ONESHOT | HUNHAN | TRAP

Title: Trap

trap

Author: Nine-tailed Fox

Length: Oneshot

Genre: M3 (Manis, Manja, Mesum)

Cast: Sehun goreng bakso dan Luhansip penjaga mesjid

Supporting Cast: Mat Chanyeol dan Siti Baekhyun

 

Rate: 17+ karena itu…saya mohon dengan sangat, bagi yang belum cukup umur. Jangan baca ini dulu ya. Terlebih ini adalah BOYS LOVE STORY. Saya tau banyak readers yg masih dibawah umur! Tolong jangan abaikan kata2 saya yg satu ini.

 

Summary: diawali oleh Hunhan dan diakhiri oleh Chanbaek

Disclaimer: Ekso punya saya! Semua punya saya! Hahahahahahahaha!!!

 

Asiiikkk! Aku bikin hunhan lagiiiii! Pada kangen hunhan ga siiihhh~ saya kangen bangeeeettt! Dulu momen mereka kayaknya lancar, sekarang mah…~

 

Yah sudahlah, biarkan waktu yang menjawab.

 

Sebelumnya kalau terdapat bagian yang mirip sama FF lain, maaf ya itu ga sengaja…kalo terinspirasi pun Insya Allah akan saya cantumkan credits, judul dan nama pengarangnya. Seperti waktu komen di FF Baektao saya, ada yg bilang karakter Baekhyun disana mirip sama yg ada di FF Baby’s Breath, ya? Beneran, saya emang tau ada FF itu…tapi serius saya belom pernah baca FF itu sedikit pun. Bukan maksud apa-apa…supaya ga ada salah paham aja nantinya.

 

Tapi serius, kalo saya dapet inspirasi ide dari FF orang lain…Insya Allah akan saya sebutkan judul dan pengarangnya.

 

YOK!

 

CEK!

DIS!

OT!

 

≈ ≈ ≈ ≈ ≈ ≈ ≈ ≈ ≈

 

Sehun melihat Luhan yang sangat memesona malam ini. Malam dimana pesta ulang tahun sekolah tengah berlangsung. Ketika itu Luhan baru saja menyelesaikan penampilannya sebagai salah satu pengisi acara dengan nyanyiannya yang sungguh merdu, sementara Chanyeol…teman baiknya, tengah sibuk berbicara dengan Baekhyun dan ayahnya, Direktur sekaligus pemilik sekolah, Park Yoochun. Mungkin ketiganya sedang membahas masalah perjodohan atau semacamnya…Sehun tidak ambil pusing, peluang ini ia gunakan untuk segera menarik Luhan menjauhi keramaian, membawanya ketempat sepi dan memojokkan pemuda manis tersebut.

 

“Kau begitu cantik malam ini, bermaksud menggodaku, hm?” ucap Sehun dengan cara mendesis, seperti bisikan…nafasnya membelai lembut daun telinga Luhan yang saat ini tengah disudutkannya pada salah satu sisi dinding toilet.

 

“Ti-tidak…” Luhan susah payah menghindari nafas Sehun yang terus membayangi leher serta telinganya. Ugh~ Sehun selalu tahu dimana titik sensitive tubuhnya “A…ku tidak—“

 

“Terlambat.” Sehun menggigit pelan daun telinga Luhan “Aku sudah tergoda.”

 

Luhan mengigit keras bibir bawahnya ketika bibir panas Sehun menyentuh kulit lehernya. Rasanya seperti detik itu juga, seluruh tubuhnya mendidih dalam sekejap hingga kekepala…astaga~ ia seperti daun puteri malu yang langsung merunduk hanya karena sentuhan kecil.

 

“Ha…aah— Se-Sehun…ja-jangan…”

 

Bahkan kedua tangan Sehun yang mencengkram erat kedua bahunya, terasa panas bukan main…pasti kini seluruh wajahnya telah memerah entah karena panas atau malu. Sehun masih mengecup setiap jengkal leher Luhan yang dapat ia jangkau. Dimulai dari mengecup kecil, menyesapnya kemudian menggigitnya lalu menjilatnya seolah Luhan adalah sebuah permen yang manis.

 

“Sehun…aah~ please…henti— auh!!” pekik Luhan ketika Sehun menggigit lehernya dengan kekuatan tambahan, seperti vampire yang menghisap darah korbannya. Sakit sekali. Pastinya akan menimbulkan luka dan darah…atau kemungkinan terkecil hanyalah bengkak dalam bentuk deretan gigi.

 

Sehun segera menarik kepalanya menjauhi leher Luhan, namun masih dalam jarak yang dekat…ia menatap pemuda manis dalam kuasanya itu dengan begitu lekat. Menusuk dan tajam, membuat jantung Luhan berdegup kencang karena takut.

 

“Sa-sakit…Sehun…” gumam Luhan.

 

“Jangan melawan atau akan kubuat seluruh tubuhmu sakit…detik ini juga.”

 

Luhan benar-benar merasa seperti kurcaci saat ini juga, setidaknya ia merasakan hal tersebut hanya ketika berada dihadapan Sehun. Tiap ancaman yang dilayangkan Sehun padanya, tak pernah gagal menjadi obat bius yang membekukan tiap persendian tubuhnya. Tak dapat menolak atau menerima…hanya sanggup terdiam, membiarkan pemuda tampan itu melakukan apa pun yang diinginkannya.

 

Melihat Luhan terdiam, Sehun menarik satu sudut bibirnya lalu mengecup singkat sebelah pipi Luhan “Anak pintar.”

 

Air mata meronta hendak melakukan terjun bebas dari pelupuk mata Luhan ketika Sehun mulai membuka mulai dari kancing teratas kemejanya, menarik simpul dasinya hingga menciptakan celah yang cukup luas dalam memperlihatkan seluruh leher dan sebagian dada Luhan…

 

Wow~ kulit dada yang sungguh halus dan lembut, warnanya yang putih bersih mampu membuat Sehun mati-matian menahan liur menetes dari mulutnya.

 

Sehun tersenyum penuh arti melihat leher Luhan yang tak lagi putih bersih, tak sedikit bercak merah disana…tidak merah— sedikit keunguan, mungkin. Pemuda tampan itu kemudian mengeluarkan smartphone miliknya dari saku celana…dan mengarahkan kameranya tepat dihadapan wajah Luhan.

 

“Katakan…Cheese.”

 

Terdengarlah suara seperti ‘click!’ yang berasal dari ponsel Sehun.

 

… … … … …

 

Pagi ini terasa berat seperti biasa, bagi seorang Lu Han yang hampir selalu mendapat tekanan dari Oh Sehun setiap harinya. Yah, ia akan beruntung kalau dapat melarikan diri atau Sehun sedang tidak horny dihari itu.

 

Semua terjadi begitu saja. Luhan tidak tahu harus memulai darimana jika suatu saat nanti seseorang menanyakan hal ini kepadanya. Hampir selalu diawali dengan kejadian yang sama, Sehun menarik dirinya ketempat sepi dan mulai mencumbunya habis-habisan. Tidak sampai menyetubuhi memang…namun tetap saja ia dan Sehun cukup sering melakukan perbuatan yang tergolong sangat intim untuk ukuran teman satu sekolah.

 

Luhan hanya memikirkan satu hal…alasan dibalik Sehun memperlakukannya secara tidak hormat seperti itu.

 

Kenapa?

 

Kenapa?

 

Dan…kenapa?

 

Selama ini ia selalu menjadi siswa yang baik dan tenang, tak pernah mencari masalah dengan siswa populer macam Sehun dan Chanyeol. Bertatap mata saja tidak pernah, bagaimana mungkin ia dapat memiliki suatu hubungan tertentu dengan salah seorang dari keduanya…?

 

Luhan hampir melampaui garis kewarasan, ia mungkin akan melarikan diri ke Hongkong dan menenggelamkan diri disungai Shenzhen jikalau tak teringat akan kakaknya yang bekerja mati-matian demi membiayai sekolahnya. Biar saja jika keesokan harinya televisi akan gempar memberitakan soal penemuan mayat mengambang dipermukaan sungai.

 

Sehun seperti membunuhnya pelan-pelan.

Ada dendam apa sebenarnya pemuda itu?

 

Ponsel Luhan bergetar mengusik ketenangan sang pemilik. Diraihnya smarthphone ber-sticker hello kitty tersebut dari saku celana seragamnya.

 

Luhan meneguk liur paksa. Ada e-mail masuk…dari Oh Sehun.

 

Dan seluruh permukaan wajahnya terasa seperti terbakar saat melihat isi e-mail tersebut. Foto dirinya beberapa malam lalu, yang diambil Sehun ketika mereka melakukannya ditoilet tempat pesta berlangsung. Gambar-gambar dirinya dengan wajah memerah yang jelas sekali akibat nafsu dan keinginan untuk segera ‘disentuh’. Ia seperti pelacur dengan hiasan banyak bercak keunguan dilehernya…potret yang sungguh memalukan.

 

-Tidak ada yang lebih manis dan menggemaskan daripada anak rusa milikku-

 

Begitulah bunyi kalimat yang disertakan bersama kiriman foto. Dan wajahnya terasa memanas lima kali lipat…Luhan pun tanpa menunda-nunda, segera menghapus seluruh gambar kiriman Sehun tersebut dan kembali memasukan ponselnya dalam saku celana.

 

“Luhaa~n!!” seru sebuah suara yang khas dan penuh semangat.

 

Luhan menoleh kebelakang dan langsung menemukan pemuda bertubuh mungil tengah berlari kearahnya.

 

“Selamat pagi, Lu.”

 

“Pagi, Baekhyun.”

 

Keduanya pun berjalan berdampingan memasuki gedung sekolah, mengganti sepatu outdoor mereka dengan sepatu indoor yang selalu digunakan didalam gedung sekolah, lalu melanjutkan menaiki lift  menuju kelas mereka dilantai empat.

 

Dentingan suara kecil terdengar beberapa detik sebelum pintu lift terbuka.

 

Baekhyun dan Luhan segera melangkahkan kaki meninggalkan lift, berjalan berdampingan dengan tenang sampai ketika Luhan menemukan keberadaan Sehun didepan salah satu kelas, lelaki itu tengah berbicara dengan Chanyeol.

 

Luhan berhenti melangkah…wajahnya pucat seketika.

 

“Chanyeol!!” seru Baekhyun seraya melambaikan tangannya.

 

Namun Luhan segera memeluk lengan Baekhyun ketika pemuda itu hendak menghampiri Chanyeol. Merasa ada yang janggal, Baekhyun segera menoleh dengan tatapan penuh tanya.

 

“Ada apa, Luhan?”

 

Luhan menggeleng dengan kepala yang tertunduk dalam…sejujurnya, ia tak berani bertatap muka dengan Sehun.

 

“T-tidak apa-apa…” jawab Luhan gugup, kepalanya masih tertunduk “Tolong temani aku terus seharian ini di sekolah, ya?”

 

“Eh? Tapi aku—“

 

“Aku mohon~”

 

Suara Luhan terdengar lemah, seperti bayi kucing yang mengeong untuk pertama kali setelah dilahirkan. Senjata yang sungguh ampuh untuk membuat Baekhyun luluh. Akhirnya Baekhyun hanya menaikan kedua bahunya saat bertemu pandang dengan Chanyeol, melewati pemuda yang masih bersama Sehun itu seraya menggenggam erat sebelah tangan Luhan.

 

“Tenanglah, Luhan. Semua baik-baik saja…aku akan menemanimu.”

 

.

.

.

 

Masih hari yang terasa begitu berat bagi Luhan, meski sore telah menjelang. Baekhyun telah meninggalkan sekolah satu jam lalu, bersama Chanyeol yang tak bisa mentolerir lagi kekasihnya dipinjam oleh Luhan. Luhan sengaja menunggu dikelas selama satu jam setelah Baekhyun pulang, sampai sekolah cukup sepi…hanya untuk menghindari Sehun yang kemungkinan masih berada di sekolah. Setidaknya, pemuda itu tak kan berani bertindak jauh didalam kelas yang masih dihuni beberapa siswa. Setelah dirasanya keadaan cukup sepi, hanya ada satu atau dua orang siswa yang berlalu-lalang dikoridor, Luhan memutuskan meninggalkan kelas, namun sebelum pulang ia harus mengembalikan buku referensi yang dipinjamnya ke perpustakaan.

 

Gudang buku itu sunyi ketika Luhan mendatanginya, meja petugas kosong dan seorang siswa berjalan melewatinya ketika ia masuk. Mungkin siswa itu adalah pengunjung terakhir dan entah kemana perginya penjaga perpustakaan. Karena ingin cepat meninggalkan sekolah, maka Luhan memutuskan untuk langsung saja meletakan buku pada rak semula, barulah esok hari ia akan melapor pada petugas.

 

“Uuh~ ugh!” gigih Luhan susah payah menyelipkan buku ditangannya kedalam jejeran buku dirak urutan kedua dari atas, objek yang terlalu tinggi. Kakinya yang tak seberapa panjang itu tak banyak membantunya menjangkau tempat tersebut, beruntung saat meminjam buku tempo hari…Chanyeol kebetulan lewat dan membantunya mengambil buku.

 

Tapi kini…ia hanya seorang diri di perpustakaan.

 

Detik selanjutnya, tanpa diduga…sebuah tangan membantunya mendorong buku hingga tersimpan rapi ketempatnya semula.

 

Luhan menghela nafas lega. Ia tersenyum lebar dan segera berbalik badan dengan maksud berterima kasih pada seseorang yang berbaik hati membantunya.

 

“Terima kasih—“

 

Namun sungguh ia tak menyangka akan menemukan tatapan mata tajam itu lagi.

 

Sehun berdiri disana. Dibelakangnya. Sehun lah yang membantunya mengembalikan buku ketempat semula.

 

Luhan kini tak lagi sendirian, tapi ia merasa jauh lebih baik jika sendirian saja.

 

Urat syaraf-nya tegang seketika. Gerakan refleks membuat kepalanya tertunduk dalam, ingin mundur namun apa daya jika rak buku menjadi dinding penghalang. Luhan bergerak gelisah, kedua tangannya tanpa sadar meremas kuat jas seragam sekolahnya…ia tak sanggup memandang wajah Sehun.

 

Wajah Sehun yang membuatnya takut sekaligus terpesona dalam satu garis waktu.

 

Ia menggigit bibir bawahnya saat dirasa salah satu tangan Sehun mulai merambat ditubuhnya. Secara perlahan, menyentuh pinggang lalu dengan gerak lambat menyusuri perut, dada sampai leher.

 

Tangan kanan Sehun mencengkram pundak Luhan, sementara tangan kirinya yang bertempat dileher sang pemuda manis, mulai bergerak…mengusapnya perlahan menyisakan suatu hawa panas disana.

 

Ia pun mendekatkan wajahnya dan berbisik.

 

“Aku tidak suka kau bersentuhan dengan orang lain.” desisnya yang mengakibatkan lubang telinga Luhan seperti dimasuki suatu aliran angin, pemuda manis itu memejamkan mata erat-erat akibat hal tersebut “Rasanya aku ingin mematahkan saja lengan Baekhyun ketika kalian bergandengan tangan seperti tadi…”

 

Luhan masih enggan mengeluarkan suara. Ketakutan seolah telah melumpuhkan otaknya…nafasnya mulai tersengal dan semakin erat mencengkram kain seragamnya.

 

“Apa kau mengerti, huh?”

 

Luhan tetap terdiam, tubuhnya mulai gemetar.

 

“AKU BENAR-BENAR TIDAK SUKA!!” teriak Sehun seraya memukul keras rak buku dibelakang Luhan, mengakibatkan beberapa buku terjatuh meninggalkan tempatnya.

 

Luhan tertunduk semakin dalam. Entah sejak kapan kedua tangannya menutupi telinga dan ia dapat merasakan dagunya menyentuh pundak. Sehun marah, Sehun marah…ia murka. Entah apa yang akan dilakukannya setelah ini.

 

“M-maafkan aku…”

 

“Apa?”

 

“Maafkan aku…aku tidak akan mengulanginya.”

 

“Pembohong.”

 

“Aku sungguh-sungguh!!” pekik Luhan yang tanpa sadar setelahnya, mengangkat kepala hingga ia berbenturan pandang dengan Sehun.

 

Dan Luhan segera menyesali hal tersebut. Sorot mata Sehun telah berhasil memerangkapnya dalam sekejap. Seperti ada sesuatu yang merasukinya dan memberinya sugesti bahwa mata Sehun itu sangat indah…garis mata yang sempurna, sorot mata yang tajam dengan kilat keangkuhan serta kekuatan yang membuat matanya seakan lebih jernih dan indah daripada mata air.

 

Luhan bahkan…dapat melihat pantulan dirinya dalam bola mata Sehun.

 

Sehun tersenyum tipis. Diam-diam menjilat bibir atasnya.

 

“Baiklah. Kau kumaafkan…tapi bukan berarti kau terbebas dari hukuman, anak rusa.”

 

Detik selanjutnya. Entah untuk yang keberapa kali, Sehun menjamah leher Luhan dengan bibirnya. Meninggalkan jejak bukan hanya bercak keunguan, melainkan juga liur yang tak sedikit disana.

 

“Hyaa~ aahh…nghhm…”

 

Luhan berusaha mendorong tubuh Sehun…demi para dewa! Ini masih di sekolah, terlebih perpustakaan. Orang lain bisa kapan saja masuk dan menemukan mereka dalam keadaan seperti ini?!

 

“Nghh~ Se…Sehun…berhentilah, aku mohon…auh!” Luhan memekik karena lagi-lagi Sehun menggigitnya cukup kuat.

 

Ia nyaris menangis…namun berhasil ditahan dengan cara menggigit bibir bawahnya. Susah payah pandangannya berkelana, bergerak-gerak tak tentu arah mencari keberadaan CCTV, namun nihil…Luhan baru ingat kalau CCTV diperpustakaan, hanya terpasang disudut yang dapat memantau pintu masuk.

 

Bagaimana ini?

Sehun bisa lebih menggila dari ini.

 

“Astaga! Sehun, Sehun…tidak, jangan!!” jerit Luhan…panik bukan main. Karena Sehun…mulai melepaskan kaitan ikat pingganggnya.

 

Namun apalah daya. Sehun adalah raja disini. Sekali pun Luhan mengerahkan seluruh tenaga, Sehun yang dalam keadaan ‘tak ingin dibantah’ seperti sekarang ini…tak kan sanggup ia lawan.

 

“Sehu~n…aaahh…henti…kan…”

 

“Ssshh, karena telah membuatku marah…hukumanmu akan lebih berat dari biasanya, ok?”

 

“Uuuh…”

 

Celana panjang seragam Luhan kini telah terjatuh, berada diujung kakinya menutupi sepatu, membuat Sehun dengan bebas dapat menyentuh pusat tubuhnya yang masih tertutupi celana dalam.

 

“Aaahh! Ngghh~ ha— aahhh.” desah Luhan dengan mata yang mulai sayu.

 

Sehun membuat gerakan seperti memijat, meremas kuat namun lembut…membuat isi kepala Luhan dipenuhi warna putih. Dalam posisi yang seperti berpelukan, Sehun menumpu dagu disalah satu bahu Luhan…sengaja ia melakukannya, agar ia dapat mendengar dengan sangat jelas, desahan dan rintihan Luhan yang membuatnya melampaui kata waras.

 

“Hentikan, Sehun~ please…aku minta maaf, aku minta maaf!”

 

“Ng?”

 

“Aku…nggh—“ Luhan menggigit lebih keras bibir bawahnya, keningnya berkerut dan matanya terpejam erat. Tanpa sadar ia pun menancapkan kuku-kuku tumpulnya dipunggung Sehun “Minta…hhh~ ma…af…”

 

“Kau tidak sungguh-sungguh.” digigitnya daun telinga Luhan. Sedikit menggoda.

 

“Aku sungguh-sungguh…please~ aahh. Aku mohon, Sehun…”

 

Sehun sepertinya belum puas mempermainkan Luhan, atau mungkin hal tersebut telah menjadi candu baginya yang sulit dihentikan. Kehangatan tubuh Luhan sungguh membuatnya terbuai, ia merasa tubuh Luhan memiliki apa yang ia butuhkan…sesuatu yang dapat memuaskannya, sesuatu yang dapat memenuhi keinginannya.

 

Sesuatu seperti…desahan yang terdengar ketika ujung jari telunjuknya bergerak membelai selangkangan Luhan, yang ternyata…Oh~ sangat halus.

 

“Asta— oh, aaahh! Mmhh~”

 

Terdengar suara tawa kecil, Sehun menggigit cukup keras bahu Luhan namun pemuda manis itu tak memekik pilu melainkan terus mendesah, tentu saja karena tangan Sehun tak pernah berhenti bergerak memanja pusat tubuhnya. Sehun merasa sangat gemas sepertinya.

 

Kedua alis Sehun terangkat ketika ia merasakan ada sesuatu yang hangat dan basah ditangannya yang menyentuh pusat tubuh Luhan…oh, sudah keluar rupanya.

 

Sehun kembali tersenyum diam-diam dan menjauhkan tubuhnya dari Luhan, pemuda berparas manis itu pun segera terperosok jatuh…terduduk dilantai dengan nafas tersengal dan wajah memerah luar biasa, ia sungguh merasa lelah.

 

Pemuda yang bertubuh lebih tinggi merendahkan tubuhnya, bertumpu dengan satu lutut dilantai menghadap Luhan yang nampak tak berdaya.

 

“Aku memaafkanmu kali ini. Tapi jika kau membuatku marah lain kali…” Sehun mengusap sebelah pipi halus Luhan “Aku akan dengan senang hati menghukum-mu…anak rusa.”

 

Tanpa perlu melihat pun…Luhan tahu kini Sehun pasti tengah tersenyum puas, melihatnya tak berdaya dan terlecehkan seperti ini.

 

“Dan…ah, aku pun telah merekam suara menggodamu yang tadi. Aku akan mendengarkannya setiap malam sebelum tidur…hehe~ terima kasih, anak rusa.”

 

Dan Sehun pun berlalu begitu saja…tanpa sempat mendengar isak pilu dari seseorang yang masih merasa panas akibat sentuhannya.

 

Jika benar Sehun membencinya…Luhan lebih memilih bunuh diri tepat didepan mata Sehun ketimbang harus mengalami orgasme akibat sentuhan dari pemuda tampan itu.

 

… … … … …

 

Tak ada hari minggu yang lebih buruk daripada hari minggu setelah bertemu dan mengenal seorang Oh Sehun.

 

Hari libur dimana seharusnya ia dapat menghambur-hamburkan waktu, bangun siang, tidak melakukan apa pun dan hanya bersantai seharian…huh! Ucapkan selamat tinggal pada semua itu. Dan katakan selamat datang pada ‘Hari-hari penuh derita dibawah tekanan Yang Mulia Oh Sehun.

 

Di sini Oh Sehun.

 

Disana Oh Sehun.

 

Oh Sehun dimana-mana.

 

Sosok Oh Sehun seolah membayangi kehidupannya. Luhan tak dapat melupakan apa yang ia rasakan ketika jemari kokoh nan lentur milik pemuda tampan itu menyentuh tubuhnya. Suhu hangat yang membuat darahnya berdesir, desah nafas yang membuatnya menggigit bibir…juga untaian kata yang membuat jantungnya berdegup kencang. Luhan merasa ia telah dikuasai sepenuhnya oleh Sehun. Meski ia menutup telinga, angin selalu membawa suara Sehun menghampirinya, meski ia memejamkan mata…bayangan Sehun selalu memenuhi isi kepalanya.

 

Sehun membuatnya gila. Gila tanpa alasan yang jelas.

 

Satu-satunya pemikiran super konyol yang terlintas dikepalanya, alasan Sehun selalu menyentuh tubuhnya adalah…karena pemuda itu telah jatuh cinta padanya. Pada –hanya- seorang Lu Han?

 

Apalagi yang lebih konyol dari itu?

Luhan memang sudah gila, mungkin.

 

Sehun? Jatuh cinta padanya?

Hah~ mungkin hujan badai akan datang esok hari.

 

“Luhan! Daripada kau terus berguling-guling tidak jelas seperti itu, bagaimana kalau kau pergi ke toko kue dan beli tiramisu untuk kakak iparmu yang sedang mengidam ini?”

 

Itu kakaknya yang berbicara. Zhoumi – 26 tahun. Pegawai swasta. Menikahi Kim Hyoyeon, wanita Korea Selatan dua tahun yang lalu. Sekarang tengah mengandung delapan bulan.

 

Luhan mengerang kesal dalam bantal tidurnya mengingat kalau sebentar lagi ia akan menjadi seorang paman…paman atau bibi? Yah, yang mana saja boleh lah. Dengan gontai ia berguling lalu menuruni ranjang, meninggalkan kamar dengan pintu yang ia biarkan terbuka. Menghampiri sang kakak yang tengah menikmati secangkir kopi bersama istri tercinta dimeja makan.

 

“Hai, Luhan. Ingin kubuatkan minum?” tawar Hyoyeon yang memang sangat akrab dengan adik iparnya.

 

Luhan menggeleng pelan “Tidak perlu, jiejie…aku harus menjalankan tugas negara dari gege-ku tercinta.”

 

Zhoumi terdengar berdecak kecil ketika Luhan mendekatinya seraya menengadahkan tangan, meminta uang untuk membeli kue. Dan ia berfikir…kalau kelakuan adik-nya semakin kurang waras saja.

 

“Apa boleh uang kembaliannya kugunakan untuk membeli es krim?”

 

“Dasar kau ini…”

 

.

.

.

 

Luhan berjalan meninggalkan toko kue dengan menjinjing sebuah kantung plastik berisi box yang didalamnya terdapat tiramisu kesukaan sang kakak ipar. Ia memutuskan tidak jadi membeli es krim karena melihat toko tersebut menjual kue sus dengan banyak krim didalamnya, Luhan telah sangat lama ingin mencicipi kue tersebut. Jadilah sekarang ia berjalan di trotoar dengan sebuah kue sus ditangan kanannya, sementara tangan kirinya menjijing erat kantung berisi tiramisu.

 

Hari mulai sore dan itu artinya hari minggu ini akan segera usai. Malam ini mungkin Luhan tidak akan bisa tidur karena memikirkan akan diapakan oleh Sehun esoknya, mimpi buruk masih terbilang patut disyukuri karena setidaknya ia masih dapat beristirahat walau sosok Oh Sehun senantiasa merajai alam mimpinya.

 

Luhan mendesah, melepas sedikit penat yang mengurung kebahagiannya…oh~ sungguh dramatis hidupnya setelah bertemu Oh Sehun. Seperti drama-drama anak remaja sekolah yang sering kakak iparnya saksikan ditelevisi atau DVD.

 

Please God~

Pulangkan aku ke Hongkong sekarang juga! Jerit hati Luhan.

 

Langit dalam kondisi tidak mengenakan untuk dipandang dengan adanya awan kelabu disana. Luhan memutuskan untuk mempercepat langkah seraya menjilat lelehan krim kue yang hampir saja mengenai tangannya.

 

Namun suara klakson yang berlomba-lomba membuat telinganya terusik. Luhan mengarahkan pandangan pada jalan raya dan segera menemukan lautan kendaraan yang berderet padat dalam keadaan diam. Macet rupanya.

 

Dan mata Luhan segera tertuju pada salah satu kendaraan yang tampak mencolok diantara padatnya kendaraan lain. Sebuah mobil bercat merah berkilau, nampak mahal dan mewah…beratap terbuka dengan seorang gadis cantik dan pemuda tampan didalam sana.

 

Pengemudi itu sungguh terlihat menawan dengan kaca mata hitamnya.

 

Gerakan tangannya saat membuka kacamata begitu anggun, sikap yang sangat berkelas…memperlihatkan wajah tampan dibaliknya yang—

 

Mengapa pria itu begitu mirip dengan Oh Sehun?

 

Luhan melebarkan mata tak percaya.

 

Sial itu Oh Sehun sungguhan?!! Dalam mobil merah nan mewah beratap terbuka, bersama seorang gadis cantik berpakaian minim dan seksi.

 

Tanpa sadar Luhan terus mengamati mereka. Keduanya nampak jengah karena macet dan suara klakson yang menusuk telinga. Sang gadis mengerang sejenak sebelum akhirnya mendekati posisi Sehun dan langsung saja mempersatukan bibir mereka.

 

Luhan terbelalak.

 

Sehun berciuman begitu intim didepan matanya— tidak! Didepan banyak pasang mata yang memandang mereka dengan berbagai cara pandang. Luhan hanya termasuk salah satu dari mereka…dari mereka yang tak dianggap, mereka yang tak dapat memasuki dunia Oh Sehun.

 

Detik membawa pandangan Sehun berbenturan dengan tatapan Luhan. Satu yang merasa seperti kurcaci tersentak hebat, ia menelan liur paksa…jantungnya kembali berpacu seperti bom waktu. Cara Sehun menatapnya tidak berubah sama sekali, tetap tajam dan menusuk…menusuk tepat dijantung.

 

Luhan merasa ia harus segera enyah dari tempat ini. Ia merasakan sakit disekujur tubuhnya…entah karena sorot mata Sehun yang begitu tajam…atau karena melihat Oh Sehun berciuman dengan orang lain.

 

Dan pemuda manis yang tanpa sadar menjatuhkan kue ditangannya itu…segera melesat pergi tanpa peduli pada rintik hujan yang mulai menghujam bumi.

 

.

.

.

 

“Aku pulang…”

 

 “Selamat dat— kau kehujanan?” Hyoyeon menyambut Luhan dengan sedikit panik, ia berinisiatif untuk menghapus butiran air diwajah Luhan dengan tangannya “Cepatlah masuk dan ganti pakaian, akan segera kubuatkan susu hangat kesukaanmu…hm?”

 

Namun Luhan menggeleng lemah, ia melepaskan tangan sang kakak ipar yang masih setia mengusap wajahnya.

 

“Tidak usah, aku mau langsung mandi saja.” ucapnya seraya melangkah melewati Hyoyeon, meletakan begitu saja kantung plastik berisi kotak tiramisu diatas sofa. Mengabaikan tatapan heran sang kakak…pemuda manis itu terus melangkah menuju kamar mandi yang terletak dilantai dua, dekat kamarnya.

 

Samar-samar ia dapat mendengar sang kakak ipar berseru “Jangan lupa gunakan air hangat!”

 

Didalam kamar mandi Luhan segera menanggalkan seluruh pakaian yang melekat ditubuh kecilnya. Menempatkan diri tepat dibawah shower dan membiarkan percikan air yang mengalir dari sana membasahi sekujur tubuhnya tanpa terlewati sedikit pun. Ia menuangkan sabun cair keatas telapak tangannya untuk kemudian diusapkannya pada permukaan kulit…diawali dengan gerakan lembut hingga busa menumpuk, perlahan gerakan tangan Luhan semakin kasar dan bertenaga. Ia tak peduli walau kulitnya terlihat mulai memerah…ia hanya berharap jejak sentuhan Sehun dapat dilenyapkan tanpa sisa.

 

Tak sengaja matanya menemukan sedikit bercak merah dibagian dadanya, Luhan mulai panik tanpa sebab. Mengambil lagi sabun cair lalu menggosokkannya didada, berharap noda biadab itu lenyap tanpa sisa. Ia meringis karena kulitnya mulai terasa panas…sedikit-demi sedikit bayangan Oh Sehun melewati ruang kosong dikepalanya. Potongan-potongan ingatan mulai meronta keluar dari kotak memori didalam sana…ingatan ketika Sehun memeluknya, ketika Sehun meraba tubuhnya, ketika Sehun melepas kancing seragamnya satu-persatu, ketika Sehun membelai dadanya, ketika Sehun mengecup lehernya…ketika Sehun…

 

Ketika Sehun—

 

“Aaarrrgghh!!!”

 

Luhan membenturkan kepalanya pada dinding.

 

Ia tak peduli pada reaksi kedua kakaknya nanti. Luhan merasa benar-benar tidak waras karena kini seluruh kehidupannya hanya mengenai Oh Sehun, Oh Sehun dan Oh Sehun.

 

Luhan masih membenturkan kepalanya, berkali-kali namun bayangan Sehun tetap berkuasa dalam angan-nya.

 

“Sial! Sial! Sial! Siaa~l!!”

 

Luhan memvonis diri sendiri bahwa kini ia memang telah benar-benar tidak waras.

 

.

.

.

 

Berbekal hasil pemikirannya dengan berdiam diri dikamar mandi selama dua jam, sedikit kedinginan dan hidung berair itu bukan masalah. Luhan menyimpulkan bahwa ia telah cukup mengecap manis-pahit, asam-garam hidup di negeri orang.

 

Dan demi menyelamatkan kewarasannya yang hanya tinggal seujung kuku, Luhan mengajak kedua kakaknya untuk berbicara serius. Diruang keluarga, duduk disofa dan saling berhadapan.

 

Gege, Jiejie…”

 

Luhan terdiam sejenak. Membuang nafas hingga kedua pipi kecilnya mengembung…kedua tangannya terkepal erat, ia tak memiliki keberanian untuk menatap sepasang suami-istri yang kini duduk tepat dihadapannya, menatapnya penuh harap serta penuh tanya. Jelas sekali bahwa mereka sadar kalau Luhan bersikap aneh. Jelas sekali, tak perlu berfikir dua kali untuk menarik kesimpulan bahwa adik mereka kini telah mengidap stres stadium akut.

 

“Aku ingin pulang…ke Hongkong.”

 

Luhan fikir…kini saatnya kembali ketempat dimana ia dapat memperoleh ketenangan.

 

Tanpa Oh Sehun.

Tanpa sentuhan-sentuhannya yang begitu memabukkan.

 

… … … … …

 

To: Luhan

 

Lu, apa kini kau telah berada di Bandara? Aku masih tidak mengerti mengapa kau harus pergi. Tega sekali kau meninggalkanku! Huh! Teman macam apa kau?!

Tapi bagaimana pun…kita tetap teman, bukan? Aku menyayangimu, baik-baiklah disana. Jangan lupa hubungi aku dengan cara apa pun, ok?

Maaf tidak dapat mengantar kepergianmu, aku harus sekolah. Berhati-hatilah.

 

E-mail Send.

 

 

 

“Haaahhhh~”

 

Baekhyun menghela nafas setelah memasukan ponselnya kedalam saku celana. Kini ia sendirian, tanpa Luhan yang biasanya menempati bangku didepannya. Ia merasa kurang bersemangat hari ini, setelah menghilangnya Luhan selama dua hari…tanpa diduga, kemarin teman baiknya itu mendatangi rumahnya untuk berpamitan karena esok hari— atau lebih tepatnya hari ini…Luhan akan kembali pulang ke Hongkong.

 

Luhan tak berkenan menjelaskan alasan mengapa ia harus pergi, namun Baekhyun pun tak berniat memaksanya karena ia fikir…bukankah wajar bila seseorang ingin kembali ke tempat asalnya dilahirkan?

 

“Hei, Baekhyun.” panggil sebuah suara dingin.

 

Baekhyun mengakhiri lamunannya memandang keluar jendela, untuk mendapati Sehun yang kini telah berdiri disamping tempatnya duduk…dengan sorot mata yang menusuk, sama seperti biasa.

 

“Apa?”

 

“Kemana temanmu?”

 

“Hah?”

 

“Temanmu…”

 

“Temanku…yang mana maksudmu?”

 

“Anak laki-laki yang duduk didepanmu, bodoh.” Sehun menggerakan kepalanya kearah bangku kosong didepan Baekhyun.

 

Baekhyun mendengus. Sikap Sehun membuatnya sungguh sangat dongkol “Luhan sudah pergi, dia tidak akan sekolah disini lagi.”

 

Kedua alis Sehun terangkat, kemudian turun…lalu dilanjutkan dengan kerutan yang terbentuk dikeningnya yang semula halus.

 

Baekhyun sadar bahwa kini Sehun tengah mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Bisa saja sewaktu-waktu Tuan Muda Oh itu melayangkan pukulannya karena telah memberitahu kabar buruk.

 

“Kemana…perginya?” suara Sehun terdengar gamang.

 

Baekhyun menghela nafas melihat tatapan Sehun yang kini tampak hampa, ia lalu berdiri dan memberanikan diri menatap langsung mata pemuda dihadapannya.

 

“Aku tidak bisa bilang.” ucapnya pelan kemudian menarik langkah seraya membawa tas sekolahnya.

 

Sehun masih belum bergeming, diruang kelas yang sepi ini…dimana hanya ada dirinya dan Baekhyun, ia dapat mendengar dengan jelas suara langkah kaki pemuda manis yang kini tengah menjauhinya.

 

Dengan mata tajamnya, Sehun melirik tempat duduk Luhan.

 

Mulai besok, lusa dan seterusnya…tempat duduk itu akan selalu tak berpenghuni.

 

Helaan nafas panjang terdengar dari kedua belah bibir tipis Sehun, tangannya yang semua terkepal erat kini mulai melemas.

 

Dan selanjutnya…seringai tipis menghiasi parasnya yang rupawan.

 

“Keputusan yang salah, anak rusa…” gumamnya pelan.

 

Ia pun mengambil langkah untuk mengejar Baekhyun yang belum terlampau jauh. Diraihnya bahu mungil pemuda tersebut hingga kini mereka kembali saling berhadapan. Baekhyun sama sekali tidak marah, sebaliknya ia terlihat jengah…seolah telah menduga hal semacam ini akan terjadi.

 

“Katakan kemana dia pergi—“

 

Baekhyun menghela nafas kecil “Sudah kubilang kalau—“

 

“Atau akan kuberikan ini pada Chanyeol.” potong Sehun seraya menunjukan layar smartphone-nya.

 

Kedua mata tipis Baekhyun melebar sempurna. Terdengar suara ribut yang berasal dari video yang diputar diponsel Sehun. Semburat merah mulai meresapi pipi putihnya…melihat video dirinya sendiri berputar dengan indah disana.

 

Diponsel mahal Sehun.

 

Menayangkan video dirinya yang tengah melakukan ‘Tarian tekan tombol on-off sakelar lampu’

 

Oh, great!

Video memalukan yang laknat itu. Sekarang. Berada. Ditangan. Oh. Sehun.

Tamatlah riwayat hidupnya selama delapan belas tahun ini.

 

“Da-darimana kau mendapatkan itu, brengsek?!!”

 

“Wajahmu memerah…”

 

“Sialan kau!”

 

“Katakan saja…”

 

“Tapi Luhan melarang—“

 

“Akan kukirimkan sekarang juga pada Chanyeol.”

 

“B-baiklah, baiklah, baiklah!!”

 

Sehun menghentikan gerakan jemarinya diatas screen ponsel. Ditatapnya wajah Baekhyun yang telah memerah seperti bokong monyet. Dalam hati susah payah Sehun menahan keinginannya untuk menertawai dan meledek kekasih temannya ini habis-habisan…sebagai bentuk suka citanya karena telah berhasil memperdaya Baekhyun juga, kalau boleh jujur.

 

“Jadi…?”

 

“Berjanjilah kau tak kan mengatakan apa pun pada Chanyeol, Sehun.”

 

“Itu mudah diatur.”

 

“Kau serius?”

 

“Sekali lagi bicara yang tidak penting, dalam beberapa detik video bodoh-mu ini akan segera sampai ditangan kekasihmu tersayang.”

 

Baekhyun mendengus, sejujurnya ia merasa sangat bosan merasa dongkol karena sikap menyebalkan Oh Sehun ini.

 

“Baiklah…jadi…” Baekhyun meneguk liur paksa, ia merasa sedikit menyesal karena telah melanggar janjinya pada Luhan “Jadi sebenarnya…”

 

Sehun hampir saja berubah menjadi super seiya.

 

“Luhan akan kembali ke Hongkong.

 

“A…pa?”

 

“Seperti yang kukatakan. Luhan akan kembali ke Hongkong. Penerbangannya satu jam lagi, mulai dari sekarang.”

 

.

.

.

 

To: Baekhyun

 

Maafkan aku, Baekhyun. Aku hanya merindukan kampung halamanku. Sebenarnya aku pun menyesal harus meninggalkanmu. Tidak ada teman sebaik dirimu disana.

Tentu saja aku akan terus menghubungimu, tiap malam bila perlu…hehehe~

Sesekali aku akan pulang ke Korea, kau juga bermainlah ke Hongkong…akan kutraktir banyak daging yang lezat nanti.

Akan kuhubungi kembali saat aku tiba disana nanti. Sampai jumpa.

 

E-mail Send.

 

 

“Haaahhhh~”

 

Luhan menghela nafas berat setelah memasukan kembali ponselnya kedalam saku celana jeans hitam yang ia kenakan. Pemuda manis ini berusaha untuk santai, mengingat terlalu stres juga tidak baik untuk kesehatan kulitnya…kata kakak ipar. Haruskah Luhan meminta pertanggung jawaban Oh Sehun bila ia menua sebelum waktunya?

 

Bodoh! Siapa yang mau menemui Oh Sehun?!

Bukankah ia telah memutuskan untuk mengindari pemuda tersebut?

 

Luhan mengambil satu cup berisi es krim coklat dengan merk B&R kesukaannya yang ia letakan dikursi kosong disebelahnya, meraup sesendok kecil dan memasukannya kedalam mulut. Bisa saja saat ini ia menikmati es krim bersama Baekhyun jikalau tidak perlu pulang ke Hongkong. Kakaknya pun terpaksa memohon pulang lebih awal karena istrinya mengeluh merasakan sakit pada perutnya, mereka sesungguhnya ingin menemani Luhan sampai ia naik pesawat…namun apa daya? Luhan hanya mampu memahami dan berjanji akan pulang ke Seoul ketika kakak iparnya melahirkan.

 

Jadilah ia seorang diri duduk dikursi tunggu, menanti waktu keberangkatan.

 

Seandainya ia tidak mengenal Oh Sehun, semua ini tidak perlu terjadi. Oh Sehun pembawa bencana bagi hidupnya.

 

Luhan ingin menangis.

 

Oh Sehun sangat-sangat-sangat menyebalkan! Me-nye-bal-kan!

 

“Mama, papa~” Luhan terisak seraya mengulum sendok kecil es krimnya. Ia ingin segera sampai di Hongkong…ia ingin segera memeluk papa dan mamanya.

 

Pemuda manis itu terlampau larut dalam keterpurukkannya hingga tak menyadari adanya suara langkah kaki mendekat.

 

“Anak rusa bodoh.”

 

Nafas Luhan tercekat. Ia berhenti mengulum sendok es krimnya namun masih membiarkan benda itu berada didalam mulut. Kedua mata beningnya berkedip beberapa kali, ia merasa otaknya tumpul…berhalusinasi mendengar suara yang mustahil dapat terdengar ditempat ini, suara Oh Sehun pula.

 

Digerakannya kedua bola mata yang sedari tadi memandang rendah, sedikit naik…ada sepasang kaki panjang nan kokoh berdiri didepannya. Petugas bandara? Petugas keamanan? Tapi mengapa celananya yang ia pakai sama persis seperti celana segaram sekolahnya. Sepatunya pun merek converse asli, wah~ trendy sekali orang tua zaman sekarang.

 

“Sebenarnya sangat aneh aku tiba disini dan masih dapat menemukanmu. Aku fikir kau sudah diculik dan dibawa entah kemana.”

 

Demi Dewi Kwan im!!

Suara Oh Sehun…

 

Dan…

 

Luhan mendongakkan kepala.

 

Oh Sehun sungguhan!!

 

“Hai…” sapa Sehun santai.

 

Luhan meneguk liur secara dramatis. Kedua matanya melebar sempurna menatap sosok bertubuh tegap nan menawan dihadapannya. Cup es krim ditangannya jatuh kelantai terlupakan begitu saja.

 

Pemuda yang bertubuh lebih kecil, mencoba berdiri dengan ragu “K-kau—“

 

Namun tanpa diduga, Sehun melangkah mendekati Luhan kemudian menendang kopor pemuda manis tersebut yang menghalangi langkahnya, Luhan terperanjat akibat hal itu, ia bergidik ngeri…kedua mata kecilnya menatap sosok Oh Sehun dengan penuh ketakutan.

 

Setelah berada sangat dekat dengan Luhan…Sehun kemudian menarik kasar kerah pakaian yang Luhan kenakan.

 

“H-hyaaa!” pekik Luhan panik.

 

Kini wajah keduanya berada dalam jarak yang sangat dekat, puncak hidung mereka pun mungkin dapat saling bersinggungan hanya dengan satu pergerakan kecil.

 

“Ma-mau apa kau?” Luhan mulai gelisah, jantungnya berdegup kencang seperti hampir lepas, pasalnya kini ia kembali dapat mencium wangi cologne Sehun yang sesungguhnya sangat ia sukai, aroma mint dari nafasnya yang seolah segera bersarang diparu-paru setelah menghirupnya…Luhan merasa otaknya tumpul.

 

Oh Sehun memang sialan.

Ia selalu mampu menciptakan kurungan tanpa jalan keluar.

 

Luhan memberanikan diri memandang langsung mata Sehun…dan ia kembali menyesalinya karena ia segera terhanyut dalam mata sejernih mata air tersebut.

 

Keduanya saling bertatapan, sampai akhirnya Sehun berbisik “Berani sekali kau…mencoba lari dariku.”

 

Dengan suaranya yang menimbulkan perasaan tak menentu dihati Luhan.

 

“Ap— mmhh!”

 

Sepasang pasang mata yang melebar sempurna. Kala kedua bibir tanpa rasa kasih itu menyatu ditengah keramaian.

 

Luhan merasa otaknya bagaikan komputer rusak, blank…bahkan untuk mengingat huruf pertama dalam urutan abjad pun, ia tak mampu. Ciuman yang dihadiahi Sehun seolah menekan tombol off dalam dirinya. Jika dirinya adalah seorang manusia setengah robot, pastilah asap telah mengepul keluar dari kepalanya.

 

Ciuman pertamanya telah tercuri.

 

Bibir Sehun bergerak, terbuka…melahap keseluruhan bibir pasangannya. Mengulumnya dengan lembut seperti tengah mengulum marshmallow, perbuatan yang semakin menambah tingkat kelembaban bibir Luhan.

 

Tak sabar menunggu Luhan membuka mulutnya, Sehun mengakhiri ciumannya dan memilih untuk menyusupkan jari telunjuknya kedalam mulut Luhan. Sang pemilik mulut kembali membelalakan mata, namun tatapan lekat nan mendalam milik Sehun membelenggu seluruh persendian tubuhnya…ia dapat merasakan ujung telunjuk Sehun menekan tepat pada belahan bibir kecilnya.

 

Dan entah atas dorongan apa…Luhan membebaskan jari Sehun memasuki mulutnya. Hingga ujung telunjuk Sehun dapat merasakan hangatnya liur dan lidah Luhan.

 

Semua itu membuat Sehun gila!

 

Tak perlu menunggu satu detik berlalu, Sehun telah menarik telunjuknya dan kembali mempersatukan bibirnya dengan bibir Luhan. Tanpa peduli rona merah yang telah membayangi manisnya paras Luhan, pemuda itu mengeluarkan lidahnya sendiri didalam mulut Luhan…kehangatan tubuh mereka bersatu didalam sana. Menghasilkan decakan kecil akibat lidah yang beradu serta liur yang bertukar.

 

Luhan tak dapat meloloskan desahannya meski ia begitu ingin melakukannya. Mulut Sehun begitu liar, lidah hangat pemuda tampan itu begitu gesit menjamah seluruh bagian rongga mulutnya.

 

Luhan seperti melayang-layang diatas awan.

 

Kedua matanya setengah terpejam namun ia tidak mengantuk meski rasanya bagai diawang-awang.

 

Tanpa sadar dan entah sejak kapan, keduanya kini telah berpelukan…dimana kedua lengan kokoh Sehun melingkari pinggang ramping Luhan, sementara Luhan sendiri mencengkram kedua bahu Sehun guna meredam rasa syok sekaligus buaian yang diterimanya.

 

“Mmhh—“

 

Decakan kecil mengiringi lepasnya tautan bibir Sehun dan Luhan. Keduanya sedikit tersengal meski Luhan yang nampaknya lebih tersengal. Wajahnya memerah sempurna, kepalanya tertunduk dalam dan ia merasa bibirnya seperti lebih berisi dari sebelumnya.

 

Dihapusnya liur yang membasahi bibir dengan punggung tangan.

 

Luhan tak menyadari jika tangan Sehun masih memeluk pinggangnya…sampai ketika dengan gesit, Sehun mengangkat tubuh kurusnya dan menempatkannya disalah satu bahu lebarnya.

 

Seperti penculik yang menggotong korbannya.

 

“He-hei!!” pekik Luhan panik –entah untuk yang keberapa kali−

 

Sehun mulai melangkah. Dan Luhan semakin ribut sendiri saat melihat kopornya menjauh dari pandangan.

 

“Ko-kopor ku!!! Hei, apa yang kau lakukan?!! Turunkan aku! Jangan tinggalkan koporku!!”

 

Namun Sehun tak peduli dan tetap berjalan dengan santainya…seolah ia hanya mengangkut sebuah bantal dipundaknya.

 

“Oh-Sehun!! OH-SE-HUUU~N!!!”

 

.

.

.

 

Jadi intinya…Luhan tidak jadi pulang ke Hongkong. Penerbangannya sudah terlewat tiga puluh menit lalu. Dan ia tidak berada dibandara Incheon lagi saat ini.

 

Jelas saja karena Sehun membawanya kabur, menculiknya, mendeportasinya, atau apalah nama lainnya.

 

Kini ia berada dirumah Oh Sehun.

 

Lebih tepatnya dikamar Oh Sehun.

 

Jauh lebih tepatnya lagi diatas ranjang Oh Sehun.

 

Luhan tidak menyangka jika ia harus mengunjungi rumah siswa paling tampan disekolah dengan cara paksa dan memalukan seperti ini. Meski duduk dikasur empuk sang pangeran sangat nyaman dan menyenangkan…beruntungnya Sehun tidur ditempat seperti ini sejak lahir— bodoh! Bicara apa?! Walau duduk dikasur empuk nan nyaman –juga mahal− tempat ini tak ubahnya bagaikan lembah iblis jika ia harus berdua saja dengan Oh Sehun.

 

Ia duduk ditepi ranjang dengan menunduk, sementara Sehun berdiri tepat dihadapannya. Pemuda itu nampak jauh lebih tinggi.

 

Oh~ sungguh posisi yang tepat!

 

Suasana sunyi, dingin dan mencekam. Luhan ingin menangis. Luhan butuh balon. Luhan butuh permen. Ia butuh keluar dari sini, demi para dewa dilangit!

 

“Aku pergi.” ucap Luhan seraya bangkit dari duduknya. Namun Sehun segera mendorongnya hingga kini tubuhnya terjerembab diatas kasur.

 

Luhan meringis…bukan karena sakit, melainkan karena terkejut dan sedikit merasa takut. Ia mencoba untuk duduk seraya memberanikan diri menatap tajam pemuda tampan dihadapannya. Jujur saja— amarah Luhan telah benar-benar mendidih.

 

“Sudahlah. Hentikan semua ini.” ucap Luhan dingin “Aku sudah tidak peduli lagi apa tujuanmu melakukan semua ini. Apa kau menganggapku sebagai objek kegilaanmu akan seks? Kau fikir aku pria murahan? Kalau memang kau benci padaku, akan lebih baik jika— wu-wuaaaaaa!!! Mau apa kau?!!“

 

Pemuda yang berseru panik itu terperanjat karena Sehun menaiki ranjang lalu merangkak mendekatinya, memposisikan tubuh diatas tubuh Luhan. Namun pemuda manis itu segera mendorong tubuh Sehun yang belum dalam posisi mantap, menciptakan celah bagi dirinya sendiri untuk menghindar dari pemuda tampan tersebut. Ia lari kesudut ruangan, Sehun tentu saja segera mendekatinya…Luhan pun melempari Sehun dengan segala benda yang dapat dijangkaunya.

 

“Jangan dekati aku! Menjauhlah!” seru Luhan seraya melempari pemuda yang masih berusaha mendekatinya itu dengan benda-benda yang ada dimeja belajar Sehun.

 

Perbuatan yang sia-sia sebenarnya, karena Sehun dengan mudah menangkis dan menghindari lemparan Luhan…atau bahkan terkadang ia membiarkan saja benda yang dilempar Luhan mengenai dirinya, tentu saja jika yang dilempar hanya berupa karet penghapus, pembatas buku atau pensil serut yang sudah pendek ukurannya.

 

“Pergi kau! Atau kupukul?! Hah— kau benar-benar ingin merasakan pukulanku, ya?!”

 

Sehun menghela nafas berat, kesal juga lama-lama menghadapi anak rusa yang sedang rewel karena belum diberi susu.

 

Akhirnya ia pun langsung saja meraih lengan kurus Luhan, menariknya dan melemparnya kembali ke atas ranjang.

 

Luhan membungkam, kedua matanya melebar…karena Sehun mendorongnya, menindihnya lalu mencekal kedua pergelangan tangannya. Pergerakan Luhan terkunci, ia pun tak dapat mengalihkan tatapannya pada hal lain karena sorot mata Sehun yang tajam dan menusuk, telah membelenggu seluruh persendiannya.

 

“O-Oh Sehun…” Luhan gugup, ia selalu merasa gugup bila berada didekat Oh Sehun, lebih tepatnya jantungnya yang tidak bisa tenang. Terlalu dekat seperti ini pun membuatnya merasa panas, ia menggerakan tangannya— masih berusaha meloloskan diri.

 

Sehun tak mengatakan apa pun sejak awal, ia memang tipikal orang yang kurang banyak bicara namun dengan mudahnya dapat menjadi pusat perhatian.

 

Termasuk Luhan yang entah berapa kali terjerumus dalam sorot matanya yang seolah memiliki mantra.

 

Lambat laun gerakan tubuh Luhan pun melemah, sekujur tubuhnya terasa lemah…ia tak memiliki kekuatan walau hanya untuk menggerakan satu jari saja. Sungguh ia tak dapat menatap yang lain selain mata tajam Sehun. Mulutnya pun terasa kelu, susah payah menelan liur guna membasahi kerongkongannya yang terasa lengket…namun tetap saja ia tak dapat mengeluarkan suara.

 

Luhan melihat bola mata Sehun yang semakin besar, juga sesuatu yang hangat menyentuh puncak hidungnya. Aroma cologne Sehun kembali membuai indera penciumannya…hawa panas lagi-lagi menjalar, membelai bahkan hingga merasuk tulang. Dan yang paling panas terasa…adalah bibirnya.

 

Sang pemuda manis kehilangan ciumannya yang kedua, dicuri oleh orang yang sama dengan orang yang telah mencuri ciuman pertamanya.

 

Kali ini bola mata Sehun tak lagi nampak, kedua matanya terpejam dan parasnya terlihat damai…mulutnya bergerak lembut serta menghanyutkan, mengirimkan perasaan nyaman pada Luhan yang tak mampu lagi membantahnya. Detik demi detik berlalu, membuat Luhan semakin merasakan hangat dan lembutnya lidah Sehun yang membasahi bibirnya…memikatnya membuka mulut, membiarkan benda hangat nan lembut itu menularkan kehangatannya didalam sana.

 

Lidah mereka bertemu. Bertukar liur seolah tak ada pembatas yang menghalangi mereka untuk bersatu lebih mendalam.

 

“Mmmh—“ kedua mata Luhan nampak sayu menerima buaian memabukan Oh Sehun.

 

Untaian liur tipis nampak menjembatani bibir keduanya kala Sehun mengakhiri penyatuan kecil diantara mereka. Dengan penuh perasaan, Sehun mengusap bibir kecil Luhan…tatapan mereka tak pernah terpisah sama sekali.

 

“Sudah cukup. Aku tidak peduli lagi. Terserah kau ingin melakukan apa, lakukan saja semuanya padaku, aku tidak akan mencoba lari darimu lagi…Oh Sehun.”

 

Sorot mata Luhan berubah sendu…ditatapnya Sehun dengan sebuah keyakinan akan tidak adanya jalan keluar jika telah terperangkap olehnya. Jika ia berlari, maka Sehun akan mengejar…jika ia menghindar, maka Sehun akan menangkapnya. Toh sesungguhnya Sehun telah mengambil darinya sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman. Apa salahnya membiarkan pemuda itu memiliki semua yang ia miliki? Jika ia tidak memberi…lambat laun Sehun akan merebutnya, bukan begitu?

 

“Memang seharusnya seperti itu.” ucap Sehun bersama dengan senyup tipis yang menghiasi paras rupawan-nya “Sampai kapan pun…kau tidak akan kubiarkan pergi jauh. Akan kubuat kau tetap berada disisiku. Sampai kulitmu mengeriput, sampai matamu rabun, sampai suaramu parau…bahkan sampai seluruh rambutmu memutih.”

 

Kalimat yang membuat kedua alis Luhan terangkat…namun beberapa detik kemudian, entah mengapa kedua pipinya terasa hangat? Hei, apa kini wajahnya memerah? Katakan!

 

“Jadilah milikku.”

 

Warna merah wajah Luhan meningkat dua kali lipat.

 

Bicara apa Oh Sehun? Tidak ada manis-manisnya sama sekali!!

 

Luhan mulai gelagapan “Ja-jadi selama ini…kau menyimpan perasaan terhadap diriku?!!”

 

Sehun mengangguk dengan mudahnya…jangan lupakan juga parasnya yang begitu polos tanpa dosa. Oh shit~ master of pokerface.

 

“Pembual.” geram Luhan seraya berusaha melepaskan tangannya dan cengkraman Sehun.

 

Namun Sehun bersikeras tetap menahannya “Akan kulakukan apa pun untuk membuatmu percaya.”

 

Mata Sehun yang berkilat seperti ini sudah lama tak Luhan jumpai, kilat keyakinan yang sulit terbantahkan. Ucapan Sehun membuatnya melayang, tentu saja…meski Luhan bersikukuh menolak sedikit kebahagiaan yang menghampirinya kini, namun detak jantung ini tak dapat berkilah bukan? Luhan mulai bosan berangan-angan dengan mengharapkan kisah yang indah, adalah hal yang aneh jika ia mulai menyerah…Sehun memberikan sebuah harapan.

 

Hanya saja…jika melihat wajah Sehun, bibir Sehun…bibir Sehun yang—

 

Luhan benci Oh Sehun.

 

“Selain abusif ternyata kau juga seorang pembual ulung.” Luhan mengumpulkan segenap tenaga dikedua tangannya “Hanya seorang pembual yang menyatakan cinta pada orang lain setelah sebelumnya berciuman dengan orang yang berbeda!!”

 

Dengan segenap tenaga tersebut, Luhan mendorong kembali mendorong Sehun dan berhasil. Pemuda tampan itu cukup terdorong meski tak terlalu jauh, namun setidaknya memberikan celah bagi Luhan untuk menghindarinya. Sayangnya, Sehun yang cekatan dengan segera menutup celah itu dan kemudian kembali memerangkap Luhan serta membuat pemuda manis itu sangat menyesali kelemahannya.

 

“Akh! Oh Sehun!! Lepaskan aku! Lepaskan!” Luhan menggertakan giginya, sedikit tersengal karena berteriak terus menerus, namun melihat wajah Sehun yang selama ini selalu menghantui fikirannya, membuatnya marah “Kau! Kau benar-benar membuatku marah! Karena kau jugalah keningku sampai terluka seperti ini?!”

 

Sehun mengangkat sebelah alisnya, sebenarnya ia telah menyadari sejak lama adanya plester motif pelangi yang menempel dikening Luhan. Namun, yah diam lebih baik…toh Luhan akan membeberkan semua kepadanya. Tinggal tunggu waktu saja~

 

“Setiap hari, setiap hari! Kau selalu membayangiku! Apa mau mu sebenarnya?! Membuatku gila?! Aku sudah gila! Membuatku membenturkan keningku sendiri ke dinding? Itu juga sudah kulakukan?! Membuatku memikirkanmu?! Asal kau tahu saja, hampir setiap malam aku tidak bisa tidur hanya karena memikirkanmu! Tidur pun terkadang memimpikan dirimu! Dalam mangkuk ramen daging sapi kesukaanku pun, selalu ada pantulan wajahmu! Apa lagi mau mu, hah?!” amuk Luhan tanpa jeda, tak ayal membuat nafasnya tersengal luar biasa.

 

Suasana mendadak hening. Tak ada suara detak jarum jam…waktu bagaikan terhenti. Atau memang dikamar Sehun tak ada jam dinding analog dengan jarum yang berputar didalamnya.

 

Tak lama…seulas senyum tipis terbentuk melalui kedua belah bibir tipis Sehun. Dengan lembut ia usap plester dikening Luhan dengan ujung telunjuknya.

 

“Aku tahu. Aku tahu kau akan mengatakan semua itu…dan aku mengerti bagaimana rasanya mengalami semua itu.”

 

“Ha-haa? Bicara apa kau?!”

 

“Kau menginginkanku, Luhan. Aku tahu itu. Aku yakin kau menginginkanku.”

 

“Ak-aku tidak— yaaah~ aahh. Aaaahh! Apa yang…aahh~ apa yang kau lakukan?”

 

Sehun berhenti sejenak mengecup leher Luhan lalu menatap dalam pemuda manis itu dan berkata “Memberikan apa yang kau inginkan.”

 

“Ap-apa—“

 

“Cobalah mempercayaiku…mulai saat ini.”

 

Ujung telunjuk kanan Sehun bergerak menguntai pola tak terlihat dari pangkal leher Luhan, rahang, dagu…hingga sampailah pada bibir kecil sang pemuda manis yang kemudian ia kecup untuk beberapa detik.

 

Luhan meneguk liur kala Sehun kembali menatapnya penuh makna, tak lama kemudian ia menahan nafas seraya memejamkan mata begitu saja ketika Sehun menjatuhkan sebuah kecupan dilehernya.

 

Awalnya hanya terasa sedikit geli, namun tubuh Luhan berubah gemetar ketika indera pendengarannya menangkap suara kecupan Sehun yang begitu dekat. Suara yang mencuri seluruh tenaga yang tersisa dalam tubuhnya.

 

“A-aku membencimu Oh Sehun…”

 

“Yaa…aku tahu.”

 

Sehun menyusupkan tangan kokohnya kedalam kaus ditubuh Luhan agar dapat menyentuh apa yang berada dibaliknya.

 

“Jangan…salah paham padaku…mmhh~ aahh…”

 

“Okay. Okay.”

 

Kemudian, sang dominan mengeluarkan tangannya…lalu mulai menarik resleting celana Luhan…secara…perlahan.

 

“Oi! Aaaaa! Tanganmu! Tanganmu tidak tahu tempat—“

 

Luhan berhenti bersuara. Bukan karena ia menutup mulutnya….melainkan karena…Sehun mencium bibirnya.

 

… … … … …

 

Pagi telah menjelang dan Luhan masih betah merebahkan tubuh diatas ranjangnya…ranjang Sehun, maaf. Dan pada kenyataannya ia memang menghabiskan malam dirumah Sehun, semoga pemuda kurang ajar yang telah menculiknya dengan seenak perut itu, bersedia membayar ganti rugi tiket penerbangannya ke Hongkong yang tak jadi ia gunakan.

 

Luhan hampir saja menjerit ketika mendapati dirinya terbangun diatas ranjang asing dalam keadaan tanpa pakaian selembar pun, bahkan ia dapat menemukan celana dalamnya tersangkut diatas rak buku –Demi langit dan bumi, astaga−…disampingnya adalah rupa yang sangat familiar, Oh Sehun. Detik selanjutnya, Luhan langsung menampar pipi-nya sendiri dan dengan segera mengenakan pakaian terdekat yang dapat dipungutnya dari lantai. Oh ia ingat, itu adalah kaus Jersey replika seragam M.United milik Sehun yang sangat kebesaran ditubuhnya, bagian lengannya saja hampir melewati siku Luhan.

 

Selain ramen daging sapi dan es krim…Luhan juga sangat suka Manchester United.

 

“Ini malam pertama kita, aku rasa bukan hal yang aneh kalau wajahmu semerah kulit buah apel…”

 

Oh Sehun juga sudah bangun dari tidurnya, dan mengapa ia tak bisa berhenti mengatakan hal yang membuat otak mendidih? Apa masalahnya?!

 

“Perlu kuambilkan es batu?”

 

Luhan mengembungkan kedua pipinya, kesal…tubuhnya dalam posisi menelungkup dengan wajah yang hampir terbenam dalam bantal. Oh Sehun memang berbicara sejak tadi, namun ia abaikan semua itu. Meladeni ocehan Oh Sehun bisa membuatnya mengamuk dan menghancurkan seisi kamar.

 

“Atau sekalian saja kupanggil pemadam kebakaran?” suara kekehan Oh Sehun sungguh bencana alam nasional.

 

Luhan segera menoleh dan melayangkan tatapan mautnya pada Sehun, kemudian tanpa basa-basi langsung saja kedua tangannya mencubit keras kedua pipi sang pemuda tampan.

 

“Aaaaaaaaa!! Aaaah!”

 

“Hii~hhh! Rasakan ini! Rasakan!”

 

“Sakit! Hei!”

 

Akhirnya Sehun berhasil melepas kedua tangan Luhan yang menyiksa pipinya seperti seekor kepiting. Kini pipinya sama merahnya dengan pipi Luhan.

 

“Apa yang kau lakukan?” keluh Sehun.

 

“Itu tidak seberapa dengan rasa sakit yang kurasakan. Pinggangku, bokongku, leherku…punggungku juga sakit. Lalu keningku.” Luhan menunjuk satu persatu bagian tubuh yang ia sebutkan.

 

Plester bermotif pelangi itu masih menempel rapi dikening Luhan, tidak terlalu nampak memang karena tertutupi poni rambutnya. Sehun tersenyum lembut kemudian menepis poni rambut Luhan kemudian melepas plester tersebut secara perlahan, agar sang pemuda manis tersebut tidak merasa sakit.

 

“Aku ambil ini.”

 

“Huh? Untuk apa?” Luhan menatapnya penuh tanya.

 

Sehun tak menjawab melainkan memposisikan tubuhnya sedikit bersandar pada kepala ranjang sementara Luhan duduk menghadapnya. Untung saja kaus Sehun yang kebesaran mampu sedikit menutupi area pribadi Luhan. 

 

Luhan masih menatap penuh tanya ketika Sehun mengambil ponselnya yang terletak diatas susunan laci samping ranjang…namun tak lama, rona wajahnya yang semula normal, kembali memerah ketika Sehun menempelkan plester bekas itu pada bagian belakang ponsel miliknya.

 

Sticker yang bagus.”

 

“Bo-bodoh!”

 

Terdengar suara tawa kecil dari kedua belah bibir Sehun, pemuda tampan itu lalu mengulurkan tangan untuk mengusap lembut puncak kepala Luhan yang ditumbuhi surai kecoklatan seperti caramel. Luhan sama sekali tak menolak sentuhan Sehun, tak dapat dipungkiri lagi bahwa sebenarnya ia telah sangat terbiasa dengan sentuhan pemuda tampan tersebut. Dan saat-saat seperti ini membawa Luhan kembali kemasa beberapa hari lalu…masa ketika ia melihat Sehun berciuman dengan seorang gadis didalam mobil dalam keadaan jalanan macet.

 

Tidak! Jangan sebut ini sebuah kecemburuan!

Luhan hanya…ingin tahu.

Yah, hanya itu. Tidak ada maksud lain.

 

“Oh Sehun…”

 

“Hm?”

 

“Ada yang ingin kutanyakan.” Luhan melepaskan tangan Sehun yang masih mengusap puncak kepalanya.

 

“Apa itu?”

 

Luhan meneguk liur paksa mengurangi rasa gugupnya. Sial, ia hanya akan menanyakan siapa gadis dalam mobil yang bersamanya itu, bukan menanyakan kapan Sehun akan melamar dan menikahinya. Hell! Mengapa rasanya segugup ini?

 

“Ga-gadis…gadis—mobil—merah…jalanan—ma-macet…” seketika Luhan begitu ingin menjepit lidahnya sendiri dengan jepit jemuran.

 

Luhan bersumpah ia merasa sangat malu ketika Sehun menatapnya bingung.

 

Okay! Ayo coba lagi. Luhan menarik nafas singkat.

 

“Mo-mobil…”

 

Sehun masih menatapnya bingung…menanti dengan sabar hingga Luhan dapat mengucapkan kalimatnya dengan lancar dan benar.

 

“Mobil…mobil merah…mu, sangat…keren…”

 

Luhan ingin menangis. Mulutnya terasa membeku setelah gagal bertanya pada Sehun perihal masalah gadis itu yang mengganjal dihatinya.

 

“Haaah~ sudahlah, lupakan saja…” pasrah Luhan seraya mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya “Aku memang pecundang.”

 

Sehun yang melihat polah Luhan, sejujurnya sangat ingin tertawa karena gemas…sekaligus ingin meledek juga. Tentu saja, ia memahami apa yang sesungguhnya ingin Luhan tanyakan, karena hal tersebut merupakan bagian dari rencananya ‘kan?

 

“Anak rusa bodoh.” Sehun menyentil pelan kening Luhan, tak sampai membuat pemuda manis itu merasa sakit.

 

“Apa katamu?”

 

“Gadis itu hanya teman. Teman yang baru beberapa kali kutemui saat mengunjungi klub malam tempat ku dan Chanyeol biasa menghabiskan waktu. Saat itu aku pun tak menyangka dia akan menciumku. Mungkin dia terbawa suasana karena sedikit mabuk…tapi—“ Sehun mendekatkan wajahnya agar lebih mudah berbisik pada Luhan “Kebetulan kita bertemu disana, itu sungguh diluar dugaan. Jadi kufikir…kenapa tidak sekalian saja kugunakan moment itu untuk membuat perasaanmu semakin kacau.”

 

“A-apa…?!” Luhan mencelos.

 

“Dan aku berhasil membuat perhatianmu hanya tertuju padaku, bukan—ugh!“

 

Satu pukulan bersarang diperut Sehun. Siapa yang melakukannya kalau bukan Luhan, tentu saja.

 

“Kau!!” Luhan menunjuk batang hidung Sehun yang masih meringis kesakitan, dengan penuh emosi “Seharusnya kau utarakan perasaanmu secara langsung! Jangan membuatku hampir gila seperti ini!!”

 

“Lalu aku harus bagaimana? Kau ingin aku langsung memperkosamu, begitu?”

 

“Bukan begitu maksudku!!”

 

“Lalu?”

 

“Setidaknya fikirkan cara yang lebih normal?!”

 

“Ini sudah normal. Ini kenormalan secara Oh Sehun, asal kau tahu.”

 

“Dengan mengambil gambarku dan merekam suaraku, lalu menyebarkannya di Internet…kau fikir itu normal? Dengar aku Oh Sehun, aku tidak akan memaafkanmu atas hal ini, tidak akan pernah!”

 

“Memang siapa bilang akan kusebarkan di Internet?”

 

Luhan terdiam, mulutnya kembali terasa kaku. Ditatapnya paras Oh Sehun dengan raut wajah terdungu yang pernah ia perlihatkan seumur hidup.

 

“Jadi kau tidak melakukannya…?” ucap Luhan pelan.

 

Sehun menggeleng pelan…sebelah alis-nya terangkat memandang Luhan sedikit tanpa ekspresi.

 

“Kau tidak bercanda?”

 

Sehun menghela nafas singkat “Jujur saja, itu kulakukan hanya untuk membuatmu takut padaku. Dengan begitu, kau tidak akan menolakku—“

 

Seketika Luhan melompat dan memeluk leher Sehun. Membuat pemuda tampan itu tak dapat menyelesaikan ucapannya.

 

“Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih banyak, Oh Sehun!!” Luhan menumpahkan seluruh berat badannya pada Sehun dan memeluk erat leher pemuda berkulit putih nyaris pucat tersebut. “Kau membuatku paranoid! Tapi untunglah kau tak melakukan apa yang aku kira! Terima kasih, Oh Sehun! Terima kasih!!”

 

Sejenak Sehun kehilangan kesadaran setelah otaknya berhasil menyimpulkan bahwa saat ini Luhan tengah memeluknya…dengan kata lain melakukan hal yang menurutnya mustahil terjadi. Hanya saja kehangatan tubuh Luhan terasa amat jelas merambat kepermukaan kulitnya, memberikan Sehun kekuatan untuk membalas pelukan pemuda manis tersebut.

 

Namun, belum tiga detik terlewat, Luhan melepas rengkuhannya dan menatap Sehun dengan paras bersemu merah muda.

 

“Ehm— maaf…aku tidak…sengaja…” ucap Luhan gugup seraya mengusap bagian belakang kepalanya, salah tingkah.

 

Sehun tersenyum tipis, membuat Luhan nyaris saja tak berkedip karena terpana “Tidak perlu sungkan, bukankah sekarang kita adalah sepasang kekasih?”

 

Kekasih…?

Oh ya— HEH?!

Satu…dua…tiga…berapa kali rona merah muda bersemi diparas manis Luhan pagi ini?

Tunggu, apa mungkin ada suatu kelainan di wajahnya yang membuat warna-nya tidak stabil? Terkadang merah muda, terkadang merah padam…lalu kembali normal, hoh~ Luhan lelah menerka-nerka.

 

“Karena itulah…” Sehun tersenyum −menyeringai− dan menggerakan tubuhnya mendekati Luhan, seraya membelai paha halus sang pemuda manis. Luhan tanpa sadar menggigit bibirnya karena hal tersebut “Kau bebas melakukan apa pun terhadapku…dan begitu pula sebaliknya…”

 

Stop!” pekik Luhan setelah berhasil menangkup kedua pipi Sehun yang hampir saja sukses mencium bibirnya. Ciuman adalah awal dari sesuatu yang lebih ‘panas’…benar?

 

“Ya, sayang?” Sehun mengecup puncak hidung Luhan.

 

“Aku butuh…ke kamar mandi…”

 

“Oh, tentu saja.” kali ini Sehun mengecup punggung tangan Luhan, sebelah kiri dengan senyum menawan –namun penuh arti− yang kembali terlukis dibibirnya “Lagi pula kita bisa melanjutkan ini…kau paham maksudku? Kapan pun dan dimana pun, bukan?”

 

Luhan hanya meneguk liur paksa sebelum akhirnya melompat menuruni ranjang dan berlari kecil memasuki kamar mandi yang memang berada didalam kamar Sehun.

 

Sang pemuda rupawan yang masih nyaman berbaring diatas ranjang, menarik kembali selimut hingga menutupi sebatas leher. Mencoba kembali terpejam diiringi suara kucuran shower yang berasal dari kamar mandi…suara yang memicu imajinasinya dalam membayangkan Luhan yang sedang mandi didalam sana.

 

“Dasar, anak rusa.”

 

… … … … …

 

Park Chanyeol namanya, pemuda tampan dambaan hampir 60% dari seluruh murid di St. Spark Highschool, termasuk murid laki-laki yang berjiwa feminis. Memiliki tubuh tinggi dan tegap, paras rupawan, berasal dari keluarga terpandang, putra bungsu Park Yoochun yang merupakan direktur merangkap pemilik Sekolah serta Spark. Company, perusahan raksasa pemproduksi gadget mutkahir dengan label Sparkle. Pria muda dengan segudang bakat serta kemampuan…mencakup memamerkan 19 gigi-gigi besarnya sekaligus dalam sekali senyum, juga memasukan ibu jari kedalam lubang hidungnya.

 

Pemuda yang disebutkan tadi, Park Chanyeol— tepat sekali. Sangat suka makanan manis yang disebut Byun Baek— itu bukan makanan, tapi kekasihnya, maaf. Chanyeol sangat suka makanan manis. Setiap pulang sekolah, selalu ia sempatkan waktu untuk membeli sedikitnya satu jenis makanan manis di kantin sekolah.

 

Untuk hari ini, lebih tepatnya sore ini…Chanyeol hanya membeli satu jenis makanan manis saja yaitu sebatang es jelly rasa jeruk yang tentu saja berwarna oranye. Ia melangkah meninggalkan kantin yang telah sepi melewati beberapa kelas kosong yang kini lebih berfungsi sebagai gudang penyimpanan kursi dan meja lama.

 

Ia berhenti ketika hendak membuka bungkus es-nya, menangkap bayangan seseorang melalui bagian atas pintu yang sengaja dibuat transparan. Chanyeol membuka pintu dan memasuki kelasnya.

 

“Oh, Chanyeol.” sapa seorang murid yang telah lebih dulu ada didalam, ia nampak tak terkejut dengan kedatangan Chanyeol.

 

Chanyeol meletakan tas ranselnya dilantai begitu saja, kemudian berjongkok dengan wajah menengadah guna mengamati pemuda tersebut yang kini tengah mondar-mandir dengan gaya berjalan yang cukup aneh.

 

Chanyeol mematahkan es jelly batangnya menjadi dua lalu menghisap salah satunya.

 

“Sedang apa?” Chanyeol memulai pembicaraan dengan bertanya lebih dulu.

 

“Menunggu Sehun selesai dengan pelajaran tambahannya. Kau juga sedang menunggu Baekhyun kembali dari perpustakaan bukan?”

 

“Maksudku apa yang kau lakukan sekarang ini. Dan iya, aku memang menunggu Baekhyun.”

 

Luhan mendengus tanpa menghentikan kegiatannya “Kau tidak lihat aku sedang latihan berjalan?”

 

“Jalan pinguin?”

 

“Apa cara berjalanku seperti pinguin?”

 

“Pinguin lebih lucu.”

 

Yeah, mereka kerabatmu.”

 

“Cara berjalanmu sama seperti Baekhyun setelah semalam ia tidur bersamaku.”

 

“Berhentilah mengucapkan sesuatu yang dapat memancing emosi orang lain.”

 

Chanyeol memutuskan berhenti memancing emosi Luhan dengan menghisap es jelly ditangannya, mengamati teman sekolahnya itu yang masih saja berjalan mondar-mandir dengan gerakan kaku khas pinguin, oh~ jangan lupa bahwa ia sesekali meringis pelan seolah merasa sakit.

 

Oh ya, sakit itu…Chanyeol mengerti.

 

Tak lama kemudian…terdengar suara bel listrik berbunyi lima kali, menandakan telah selesainya jam pelajaran tambahan yang diberikan 4 kali dalam seminggu. Chanyeol memilih untuk membolos –tingkah anak direktur sekolah− sementara kelas Luhan dan Baekhyun dibebaskan dari pelajaran tambahan karena guru mereka harus pergi menyelamatkan rumah tangganya akibat sang istri yang tiba-tiba saja menelpon dan meminta untuk bercerai.

 

“Sepertinya kita harus pergi dari sini dan menemui kekasih kita masing-masing.” Luhan mengambil tas ransel yang ia letakan diatas meja.

 

Chanyeol hanya mengangguk lalu berdiri seraya mengenakan kembali tasnya, ia berbaik hati memberikan sepotong sisa es yang belum ia sentuh kepada Luhan. Pemuda manis itu tersenyum cerah seraya menggumamkan terima kasih.

 

“Ops…aku hampir lupa!” pekik Luhan tepat ketika ia hendak membuka pintu kelas. Ia berbalik menghadap Chanyeol yang berdiri dibelakangnya dengan sebelah tangan terulur kebelakang merogoh sesuatu dari tas punggungnya, setelah dapat…ia menyodorkannya pada Chanyeol “Ini untukmu.”

 

Chanyeol mengamati sebuah benda pemberian Luhan yang ternyata adalah kotak CD ber-label ‘Baekhyun’s Top Secret’ wah, judulnya saja sudah menarik apalagi isinya.

 

Luhan menghisap es ditangannya lalu tersenyum “Lihatnya lebih baik saat Baekhyun tidak ada.”

 

“Kenapa?”

 

“Kau fikir ada orang yang mau melihat video berisi hal memalukan dirinya bersama orang lain?”

 

“Jadi CD ini berisi video memalukan Baekhyun?” imajinasi Chanyeol mulai melayang tak tentu arah.

 

Luhan terkikik “Sudahlah, lihat saja nanti.”

 

Mereka pun meninggalkan kelas. Luhan melangkah lebih dulu dengan wajah puas diikuti Chanyeol yang berjalan dibelakangnya dengan raut wajah penasaran.

 

… … … … …

 

Baekhyun memakirkan motor kecilnya tepat dijalan batu-bata yang disusun membelah halaman menjadi dua. Ia menuruni kendaraan berwarna putih itu lalu meletakan helm yang baru saja dilepasnya diatas kaca spion. Kedua mata kecilnya segera dapat menemukan keberadaan seorang pria berpakaian layaknya petugas kebun diantara bunga-bunga yang tumbuh ditaman, mengenakan topi kebun, sarung tangan, sepatu boots juga handuk kecil yang melingkari lehernya. Pemuda manis tersebut tersenyum lalu melangkah menghampiri sang pria.

 

“Paman Yoochun.” panggilnya hingga pria tersebut menoleh dan segera saja Baekhyun membungkuk memberi salam “Selamat siang.”

 

Sang pria yang lebih tua menoleh dan tersenyum cerah tanpa meninggalkan pekerjaannya memangkas rumput “Oh, Baekhyun. Selamat siang. Kau pasti ingin menemui Chanyeol?”

 

Baekhyun menangguk “Pagi ini dia menelponku dan memintaku datang. Apa telah terjadi sesuatu, paman?”

 

“Ah, entahlah. Sejak pagi dia sama sekali belum meninggalkan kamarnya. Kau temui saja dia, aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku.”

 

“Aku mengerti.”

 

Sekali lagi Baekhyun membungkuk sebelum akhirnya mohon undur diri dan melangkah memasuki rumah kediaman keluarga Park. Rumah mewah yang tak asing lagi bagi Baekhyun, tentu saja karena ini bukan kali pertama ia mendatangi rumah ini. Mungkin ada sekitar tiga sampai empat kali Chanyeol memintanya datang dalam satu minggu, untuk sekedar membuatkan makanan sampai menemaninya tidur semalam suntuk.

 

Yah, menemaninya tidur…

 

Baekhyun harap, bukan alasan yang satu itu…alasan Chanyeol memintanya datang.

 

“Chanyeol. Park Chanyeol!” panggil Baekhyun seraya mengetuk pintu kamar.

 

Setelah beberapa kali mengetuk dan tetap tak ada sahutan, Baekhyun memutuskan untuk langsung masuk saja tanpa peduli apa pun reaksi sang pemilik kamar nanti. Toh, Chanyeol tidak pernah marah juga padanya.

 

“Chanyeol?”

 

Pemuda itu ada didalam kamarnya. Lebih tepatnya berada dimeja belajar berhadapan dengan notebook Sparkle canggih keluaran terbaru…jelas sekali ia mendapatkannya secara gratis.

 

“Park Chanyeol, sedang apa kau?” Baekhyun masih berusaha mendapat perhatian dari sang kekasih “Hhh~ kau ini…kalau masih mengabaikanku, lebih baik aku pergi sa—“

 

“Tunggu, tunggu!” kata Chanyeol pada akhirnya tepat sebelum Baekhyun berbalik dan hendak membuka pintu. Pemuda tampan itu pun memutar kursinya menghadap ke arah sang kekasih “Tetap ditempatmu.”

 

Kening Baekhyun mengerut bingung.

 

“Bisa kau melakukannya sekarang?”

 

“Hah?”

 

“Apa yang kau sebut dengan ‘Tarian tekan tombol on-off sakelar lampu’ ?” Chanyeol menunjuk layar notebook-nya yang ternyata tengah memutar video memalukan Baekhyun yang baru saja Chanyeol katakan “Kebetulan sekali kau berdiri disamping sakelar…ayo cepat, lakukan sekarang. Aku mau lihat.”

 

Bukan hanya kening Baekhyun yang kini mengerut, namun seluruh bagian wajahnya sudah kusut total, merah dan berkeringat dingin.

 

“Da-dari mana kau mendapatkan itu?!” jerit Baekhyun yang sudah merapat ke pintu dengan tubuh membeku “Sehun? Sehun yang memberikannya padamu, ya?!!”

 

“Bukan. Luhan yang memberikan.” ucap Chanyeol santai yang secara tidak langsung telah membahayakan hidup Luhan.

 

Pasangan gila! Maki Baekhyun dalam hati.

 

“Ti-tidak mau!!” tolak Baekhyun mentah-mentah.

 

Sebelah alis Chanyeol terangkat naik “Kau tidak mau?”

 

Baekhyun menggeleng keras.

 

Chanyeol menghela nafas kemudian berdiri dari kursinya, melangkah pelan menghampiri pemuda manis yang kini nampak cemas luar biasa.

 

“Benar-benar tidak mau?” bisik Chanyeol pelan…karena kini, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Baekhyun.

 

Sang pemuda manis hanya terdiam.

 

“Baiklah kalau begitu…” Chanyeol bersendekap “Jangan salahkan aku bila—“

 

“O-okay…” sergah Baekhyun cepat.

 

Sejujurnya…telah terbayangkan apa yang akan terjadi bila keinginan Chanyeol tidak terpenuh…seperti, yah…ini dan itu. Memikirkannya saja sudah membuat wajah Baekhyun memerah menyaingi apel.

 

“Aku akan melakukannya…” gugup Baekhyun.”

 

“Benarkah?”

 

Baekhyun mengangguk lemas “Tapi berjanjilah jangan berbuat yang macam-macam!!”

 

Chanyeol tersenyum −menyeringai− penuh arti…ia pun balas mengangguk…seraya, membentuk tanda silang dengan jari tengah dan telunjuk dibalik punggungnya.

 

-OWARIMASHITA!-

 

Udaaaahh!

Cuma gitu doang?

Lha iya! Haha!

Emang ga jelas ya, iya maap saya tau…

Niatnya Cuma mau coba2 bikin Smut sih…haha!

 

Dibebasin untuk komen atau tidak…terserah kalian aja.

Jadi silent readers juga gapapa.

 

Yg mau ngobrol bisa lewat twitter @kyuu_hime

Sampe ketemu lagiiii!

 

133 thoughts on “ONESHOT | HUNHAN | TRAP

  1. AAAA~ *Melted*

    Manis banget, diabet lah saya #bleeding
    Aku suka HunHan, yeyeye *muter gajelas ala tarian on-off saklar Baekhyun* :3

    Aaa~!! Kakak/?, kau telah meracuniku. Ngeh banget sama sifat misterius Sehun dan cara dia nyampein rasa sukanya ke si rusa o’on (tapi unyu :3) itu~ Kyeo~

    Plus bonus ChanBaeknya, khukhukhu bergulat sama imajinasi sendiri deh tentang akhirnya ><

    Nine tailed-fox Author-nim, JJANG!😄

  2. Otak ku selalu berhasil pervert kalo udh hunhan kamvrt itu yadong-an(?)
    Nih ff beneran ngegemesin kyaaaaa~~
    Terus dilanjut ya thor bikin ff hunhan yg kek gini, yg sehun super dingin trus luhan yg super polosnya kelewtan pokonya 10 jjang buat thor nuna (?)

  3. author gomenne baru komen sekarang :<
    aku suka aku sukaaaaaa xD
    ini manis manis legit rada mesum gimanaaa gitu ya sehunnya :3 terkutuk kamu sehuuuuun -3-
    gatau aku yang alay atau aku yang kebawa perasaan ff ini, akunya jadi malu terus tau sampe sekarang kalo liat foto sehun huahaha (~'-')~ padahal kan luhan yang kena anu-nya ya-,_-
    udah ah daripada ntar jadi spamming disini mending segitu aja komennya huahaha
    fighting author neee '-')9

  4. wanjerr ⊙□⊙ mata aku melek mulu dari pas baca yang chapter 1 T□T sumpaah melted banget thorrr lup you bikin ff iniiii ^__^

    eh bentar.. akhir akhirnya ini loh penasaran pake banget sama tarian ‘on off saklar lampu itu’ kayaknya menggoda iman/? channie disituhhh penasaran banget thor lanjutin yaah ^.^
    HWAITING!!!

  5. KYAAA!!! HUNHAN M3!!! wkwkwk…
    Huuaah,,sehunnya gitu amat tapi…DAEBAK…Kyaaa!!
    Park Chanyeol anak park yoochun??! wkwk ngakak bayanginnya…
    Zhoumi juga jadi gege’nya Luhan??!! hihii~
    Masih bingung sama tariannya baek di video..emangnya sememalukan itu kah??!pengen liat >_< tapi bukan yadong kan??! hehee
    maklum reader baru..kekkee
    GANBATE THOR^^

  6. aarrrgghhh..gue suka banget hunhan nyaaa..sequel thor. yang panas.yang HOT BEGETE *plakk* sifatnya sehun disini gue suka banget.ama luhan yang kayak anak kecil gitu suka banget.sumpahh
    chanbaek nya juga dong..keren duh *gigit leppi*
    fighting yo thor hohoho~

  7. yahhhh kok baekyeol nya ng’gantung sih thor ?😦 .. pdahal uda greget pngen liat tariannya, eh mlah gk ada trnyata hehe😀 sbnernya ini jdi ff hunhan aja gpp thor..jdi riders(?)nya gk dbkin nanggung pas liat baekyeol *tunjuk dri*😀 tpi mau gmnapun inih ff ttep daebak kok thor (y) lanjuutttt..!!!😀

  8. Demi tuhan :”V
    ini ff nganu bener :’v
    M3 MANIS MANJA MESUM ~(´..`~)(~´..`)~
    *Mati*

    *Hidup lagi*
    Apa cuma gue yang langsung cari digugel ‘Tarian tekan tombol on-off sakelar lampu?’ :’v
    dan ternyata gak ada hasilnya ? :’v
    Sakitnya itu dimana? Disini *nunjuk hidung* :’v
    PENASARAN SAMA TARIAN TEKAN TOMBOL ON-OFF SAKELAR LAMPU -_-

    ah sudahlah…
    Yang lalu biarkan saja berlalu…
    /tarik Suho kekamar/

    oke deh eonni(?) ini ff sukses buat gue eneg sama kelakuan Sehun -_- Sehun pliss, itu dibandara kan? -_-
    jadi nasib kopernya Lulu gimana? -_-

    ahh sudahlah…

    *mati lagi*

  9. Nine tail fox-si, ffnya keren :3
    berasa ntn film yg ceritanya nggak ketebak.
    Suka ma gaya penulisanmu yg suka pakai perbandingan yg lucu, misalnya wajah merah seperti pantat monyet, Luhan ribut seperti anak rusa minta susu, trus cubitan luhan yg seperti capit kepiting dan banyak lagi…
    Aku pikir ni ff genrenya bakalan ngedrama, rupanya ni ff gokil abis.
    Btw chanbaek dibagian akhir itu tanggung adegannya, kenapa nggak dibikin baekhyun diperkaos (?) ma chanyeol aja😄
    terus berkarya yah… Fighting

  10. suka. suka banget ;w; orz. bagian sehun menindas luhan … kya kya. apalagi bagian baekyeolnya. hahaha. sama aja kena si baekhyun.

  11. sehun selalu saja mencicipi tubuh luhan terutama pada bagian leher luhan yang putih ithu..sampai2 leher rusa kecil ini bengkak gara2 oh sehun,,

  12. THOR KAPAN INI FF LANJUT! NANTIIN TAORISNYA! KRIS NYA MATI, KASIAN THOR! TERUS TAO NGE JANDA GITU? :”

    PLIS THOR LANJUT LANJUT LANJUT PLISSSSSSS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s