yang berbeda. Seperti Jongin yang mengusap tengkuknya, Chanyeol yang mengambil lalu meneguk segelas air minum, Luhan yang telah lebih dulu memasukan kimchi kedalam mulutnya…atau Kyungsoo yang menuju kompor untuk mulai menghangatkan sayur.

 

Semua kembali ketempat masing-masing…termasuk Wufan yang sebelumnya terdengar menghela nafas berat.

 

Tak ada yang menyadari bahwa setelah itu Baekhyun mengikuti arah pandangan tajam Joonmyeon menatap…dibalik meja, tangan Yixing dan Wufan kembali saling bertautan. Dan dengan cepat, fikiran Baekhyun segera tertuju pada seseorang, seseorang yang tak hadir diantara mereka…Tao.

 

……………

 

Tao tak pernah mengukur seberapa banyak kemampuan otaknya menurun. Baginya hal tersebut bukanlah masalah besar karena ia tak perlu lagi belajar, pergi kesekolah atau mengerjakan pekerjaan rumah. Mungkin Tao juga sudah melupakan semua pelajaran disekolahnya dulu, yang sekarang bergumul dalam pikirannya hanyalah menyanyi, menari dan bagaimana cara meningkatkan kemampuannya sebagai seorang seniman modern.

 

Seharusnya, Tao memikirkan semua itu ketimbang duduk seorang diri, menatap tirai bergambar langit biru yang terpasang diruang latihan tari dan memikirkan perihal perselingkuhan Wufan dan Yixing.

 

Yah, seharusnya…karena sekuat apapun badai menerjang, bumi akan terus berputar bukan?

 

Seperti hidup Tao yang akan terus bergulir dengan atau tanpa Wufan.

 

“Tatao!!”

 

Kening Tao segera berkerut mendengar panggilan aneh yang ditujukan untuknya, jelas saja karena tidak ada siapa pun selain dirinya diruang latih tari ini. Ia menolehkan kepala kebelakang dan segera menemukan saudara tersayangnya, Baekhyun tengah berlari menuju dirinya seraya mendekap segunung makanan ringan.

 

“Berhenti memanggilku seperti itu!! Nama itu seperti nama anjing peliharaan tetanggaku dulu, tahu!!” geram Tao ketika Baekhyun mengambil tempat disebelahnya dan meletakan barang bawaannya tepat dihadapan mereka.

 

“Ah, sudahlah. Itu tidak penting. Lihat apa yang kubawa? Kau suka ‘kan?” sahut Baekhyun yang mengambil satu kotak pocky dan membukanya.

 

Tao menatap takjub pada semua makanan manis yang dibawa Baekhyun. Susu kotak, coklat, keripik kentang, pocky, cracker, roti, banyak sekali. Apa lelaki bertubuh kecil itu berniat menghabiskan semua ini? Rakus sekali, fikir Tao ketika melihat Baekhyun makan dengan lahap.

 

“Darimana kau mendapatkan semua ini? Memangnya manager mengizinkanmu keluar untuk membelinya?”

 

“Tidak.”

 

“Lalu?”

 

“Kuambil diam-diam dari kamar Minseok-hyung.”

 

“HAH?! Aku tidak ikut campur kalau nanti kau dimarahi olehnya.” panik Tao, tapi tetap saja ia makan dengan tenang.

 

“Hehe. Tidak akan, kalau dia sampai marah…aku akan melakukan bbuing-bbuing seratus ribu volt-ku dihadapannya agar dia luluh.

 

Baekhyun telah menghabiskan satu bungkus keripik kentang rasa keju yang bahkan tak sempat Tao cicipi meski hanya satu keping. Asal tahu saja, meski tubuhnya kecil seperti itu…Baekhyun adalah juara makan nomor tiga setelah Xiumin dan Luhan. Sayangnya, metabolisme tubuh Baekhyun terlalu cepat, sangat sangat cepat hingga tak ada secuil pun gizi yang masuk untuk menyokong tinggi dan berat tubuhnya.

 

Berbicara mengenai anggota lainnya, Tao tidak tahu kemana mereka pergi. Ia terlampau asyik merenung seorang diri sampai tak menyadari waktu berlalu begitu cepat dan saat tersadar, ia sudah seorang diri disini.

 

Memang ia merasa sedikit lapar tadi, untunglah Baekhyun datang dengan membawa semua makanan ini, terlebih Tao sangat menyukai makanan manis. Baekhyun selalu tahu apa yang ia butuhkan…

 

Biasanya Baekhyun…

 

Tao menghela nafas, ia berhenti mengigiti batang Pocky dimulutnya saat menyadari kalau Baekhyun hampir setiap detik mencuri pandang kepadanya.

 

“Katakan saja.”

 

“Ha?”

 

“Kau ingin bertanya soal apa kepadaku? Masalah hubunganku dengan…Wufan?”

 

“Hah?! Ti-tidak…aku…aku hanya…i-itu…”

 

Untuk kedua kalinya Tao menghela nafas. Ia tersenyum tipis, diletakannya kotak pocky itu dilantai sementara kedua tangannya beralih memainkan gasing kecil hadiah bonus dari keripik kentang yang dihabiskan Baekhyun.

 

“Sejak kapan kau menyadarinya? Atau Joonmyeon-hyung yang memberitahumu, ya?”

 

“Tidak.” Baekhyun menggeleng, ditelannya makanan dalam mulut untuk beberapa saat, kesenduan menutupi bola mata indahnya kala memandang Tao “Aku menyadarinya, kemarin saat makan malam.”

 

Suaranya terdengar pelan, untuk kali ini saja Baekhyun nampak tenang dan terkesan hati-hati agar tak sampai melukai perasaan Tao. Namun bagaimana bila ia tahu kemarin Tao hampir saja mengakhiri hidupnya kalau saja Joonmyeon tidak memergokinya? Pastilah Baekhyun sudah mengamuk sekarang.

 

“Jadi, Huang Zi Tao. Sudah berapa lama kau mengetahui semuanya?” kali ini Baekhyun yang bertanya.

 

Tao nampak menelan liur paksa. Dihadapannya kini Baekhyun bagai seorang hakim yang tengah mengadilinya.

 

“Sepertinya…aku tahu, sejak satu bulan yang lalu.” jawab Tao dengan suara kecil yang mampu membuat Baekhyun tertegun.

 

Hening menjemput. Tao susah payah menghindari tatapan Baekhyun seraya mengigiti bibir kecilnya. Ia akui waktu satu bulan memang bukan waktu yang lama, namun bukan juga waktu yang singkat. Baekhyun pasti menganggapnya bodoh karena selama ini hanya berdiam diri seperti kukang pemalas.

 

“Aku tak mengira kalau ternyata kau sebodoh ini, Tao? Apa IQ-mu tidak lebih besar dari 1Q lumba-lumba?”

 

Benar bukan.

Sudah Tao duga.

 

“Baekhyun, aku—“

 

“Aku tidak ingin dengar alasanmu, okay?” potong Baekhyun cepat “Begini Tao, aku hanya— errrghh! Kau ini, hah! Kau membuatku kesal, apa kau faham?! Mengapa kau melakukan semua ini Tao? Mengapa?”

 

Kali Tao terdiam dengan kepala tertunduk. Sesungguhnya ia telah mempersiapkan jawaban atas pertanyaan Baekhyun. Jawabannya hanyalah apa yang ia rasa dan fikirkan selama ini.

 

“Karena…aku takut, Baekhyun…”

 

“Apa? Apa yang membuatmu merasa seperti itu, Tao?”

 

Sekali lagi Tao meneguk liur paksa, kali ini entah mengapa terasa lebih berat…tenggorokannya seperti lengket. Sampai akhirnya ia mengangkat kepala dan menatap Baekhyun dengan sorot matanya yang terlampau lugu.

 

“Karena aku takut Wufan-gege akan meninggalkanku…”

 

Jawabnya dengan sederhana, polos dan apa adanya. Baekhyun mengatup kedua belah bibirnya, ia memandang takjub Tao. Cukup lama sampai akhirnya ia melihat sesuatu yang berkilauan mulai menutupi bola mata jernih Tao.

 

“Aku hanya perlu berpura-pura tidak mengetahui apapun, dengan begitu tidak akan ada yang berubah. Anggaplah semua baik-baik saja dan Wufan-gege akan tetap disampingku, bukan begitu? Apa aku salah?”

 

Satu tetes air kesedihan meninggalkan pelupuk mata Tao, membentuk lintasan bening yang menodai pipi putih bocah china tersebut.

 

“Aku akan terus berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi. Saat bangun pagi esok hari, ketika membuka mata…Wufan-gege akan tersenyum lembut seperti biasa kepadaku. Aku tidak ingin berfikir kalau dia semakin jauh dariku…aku tidak berani membayangkan kalau dia akan pergi…”

 

Isak tangis Tao mulai menggema, nafas pemuda itu kacau dan bicaranya mulai terputus-putus…wajahnya memerah akibat tangis, mata yang biasanya nampak jernih itu kini nampak bagaikan pecahan kaca. Pemandangan yang sungguh membuat Baekhyun tertegun, sedih, takut dan turut merasa hancur. Ia sadar jika tak ada satu kata pun yang dapat menolong Tao dari keterpurukan. Percuma melontarkan ucapan pemberi semangat nan klise dan hampa, air mata Tao tidak akan berhenti mengalir.

 

Gemuruh sang badai telah terlampau kuat untuk dihentikan.

 

Patung kaca yang indah itu akan langsung hancur jika kita menyentuhnya.

 

Baekhyun menggerakan tubuh, mendekatkan diri pada Tao, berdiri dengan kedua lututnya dilantai kemudian memeluk Tao dengan erat. Membiarkan dadanya terasa hangat dan lembab akibat air kesedihan yang mengalir dari kedua mata jernih sang penderita lara. Kedua indera pendengarannya terasa pilu mendengar alunan duka yang dilantunkan oleh Tao.

 

Dan Baekhyun pun memperdengarkan indah jalinan suaranya, lewat sebuah lagu sendu…

 

Untuk Tao.

 

Berharap badai itu segera menghentikan gemuruhnya.

 

 

Seorang malaikat tanpa sayap datang kepadaku.

Ia berkata bahwa peta jalan menuju kerumahnya telah hilang.

Merasa tak berdaya, aku mengambil cat air.

Dan kutambahkan dengan air.

 

Meski mata ini kehilangan cahayanya.

Aku akan tetap melukis.

Meski tangan ini kehilangan kekuatannya

Aku akan tetap melukis

 

[Drawing Days. Sung By Splay – First Opening Song of Katekyou Hitman Reborn]

 

……………

 

Suasana ketika makan malam ramai seperti biasa, hangat dan nyaman…disaat seperti ini lah Tao merasakan bagaimana rasanya berada dalam sebuah keluarga yang utuh. Situasi yang selalu memikatnya untuk tersenyum.

 

“Sehun, aku punya anime yang bagus. Kau mau tahu tidak?” kata Chanyeol yang juga menarik perhatian Tao.

 

“Apa?” tanya balik Sehun.

 

“Hunter x Hunter.”

 

“Eh? Bukankah itu sudah lama sekali?” sergah Tao secara tanpa sadar. Chanyeol dan Sehun segera beralih memandangnya penuh tanya.

 

“Benarkah?” tanya Sehun dan Chanyeol secara bersamaan.

 

Tao mengangguk mantap “Hm. Aku memiliki filmnya dari episode pertama sampai yang terbaru…”

 

“Huwaaaa! Berikan padaku Tao! Aku hanya punya sampai episode 50!!” pekik Chanyeol tidak santai. Baekhyun yang duduk disebelahnya sampai harus menutup kedua telinga karena suara Chanyeol sungguh menggelegar.

 

Keberisikan Chanyeol hanyalah satu dari banyak hal yang Tao suka semenjak ia tinggal bersama kesebelas bandmate-nya. Pergi kemana pun selalu bersama, mencegah sepi datang dan rasanya seperti memiliki sembilan orang kakak serta dua orang adik.

 

Tao suka memandangi Kyungsoo yang tengah mondar-mandir dari dapur ke meja makan untuk menyiapkan makan.

Tao suka mendengar denting sumpit yang selalu Sehun hasilkan ketika ia berlagak seperti seorang drummer.

Tao tidak pernah bosan mencuri makanan Minseok diam-diam meski selalu kena marah pada akhirnya.

Tao menyukai semuanya.

Yixing juga…

 

Mungkin Wufan menyukai Yixing…karena ia memang lebih baik daripada Tao.

Tapi mengapa…rasanya semua ini seperti tidak nyata?

Mengapa sulit bagi hati ini untuk memercayai apa yang ada didepan mata?

Mengapa…hanya rasa sakit ini yang benar-benar terasa nyata?

 

“Oh iya, mana Yixing dan Wufan? Aku tidak melihat mereka sejak kembali ke rumah.”

 

Jongdae bicara dengan santainya, tanpa menyadari bahwa detik itu juga…Joonmyeon dan Baekhyun menatap tajam seolah hendak menembaknya dengan laser lewat mata.

 

Si bodoh itu, geram Baekhyun dan Joonmyeon dalam hati.

 

Pasalnya, Tao yang sudah cukup tenang kembali teringat perihal Wufan dan Yixing…disaat akan makan malam. Sementara Tao sendiri telah memandangi kursi yang biasa ditempat kedua gege-nya itu, kursi yang bersebelahan…tempat yang memudahkan mereka untuk saling bergandengan tangan secara diam-diam.

 

“Aku pergi keluar sebentar!!” ucap Tao seraya bangkit meninggalkan kursinya dan berlari entah kemana, tanpa memedulikan panggilan Kyungsoo dan Luhan.

 

Joonmyeon dan Baekhyun berdecak, mereka dapat menebak dengan mudah apa yang Tao fikirkan saat ini, keduanya pun meninggalkan kursi masing-masing.

 

“Aku akan menyusul Tao.” seru Joonmyeon.

 

“Aku juga!” timpal Baekhyun.

 

.

.

.

 

Ia tahu bahwa baik Wufan mau pun Yixing belum kembali dari gedung manajemen. Tao tahu bila akhir-akhir ini mereka sering kali mencuri waktu untuk dihabiskan hanya berdua.

 

Maka detik ini, Tao berlari menyusuri lorong kantor digedung manajemen. Menuju ruang rapat tempat terakhir kali mereka berkumpul.

 

“Sebaiknya kita kembali Wufan, Tao pasti tengah menunggumu saat ini.”

 

“Tolong jangan bicarakan orang lain disaat hanya ada kau dan aku, Yixing.”

 

Tao ingin melarikan diri. Ia ingin berlari secepat mungkin meninggalkan tempat yang seperti neraka ini. Hah, ia bahkan tidak tahu bagaimana neraka. Namun, neraka masih lebih baik ketimbang harus melihat kekasih yang sangat ia cintai mencumbu bibir orang lain, bukan?

 

Neraka atau dimana pun…semua sama saja, Tao ingin mati.

 

Suara kecupan itu terdengar jelas, desahan beberapa kali datang berkunjung. Meski ruangan gelap gulita, pemandangan diluar jendela menjadi latar yang sempurna untuk membingkai siluet kedua orang yang tengah menikmati surga duniawi tersebut. Mereka bahkan tak menyadari bahwa pintu sedikit terbuka dengan seseorang mencuri lihat dari sana.

 

Sungguh Tao ingin melarikan diri. Hanya masalah waktu ia menemui ajal jika terus menerus melihat apa yang kini tengah Wufan dan Yixing lakukan.

 

Tao memutuskan untuk berbalik, membelakangi pintu, nafasnya tersengah, dadanya terasa terhimpit sesuatu, mungkin ia akan pingsan sebentar lagi. Kini ia bagaikan musuh yang terpojok, tak memiliki tempat untuk melarikan diri dan tak tahu harus pergi kemana. Tao merasa bagaikan sekedar hama pengganggu.

 

Kedua tangannya terkepal erat.

 

Tapi bukankah ia telah berjanji pada Joonmyeon? Tao harus menciptakan harapan untuk dirinya sendiri. Ia harus bisa, ia harus kuat…

 

Tao kembali berbalik. Jika hanya seperti ini ia ingin melarikan diri…untuk apa melanjutkan hidup? Meski air mata berubah menjadi darah, meski nantinya ia juga memuntahkan darah…jika ingin melanjutkan hidup, Tao harus bersahabat dengan penderitaan.

 

Lampu ruangan menyala.

 

Keduanya menoleh kearah pintu. Wufan terbelalak dan Yixing segera mendorong tubuh tinggi lelaki yang mendekapnya setelah menemukan tangan Tao yang masih menyentuh tombol sakelar lampu.

 

“T-Tao…?”

 

Wufan memandang dengan takjub sementara Yixing sibuk mengusap mulutnya. Huang Zitao, tanpa mengucap sepatah kata pun, dengan wajah hampa melangkah mendekat. Pelan…pelan…sampai akhirnya berada tepat dihadapan keduanya. Wufan belum bergeming sama sekali, bibirnya kelu tak mengira harus menghadapi Tao secepat ini.

 

“T-Tao…aku—“

 

Ucapannya terputus seketika, kala sebuah benda runcing mengarah tepat kepadanya. Tao kini tengah mengarahkan pisau kepadanya.

 

Entah dari mana Tao mendapatkan benda itu.

 

“Tao! Apa yang kau—“

 

“Aku selalu membawa benda ini.” ucap Tao dengan tenang, tak memberikan kesempatan bagi yang lain untuk mengeluarkan suara “Aku selalu membawanya diam-diam. Saat mandi, saat makan, saat latihan…tiap melihat kalian berdua, tanpa sadar aku selalu menyusupkan tanganku kedalam saku celana dan menggenggam benda ini erat-erat.”

 

Wufan tertegun mendengarnya, begitupula dengan Yixing yang mulai mengeluarkan peluh dingin disekitar pelipisnya. Sorot mata Tao begitu dingin dan sulit diterka ada maksud apa dibaliknya.

 

Mungkinkah…Tao akan—

 

“Kalian lihat bukan, betapa tajamnya benda ini?” Tao masih tetap mengarahkan pisau lipat tersebut pada dua orang dihadapannya “Dengan sekali ayunan saja, kulit kalian pasti akan langsung tersayat dan mengeluarkan darah.”

 

“Bicara apa kau, Huang Zi Tao?!!” teriak Wufan seraya memposisikan diri dihadapan Yixing seolah melindungi pemuda tersebut. Ketika itu, ada secercah kesenduan dimata Tao…namun sayangnya, Wufan terlalu panik untuk dapat menyadari hal tersebut.

 

Tao menghela nafas panjang, ini adalah kali pertama ia melihat pancaran mata Wufan begitu ketakutan melihatnya. Padahal, biasanya mata itu selalu menatapnya lembut dan penuh kasih.

 

Semuanya telah berubah…seperti bumi yang berevolusi mengelilingi matahari.

 

Hanya saja, Tao bukanlah matahari yang menjadi pusat dunia. Ia hanyalah sebongkah asteroid yang berkelana tanpa arah diluar angkasa tak berujung.

 

Maka Tao pun…menjatuhkan pisau tersebut begitu saja kelantai. Suara benturan besi dan lantai terdengar nyaring membuat kedua orang dihadapannya tersentak kaget. Mereka berdua masih menatapnya takjub, tidak percaya dan penuh tanya.

 

“Setiap hari, setiap hari…aku membawa benda itu agar…aku dapat mengakhiri hidupku kapan saja dan dimana saja sesuka hatiku.”

 

Mata Tao mengarah langsung pada matanya, mata Wufan…seolah menjerat pemuda tampan untuk turut terjerumus dalam lembah duka didalam sana.

 

Lembah duka yang sangat dalam.

 

“Apa…?”

 

“Tiap kali melihat kalian bergandengan tangan, aku selalu tergoda untuk menyayat pergelangan tanganku sendiri. Tiap kali melihat kalian berciuman, aku selalu ingin menghujamkan pisau itu tepat dijantungku.”

 

“Tao…” suara Yixing mengalun lembut.

 

“Saat itu, yang kufikirkan hanyalah ’Aku ingin mati, aku ingin mati. Tidak ada lagi orang yang menyayangiku sepenuh hati. Mereka jahat, aku benci mereka.’ “

 

Suara Tao mulai terdengar gamang, anak itu tengah menahan ledakan isakan menghambur keluar dari belah bibir kecilnya.

 

“Memang apa salahku? Apa aku berbuat nakal? Apa aku bukan anak baik? Apa kalian benci padaku?” kali ini Tao bicara disertai beberapa kali segukan kecil, ucapanya mulai putus-putus dan nafasnya tampak tersengal “Jika memang benar begitu, akan lebih baik kalau kalian memukuliku atau memarahiku habis-habisan sejak awal. Jangan seperti ini! Jangan membohongiku!”

 

“Tao…”

 

“Kenapa kalian harus menjadi seperti papa dan mama-ku?!!!”

 

Wufan dan Yixing tersentak hebat. Kaget mendengar Tao menjerit marah. Nafasnya tak lagi tersengal melainkan memburu, menghirup oksigen seolah ia tak kan dapat menghirupnya lagi esok hari.

 

Kini semua telah berada diujung tanduk. Dan bagi Tao…sebentar lagi mimpinya akan segera berakhir. Sementara rasa sesal yang menyelimuti sekujur tubuh Wufan tak membiarkanya bergerak untuk memeluk tubuh Tao yang bergetar hebat. Dalam hati, ia pun berharap semua ini hanya mimpi…ia tak pernah mengira, penyesalan akan datang secepat ini. Sebenarnya…apa yang selama ini ia lakukan? Perbuatan apa telah ia lalui?

 

Tao menghapus kasar lintasan air mata dengan punggung tangannya.

 

“Sudah cukup, sekarang sudah cukup. Kalian mungkin menganggapku tidak akan mengerti…dan benar, aku memang tidak mengerti. Aku terlalu naif, menganggap semuanya akan terus berjalan lancar dan indah.”

 

Sekali lagi Tao mengusap kasar air mata diwajahnya, kedua matanya kembali berbenturan dengan kedua mata Wufan.

 

Dan ia pun melepaskan…lalu menjatuhkan begitu saja, seuntai gelang yang sesungguhnya telah lama melingkar ditangan kirinya. Sebuah gelang berbandulkan tembaga putih berbentuk burung yang tengah mengepakan sayap, gelang yang sama dengan milik Wufan…pemberian pemuda rupawan tersebut.

 

Wufan menatap lekat benda itu, sejak Tao melepaskannya…hingga terjatuh dan bentur lantai.

 

Tao telah memutus ikatan diantara mereka berdua.

 

“Aku akan baik-baik saja…tanpa Yixing-gege…aku akan baik-baik saja…tanpa Wufan-gege.”

 

Tidak. Sorot mata Tao begitu lugu dan apa adanya…demi Tuhan, ia hanya seorang anak yang tidak pernah menderita, tidak pernah merasakan pahitnya kisah percintaan.

 

Dan kini…Wufan lah orang pertama yang membuatnya merasakan semua itu.

 

Cinta pertama Tao.

 

“Selamat tinggal.”

 

TIDAK!

 

.

.

.

 

Jika melihat semua ini, apakah Joonmyeon akan bangga? Apakah Baekhyun akan tersenyum dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih?

 

Apakah…ia telah melakukan hal yang benar?

 

Tao berhenti melangkah untuk menatap kedepan sejenak. Pandangannya buram, air mata bergumul penuh dipelupuk matanya, untuk kemudian membebaskan satu tetes perlambang kesedihan itu menodai pipi putihnya. Ia tak menghapusnya, untuk apa jika nantinya mereka akan kembali muncul dan muncul lagi semakin banyak…mungkin sampai nanti air matanya tergantikan oleh darah.

 

Tak pernah terbesit sekali pun oleh Tao…bahwa akan tiba saatnya ia mengucap selamat tinggal pada Wufan.

 

Memang benar, hal yang diawali dengan indah…bukan berarti akan berakhir dengan indah pula. Cinta pertama memang memiliki tempat tersendiri dihati, apa yang ia torehkan didalam diri ini akan selalu membekas, ter-peta-kan dengan sempurna bagai pembulu darah yang menyebar diseluruh tubuh Tao.

 

Sejak mengenal Wufan, warna dalam keseharian Tao semakin bertambah.Jika hari ini Wufan mengenalkan warna merah padanya, maka esok hari pemuda bersurai pirang itu akan menunjukan warna ungu kepadanya. Tao selalu mendapat dan mempelajari hal baru dari Wufan.Bersama Wufan tak satu detik pun terlewatkan dengan membosankan.Wufan bukan hanya kekasih hati, melainkan seorang sahabat, ayah, kakak dan guru bagi Tao.

 

Wufan adalah segalanya…tanah tempat ia berpijak, langit tempat ia memandang dan laut tempat ia menjatuhkan kekagumannya.

 

Dengan melepas Wufan, sama saja dengan mengancurkan dunianya.

 

Tao tetaplah hanya sebongkah asteroid yang berkelana diluar angkasa tak berujung, yang kemudian bertubrukan dengan meteor hingga hancur berkeping-keping dan menjelma menjadi debu antariksa.

 

“TAO!!”

 

Langkahnya kembali terhenti. Tao baru tersadar bahwa sejak tadi ia merenung sambil berjalan tak tentu arah, untunglah gedung ini sepi, jadi tak perlu seorang pun ia tabrak karena tak memerhatikan jalan dengan seksama.

 

Suara dari arah belakang itu membuatnya menoleh, sejujurnya ia merasa berat, sekujur tubuhnya terasa kaku dan lemah.

 

Dilihatnya seorang pemuda bertubuh tegap berdiri disana.Raut wajahnya begitu mengundang iba, mencerminkan kekosongan dihatinya kini.Sementara sorot mata yang ditampilkannya seolah penuh pengharapan besar.

 

“Tao, maafkan aku…”

 

Lalu dia memohon maaf darinya.

Untuk apa? Hanya sebuah kata ‘maaf’ tak kan mengubah apa pun.

 

“Jangan pergi…”

 

Dia juga memintanya untuk tetap tinggal.

Masih belum puas kah?

Bukankah ia telah memiliki yang lain disisinya?

Tak ada gunanya tetap tinggal jika hanya berakhir sebagai hama pengganggu.

 

“Ta—“

 

“Jangan mendekat…” ucap Tao menghentikan Wufan yang telah mengambil satu langkah maju.

 

Nafas Tao kembali tersengal, ia merasa oksigen semakin menipis disekitarnya. Ia tidak bisa berdekatan dengan Wufan lebih dari ini. Hanya nafas inilah yang Tao miliki setelah Wufan merampas dan menghancurkan seluruh harapannya. Jika Wufan mendekat, maka Tao akan tidak bisa bernafas. Jika Wufan mendekat, maka Tao akan mati.

 

“Wufan-gege kembali saja pada Yixing-gege…Tao tidak butuh…Tao tidak butuh dirimu lagi.”

 

“Jangan katakan itu Tao.”

 

“Kenapa? Kenapa tidak boleh? Kau bukan papa-ku, jangan seenaknya melarangku!”

 

“Tao! Hati-hati langkahmu!”

 

“Jangan perlihatkan kepedulian palsu-mu!”

 

“Aku serius Tao!!”

 

“Aku tidak percaya!!”

 

“Tao!!”

 

Tanpa Tao sadari, ia telah berdiri dianak tangga paling atas. Ketika Wufan berusaha mendekat, tanpa sadar Tao melangkah mundur dan segera kehilangan keseimbangan kala tak mendapat pijakan yang mantap. Dibawahnya adalah tangga melingkar yang sangat panjang…Wufan berlari seraya mengulurkan tangan guna menggapai tubuh Tao, namun semua itu terlambat. Tangan mereka bahkan tak sempat bersentuhan seujung kuku-pun, hanya pandangan yang sempat berbenturan…namun semua itu tak dapat mencegah tumbangnya tubuh Tao membentur satu persatu anak tangga.

 

Wufan tercengang, terbelalak melihat tubuh Tao berguling menyusuri anak tangga…paru-parunya seakan berhenti memompa oksigen ketika itu.

 

Suara benturan yang menggema itu begitu memilukan.

 

“TAO!! TAO!! TAOOOO!!

 

Samar-samar Tao dapat mendengar jeritan Wufan…suaranya begitu panic dan bergetar, menyeramkan. Tao tidak suka mendengarnya, kepalanya sakit, penglihatannya pun mulai memburam. Ada sesuatu yang berwarna merah mengalir didekatnya, semakin banyak, semakin deras. Ia merasa tubuhnya melayang, rasanya ringan.

 

Sekelebat ingatan hadir dikepalanya. Bagai kepingan Puzzle yang berjatuhan dalam gerakan slow motion.

 

Ada papa, mama, kakek, nenek, teman-teman, Joonmyeon-hyung, Minseok-hyung, Jongdae-hyung, Chanyeol-hyung, Baekhyun-hyung, Kyungsoo-hyung, Yixing-gege, Luhan-gege, Sehun, Jongin…Panda.

 

Dan Wufan-gege…

 

Mereka semua tertawa bahagia…

 

 

Mereka semua…siapa?

 

 

“TAO! HEI, TAO! BANGUN TAO, BANGUN!”

 

Seorang pemuda bersurai pirang, tanpa peduli pakaiannya yang telah dipenuhi noda merah pekat…terus mengguncangkan tubuh seorang pemuda lain dalam dekapannya.

 

Ia panic, jantungnya bagai meledak layaknya sebuah bom.

 

Sementara dibelakangnya, Joonmyeon, Baekhyun dan Yixing hanya terperangah melihat pemandangan memilukan tersebut.

 

……………

 

Dunia ini sungguh menakjubkan bukan?

Semua hal ada didunia ini.

Tapi aku sudah cukup memiliki semuanya…keluarga yang bahagia, teman-teman yang baik dan seseorang yang pantas menerima seluruh hatiku.

 

Aku tidak butuh apa pun lagi.

Aku sudah sangat bahagia. Sangat, sangat bahagia.

Papa…

Mama…

Wufan-gege…

 

Mengapa kalian meninggalkanku sendirian?

Kalian memberiku segenap kebahagiaan, namun kalian mengambilnya kembali dariku.

Mengapa kalian sama sekali tak menoleh meski aku menangis?

Kalian membiarkanku tersesat.

 

Disini sangat gelap!

Jangan tinggalkan aku sendiri!

 

Tuhan…

 

Tao ingin hidup.

Meski hanya seorang diri.

 

Aku tidak ingin mati!

 

………………

 

Seseorang berbaring diatas ranjang. Ditemani beberapa peralatan medis yang menjamah tubuh ringkihnya. Perban bernoda merah melilit rapi kening serta lehernya. Kedua mata yang dahulu selalu berbinar indah kini tampak tertutup, bagai seekor kerang yang menyembunyikan mutiara berkilauan didalamnya. Ia hidup…namun suara nafasnya sama sekali tak terdengar. Sedikit pun tidak.

 

Tao seperti boneka.

 

Sungguh Wufan tak dapat mendengar suara nafasnya.

 

“Selain kehilangan banyak darah, Tao juga mengalami gegar otak dan beberapa cedera ringan lainnya. Mungkin karena tubuhnya terbiasa berolah raga, dampak yang diterima tidak terlalu parah. Hanya saja, kepalanya…mendapatkan damage yang cukup parah. Dapat dipastikan untuk selanjutnya sampai waktu yang tak dapat ditentukan, Tao akan mengalami koma.”

 

Wufan memutuskan untuk meninggalkan kamar rawat Tao. Tempat pemuda china nan lugu itu…melakonkan sebuah pertunjukan yang bertajuk ‘Sleeping Beauty’.

 

Lucu sekali adanya peran dokter dalam pertunjukan ini.

 

Hal gila apa ini?

 

Mimpi yang sungguh buruk.

 

“Wufan…”

 

Suara Joonmyeon membuatnya memandang kedepan, mencegah matanya bermesraan dengan lantai.Ternyata Joonmyeon telah menunggu diluar bersama Baekhyun. Namun sayangnya Wufan tak ada gairah untuk mengeluarkan suara. Maka ia memilih untuk mengabaikan saja kedua orang itu dan terus melangkah.

 

Namun lagi-lagi suara Joonmyeon memaksanya menghentikan langkah.

 

“Beberapa hari lalu, kedua orang tua Tao bercerai.”

 

Hah~ apa lagi itu?

 

“Mereka bercerai tanpa meminta persetujuan Tao. Mereka hanya memberi kabar lewat telpon…dan tepat setelah itu, Tao mencoba mengakhiri hidupnya dikamar mandi.”

 

Wufan segera melebarkan matanya dan berbalik memandang Joonmyeon dengan penuh keterkejutan…raut wajah itu, lebih dari cukup untuk melambangkan sebuah tanda tanya besar.

 

“Sebenarnya Tao mengetahui hubunganmu dan Yixing sejak awal, hanya saja dia memilih untuk diam karena takut kalau kau akan benar-benar memilih Yixing dan meninggalkannya.”

 

Jadi itu sebabnyakah ia dapat menemukan beberapa luka mencurigakan disekitar pergelangan tangan Tao? Itu sungguh-sungguh? Bukan hanya bohong belaka?

 

Tubuh tegap Wufan terperosok jatuh. Ia yang biasanya kuat kini lemah tak berdaya, hanya dengan membayangkan betapa keji dan jahat dirinya mengkhianati perasaan Tao yang tulus, mengabaikan rasa membutuhkan Tao terhadap dirinya. Mengabaikan uluran tangannya ketika pemuda pemilik surai kelam itu membutuhkan pertolongan.

 

“Sekarang. Silahkan renungkan perbuatanmu…dan nikmatilah rasa bersalahmu.”

 

Ia dapat melihat Yixing berdiri dibelakang Baekhyun dan Joonmyeon…pemuda berparas lembut itu menangis seraya menutup mulut dengan satu tangannya.

 

Mengapa penyesalan selalu datang terlambat?

Itu pertanyaan konyol.

Jawabannya…

Karena manusia selalu melakukan kesalahan.

Seberapa banyak pun penyesalan yang datang, sebesar apa pun penyesalan yang dirasakan.

Manusia akan terus…dan akan selalu melakukan kesalahan.

 

……………

 

Hari demi hari berlalu begitu saja seperti helai dedaunan yang gugur satu persatu. Tak terasa dua minggu sudah Tao menikmati tidur panjangnya…

 

Dan pagi hari ini…adalah hari dimana Wufan berlari dilorong rumah sakit, dengan menggenggam erat seuntai kalung berbandulkan burung yang tengah mengepakan sayap, gelang tembaga putih milik Tao. Gelang yang selama dua minggu ini menjadi teman setianya kala memikirkan sosok Huang Zitao.

 

Bukan hanya dirinya yang merindukan Tao…semua saudara lainnya pun merindukan Tao, dan saat ini adalah hari dimana mimpi seolah menjadi kenyataan.

 

Tao sadar. Mata indah itu telah terbuka sepenuhnya. Sungguh Wufan tak dapat menahan senyum terkembang menambah nilai keindahan parasnya.

 

Segera dibukanya pintu geser ruang rawat inap Tao.

 

Telah banyak orang disana rupanya, hanya dirinya yang belum hadir karena sejak pagi-pagi buta tadi ia diharuskan mendatangi kantor manajemen guna merevisi jadwal baru untuk ia dan kesebelas bandmate-nya yang lain. Wufan melangkah perlahan mendekati ranjang, Jongin dan Chanyeol yang menyadari kedatangannya segera menyingkir, memperlihatkan sosok yang pada awalnya berbaring, kini duduk diatas ranjang.

 

“Tao!!”

 

Wufan tak dapat menahan keinginannya untuk memeluk tubuh Tao, tanpa peduli apa pun lagi…sungguh ia hanya ingin merasakan hangat tubuh pemuda bersurai kelam tersebut.

 

“Tao. Syukurlah…syukurlah…”

 

Ia mendekap tubuh kaki Tao…meresapi kehangatan tubuh terkasihnya itu sepenuh hati, membiarkan luka akibat kerinduan mendalam ini berangsur-angsur tersembuhkan.

 

“Kau siapa?” ucap suara kecil.

 

Tubuh Wufan entah bagaimana terasa kaku, meski ia tak terlalu ambil pusing dengan suara itu…namun fakta bahwa Tao yang baru saja berbicara mengundangnya melepas pelukan dari tubuh sang terkasih, menyentuh pundak kecil itu dengan lembut dan menghadiahinya sebuah tatapan hangat. Dan yang membuatnya memikirkan sebuah kalimat tanya dalam kepalanya adalah…sorot mata Tao yang baru pertama kali ini ia temukan. Sorot mata yang sama nilainya dengan sebuah tanda tanya.

 

Tidak, Wufan tidak ingin menarik kesimpulan yang telah ia fikirkan samar-samar meski situasi ini memaksanya.

 

“Kau…siapa?” sekali lagi suara kecil itu berucap.

 

Kedua mata antik Wufan segera saja terselimuti ketakutan mendalam. Dengan sendirinya satu kesimpulan terbentuk diotaknya. Sorot mata Tao yang tanpa dosa itu belum berubah sama sekali, seperti bayi yang baru saja dapat membuka mata…kosong, seperti kertas putih.

 

Semua warna yang dahulunya terdapat disana menghilang…entah kemana.

 

“Gegar otak yang Tao alami…membuatnya kehilangan ingatan.”

 

Suara Luhan terdengar mengalun samar-samar.

 

.

.

.

 

“Dia adalah Kris…tapi kau dan juga kami terbiasa memanggilnya Wufan, itu sama saja…dia orang China, sama seperti kau, Yixing dan juga Luhan.” terang Joonmyeon ketika ia mengenalkan satu persatu anggota kepada Tao.

 

Wufan hanya tersenyum kikuk. Rasanya sungguh aneh sekaku ini dengan Tao…dan juga ini kali pertama ia melihat secara langsung orang dalam status amnesia.

 

“Wufan dan Yixing…adalah sepasang kekasih.”

 

Semua orang yang ada disana, lebih tepatnya kesepuluh bandmate selain Joonmyeon dan Tao…membelalakan mata menatap sang pemilik suara yang baru saja bicara, siapa lagi kalau bukan Joonmyeon sendiri.

 

Khusus untuk Wufan…sepercik api amarah tersulut dikedua bola matanya.

 

Mungkin semua telah mengetahui perihal hubungan rahasianya dengan Yixing, tak ada rahasia yang tersimpan rapat dalam waktu lama diantara mereka berduabelas. Dan ada saat-saat tertentu, dimana tak ada seorang pun –bahkan Wufan− yang berani membantah ucapan Joonmyeon. Bukan karena pria itu adalah leader, melainkan karena sorot matanya yang jelas sekali menolak pembangkangan dalam bentuk apa pun.

 

Sayangnya, rasa bersalah dihati telah menjelma menjadi rantai yang mengunci seluruh persendian ditubuh Wufan. Mencegahnya untuk menerjang lalu memukul wajah Joonmyeon sebagai balasan karena telah mengucapkan hal yang tak sepatutnya pada Tao.

 

Joonmyeon mungkin terlalu ikut campur, namun jika tanpa pria itu…Tao pasti telah menutup mata untuk selamanya. Perasaan Joonmyeon sungguh kuat terhadap Tao.

 

“Benarkah?” ucap Tao pelan. Kedua mata uniknya menatap Wufan dan Yixing secara bergantian. Ada Jongin yang berdiri diantara keduanya, namun tetap saja jarak mereka cukup dekat.

 

Cukup lama Tao memandangi keduanya, terkadang mata khas tanah asia miliknya menyempit pertanda jika ia tengah mencetak sosok Yixing dan Wufan kedalam memori otaknya.

 

Tak lama…seulas senyum tulus merekah melalui kedua belah bibir merahnya.

 

“Kalian berdua sangat cocok.”

 

Senyum Tao adalah senyum tulus dari jiwa yang tak pernah mengecap penderitaan…Tao tidak tahu apa-apa.

 

Tao seperti baru saja terlahir kembali.

 

Terbang tinggi meninggalkan Wufan.

 

……………

 

Hal yang sama sekali tak berlaku bagi Wufan adalah pendapat hampir setiap orang mengenai ‘Waktu akan menyembuhkan segala rasa sakit.’

 

Nyatanya selama ini waktu hanya berlalu begitu saja, tak memberinya kesempatan untuk sekedar merenungkan kesalahannya dimasa lalu. Rasa sakit ini tak pernah sirna walau hanya sedikit, lubang dihatinya semakin membesar layaknya lubang cacing hitam yang terdapat diluar angkasa. Wufan tak pernah menemukan dirinya serendah ini…ia terpuruk, ia bagaikan hidup didasar laut paling dalam bersama bangkai-bangkai kapal yang dulunya karam.

 

Keping puzzle yang dahulu sempat hilang kini kembali…namun bentuknya tak lagi cocok dengan celah kosong dihati Wufan.

 

Tao tetaplah Tao…tapi Tao bukanlah Tao.

 

Waktu sungguh kejam meninggalkannya seorang diri terpuruk didasar jurang terdalam.

 

Waktu enggan membawanya kembali kemasa itu, waktu tidak sudi memberinya kesempatan kedua..

 

“Ah…hah~ hha…” gumam Wufan dengan gelisah…

 

…dalam tidurnya yang tak pernah lelap sejak hari dimana Tao kehilangan ingatannya.

 

Ingatan Tao sama sekali belum kembali, sedikit pun tidak…dokter bahkan telah memvonisnya mengalami amnesia permanen. Hal tersebut disebabkan kondisi mental Tao yang telah cacat parah sebelum mengalami kecelakaan. Dapat diduga bahwa alam bawah sadar Tao menolak untuk mengingat masa lalunya.

 

Tao bahkan menolak pulang bersama kedua orang tuanya, karena bingung harus ikut dengan siapa…dengan mama atau dengan papa. Ia hanya menggeleng dan membiarkan kedua orang tuangnya kembali ke Qingdao dengan perasaan hampa.

 

Pernah sekali Tao bertanya.

 

“Hyung, apa penyebab luka ditanganku ini?”

 

Dan semua anggota keluarga sepakat menjawab dengan mengatakan bahwa luka tersebut hanyalah goresan yang tanpa sengaja terjadi ketika Tao terpeleset dikamar mandi dan tergores pinggiran bathtub.

 

Bukan luka akibat percobaan bunuh diri karena mengetahui perselingkuhan Wufan dan Yixing.

 

“Nggh~ hah…a…Ta…o” Wufan kembali mengigau.

 

Peluh mengalir deras, turun dari pelipis, membasahi leher hingga membuat kaus-nya lembab…ia tak pernah beristirahat, bahkan ketika tertidur. Wufan seperti diburu sesuatu…sesuatu yang tak tampak. Namun sangat menakutkan baginya.

 

Mimpi buruk.

 

Selalu terdengar suara tetesan air, yang samar-samar menampilkan visualisasi tetesan darah dalam tidurnya. Darah itu terus menetes, iramanya sama persis dengan detak jantungnya…terus menetes, menetes sampai habis…sampai detak jantungnya berhenti.

 

Dan terlihatlah sosok Tao bersimbah darah diujung tangga itu. Darah mengalir deras layaknya mata air dari luka menganga dipergelangan tangannya.

 

“Haghh! Hhh~ hah…”

 

Sampai akhirnya Wufan pun terbangun dengan kegelisahan yang semakin berlipat ganda…ia seperti baru saja ditarik dari dasar tungku api raksasa. Ia merasa nyaris saja direbus hidup-hidup.

 

Dengan terpaksa ia menegakkan punggung, terduduk diranjang dalam keadaan tersengal parah.

 

Ruangan gelap. Ia seorang diri. Chanyeol yang merupakan room mate nya memilih tidur diruang tamu karena telah berencana begadang menyaksikan film bersama Minseok dan Jongin.

 

Hah~ tanpa cahaya, tanpa teman…kurang menyedihkan apa lagi hidupnya sekarang?

 

Dengan nafas yang masih tersengal, Wufan menyusupkan tangan kebawah bantal…mengambil sebuah pisau lipat dan segera menyayat pergelangan tangan kirinya sendiri. Sekali, dua kali…ia terus melakukannya, meski tak sampai merengut nyawa…namun semua itu ia lakukan dengan tersenyum.

 

Yah, tersenyum…

 

Ia merasa lega setelah melukai dirinya sendiri. Entah bagaimana mungkin ia bahagia melihat darahnya sendiri menetes pelan-pelan menodai lapisan kain dibawahnya.

 

Dan sesungguhnya pisau itu adalah…pisau milik Tao.

 

.

.

.

 

Betapa seorang Huang Zi Tao memiliki andil besar terhadap hidupnya.

 

Zitao adalah satu-satunya orang yang dapat membuatnya merasa bahagia dan menderita dalam satu garis waktu. Tao seperti aliran waktu yang melingkupi dirinya, baik masa lalu mau pun masa depannya…hanyalah mengenai Tao.

 

Wufan mengusap permukaan perban ditangan kirinya, perban yang menutupi luka sayatan hasil perbuatannya hampir setiap tengah malam. Ia terus mengusapnya karena terasa gatal, hingga membuat darah yang belum mengering, merembes pada pori-pori kain perban…menyisakan bercak merah pada kain yang awalnya putih bersih tersebut. Rasanya begitu bahagia melihat Tao tersenyum, namun ia juga merasa pilu karena dahulu ia sempat menodai senyum suci tersebut.

 

“Kebiasaan barumu belum lenyap juga?” sapa suara seseorang yang kini melangkah menghampirinya.

 

Yixing telah berdiri disampingnya, turut memandang kebawah…kehalaman belakang asrama, dimana Tao, Chanyeol dan Jongdae tengah bermain pistol air pemberian Fans.

 

“Akhir-akhir ini kau sering melamun ditempat tinggi, ya? Apa kau mulai berencana bunuh diri dengan melompat?” ucap Yixing lagi mengingat tempat ia dan Wufan berada saat ini adalah lantai dua asrama mereka.

 

Tak ada sahutan…Wufan tetap bungkam tanpa alasan yang jelas, entah dia sengaja diam atau benar-benar tak mendengar ucapan Yixing, melamun. Yixing yang memerhatikannya menyadari kegiatan tangan Wufan yang tak pernah berhenti menambah luka walau tanpa pisau.

 

“Wufan, hentikan tanganmu itu!!” pekik Yixing yang akhirnya berhasil menyadarkan sang pemilik surai pirang dari lamunan singkatnya.

 

Wufan menoleh dengan sedikit kaget, ia melihat raut panik Yixing dengan tatapan yang mengarah pada tangan kirinya.

 

“Oh, ini…” Wufan merapikan lilitan perban ditangan kirinya, walau bentuknya tak banyak berubah karena sejak awal ia mengenakannya secara asal “Aku baik-baik saja.”

 

Sepasang mata dengan sentuhan khas America itu kembali melayang pada sosok dibawah sana yang masih saja asyik bermain. Tao tak menyadari bahwa kini Wufan tengah menatapnya begitu lekat…Tao juga tak menyadari kesenduan yang selalu mengarah padanya tiap kali Wufan memandangnya.

 

Semua berubah. Tao berubah, Wufan berubah, Joonmyeon berubah…bahkan Baekhyun pun berubah. Kehidupan sebagai dua belas orang dalam satu keluarga, musnah dalam sekejap. Dihadapan Tao, ia dan Wufan harus berpura-pura menjalin hubungan, dihadapan semua pasang mata…Wufan harus berpura-pura bersifat normal. Dan Yixing pun…harus berpura-pura ia baik-baik saja dalam keadaan seperti sekarang ini.

 

Tao hilang ingatan dan Wufan menjadi masokis.

 

Yixing stress. Ia nyaris gila kalau saja tak mengonsumsi obat tidur setiap malamnya.

 

“Wufan, serius. Kau harus menahan dirimu untuk tidak melakukannya.”

 

“Tapi hanya ini satu-satunya cara yang dapat membuatku merasa baik-baik saja.”

 

“Kau bisa mati kalau seperti itu terus.”

 

Mati…

 

Mati, ya…

 

 

Jadi seperti ini kah rasanya berada didekat garis ajal? Seperti ini kah perasaan Tao dahulu?

 

 

Kau…benar-benar menderita karena aku, ya…Tao?

 

 

“Sekarang Tao telah melupakanku. Hidup atau mati…keduanya sama saja bagiku.”

 

 

 

~OWARIMASHITA~

 

 

Nah, jadi hanase udahan ya Cuma sampe kristao sama chanbaek aja

Saya ga bisa buat hunhan karena Sehun ga ada temen buat selingkuh? Masa kyungsoo lagi…kasian amat~

Saya juga ga bisa buat kaisoo karena Kai juga ga ada temen selingkuhan, masa ama baekhyun? Ga mauuu~ SAMA SEHUN AJA APA YA? *gigit idung kai*

 

Karakter Joonmyeon disini terinspirasi sama tokoh yg diperankan Sho Sakurai (Arashi) dalam dorama Kazoku Game.

 

Kalo ide Wufan masokis ini, keinget sama doujinshi sasunaru yang pernah saya baca.

 

Mungkin setelah baca keseluruhan cerita, agak2 mirip ya sama FF yg ada di FFn…soalnya saya sempet baca FF yg judulnya Saranghae, Gege~ (Zhii) sama Don’t you love me (samkou) ya saya memang terinspirasi dari kedua FF tersebut.

 

Ps: saya review lho pake nama lain…kekekeke~ maaf, untuk credits disebut setelah cerita usai…soalnya kalo diatas ntar ketebak kisahnya -___-

 

Maaf karena Wufan sama Yixing ga jadian…sejujurnya saya emang kurang suka Krislay. Bukan benci bukan…hanya kurang suka aja. Dan ga ada maksud bash Yixing, serius…saya aja agak ga tega sebenernya sama Lay disini.

 

Akhir kata…terima kasih atas kesediannya membaca sampai tuntas.

Yang ga ngerti cukup jadi Silent Reader aja, oke?

 

Oh iya…saya baru bikin Twitter kalo mau silahkan follow, trus mention ya nanti saya Follback. Di @kyuu_hime

 

ARIGATOU

132 thoughts on “ONESHOT | HANASE [ KRISTAO VER.]

  1. perasaan gua ? khusus dalam ff ini gua setuju kris sama lay mati aja ! mereka udh engga guna, apapun sebel banget sama entah siapa.
    bahasanya keren thor, bikin gua bener bener ingin musnahin KrAy -..-“)9
    pas baca isi hati tao sama baekhyun itu apapun polos bgt alesannya makin ingin krisnya apa kek.
    dan bagus banget taonya amnesia itu bagus banget !
    aaaa pokoknya ga berenti marah-marah baca ff ini

  2. aku gak bisa berkata apa apa. . .fanfic ini bikin kamar gua banjir air mata gara gara gua nangis sesenggakan. . . Gua pengen bunuh kris jadinya . . , bagus dah itu kris gak bersatu ma yixing . , .

  3. Wufan, demi apapun gak guna banget nyiksa diri dengan jadi masokis gara-gara menyesal nyakitin Zitao, Lay juga ga bisa depresi begitu… mending kalian jaga aja Zitao dengan cara kalian sendiri sekarang…

    suka banget loh interaksinya BaekTao, dewasanya Suho dan rapuhnya Zitao…deskripsinya keren banget, jadi bisa ngerasain sakitnya Ziato yang harus di khianati~~~~ TT^TT

    keep writing~~~ ^^

  4. Terharuu ;(
    Hukum karma memang benar adanya.

    Saya jg suka bca di FFn , apa author punya account di sana.?
    Apa?

    Keep Writing nde^^

  5. Hiks..hiks..kris jahatt bgtt😥 lay tega bgt y ampunn..huwee..pd mti aja sono #geplaked. Author daebakk ffnya menyentuh bingitT.T Sekuel dong pliss msa smpe sini doang #maksa:D .maaf ane nyaasar, bangapta🙂

  6. Tetap berkarya ne🙂 banyakin ff kristao/taoris,ane kristao hard shipper Huahaha #ketawa nista .Author:”gaknanya😀

  7. nyeseeeek bingit baca ff ini seolah olah air mata telah bercucuran *lebay haha
    daebak banget unnie, babby tao di jahatin sama kris! rasain tuh kris kena karma *ditimpuk kris

  8. keren thor critanya… kasian sama tao sampe tiap hari bawa” pisau pingin bunuh diri gitu.. kris jahat banget masa selingkuh sama lay. nyesek bacanya pas tao liat kris sama lay lagi ciuman dah gitu tao jatuh dari tangga.. nyesek sakitnya tu disini( nunjuk hati).. untung aja tao amnesia jadi dia ngga sakit hati lagi. tapi ujungnya krus kasian juga sih.. ddia jadi frustasi gitu yi zhing juga… pokoknya ff nya kerennnnnnnnnn….
    keep writing thor…

  9. Eh serius, nggak yang baekyeol, nggak yang taoris, semuanya bikin aku nangis! Nggak kebayang, padahal perasaan aku nggak cengeng -,,- untung deh, si Tao lupa ingatan, setidaknya dia nggak sakit banget gitu… Rasa in, wupan! Elo pake acara selingkuh sama unicorn sih =,=

  10. Aku mau mewek, tapi air matanya nyangkut ;__;
    huwee feelnya ngena banget ;__;
    JoonMyeon Ku >.<
    arghhh makin lope lope❤ <"
    Demi apapun! Gak tega Lay umma jadi begitu T.T
    dan disini, aku cuma pengen bunuh WUFAN!
    ARGHHH…
    MENGGELINJANG AKU BACANYA :'V

    GOOD JOB!

  11. Apa yg tao rasain seolah bisa aku rasain juga😥 Tanpa sadar aku nangis baca ini. Emg ga meraung sih nangisnya tp nangisnya deras(?) juga ternyata ah gitulah pokonya😀 nice story~ gada niat bikin yg HunHan vers thor??? Hehehe

  12. si sehun selingkuh sma sooman aja,wkwk.tapi seriusan deh,pngen baca hanase hunhan ver.,pertimbangin bkin ya kaaakk
    keep writing ^_^

  13. Thor,, ni ff bangus bangat.. bener2 nguras air mataa, emosi, dan
    perasaan.. berasa jadi tao nya aku kalo baca ini

  14. Knp sih Kris milih Yixing oppa daripada tao?
    wae?wae? kasihan oppa tao. Hatinya ioo tu udh kayak tersayat pisau harusnya Kris oppa jangan tambah buat oppa tao sedih lagi. Kris oppa kn udh dianggap seperti Appanya Tao. Aigoo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s