“The Betrayed Angel” Part 11

Update : 09 – 09 – 2013

Hay! Salam dari Hyobin *ketjup sayang*

EXO udah Goodbye stage yaaahh… Gak kerasa cepet banget mereka udahan comeback nya T__T AAHH UDAH KANGEN! GIMANA DONK!

Maaf jika udah pada lupa sama ff aku. Kalau mau baca silahkan baca kalo gak mau juga gpapa. Okeship~ Hanya saran saja, karena ini FF terakhir update nya beberapa bulan yang lalu. Lebih baik baca lagi dari chapter sebelumnya TAT

Maaf ya lama update. Tapi sesuai kata saya, selesai EXO comeback saya yang comeback buat FF hohoho~

 

The Betrayed Angel

 

Inspirated of ‘Uragiri wa Boku no Namae wo Shitteiru’

Mangaka :  Hotaru Odagiri

 

 tba4

TBA2

Author : Kim Hyobin

Twitter : @ranalunabila

 

Cast : Luhan – Oh Sehun – Kim Jongin / Ka 

Main Pair : KAIHAN – HUNHAN

Other : HUNHO – KRISTAO  – CHANBAEK – KRISHO – HUNTAO 

Other : Kim Minseok / Xiumin – Do Kyungsoo / D.O – Wufan / Kris – Huang Zitao / Tao – Byun Baekhyun – Park Chanyeol – Kim Jongdae / Chen – Kim Joonmyeon / Suho

Genre : Fantasy – Drama – Romance – Action – ANGST

 

Warning : Shounen Ai/ BOY x BOY / YAOI / BL

 

 

THIS IS JUST FICTION!

FICTION!

NOT REAL AT ALL!!

 

 

 

Part 11 – Can you forgive me?

 

 

 

Air—

 

Air adalah sebuah lambang kehidupan yang mutlak.

 

Harus ada!

 

Tidak bisa digantikan walau dengan berlian manapun.

 

Semua butuh air— tanpa air, tidak akan ada satupun makhluk hidup yang akan bertahan.

 

Tidak akan ada!

 

(Sehun to Suho)

 

Dulu hanya kau yang mau memandangku dengan tatapan sayang dan kasih. Mengarahkan tanganmu yang mungil itu untuk memelukku. Membisikkan sebuah kalimat yang tidak pernah kudengar. Aku tidak pernah merasakan memiliki sebuah keluarga, tidak pernah—

 

Dijaman itupun, orang tuaku—keturunan ‘Pure Blood’ klan Angel meninggal karena sebab yang tidak jelas setelah kelahiranku. Aku tidak pernah disentuh oleh kasih sayang. Tidak pernah dan hanya kau yang mau memberiku sebuah kehangatan. Walau aku tahu—

 

Dilubuk hatimu yang terdalam…

 

 

Ada dia.

 

 

Dia yang bernama Kris.

 

 

 

 

 

Bunyi percikan air—

 

 

Suho memainkan kakinya yang berada didalam kolam air, ia terlihat murung sekali. Desiran air yang menyentuh kulitnya tidak bisa membuat hatinya tenang. Padahal air itu tengah mencoba untuk menghibur sang manusia yang paling dicintai oleh air tersebut. Manusia yang bisa mengendalikan air sesuka hatinya.

 

 

Ia mengingat kembali bagaimana wajah ceria Lay, partner-nya, ketika sedang bersenda gurau dengan Kris. Bagaimana wajah Kris yang terlihat menyayangi Lay. Dia bukannya iri atau cemburu. Hanya saja, Suho—merasa ia salah tempat. Ia mengikuti Kris, karena sebenarnya… sebenarnya—

 

 

—ia menyukai Kris.

 

 

Sejak lama.

 

 

Bahkan sejak jaman itu, dimana saat jaman matahari ada dua. Akan tetapi perasaannya harus pupus karena Kris jatuh cinta pada sahabat putri Luhan yang bernama Tao. Sebagai Guardian yang baik, Suho mengalah dan menyembunyikan perasaannya.

 

Dan sekarang—Kris kembali datang kedalam hidupnya. Tidak ada Tao disisinya, walau Suho turut merasa sedih karena Kris hingga saat ini masih mencari keberadaan Tao. Bahkan keberadaan Luhan-pun belum ditemukan.

 

Lay—adalah partner yang sangat ia cintai. Sangat ia sayangi, penetral kekuatannya. Orang yang berani membanting dirinya masuk neraka demi kebahagiaan Suho. Lay adalah segalanya untuk Suho. Walau kini– ia merasa kecil hati karena Kris jauh lebih memperhatikan Lay ketimbang dirinya.

 

Suho memandangi desiran air yang masih saja menyentuh kulitnya, ia tersenyum manis dan mencoba berfikir. Mungkin ia terlalu sensitif, namun tidak bolehkah ia merasa sedikit ingin dicintai? Kini perhatian Lay juga mulai terbagi. Apalagi disana ada Baekhyun yang selalu lengket dengan Lay kemudian Chanyeol yang gemas sekali menjahili Baekhyun, tentu Lay harus terus mengawasinya.

 

Dia merindukan sosok Lay.

 

Berbeda dengannya, Lay sangat mudah berbaur—sedangkan dirinya yang lumayan tertutup sangat sulit berbaur dengan klan Angel lainnya. Kadang Suho membenci sifatnya yang tidak secerah Lay.

 

 

 

Seketika, Suho melangkahkan kakinya lebih masuk kedalam kolam tersebut, kolam air mancur yang terdapat ditaman sebelah timur Minor House. Ditengah kolam tersebut terdapat pancuran dengan hiasan beberapa patung malaikat kecil bersayap. Suho tersenyum, mendekati pancuran yang memamerkan air bening yang kini mulai mengitari Suho, air memang menyentuh tubuh Suho, akan tetapi Suho sama sekali tidak basah. Dengan jemari indahnya, Suho menyentuh air pancuran kemudian menyusapkan pada patung malaikat kecil disana.

 

 

 

DEG

 

 

Namun—

 

 

 

Wusshhhh

 

 

Suho merasakan tiba- tiba angin disekitarnya terasa aneh, Suho melihat kesekeliling dan—benar saja… angin mengerikan menyepungnya disana. Angin tersebut mengelilingi Suho yang masih berada didalam kolam pancuran. Seketika Suho langsung waspada, mengamati sekeliling. Apakah—

 

 

 

“Akhirnya—aku menemukanmu.”

 

 

 

DEG

 

 

 

Suho mendengar suara tepat dibelakangnya. Tepat disisi lain dibalik patung malaikat itu, seseorang yang ternyata sudah berada didalam kolam air pancuran itu. Bersama dengan Suho—sejak tadi? Akan tetapi patung malaikat itu menutupi sosoknya. Ketika Suho berjalan kesisi tersebut, sosok itu ikut berjalan hingga mereka tak kunjung bertemu. Berputar didalam kolam pancuran itu terus menerus.

 

 

“Tetaplah disana. Jangan lihat aku dulu—Suho. Aku tahu kau masih membenciku.”

 

 

DEG

  

 

Suho dengan reflek berhenti ditempat. Membiarkan air beriak disekitar tubuhnya. Air membenamkan tubuhnya hingga sebatas pinggang. Tangan putih Suho menyelusuri air disekitarnya, ia terlihat amat waspada.

 

 

“Se—hun?”

 

 

“Benar.”

 

 

DEG

 

 

Suho menutup matanya dan ia merasakan tubuhnya sedikit bergetar. Dadanya tiba- tiba terasa sesak. Bagaimana bisa Sehun masuk kedalam wilayah Minor House? Bagaimana bisa—padahal ia sudah membuat perisai untuk melindungi Minor House.

 

 

“Tao bisa melakukannya dengan mudah.”

 

 

 

Tap

 

 

 

Suho mengarahkan wajahnya pada samping kiri, tepat dimana suara langkah kaki terdengar. Terlihat sosok manis bertubuh tinggi tengah berjalan mendekati kolam. Suho membulatkan mata sipitnya, oh tidak— Sosok berambut hitam dengan mata tajam yang amat cantik dan tegas. Ia memakai baju berwarna hitam panjang yang mengekspos lekukan pinggangnya. Tidak ada yang berubah—Tao yang memesona. Tao yang dicintai Kris.

 

 

DEG

 

 

“Ta—Tao?” Suho membekap mulutnya sendiri. Tao ada disana, dia harus cepat memberitahu Kris! Selama ini Kris selalu mencari keberadaan Tao, Kris pasti akan senang sekali jika Tao kembali kesisinya.

 

 

Kris… pasti senang—

 

 

 

“Aku ingin menjemputmu.”

 

 

 

DEG

 

 

Ucapan Sehun sontak membuat Suho terkejut, kini ia melihat dengan jelas sosok tinggi bermata sendu dan berkulit pucat—Sehun. Dihadapannya. Sosok tinggi dengan kulit pucat serta mata sendu yang begitu tajam. Kulit putih Sehun yang mengenakan pakaian hitam sangat terlihat pucat.

 

“Menjemput—jangan bercanda! Kau pengkhianat brengsek! Karena kau—karena…” Suho terhenti. Ia menunduk, merasakan matanya memerah dan memanas. Kenapa—

 

 

“Bukankah kau merasa—salah tempat?”

 

 

DEG

 

 

Mata Suho membulat sempurna, menyebabkan buliran air mata jatuh begitu saja, bersatu dengan air kolam pacuran tersebut. Menyebabkan riak kecil itu kini jadi pusat perhatian Sehun. Pemuda tampan tersebut tersenyum tipis kemudian berjalan mendekati Suho, air menjadi saksi ketika tangan Sehun mulai mengarah pada Suho.

 

 

“Kumohon—ikutlah denganku.”

 

 

“Eh?” Suho mendongakkan wajahnya, menatap Sehun tidak percaya.

 

 

“Sejak lama—“

 

 

Ucapan Sehun terhenti, mengapa terpikirkan olehnya… wajah Luhan walau hanya sedetik. Wajah Luhan yang memanggilnya dengan senyuman manis dan tawa lepas. Luhan yang mengarahkan tangannya pada Sehun. Luhan—Luhan yang sudah hidup dijaman ini sejak awal bersamanya. Bersama Sehun di panti asuhan.

 

 

Namun—

 

 

Sehun punya tujuan lain.

 

 

“Sejak lama—aku menyukaimu, Suho.”

 

 

Tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Suho membekap mulutnya sendiri, menggeleng cepat dan mundur beberapa langkah. Ia sungguh tidak mau percaya dengan apa yang dikatakan Sehun. Ucapan yang ia harap didendangkan oleh orang bernama Kris—diucapkan dengan lantang dan tanpa ragu oleh Sehun kepada Suho.

 

 

“Kau bic—“

 

 

Perkataan itu terpotong ketika Sehun menarik Suho dalam rengkuhannya, mengecup lembut bibir kemerahan milik Suho yang masih terkejut atas perlakuan tiba- tiba Sehun. Tidak ada bedanya dengan Tao yang nampak membulatkan mata melihat Sehun yang mencium Suho tepat didepan matanya. Dengan wajah sedih, Tao membuang wajah kearah samping. Tidak mau melihat. Tidak mau!

 

 

“Brengsek!!” Suho langsung mendorong tubuh Sehun dengan cepat dan mengusap bibirnya dengan air. Membiarkan air membersihkan sentuhan Sehun disana. Suho menggeleng cepat kemudian mengendalikan air didalam kolam itu untuk mengepung Sehun. Dan benar saja, pemuda tampan itu tak bisa bergerak sama sekali. Air perlambangan kemarahan Suho naik ketubuh Sehun, seakan menjalari tubuh pemuda tampan tersebut. Namun tak ada ekspresi yang Sehun perlihatkan, tak ada rasa takut disorot mata dingin itu.. tidak ada apapun. Yang ada hanya kekosongan semata.

 

 

“Aku tahu apa yang kau rasakan dan aku.. ingin menyembukanmu… tidak boleh, kah?”

 

 

“Jangan bicara manis, pengkhianat.” Suho menggertakkan giginya.

 

“Bicara manis? Hihihi…” Sehun mengusap gumpalan air yang sudah nyaris mencapai dadanya. Suho menelan kasar liur melihat dengan mudahnya Sehun meluluhkan air itu dari tubuhnya. Bukan—bukan Sehun.. Suho mengarahkan wajah cepat kepada Tao yang ternyata mengarahkan lengan panjang berbalut kain hitam miliknya kearah Sehun.

 

 

“Air memiliki waktu.. angin.. api.. tanah.. semuanya berputar didalam aliran waktu.. dan aku.. Aku adalah ‘pemilik’ dari ‘pengendali’ itu..” Sehun berucap tajam penuh penekanan.   

 

 

Suho menggeleng cepat. “Apa maksudmu!! Tao milik Kris.. Apa yang kau lakukan pada Tao, Sehun!!”

 

 

Sehun meletakkan jari telunjuknya tepat ditengah bibir tipis yang terkatub kemudian berbisik. “Sssstt! Kau salah, Suho-hyung! ‘Pemilik Tao’ dijaman ini adalah aku. Aku, Sehun.. itulah bukti bahwa aku tidak hanya mengumbar kata- kata manis.”

 

 

DEG

 

 

“Kau—“ Suho tak bisa mengatakan apapun lagi. Ia terdiam melihat Tao yang sudah berada tepat ditepi kolam air tersebut. Tao mengarahkan tangannya pada Suho, sosok polos itu ternyata tidak berubah. Mata tajam indah bagaikan elang dan rambut hitam halus perlambangan diri Tao.. Suho menitikkan air matanya. Entah mengapa ia merindukan Tao—padahal dulu ia tidak pernah sempat dekat dengan pemuda manis itu.

 

 

“Namamu Suho, kan?” suara lembut Tao terdengar lemah. Suho mengernyitkan mata, kenapa Tao bertanya seperti itu? Mengapa Tao seperti tidak mengenal—bukan.. tidak ingat, mungkin.

 

 

 

 

Keajaiban akan terjadi sekali lagi

Dengan suara lembutmu yang manis

 

Kau menggambarkan ‘dua’ masa depan

 

Kerapuhan dan Keserakahan

 

Tidak ada yang lebih baik, kah?

 

 

 

 

Suho langsung menatap Sehun yang tersenyum penuh maksud. Ia masih sulit membaca keadaan. Suho mundur beberapa langkah namun— pergelangannya ditangkap cepat oleh Tao. Sehun tersenyum tipis kemudian memainkan air yang masih mengelilingi tubuhnya dan Suho.

 

 

“Kasihan.. apa kau menangis sendirian selama ini?”

 

 

Deg

 

 

Ucapan Tao membuat Suho sesak untuk beberapa saat. Tao mengangkat tangannya, mengusap sisa air mata yang tadi jatuh dipipi Suho. Lalu pemuda manis bermata panda tersebut tersenyum sedih. Mata tajam kelam tersebut melambangkan sebuah penderitaan. Suho dengan jelas dapat membacanya.

 

“Dulu—aku juga sama sepertimu.” Bisik Tao begitu lirih. “Aku juga memendam semuanya sendirian.. namun Sehun datang menyelamatkanku.. Sehun menyembuhkanku.”

 

 

“Tao—kau hanya dipengaru—“

 

 

“Sehun selalu berada disisiku.”

 

 

Deg

 

 

“Tao! Kau—“

 

“Dia tidak pernah berbohong padaku…” Kini Tao terisak. “..Kumohon.. Aku ingin Sehun bahagia bersama orang yang paling ia kasihi dan ia ingat.”

 

 

Deg

 

 

Mata sipit Suho semakin melebar, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tao yang kini malah menangis sembari memegang tangan Suho. Bisa Suho rasakan getaran halus dari tubuh dingin Tao, menandakan bahwa anak ini tidak main- main. Maksud Tao.. orang yang paling dikasihi dan diingat Sehun adalah… dirinya?

 

 

“Jika kau memang mencari sebuah kesetiaan yang tak akan pernah pudar.. kau tidak akan menemukannya disini.” Isakan Tao membuat Suho kembali ingat dengan partner-nya, Lay.

 

 

Lay—

 

 

Kini Lay seperti melupakan Suho, dia selalu bersama dengan Kris. Ia selalu menjadi yang paling disayang oleh Baekhyun. Ia sudah menjadi seperti ibu bagi Chanyeol. Lay—tidak pernah melihatnya lagi. Bahkan disaat Suho meminta kamar yang terpisah dari Lay.. pemuda manis berparas tenang tersebut menyetujui tanpa ragu. Mengapa—padahal Suho hanya ingin menguji keinginan Lay untuk bersamanya.

 

 

Lay tidak menyayanginya lagi… Lay sudah melupakannya.

 

 

 

Didalam doa, aku memekik sembari memohon

Agar didunia ini tidak ada lagi manusia yang menangisi kepedihan… dimanapun

 

 

 

“Sehun membuktikannya padaku..”

 

 

Suho ingin sekali menutup pendengarannya dari bisikan Tao, ingin menutup matanya dari sosok Sehun yang diam menatapnya. Akan tetapi ia tidak bisa—secara aneh Suho membenarkan ucapan Tao didalam hati mengenai Sehun. Seperti memberi sebuah harapan baru tentang kasih sayang dan pedoman.

 

 

“…biarkan Sehun menyembuhkan luka hatimu.”

 

 

Dan disanalah puncak dari ucapan lirih dan isakan Tao, Suho menangis sekuat tenaga. Bahkan suara isakannya amat menyedihkan. Tangan Tao membuka genggaman tangannya dari pergelangan Suho, membiarkan Sehun maju memeluk Suho. Tao yang berada diluar kolam hanya bisa mundur, membiarkan Sehun merangkul erat tubuh Suho yang bergetar. Akan tetapi, Tao masih menangis—

 

 

Dan—

 

 

Sebuah telapak tangan mengusap air mata dipipi Tao. Membuat sang pemuda panda mengerjapkan mata, melihat Sehun yang mengusap wajahnya sembari memeluk tubuh Suho. Mata Sehun menatap tajam mata Tao, membuat Tao mengerti— Sehun melarangnya untuk menangis.

 

 

 

Tao mengangguk pelan kemudian tersenyum lembut kearah Sehun. “Aku tidak akan menangis lagi.. terima kasih, kau selalu menghapus air mataku.”

 

 

Terima kasih.

 

 

Arigatou—

 

 

 

 

 

Air mata Suho tidak bisa berhenti. Ia menangis kini.. menangis dalam diam. Ketika otaknya memutar kembali kenangannya ketika pertama kali bertemu dengan Sehun dijaman ini. Hari dimana ia memutuskan untuk membelot dan mengkhianati klan Angel. Hari dimana ia membuang rasa suci didalam hatinya untuk menerima dekapan kegelapan dan keserakahan.

 

 

“Suho…”

 

 

Suara pelan Luhan sedikit menghentakkan hati Suho, ia kembali menatap pemuda cantik yang sudah terlihat siap hancur. Tubuh mungilnya terluka dimana- mana, wajahnya basah karena air mata dan sakit hati, kemudian tangan putihnya.. seperti menggapai kearah pemuda tampan diseberang sana—pemuda yang kini telah dikuasai lagi oleh dendam dan ingatan dari Matahari Merah.

 

 

“Luhan— maaf..” bisik Suho begitu pelan.

 

 

Luhan tersenyum kemudian mencoba bangkit. Ia berusaha untuk tidak terlihat lemah, walau kini ia menangis. Ia berusaha untuk membawa lagi kesadarannya untuk tidak terbawa oleh Matahari Biru. Suho langsung berjalan untuk membantu Luhan berdiri. Dan Luhan benar- benar tidak mengerti.. mengapa Suho begitu peduli pada dirinya kini? Bukankah Suho.. memihak klan Devil?

 

 

“Kenapa.. Suho..?”

 

 

“Aku tidak tahu…” bisik Suho pelan. “Aku tidak tahu Luhan.. aku hanya merasa Sehun mulai gila. Ia mulai berfikir tak wajar..”

 

 

Luhan mengarahkan wajahnya pada Sehun yang berdiri lumayan jauh dari sana, akan tetapi ia tahu bahwa ekspresi wajah Sehun nampak terluka. Wajah kejam itu seakan ingin menangis. Mengapa Suho berlari kesana? Keseberang sana..?

 

 

Mengapa Suho lari dari sisinya?

 

 

Luhan bisa membaca suasana hati Sehun yang kini seakan menjerit sakit. Jangan bercanda! Sehun dan Luhan sudah bersama sejak kecil. Mereka melakukan semuanya bersama, mereka melakukan segalanya bersama- sama.. menangis, tertawa, makan, bahagia, sakit dan berkhayal. Semuanya— seakan tidak ada lagi yang bisa memisahkan mereka rasanya. Akan tetapi.. jalan mereka kini berbeda. Bersebrangan.. tidak sama lagi.

 

“Sehun…” tanpa sadar, Luhan berjalan menuju arah Sehun. Membuat Suho ingin mencegah, tetapi Suho tahu.. yang bisa menghentikan Sehun hanyalah Luhan. Yang bisa membuka mata Sehun adalah Luhan. Suho tidak mencegah Luhan untuk mendekati Sehun. Dan ketika itu, Kai malah bermaksud menyerang Luhan yang sedang lengah—

 

 

TRANG

 

 

Api merah Kai membentur air yang Suho kendalikan untuk melindungi Luhan. Sempat Luhan terlonjak kaget ketika dengan tiba- tiba air Suho mengelilinginya.

 

“Lawan aku!!” pekik Suho keras kearah Kai. “Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Luhan lagi!!”

 

 

“Suho..” Luhan bermaksud kembali ketempat Suho berdiri, namun tangan Suho terangkat untuk menghentikan langkah Luhan kearahnya.

 

“Pergilah ketempat Sehun, Luhan!! Hanya kau yang bisa membuka hati Sehun! HANYA KAU YANG BISA MEMBERSIHKAN HATINYA DARI DENDAM!!”

 

DEG

 

Luhan mengangguk cepat. “Jangan kalah Suho.. Jangan kalah!!”

 

Suho tersenyum manis, ia menahan air matanya untuk jatuh. Airnya masih mengurung sosok Kai yang kini mati- matian berusaha keluar dari kurungan air Suho. Ia harus mencegah Matahari Merah yang berada didalam diri Kai menyerang Luhan. Apapun harus ia lakukan, karena Suho menyayangi Sehun. Ia tidak mau Sehun melakukan hal gila yang bisa membuatnya menyesal ataupun terpuruk nanti. Sehun harus disadarkan!

 

 

 

 

 

 

 

Sehun dengan angkuhnya memandangi Luhan yang kini berada dihadapannya. Tidak ada sedikitpun belas kasih dimata Sehun. Matanya penuh kilatan dendam. Hatinya sudah membusuk bersama dendam yang ia tanggung sejak lama. Luhan bisa merasakan angin terombang ambing diantara mereka. Angin yang menggambarkan suasana hati Sehun yang berantakan dan luluh lantak.

 

“Sehun… Mengapa wajahmu terlihat gusar?”

 

“Diam kau.”

 

Deg

 

Luhan masih saja tersenyum. Ia tidak pernah marah jika Sehun membentaknya seperti ini. Sampai mata Luhan menangkap dua jiwa yang masih terkurung oleh angin Sehun. Dua jiwa itu terikat akar angin yang membelit tubuh mereka.  Awalnya Luhan terkejut saat melihat Lay, jiwa Lay, akan tetapi secepatnya Luhan menggeleng cepat dan kembali menatap Sehun yang sama sekali tidak berniat beramah tamah pada Luhan. “Kau bisa mengembalikan jiwa mereka kembali, bukan? Maka—kau menangkapnya sebelum jiwa- jiwa tersebut pergi ke surga.”

 

Sehun ingin tertawa. “Ha? Jangan salah paham, Lu Han-sshi… aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa melakukan apapun. Arwah adalah bentuk halus dari perlambangan jiwa—Angin bisa menghancurkannya dengan mudah. Kau tahu? Mereka begitu rapuh.”

 

 

 

“Maafkan aku, Sehun.”

 

 

 

Mata dingin Sehun membulat sempurna ketika mendengar suara mendu Luhan mendendangkan kalimat maaf yang begitu tulus. Tapi, hati tidak bisa secepat itu diubah. Sehun sudah terlampau buta akan dendamnya pada Luhan. Rasanya membunuh Luhan sekali saja tidak cukup—

 

 

“Persiapkan kematianmu!” Sehun mengangkat kedua tangannya keatas. Mengomando dengan hati ketika angin mulai kembali murka.

 

 

Luhan dengan tenang, mengikuti apa yang Sehun lakukan. Ia tentu bisa mengendalikan angin sekarang karena kekuatan Luhan sudah bangkit. Angin berwarna cemerlang mengelilingi Luhan, berbeda dengan angin Sehun yang berwarna kelabu. Senyuman tidak hilang dari wajah mulia Luhan, memandang sayang sosok Sehun dihadapannya. “Aku menyayangimu, Sehun.”

 

 

Angin menyelimuti kedua pemuda terjalin ikatan takdir tersebut.

 

 

“Pembohong.”

 

 

 

Kau bukanlah orang jahat—

Kau hanyalah seorang yang tersesat

Maka biarkan aku membimbingmu…

 

 

 

Bruaakk

 

 

Tubuh Chanyeol terpental membentur dinding ketika dengan kejam es Xiumin merajamnya. Hanya Xiumin yang berdiri tegap saat ini. Tao sudah terduduk disudut ruangan dengan wajah ketakutan menatap Lay yang sudah tak bernyawa didekapan Kris. Tao menangis seperti orang gila dan tubuhnya bergetar hebat.

 

“TAO!” Xiumin berteriak keras sekali. “Berhenti jadi manusia pengecut! Kau sudah membunuh satu orang, sekalian saja bunuh mereka semua!! Red Night akan usai beberapa menit lagi!”

 

Baekhyun tidak bisa menahan isakan keras ketika Kris membaringkan tubuh Lay dilantai dingin penuh es milik Xiumin. Pemimpin itu tidak menangis, ia hanya diam memandang sang sahabat yang sudah pergi, selamanya. Baekhyun menggenggam tangan Lay erat, masih menangis. Chanyeol berusaha mati- matian untuk bangkit, namun efek Red Night begitu mengerikan. Kekuatan mereka masih jauh dibawah batas. Akan tetapi, Chanyeol merasa ada peluang karena Xiumin tadi mengatakan bahwa Red Night akan segera usai. Tinggal dia menunggu waktu itu tiba. Chanyeol akan menyimpan tenaganya untuk itu.

 

 

Kris berjalan mendekati Xiumin dengan langkah pasti. Kemudian terhenti ketika jarak mereka hanya beberapa langkah. Kedua pemuda itu berhadapan. Mata tajam Kris menilik Tao beberapa saat.. tubuhnya ikut bergetar ketika melihat Tao menangis terisak dengan ketakutan disudut ruangan. Jangan mengira ini akan selesai begitu saja… Tao tidak akan pernah kembali lagi—dia sudah membunuh satu orang.

 

 

Tao sudah rusak.

 

 

“Apa yang kau lihat!” sinis Xiumin ketika tahu tatapan Kris mengarah kemana. “Dia bukan lagi milikmu. Dia bukan lagi Tao-mu yang dulu. Dia mencintai Sehun dijaman ini.”

 

DEG

 

Kris membulatkan mata, ucapan Xiumin bagaikan tumbukan palu dihati Kris. “Ap—Apa?!”

 

Xiumin tersenyum tipis, merasa menang melihat ekspresi wajah Kris yang begitu terluka. “Kau pikir mengapa ia mengikuti Sehun hingga berani mengorbankan segalanya? Kau bukan lagi seorang Jendral, Kris! Kau hanya pecundang!”

 

Kris tidak bisa menerima kali ini. Mata tenang Kris berpenjar kilatan amarah. Kenangan dimasa lalu membelengku otaknya. Kemarahan akan ikatan yang kini tak bisa ia ubah membuka satu katub penjaga hatinya. Kris kehilangan kendali—

 

 

…Dia mencintai Sehun dijaman ini.”—

 

 

Chanyeol menyadari sesuatu. Es yang mengelilingi ruangan itu tiba- tiba berangsur mencair. Padahal ia dengan sadar, tidak menggunakan kekuatan apinya saat ini.

 

“H..Ha?”

 

Kenapa—

 

 

 

Aku tahu—

 

Disaat kau terlahir kembali… Aku bahkan tak ada disisimu..

Kau pasti ketakutan seorang diri.

 

 

Baekhyun membulatkan matanya, melihat sosok Kris yang berdiri tidak jauh didepan mereka. Aura Kris berubah—Baekhyun menyadari sesuatu. Tangan lemahnya memeluk tubuh Lay yang tidak bernyawa, menjauhi Kris.

 

 

“Chan—Chanyeol…” bisik Baekhyun pelan.

 

 

 

Aku tidak bisa menemukanmu.

 

Tuhan, memisahkan raga kita..

 

Bahkan merenggut ingatanmu tentang diriku.

 

 

 

Chanyeol mendengar bisikan Baekhyun. Ia bangkit kemudian berlari kearah sang terkasih. Memeluk Baekhyun dan menarik pemuda cantik itu menjauh dari sana. Tubuh Lay tidak dilepaskan oleh Baekhyun sama sekali. Betapa Baekhyun menyayangi pemuda manis berhati lembut tersebut. Jika ditanya, Baekhyun sama sekali tidak merelakan kematian Lay.

 

 

Dan—

 

Dikala aku menemukanmu kembali…

 

…disaat itulah aku sadar…

 

 

Aku sudah kehilanganmu, Tao.

 

 

 

Chanyeol melihat sekilas sepasang benang api mengelilingi Kris. Benang berwarna merah dan biru. Seperti warna Matahari. Ia langsung mengerti apa yang tengah terjadi pada pemimpin Klan Angel tersebut. Walau ia hanya mendengar sekali dari Suho, dan ia nyaris tidak percaya karena Suho pun tidak yakin.. namun, kini ia lihat dengan jelas..

 

 

Legenda itu terkunci dalam tubuh Kris.

 

 

“Baekhyun, keluar dari ruangan ini!!” Chanyeol berteriak tanpa sadar, ia seret paksa lengan Baekhyun yang masih memeluk tubuh Lay menuju pintu terdekat.

 

“A—Apa?!” Baekhyun terlihat bingung.

 

“Aku akan menghentikan Kris! Kau lari sejauh- jauhnya dari ruangan ini! Kau mengerti?”

 

“Tapi.. kau—“

 

Chanyeol menatap mata Baekhyun yang sudah sembab karena menangis. Ia usap air mata dipipi Baekhyun dengan sayang. Ia memang bukan lelaki romantis.. Ia memang sering kali membuat Baekhyun kesal bahkan menangis. Mungkin saja karena itu.. Baekhyun membencinya. Tapi.. Sungguh, hanya perasaan tulus yang mengelilingi hati Chanyeol untuk Baekhyun.

 

 

“Baekhyun.. aku akan kembali padamu.”

 

 

Chanyeol tersenyum, ia ingin menangis rasanya. Ia tahu, pertarungan ini pasti akan memakan korban jauh lebih banyak. Lay sudah terenggut.. dan ia bersumpah akan menjaga klan-nya demi hidupnya sebagai Guardian.

 

“..Chanyeol,” Baekhyun terisak.

 

“Pergilah!” Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun dengan keras. Membuat pemuda itu berjalan menuju pintu keluar. Baekhyun menatap Chanyeol dari sela- sela pintu, tidak mau pergi dari sana.

 

“KUBILANG PERGI, BAEKHYUN!!”

 

Disaat itulah, disaat Baekhyun membalikkan tubuhnya untuk pergi dari sana… Ia lihat dengan jelas—

 

Ia lihat…

 

…air mata Chanyeol.

 

 

 

Ini bukan perpisahan, bukan?

 

Chanyeol… jawab aku—

 

 

 

 

Saat ini yang ada didalam ruangan itu hanya Chanyeol, Kris, Tao dan Xiumin. Setelah menghapus air mata dan menenangkan diri sejenak, Chanyeol meyakinkan hatinya untuk mendekati Kris. Hanya orang bodoh yang mau mendekati bom yang siap meledak, bukan? Benar.. Kris tidak jauh beda dengan pendiskripsian itu.

 

“Hyung—“ panggil Chanyeol sudah berada tepat dibelakang Kris.

 

Xiumin melirik sekitar, bingung karena es disekeliling ruangan itu perlahan mencair. Ia sempat menatap dalam Park Chanyeol, Guardian pengendali Api, namun Guardian itu tidak melakukan apapun. Dan lagi, mustahil baginya bisa mencairkan es tersebut dalam keadaan terbelenggu akan Red Night.

 

 

Lalu—mengapa bisa?

 

 

Chanyeol memberanikan diri untuk mendekat dan menyentuh pundak Kris. Namun, yang Chanyeol rasakan hanyalah panas yang amat mengerikan hingga ia menarik lagi tangannya dari sana.

 

“Kris-hyung!!” teriak Chanyeol tak sabar. “Hentikan, hyung! Kau bisa menghancurkan semuanya! Jika kau tidak mengendalikan dirimu.. kau akan menyesal!”

 

Kris tidak mendengar. Sepasang benang halus yang mengeliling tubuh Kris seperti mengisolasi pemuda tampan bermata tajam tersebut agar tak mendengar ucapan apapun. Tapi Chanyeol harus melakukan apapun. Bumi tidak boleh terbelah saat ini! Kris tidak boleh membangkitkan poros yang tertanam dalam dirinya. Tidak—

 

Karena di dunia ini.. masih banyak orang- orang yang Chanyeol cintai hidup.

 

Baekhyun

 

Luhan

 

Kai…

 

..tidak berbohong, bahkan ia menyayangi Suho walau pemuda manis itu mengkhianati klan.

 

Chanyeol harus melakukan sesuatu untuk menyadarkan Kris! Dengan tertatih Chanyeol berjalan kehadapan Kris, dan betapa terkejutnya Chanyeol melihat mata tajam Kris membidik sosok yang menangis disudut ruangan. Tao.

 

Mata Kris melambangkan luka dalam dihatinya.

 

Kosong.

 

“Hyung!!” Chanyeol tidak perduli lagi, ia guncang tubuh Kris yang terasa panas. “Jangan butakan matamu, hyung!! Dengarkan aku!!”

 

 

Xiumin merasa ada yang tidak beres dengan Kris kemudian berlari kearah Tao, menarik tangan pemuda panda yang masih saja menangis ketakutan agar berdiri tegap. Disaat itulah—Chanyeol sadar…

 

 

“KRIS-HYUNG!!”

 

 

..ia tidak bisa menghentikan Kris.

 

 

 

 

 

DUAR

 

 

 

 

 

Baekhyun tersungkur sembari memeluk tubuh Lay, ia membulatkan matanya ketika melihat dengan sangat jelas bahwa baru saja bongkahan panas berwarna hitam jatuh disampingnya. Bongkahan hitam seperti batu meteor yang jatuh dari langit. Baekhyun mengontrol nafasnya yang berantakan.

 

Dengan sangat berusaha, ia memperbaiki tubuh Lay yang ia gendong dipunggung. Baekhyun berlari dari tempat itu secepat kilat. Mencoba menjauhi beberapa benda langit yang terjatuh disekitarnya.

 

 

DUAR

 

 

Apa yang terjadi?

 

 

“Agh!!”

 

 

Bruak

 

 

Hingga tubuh lelah Baekhyun terjatuh ketika menyandung sebuah kayu, sepertinya bagian yang patah dari langit- langit rumah megah tersebut. Tubuh Lay jatuh dari tubuh Baekhyun.

 

“Lay hyung!!” Baekhyun akan mengangkat tubuh Lay, namun.. pemuda cantik itu terhenti. Ia tatap wajah Lay yang begitu tenang. Baekhyun menangis, terisak sangat kuat. Ia pendam wajahnya didada Lay yang sama sekali tidak terdengar detakan jantung.

 

“Maafkan aku.. hyung… aku tidak bisa menolongmu—“ isak Baekhyun makin menjadi- jadi. “Aku menyayangimu, Lay-hyung.. sungguh…”

 

 

DUAR

 

 

DUAR

 

 

Benda langit lainnya jatuh diantara mereka. Baekhyun masih saja berada disana, menangis. Ia lelah, ia juga ingin berhenti. Ia lelah dengan takdirnya yang melihat saudara- saudaranya saling membunuh seperti tadi.

 

“..aku lelah..hyung.. ugh..”

 

Bolehkah ia berhenti… sama seperti Lay?

 

 

“Baekhyun.. aku akan kembali padamu.”—

 

 

Deg

 

Tiba- tiba ia ingat pada sosok Chanyeol. Bukankah Chanyeol berjanji akan kembali pada Baekhyun? Yang ia harus lakukan adalah tetap bertahan hidup.

 

Baekhyun menghapus air matanya, kemudian mengusap pipi Lay. Rasanya tidak tega meninggalkan tubuh Lay disana.. tapi, ia tidak boleh memaksa Lay lebih jauh, pemuda itu ingin beristirahat, bukan? Maka Baekhyun akan membuatnya tenang.

 

 

“Selamat tidur, Lay-hyung.”

 

 

Ucap Baekhyun dengan isakan dan senyuman pahit, untuk terakhir kalinya… ia memegang tangan Lay. Dan—

 

 

“Eh?”

 

 

Baekhyun merasa Lay menggenggam sesuatu. Ia ambil sesuatu itu dengan hati- hati, tubuh Lay sudah mulai kaku dan membiru. Baekhyun mengerutkan keningnya ketika ia memegang… sebuah boneka rusa kecil sekali. Mengapa Lay bisa menggenggam boneka ini sedemikian eratnya?

 

Hingga, Baekhyun membalikkan boneka kecil itu. Bagian perut boneka rusa tersebut terlihat dengan jelas… disana tertulis…

 

 

Sehun to Luhan—

 

 

“..I..Ini…”

 

 

 

Tidak bisa dipercaya..

 

 

 

Sehun dan Luhan berdiri tegak, berhadapan. Mereka sama sekali tidak bergerak.. porak porandanya keadaan disekitar terabaikan. Angin yang dikendalikan Sehun maupun Luhan membuat mereka sama kuat. Luhan sama sekali tidak tampak lelah, berbeda ketika ia bertarung dengan Kai tadi. Kali ini Luhan tidak hanya bertahan, namun ikut memberi serangan.

 

“Kau lumayan.” Sehun menyeringai. “..tidak kusangka kau akan menguasai kekuatanmu dengan cepat, Luhan.”

 

Luhan tersenyum. “Karena Chanyeol mengatakan padaku, kekuatan yang sesungguhnya tergantung niat yang melekat dihati,”

 

“Omong kos—“

 

“..Dan niatku adalah untuk melindungimu, Sehun.”

 

DEG

 

Sehun membulatkan matanya tidak percaya, mengapa Luhan masih saja sebodoh ini? Apakah Luhan tidak mengerti sama sekali bahwa Sehun jelas- jelas ingin membunuhnya. Sehun jelas- jelas ingin melenyapkan hingga hancur bagaikan debu dan menghilang. Lantas—mengapa Luhan masih saja menyayanginya?

 

“Diam!” Sehun tidak bisa disentuh lagi dengan kata- kata manis. Ia sudah membuang hati nuraninya untuk mempersiapkan hari ini. Sehun bersumpah akan menghancurkan Luhan seperti Luhan menghancurkan segala harapannya dahulu. Dendam masa lalu masih membelenggu Sehun, ia benci akan keadaannya yang lemah ketika ia lahir dijaman ini.. Ia tidak pernah bisa membunuh Luhan di panti asuhan. Ia tidak sanggup karena mata anak itu begitu tulus menyayanginya..

 

Dan ketika Sehun diadopsi…

 

Ia dan Luhan terpisah, itu membuatnya belajar hidup tanpa Luhan. Membuatnya yakin bahwa ia memiliki pegangan lain selain Luhan. Apalagi setelah ia mendapatkan Tao, Kyungsoo, Xiumin, Chen dan—Suho.

 

Sehun yakin ia bisa membuang Luhan dari hidupnya dan memperbaiki masa kini tanpa kehadiran Luhan, dendam abadinya dimasa lalu.

 

 

Permintaan Sehun sederhana..

 

 

Ia ingin Luhan menghilang.

 

 

Hanya itu.

 

 

 

“Apakah aku tidak bisa dimaafkan, Sehun?”

 

 

Pertanyaan Luhan dijawab oleh angin mengerikan Sehun. Pemuda tampan itu menyerang Luhan dengan sangat cepat, tapi Luhan tidak bergeming. Angin suci yang Luhan kendalikan melindungi pemuda penyimpan wujud matahari biru tersebut dari angin kelabu Sehun. Tidak bisa dihindarkan pertempuran terjadi lagi. Sehun terus saja mencoba mencari celah Luhan, walau Sehun yakin ia tidak akan mungkin menang melawan Luhan dalam keadaan seperti ini. Kekuatan Luhan adalah kekuatan Matahari Biru, mustahil ia bisa menang jika ia hanya seorang Guardian.

 

Sehun berlari keluar dari angin yang mengisolasi mereka, Luhan yang melihat itu tentu saja langsung mengejar Sehun. Mengerti kemana arah langkah kaki Sehun, Luhan mengendalikan angin untuk mencegah Sehun mendekati—Suho.

 

Sehun mendecis ketika ia harus merubah jalur larinya dari tujuan awal. Suho nampak sedang sibuk sekali bertarung dengan Matahari Merah. Suho sangat kelelahan namun sepertinya pemuda itu masih saja mampu mengontrol kekuatan airnya untuk mengurung Kai. Bisa Sehun lihat Kai atau Matahari Merah yang terus saja berusaha keluar dari kurungan air tersebut.

 

Namun—

 

Jika Kai berhasil keluar dari kurungan itu, Suho pasti akan diserang habis- habisan. Bukan hanya itu, Matahari Merah akan membunuh Suho yang ia anggap penganggunya untuk membunuh Luhan. Sehun harus melakukan sesuatu sebelum terlambat.

 

Dan—ia sudah mempersiapkannya jauh- jauh hari.

 

Jika rencananya untuk membuat Kai dan Luhan saling membunuh gagal –Sehun tentu tidak memprediksi Suho akan melindungi Luhan- maka…

 

 

…tidak ada salahnya untuk mengorbankan satu orang lagi, bukan?

 

 

Disela- sela kaki Sehun yang terus berlari, Sehun terkekeh layaknya setan. Ia tidak lagi melirik Luhan yang mengejarnya dibelakang. Dengan tipuan, Sehun bergelumung dengan angin dan mengecoh Luhan yang terus mengejar angin tersebut. Sedangkan Sehun yang sebenarnya, telah kembali berlari kearah Suho.

 

 

Keadaan rumah itu siap runtuh. Tidak bisa dikatakan berdiri lagi karena dimana- mana sudah rusak bahkan hancur. Dan ketika Sehun nyaris sampai ditempat Suho berdiri dan mengendalikan air—

 

 

 

DUAR

 

 

DUAR

 

 

“AGHH!!” Suho terpental menghindari benda langit yang jatuh disampingnya. Mengakibatkan air yang ia kendalikan sejak tadi meyebar jatuh kelantai bertanah. Tentu saja, Matahari Merah bebas. Akan tetapi, Kai terdiam melihat benda langit yang baru saja jatuh begitu juga dengan Sehun yang terkejut bukan main.

 

Kai, Matahari Merah, mendongakkan wajahnya. Menatap langit malam kelam yang kini terekpos akibat benda- benda langit yang berjatuhan. Ia tersenyum tipis, mata itu memerah dengan cepat.. lebih mengkilat dan indah. Bulan nampak begitu besar, entah mendekat ke Bumi atau karena apa.

 

Sehun ikut mendongakkan wajahnya keatas, kelangit. Dan betapa terkejutnya ia melihat dengan jelas benda- benda langit lainnya bergerak mengerikan diatas sana. Kacau, Bulan terlihat amat dekat… bintang- bintang bergerak liar bahkan ada yang bertabrakan. Tidak ada yang teratur seperti sedia kala.

 

“Apa—ini?” desis Sehun.

 

“Kris..” Suho mendekati Sehun yang terdiam menatap langit malam yang mengerikan. Sehun mengarahkan pandangan matanya menuju Suho dan membantu pemuda itu untuk berdiri.

 

“Apa maksudmu, hyung?” tenyata Sehun sama sekali tidak bisa marah ataupun membenci Suho walau pemuda itu berlari kearah Luhan tadinya.

 

“…Poros Matahari..” bisik Suho menahan tangis.

 

“Poros?”

 

“Kris adalah Poros Matahari. Kau pikir keturunan yang hanya bisa terbang kesana kemari bisa dijadikan pemimpin Angel, ouh? Kris mempunyai kekuatan lebih dari itu.. bahkan ia memiliki seekor naga yang terkurung di ‘Black Hole’. Langit dan Bumi menjaganya, Kris bisa terbang.. karena langit menerimanya.”

 

“Ha?”

 

“Dan ia tidak boleh merasa lemah dan terpuruk—oh Tuhan, apa yang terjadi pada Kris!” Suho benar- benar panik.

 

“Hyung, aku tidak mengerti!” Sehun menyengkram pundak Suho dengan erat. Merasa terlupakan, karena ia tahu apapun yang kini dipikirkan Suho adalah menyangkut tentang Kris.

 

“Kita harus menghentikan Kris!” Suho membuka paksa cengkraman Sehun di pundaknya. “..Jika tidak—Luhan dan Kai tidak akan kembali.”

 

“Apa?”

 

“Tidak akan ada lagi Luhan dan Kai.. tidak kah kau mengerti? Jika Poros bangkit, pondasi ‘Matahari’ akan semakin kuat. Tubuh Luhan dan Kai akan diambil alih sepenuhnya oleh Matahari yang terkunci ditubuh mereka.”

 

Sehun tertawa. “Hahaha! Bagus, bukan? Kematian Luhan yang aku inginkan.”

 

“Dunia akan musnah jika kedua matahari bangkit dan mendapat tubuh. Dunia akan kembali pada zaman dimana Matahari ada dua!”

 

“Aku tidak perdul—“

 

DEG

 

Sehun terhenti, ia tatap wajah Suho yang ada dihadapannya. Terserah semua akan lenyap, terserah. Akan tetapi.. Sehun tidak ingin sekali lagi menyaksikan kematian—Suho. Ia tidak ingin melihat pemuda manis yang baik hati ini hancur dihadapannya lagi.

 

Cukup sekali.

 

“Tidak!!” Sehun membekap wajah Suho. “Aku tidak akan membiarkan dunia ini hancur.. setidaknya… karena kau masih hidup didunia ini Suho-hyung.”

 

 

“Sehun..” Suho benar- benar terkejut mendengar ucapan Sehun yang terdengar begitu tulus.

 

 

“Hanya kau yang mau mengerti dan menerimaku di jaman itu, hyung… dan dijaman inipun.. kau mau berada disisiku.” Sehun tersenyum, tulus. “Entah ini yang namanya cinta atau apa aku tidak tahu. Yang pasti, aku tidak ingin kau mati.”

 

 

 

Bunyi terompet akhir jaman berbunyi—

Tidakkah kau dengar?

 

 

 

Luhan saat ini berada dilantai paling atas rumah tersebut. Tidak bisa dikatakan lantai lagi karena hanya tinggal beberapa pijakan. Rumah itu benar- benar hancur berantakan. Masih saja mempercayai angin cepat didepannya adalah Sehun, Luhan terus mengejarnya.

 

 

Dan—

 

 

WUSSHHH

 

 

Angin itu menghilang begitu saja tepat ditepi atap. Luhan membulatkan matanya, tidak menemukan sosok Sehun disisa angin ribut tersebut. Bagaimana mungkin Luhan bisa tertipu sejauh ini? Ia memang tidak berpengalaman dalam bertarung.

 

“Aku tertipu?!” desis Luhan lemah.

 

Saat Luhan berbalik badan untuk kembali ketempat pertempuran—

 

 

DUAARR

 

 

DEG

 

 

DUAARRRR

 

 

Dari ketinggian itu, Luhan membulatkan matanya tidak percaya. Sama sekali tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Pemandangan kota yang terlihat dari sana—mengerikan. Benda langit yang jatuh kebumi, membuat kawah dan api. Gedung- gedung runtuh dan manusia yang terhenti waktunya tentu tidak bisa meyelamatkan diri dari keadaan kacau luar biasa tersebut.

 

“Ap—apa ini! Tidak!!” Luhan membekap mulutnya sendiri. Ia tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat. Keadaan alampun sekacau ini, apa yang akan terjadi sebenarnya? Bagaimana keadaan orang- orang diluar sana? Bagaimana keadaan teman- teman Luhan yang bersekolah dulu? Bagaimana keadaan.. panti asuhan Luhan dan Sehun dulu?

 

Bagaimana?

 

Apakah mereka selamat?

 

Semua kacau, yang Luhan lihat saat ini hanyalah api dan hantaman benda langit. Mustahil ada yang selamat diluar sana. Semua kacau dan musnah dalam sekejap.

 

“Tidak!!” Luhan menangis saat itu juga, ia tidak menyangka apa yang terjadi mengacaukan segalanya. Bahkan bulan yang berwarna merah itu terasa berada diatas kepala Luhan saja saking dekatnya dengan bumi. Sistem tata surya kacau dalam sekejap. Segalanya hancur berantakan.

 

 

Seperti kiamat—

 

 

“..Dapat kau.”

 

 

DEG

 

 

Luhan membalikkan tubuhnya, melihat dengan jelas sosok lain melayang dikelilingi angin berwarna merah darah. Sosok yang amat disayangi Luhan—

 

Suaminya dimasa lalu.

 

 

“Kai.”

 

 

“Poros sudah bangkit, Matahari Biru. Apa yang kita tunggu? Perang abadi yang kita nantikan akan terjadi, bukan?”

 

“Aku tidak mengerti!” Luhan mundur, ia tidak takut akan pijakan. Ia mengendalikan angin disekitar sana agar memadat dan bisa ia pijak. Untuk mengendalikan tanah ia belum punya kepercayaan diri karena jaraknya dengan tanah kini benar- benar jauh. Jangan lupakan ia berada diatap bangunan 4 tingkat itu.

 

“..Ah~ Aku masih bicara pada Luhan, kah?  Bisakah kau berikan tubuhmu pada Matahari Biru? Agar aku bisa bicara dengannya?”

 

“Tidak!” Luhan menggeleng cepat. “Aku tidak akan pernah membiarkan kalian bertemu kemudian saling membunuh satu sama lain. Kau memakai tubuh Kai!”

 

Kai, Matahari merah, tersenyum licik. “Terserah saja.. lagipula jika bulan sudah bertabrakan dengan bumi.. Semuanya akan mati.”

 

“Apa?” Luhan menatap bulan yang memang terasa semakin besar saja. Bulan bertabrakan dengan Bumi? Apakah itu alasan mengapa Bulan terlihat sangat dekat? Bulan kini mendekati Bumi?

 

 

“Setelah itu.. tubuhmu akan dikuasai oleh Matahari Biru dan..

 

 

….perang kami akan abadi.”

 

 

 

Serdadu kecil menangis pilu

Bumi tak lagi bisa dijadikan pijakan

 

 

 

Xiumin tersudut disalah satu dinding yang sudah tidak terlapisi es lagi. Tidak ada es Xiumin lagi diruangan bawah tanah itu. Bahkan air akibat cairan es tersebut sudah mengering. Bayangkan betapa panasnya ruangan itu. Chanyeol tentu bisa bertahan, karena ia pengendali api. Rasa panas seperti ini tidak bisa merubuhkannya, walau rasa panas yang kini menguasai tempat itu sangat asing. Jujur, Chanyeol merasa kepalanya berdenyut sakit.

 

Kris masih saja menatap Tao yang membantu Xiumin untuk berdiri, tapi sia- sia saja.. pemuda itu pengendali es.. Xiumin bahkan pernah sakit akibat terkena api Chanyeol saat dahulu menyerang Luhan di sekolah beberapa bulan lalu. Bagaimana mungkin keadaaan Xiumin baik- baik saja saat ini jika seluruh es yang mengelilingi ruangan tadi mencair dengan cepat.

 

Xiumin merasa tulangnya ikut mencair didalam tubuh.

 

“Ge—gege!!” Tao melihat Xiumin yang luar biasa pucat tentu saja sangat ketakutan. “Apa yang terjadi padamu, ge!!”

 

“T—Tao! Hentikan orang itu.. dia orang jahat!” Tunjuk Xiumin tak berdaya pada Kris yang masih menatap mereka dengan tajam.

 

Tao langsung bangkit, berlari menuju pemuda yang ditunjuk Xiumin. Tao tidak tahu siapapun dia, Kris, namun Tao merasa harus menghentikan orang itu. Xiumin adalah kakak yang Tao sayangi, melihat Xiumin seperti akan mati tentu saja membuat Tao panik. Anehnya, Tao sama sekali tidak merasakan panas. Tidak seperti Chanyeol yang kini sudah terduduk dihadapan Kris sembari mengatur nafasnya dan Xiumin yang sudah seperti meregang nyawa.

 

 

Kris menjaga Tao.

 

 

“Berhenti—“ Tao memohon pada Kris sambil terisak. “Kumohon.. apapun yang kau lakukan tolong hentikan! Kumohon!! Xiumin-gege tidak akan bertahan jika kau tidak berhenti.. hiks..”

 

Kris tetap diam.

 

“AGH!!” Xiumin berteriak keras ketika salah satu benang yang mengisolasi tubuh Kris melilit tubuhnya.

 

“GE!” Tao terkejut setengah mati, ia hendak berlari kearah Xiumin—tetapi..

 

 

-“Jangan pergi.”-

 

 

Tao merasakan lengan kokoh memeluk tubuhnya dari belakang. Aneh, tubuh Tao tidak bisa bergerak sama sekali. Namun matanya tertitik pada sosok Xiumin yang terus berteriak kesakitan. Tao berusaha memberontak, ia mengayunkan tangannya dan berkali- kali menghentakkannya pada tubuh Kris. Tapi sia- sia, karena kekuatan Kris jauh lebih kuat.

 

“GE!!” Tao meraung kuat- kuat saat benang tipis tersebut mengikat leher Xiumin. “XIUMIN GE!! JANGAN! KUMOHON—HENTIKAN!! XIUMIN-GE!”

 

“AGH!!” Xiumin berusaha melepas benang halus itu dari tubuh dan lehernya. Berusaha sekuat tenaga untuk tetap hidup, walau tubuh Xiumin terasa meleleh didalam sana. Tulang dan dadanya sakit bukan main. Apakah ini rasanya diambang kematian?

 

 

 

Apakah ini jalan satu- satu untuk.. pulang?

 

 

 

 

“..Pergi sana! Jangan mendekatiku!!”

 

Teriakan itu tidak membuat pemuda berwajah tampan gentar. Ia hanya tersenyum manis dan terus mengikuti pemuda yang tubuhnya jauh lebih mungil, Xiumin.  Itu membuat pemuda bertubuh mungil tersebut jengah.

 

“Kau mau apa, hah!!” teriaknya mulai frustasi. “Jika kau mau menculikku karena aku adalah anak dari keluarga Konglomerat Kim, jangan harap kalian bisa menyentuhku!”

 

Pemuda tampan tertawa pelan, ia kemudian mengarahkan tangan panjangnya menuju saku kemeja yang digunakan oleh  Xiumin. Membuat pemuda mungil terkejut bukan main. Ia tidak sempat mencegah ketika pemuda tampan itu mengambil alat GPS miliknya.

 

“Kem—kembalikan!!” jeritnya takut.

 

“Kau tidak memerlukan hal ini lagi!” pemuda tampan membuang alat GPS tersebut dan menginjaknya hingga hancur.

 

“Kau!”

 

“Namaku Sehun.”

 

“Aku tidak bertany—“

 

DEG

 

Ia terdiam, matanya membulat sempurna. Terkejut dengan apa yang ia dengar baru saja. Nama taboo bagi keturunan matahari dimasa lalu. Xiumin, terlahir kembali dengan ingatan yang sempurna. Berbeda dengan Tao dan Luhan yang lupa sama sekali dengan ingatan mereka dijaman itu. “—kau.. kau Sehun yang itu.. kau..”

 

Sehun mengangguk kemudian membungkukkan tubuhnya agar menyamai tinggi tubuh pemuda mungil tersebut. Xiumin akan mundur, akan tetapi tangannya sudah ditangkap oleh Sehun. Bisa Sehun ketahui Xiumin tengah ketakukan.

 

“Aku tahu kau memiliki pemikiran yang sama denganku.”

 

Xiumin menggeleng. “Tidak!”

 

“Kau tidak menginginkan hidup dijaman ini dengan kekuatanmu, bukan? Kau ingin menjadi manusia biasa yang bisa hidup tanpa mengenang kematian dimasa lalu.”

 

“Diam!!”

 

“Kau tidak sengaja membunuh kakak perempuanmu di jaman ini—semua menyangka kakak perempuanmu mengalami penyakit aneh, karena tidak pernah ada kasus kematian karena organ tubuh korban membeku seperti itu.”

 

Xiumin mulai menangis. “Aku—aku bukan pembunuh! Kakak tidak mau mendengarkanku.. hiks.. kakak selalu mengatakan bahwa aku hanyalah anak angkat dan tidak berhak mendapatkan harta kekayaan keluarga.. hiks.. aku tidak sengaja—aku cuma ingin ia diam!!”

 

Sehun tersenyum tipis. “Aku tahu dengan pasti, Xiumin.. kau pun sebenarnya tidak butuh harta itu, bukan?”

 

“Aku—aku hanya ingin menganggap mereka keluargaku yang sesungguhnya.. tapi—mereka mengangkatku hanya karena aku anak lelaki.. seorang perempuan dinilai tidak bisa mengelolanya nanti.. maka mereka mengadopsiku…hiks.. mereka tidak menyayangiku—“

 

Memancing perasaan seseorang yang memang sudah frustasi sejak awal sangatlah mudah. Jika kau pandai memainkannya, ia akan bertekuk lutut dan mempercayaimu. Sehun mengusap air mata Xiumin dengan hati- hati. “Keluarga yang sesungguhnya adalah kami, bukan? Orang- orang yang mengerti akan kekuatanmu dan keistimewaanmu, Xiumin.”

 

“Eh?”

 

 

“..Aku sudah menjemputmu.. tidak inginkah kau pulang…

 

 

…pulang ke keluargamu yang sesungguhnya?”

 

 

 

 

Sehun tidak pernah mengatakan omong kosong seperti mereka—

 

Sehun adalah kebenaran.

 

Maka.. aku akan membelanya dengan taruhan nyawa.

 

 

 

Sehun tersentak, ia bisa merasakannya. Ia bisa merasakan satu nafas yang kini menghilang. Ia arahkan wajahnya keatas, ia lepaskan tangkupan tangan dari pipi Suho. Begitu juga Suho yang kini mengikuti arah pandang Sehun dengan takjub.

 

Bagaimana tidak…

 

Salju.

 

“In—Ini..” Suho berbisik.

 

Sehun memejamkan mata ketika salju yang turun itu menyentuh pipinya lalu mencair. Terlihat seperti air mata dipipi Sehun. Pemuda tampan itu kemudian mendengar bisikan lirih diantara salju yang jatuh.

 

 

Terima kasih.. Sehun—

 

 

“Xiu—Xiumin.. oh Tuhan!” tangisan Suho pecah saat itu juga. Pemuda baik hati itu menggenggam salju yang terjatuh ditelapak tangannya dengan erat sembari terisak. Kesedihan menyergap hati Suho, ia kehilangan satu lagi anggota keluarganya. Tangisan Suho begitu pilu dipendengaran Sehun… Tapi, itu tidak merubah hati Sehun untuk tetap mengorbankan orang itu—anggota keluarga lainnya.

 

 

Sehun tersenyum licik lalu berbicara tanpa suara—

 

 

 

Servatis a periculum

 

Servatis a maleficum

 

 

[Save us from danger]

 

[Save us from evil]

 

 

 

“TIDAK! XIUMIN GEGE! TIDAK!!” Tao memberontak terus sekuat tenaga, walau semua itu sia- sia karena pelukan Kris sangat erat. Tao baru saja menyaksikan, lagi, kematian. Air mata Tao jatuh begitu saja melihat tubuh Xiumin tergolek disana. Pemuda pengendali es itu sudah menutup mata. Wajahnya nampak tenang—menyakitkan untuk Tao. Chanyeol yang semakin saja merasa lemah melirik Xiumin, Chanyeol menggeleng pelan… tahu tidak ada harapan lagi bagi pemuda pengendali es itu untuk selamat. Kris menyerangnya habis- habisan dengan benang api itu. Benang api yang panasnya sama dengan lahar gunung merapi. 

 

 

DUAR

 

 

DUAR

 

 

Benda langit masih saja jatuh disekitar mereka. Chanyeol pun bingung mengapa dari tadi benda- benda langit itu tidak mengenai mereka ditempat itu. Namun, ia yakin.. Kris pasti tidak ingin melukai orang lain.

 

 

“LEPAS! LEPASKAN AKU, BRENGSEK!!” Tidak mau menyerah begitu saja, Tao terus berusaha melepaskan lengan Kris yang melingkari tubuhnya. Seperti patung, Kris diam tak bergeming. Matanya tetap tajam dan tak terbantahkan. Bersyukur Tao tidak melihat mata itu saat ini, atau tidak bisa dipastikan Tao akan ketakutan setengah mati.

 

“Kumohon..ugh.. Kumohon—Xiumin ge! XIUMIN GEGE, JANGAN TINGGALKAN AKU!” Tao kembali terisak pilu. Ia meraung sekuat tenaga dan terus memberontak. Chanyeol mencoba berdiri, jika Kris dibiarkan seperti ini—semua akan mati.

 

“Kris-hyung!!” Chanyeol berjalan kesamping Kris yang masih memeluk Tao. Ia tatap miris pengendali waktu yang kini menangis seperti orang gila dan Kris tidak terlihat ingin melepas Tao sama sekali.

 

“Hyung! Tidak seperti caranya, kau bisa membunuh lebih banyak lagi!” Chanyeol berteriak, benda langit yang terjatuh tidak ada habisnya tentu saja meredam suara Chanyeol. “Aku—Aku tidak ingin melihatmu membunuh!! Aku sangat menghormatimu, kau pemimpinan Angel yang baik… tidak ada yang kecewa padamu, hyung! Kami mempercayaimu!!!”

 

 

Tao yang mendengar ucapan Chanyeol sontak menghentikan gerakannya untuk memberontak, ia lirik Chanyeol dengan wajah memelas. Air mata bagaikan paduan diwajah Tao saat ini. Chanyeol masih saja memandangi Kris dengan tajam. Isakan lemah Tao terdengar seperti lagu tidur.

 

 

“…Kau pasti ingin menghancurkan dunia ini karena..” Chanyeol menghentikan matanya pada Tao sekilas. “..dia tidak lagi mencintaimu seperti kau mencintainya. Tetapi.. Didunia yang kau benci itu… dia masih hidup.. Tao masih hidup disana. Masihkan kau ingin menghancurkan dunia itu?”

 

 

DEG

 

 

Kris melebarkan matanya, seakan sadar akan ucapan Chanyeol. Tao yang tidak mengerti namanya dibawa- bawa oleh Chanyeol hanya bisa diam. Ia tidak berniat bertanya ataupun menyela perkataan Chanyeol.

 

 

“Didunia yang ingin kau hancurkan itu ada orang- orang yang kau cintai. Tidak ingatkah kau pada Luhan.. Baekhyun.. Kai.. aku.. bahkan Tao yang kini ada didalam pelukanmu?”

 

 

Masih… ada?

 

 

Tao bisa merasakan pelukan Kris melemah, namun belum lepas. Chanyeol menahan air mata yang akan jatuh… Jika ia tidak mengingat Baekhyun, pemuda itu pasti sudah rubuh. Pemuda itu pasti tidak akan bisa mengatakan hal seperti itu untuk menyadarkan Kris.

 

“..Kumohon, hyung.. Hentikan.. Hentikan kekacauan ini…”

 

Merasa pelukan Kris benar- benar melemah, Tao langsung berlari keluar dari pelukan Kris… menuju tubuh Xiumin yang tergeletak disana. Kris memandang punggung Tao dengan luka dalam terbuka dihati. Tahu bahwa tidak ada satupun yang tertinggal didalam keping ingatan Tao perihal dirinya. Mengapa—mengapa ia harus dilupakan?

 

Tapi—

 

 

Tap

 

 

Belum sampai langkah cepat Tao ketempat Xiumin…

 

 

Servatis a periculum

 

Servatis a maleficum

 

 

[Save us from danger]

 

[Save us from evil]

 

 

“…Eh…” langkah Tao terhenti.

 

 

DEG

 

 

DEG

 

 

DEG

 

 

Kemudian ia mendengar suara yang seperti berasal dari dalam tubuhnya sendiri…

 

 

..suara Sehun.

 

 

“Lakukan Tao…

 

…Lakukan sekarang juga!”

 

 

“..Sehun..” tanpa sadar Tao kembali menangis. “Se..Hun.. aku ta..takut…”

 

 

“Kau ingin membuatku bangga, bukan?”

 

 

Tao mengangguk cepat sebagai jawaban. “Ta..Tapi..”

 

 

“Lakukan, Tao!”

 

 

Air mata hanya perlambangan luka hati.

 

Tao pasrah, ia pasrah jika memang tubuhnya akan hancur untuk Sehun. Jika memang saat ini waktunya, untuk membuktikan kesetiaannya pada Sehun. Walau harus menghancurkan jantungnya sendiri…

 

 

“…Aku mencintaimu, Tao.”

 

 

Tao tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. Setetes.. dua tetes.. bahkan tak terhitung lagi air mata ia jatuhkan setelahnya. Tao tersenyum tenang..

 

 

Itu bohong, bukan?

 

Aku tahu—

 

Tapi… Kebohongan itu sudah cukup membuatku senang.

 

 

Tao menutup mata, menyebabkan lebih banyak air mata yang tertumpah. Saat itu, dimana matanya tertutup—yang ia lihat hanyalah anggota Klan Devil. Keluarganya.

 

Sehun..

 

Apakah kita akan bertemu lagi setelah ini?

 

Kuharap begitu—

 

 

 

“Aperiesque ostium….”

 

Tik

 

Tik

 

Tik

 

 

Bunyi dentuman jarum jam.

 

 

Kris membulatkan mata tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Tao. Pemimpin Klan Angel itu berlari menuju pemuda panda yang kini sudah menutup mata dan merentangkan tangan, siap jatuh kebelakang. Kris tahu betul mantra apa itu.

 

 

“…reserare.”

 

[Unlock]

 

“TAO!!”

 

 

Chanyeol yang tidak mengerti hanya bisa diam posisinya. Tidak mengerti dengan apa yang ia lihat setelahnya.

 

Tik

 

Tik

 

Tik

 

 

 

“TAO!! APA YANG KAU LAKUKAN!” Kris berteriak marah setelah menangkap tubuh Tao sebelum jatuh kelantai kotor. Tapi— yang ia lihat bukanlah seperti apa yang ia harapkan. Air mata tergenang dimata tajam Kris. Ia lihat… Lihat dengan jelas…

 

 

“A—a—aa… Haa!! Aahhh! Haaaa!!” suara nafas terputus- putus Tao.

 

 

—Tao sedang meregang nyawa.

 

 

“TIDAK! TAO!!”

 

 

 

Kau memanfaatkanku—

Dan.. aku tahu itu sejak awal, Sehun.

 

 

 

BRUAAKKKK

 

 

Suho dikejutkan oleh bunyi dentuman dua tubuh yang amat keras. Sehun melihat dua tubuh yang baru saja jatuh didekat mereka hanya tersenyum licik. Benda- benda langit yang tadi berjatuhan tidak lagi menghujani bumi. Suho mengerti.. Kris sudah tidak fokus pada ‘poros’ lagi. Tapi…

 

“Agh!! Haaa—aaaghh!!”

 

Salah satu tubuh yang terjatuh disana, adalah Luhan. Suho membekap mulutnya sendiri ketika melihat Luhan tersungkur sembari memegangi dadanya sendiri. Tidak ada bedanya dengan Kai yang juga tersungkur tidak jauh dari Luhan. Kedua pemuda itu nampak kesakitan. Dan kedua tangan mereka menyengkram dada masing- masing.

 

 

Jantung?

 

 

“Ap—Apa yang terjadi!” Suho membentak Sehun. “Jangan katakan bahwa kau.. bahwa kau menggunakan Tao?”

 

Sehun mengangkat bahu tidak perduli. “Kau pikir apa gunanya aku mengajak Tao bergabung, hyung?”

 

“Kau! Mengapa kau selicik ini, Sehun!!” Suho tidak percaya. Ia tidak percaya jika Sehun bisa berlaku sepicik ini. Ia bahkan tidak perduli anggota klan lainnya yang tewas. Ia hanya memikirkan dirinya dan dendamnya. Sehun benar- benar tidak bisa disentuh lagi… Apakah memang sudah tidak ada tempat walau sedikit dihati Sehun untuk kebaikan?

 

 

Untuk kasih sayang?

 

 

Tanpa mengindahkan Sehun, Suho berlari mendekati Luhan. Air mata tidak berhenti menyentuh pipi pemuda pengendali air tersebut. Suho terkejut bukan main saat melihat kondisi Luhan, mata bulat pemuda cantik itu terbelalak. Bibir pucatnya bergetar dan urat disekitar leher Luhan menonjol seakan ingin keluar. Luhan mengerang kesakitan, air matanya tak jua berhenti. Dadanya seperti dicabik- cabik saat ini. Sakitnya bukan main..

 

Tik

 

Tik

 

Tik

 

 

“AAGGHHH!!!” Luhan bergerak liar, sakit yang ia rasakan sangat ganjil. Seperti waktu pada tubuhnya dimundurkan dan dimajukan sesuka hati. Tulangnya seperti dilipat. Rongga nafasnya seperti mengecil kemudian membesar berulang kali. Isi kepala Luhan dipaksa memutar kenangan- kenangan dimasa lalunya.

 

Semua menyakitkan.

 

“AAAAGGHHHH!!!” keadaan Kai tidak jauh lebih baik dari Luhan. Suho menggeleng cepat melihat kedua pemuda yang tersungkur itu dalam keadaan mengenaskan. Tangisan Suho layaknya teriakan dipendengaran Sehun, tapi.. Sehun berusaha untuk tuli. Ia menikmati keadaan kedua pemuda yang ia benci itu sedang meregang nyawa.

 

“..Lihatlah seberapa besar keuntungannya memanfaatkan Tao, hyung. Kalau kau membiarkan Luhan dan Kai tadi saling membunuh, mungkin Tao tidak perlu mati.”

 

Suho menyangka, Sehun kini malah menyalahkan Suho? Mengapa Sehun begitu mudah membalikkan ucapannya untuk menyakiti orang lain. Sehun seperti ini bukanlah Sehun yang ia kenal. Sehun memang sangat kejam, tetapi.. Sehun saat ini..lebih dari kata kejam.

 

 

Sehun tidak tertolong lagi.

 

 

“Kau kesalahan, Sehun! KAU BUKAN KEBENARAN!”

 

Teriakan Suho membuat Sehun membulatkan matanya. Tidak percaya bahwa Suho akan meneriakkannya seperti itu. “Ap—apa? Kau bilang apa?”

 

Tanpa ketakutan sama sekali, Suho menyeka air matanya lalu berdiri tegap. Seperti menantang Sehun. “Aku menyesal mengikutimu!”

 

DEG

 

Sehun tidak menampilkan ekspresi apapun ketika Suho mengatakan hal menyakitkan itu. Guratan dingin dan kejam menghiasi wajah tampan Sehun. Ia seperti tidak terpengaruh dengan ucapan Suho sama sekali, seperti mati rasa.

 

 

 

“..Lu..Han..”

 

 

Suho dan Sehun melirik pemuda tampan yang kini merangkak kearah Luhan yang masih berteriak kesakitan. Kai. Pemuda tampan itu menggapai tangan Luhan lalu menggenggamnya. Hanya sedetik ia bisa menahan rasa sakit. Kemudian Kai kembali tersungkur dengan keadaan tubuh yang sama hancurnya. Tubuh itu memang masih utuh, tapi Luhan dan Kai merasa bahwa satu per satu organ dalam ditubuh dihancurkan dengan paksa.

 

Tik

 

Tik

 

Tik

Sehun tersenyum licik. “..Bom waktu yang ada didalam tubuh Tao hanya bisa dibuka jika Tao, pengendali waktu, itu sendiri yang menginginkannya. Bom waktu itu… aku kira hanya legenda untuk menakut- nakuti kedua Matahari, namun—aku menemukannya. Jika Bom waktu itu sudah dibuka oleh sang pengendali waktu, kedua matahari akan hancur tanpa bisa bereinkarnasi kembali dikehidupan berikutnya.”

 

 

Tik

 

Tik

 

Tik

 

Tik

 

Bunyi dentuman jarum jam yang entah berasal dari mana semakin memekak suasana. Suho ingin menutup telinganya agar tidak mendengar bunyi dentuman jarum jam itu, mengerikan. Seperti mendengar bunyi jantung Tao yang akan berhenti beberapa saat lagi.

 

“Sehun! Kau harus menghentikan ini semua!” Suho memohon.

 

Pemuda pengendali Angin tidak mengindahkan Suho, ia menatap tajam Luhan yang kini berteriak kesakitan. Luhan seperti sudah tidak sadarkan diri lagi. Tetapi, teriakan yang ia perdengarkan semakin terdengar gila. Luhan dan Kai tetap berpegangan tangan. Lebih baik mati daripada menderita dan dipermainkan oleh waktu seperti ini.

 

“Indah.. Luhan sangat indah jika kesakitan seperti itu..” Sehun tertawa. “Mengapa kau tidak segera mati Luhan?”

 

Kaki Sehun bergerak mendekati Luhan dan Kai, Suho mencoba menghentikan Sehun untuk mendekati Luhan namun dengan mudahnya Sehun menyuruh Suho diam dengan mengurungnya didalam angin.

 

“Sehun!!” Suho terisolasi didalam angin Sehun tanpa bisa melakukan apapun. Angin yang mengepung Suho seperti jeruji penjara. Suho tidak bisa keluar. “SEHUN!!”

 

 

 

 

Sementara pemuda pemilik nama tersebut hanya tersenyum seraya terus mendekat pada Luhan. ia ingin tertawa sekeras- kerasnya melihat Luhan hancur secara perlahan. Pasti menyakitkan, dan inilah pemandangan yang Sehun inginkan sejak dulu. Ia kemudian melepas genggaman tangan Kai dan Luhan dengan paksa.

 

“S—Se—Hun.. Jan..Jangan!!” Kai sangat berusaha untuk bicara. Sungguh, ia sudah tidak kuat lagi untuk melakukan apapun. Untuk bernafas saja ia sudah tidak kuat sama sekali. Tapi—siapa yang bisa berdiam diri jika melihat orang yang ia cintai kini diinjak.

 

“Aaahh—“ pekik Luhan tertahan saat Sehun kini menyengkram pipi Luhan dengan jemari tangannya. Sehun menyeringai, disela- sela mata Luhan yang sudah terpejam. Ia bisa melihat wajah Sehun yang begitu kejam. Air mata sudah tidak bisa mendeskripsikan luka dihati Luhan saat melihat Sehun.

 

“..Bagaimana, Lu? Sakit, bukan? Aku Guardian terhormat yang sangat menjunjung tinggi martabatku sebagai klan Angel saat itu—DAN KAU MENERIAKKANKU SEORANG PENGKHIANAT?!”

 

Kemarahan dimata Sehun sangat mengerikan.

 

“Ma—maaf.. Ahh… A—“ Luhan tidak sanggup lagi berbicara. Jantungnya sudah seperti disayat saat ini.

 

“AKU MELINDUNGI KLAN DENGAN NYAWAKU DAN APA YANG AKU DAPATKAN SAAT ITU? KAU MENERIAKKANKU PENGKHIANAT DAN MENYALAHKANKU SEBAGAI PEMICU PERANG!!” tangan Sehun bergetar pelan.

 

“Se—hun..”

 

“JANGAN PANGGIL NAMAKU SEPERTI KAU MENYAYANGIKU!” Sehun melepas cengkraman tangannya dari pipi Luhan lalu menjauhi pemuda cantik yang masih terbaring kesakitan dilantai bertanah. “..Matilah.”

 

 

“AAAGGGHHH!!!”

 

 

 

Tik

 

Tik

 

Tik

 

 

Tik

 

 

 

“TAO!!”

 

Kris tidak bisa menahan tangisnya ketika Tao semakin saja terlihat seperti mayat. Mata Tao terbuka lebar dan terlihat kosong. Nafas Tao tertinggal sedikit saja. Urat disekitar leher Tao muncul, menyedihkan sekali. Chanyeol sudah duduk dihadapan Kris yang memeluk tubuh sekarat Tao.

 

“LAKUKAN SESUATU!” Teriak Kris pada Chanyeol.

 

Tapi Chanyeol hanya diam.

 

Tidak tahu harus melakukan apa.

 

“Aku tidak bisa kehilanganmu Tao! Kumohon!!” Kris mendekatkan hidungnya pada hidung Tao. Mencoba mencari alir udara disana. Tapi yang Kris dapatkan hanyalah udara pendek yang sebentar lagi akan lenyap. “Oh Tuhan.. Tidak! Kumohon, Tao!!”

 

Tubuh Tao sudah tegang, Kris tahu sebentar lagi ia akan kehilangan Tao. Mungkin saja beberapa detik lagi. Dan Kris sadar dengan pasti semua ini untuk Sehun. Tao rela membuang nyawanya untuk Sehun. Tao rela membuka katup kunci didalam tubuhnya untuk Sehun. Tidak bisa Kris bayangkan kini Luhan dan Kai pasti mengalami hal yang sama dengan Tao.

 

Karena Matahari terhubung pada waktu.

 

Seperti lingkaran.

 

 

Tao memberikan nyawanya untuk orang yang ia cintai.. untuk Sehun.

 

 

DEG

 

 

“T—ao.”

 

Kris menghentikan tangisnya. Ia tatap Tao yang sudah menutup mata perlahan… Jika Tao bisa mengorbankan nyawanya untuk orang yang ia cintai?

 

Mengapa Kris tidak?

 

Bukankah yang Kris harapkan hanyalah kehidupan Tao saat ini?

 

 

…giliranku untuk membuktikannya.

 

 

Dengan cepat, Kris menidurkan Tao dilantai secara perlahan. Diantara Chanyeol dan Kris, tubuh Tao berada. Chanyeol kemudian mundur, tidak tahu apa yang akan Kris lakukan. Kemudian pemimpin Klan Angel itu tersenyum tipis kearah Chanyeol. Membuat Guardian itu tersentak hebat.

 

Jangan katakan bahwa Kris akan—

 

 

“Hyung… Jangan—“ Chanyeol menggeleng cepat. Panik melanda Chanyeol, bagaimana tidak—Ia tidak mau lagi melihat kematian! Apalagi anggota klannya sendiri.

 

 

“Jaga Tao setelah ini, Chanyeol.”

 

 

“KRIS-HYUNG!!!”

 

 

Hanya itu doaku untukmu…

Berbahagialah, Tao—

 

 

 

 

 

“Para malaikat terjatuh diatas kakiku…

 

…berbisik tepat ditelingaku..”

 

“..Mati didepan mataku..berbaring tak berdaya disampingku..

 

..membuka akhir yang baru saja dimulai…”

 

“…Menjauhkanku akan tipu daya cinta…”

 

“Kejujuran ini membuatku jatuh dalam kegilaan..

 

…buta karena air mata..”

 

…Kami bangkit untuk menemui… akhir...”

 

 

 

Requiem

 

 

 

 

“HNGG!!”

 

 

Luhan membuka lebar matanya setelah ia merasakan udara berbondong- bondong masuk kedalam paru- paru. Begitu juga dengan Kai yang bisa merasakan kesesakkan membuka tubuhnya yang tadi terasa terikat. Nafas terengah- engah yang terdengar disana merupakan tanda kelegaan. Tubuh mereka tidak lagi menggelepar.. tenang.

 

“Ah..” Luhan masih terbaring lelah, tidak mengerti mengapa tubuhnya bisa lega begitu saja. Bisa membaik begitu saja. “..Kai..aahh…”

 

“Luhan!” Kai langsung bangkit dan merangkak ketempat Luhan masih berbaring. Tubuh Kai masih lemah namun mendengar Luhan memanggilnya.. Kai tidak bisa menahan diri untuk menghampiri pemuda cantik itu. “…Kau…haahh… baik- baik saja?”

 

Luhan tersenyum saat Kai memelukanya dan menidukannya dipangkuan. “Haahh…Kai.. akhirnya kau kembali.”

 

“Bodoh!” Kai tidak bisa menahan diri untuk kembali memeluk Luhan. “Mengapa… kau tidak menyerangku? Mengapa kau tidak membunuhku, ouh! Kau nyaris mati—kau… Kau membuatku takut!”

 

“Karena..bukan Kai yang… bermaksud membunuhku.. Aku tidak ingin kau terluka.” Luhan mengusap punggung Kai dengan lembut dan kasih.

 

“…bodoh.”

 

 

 

Waktu memang tidak bisa dimundurkan atau dimajukan sesuka hati

Tapi—

Masih bisa diperbaiki

 

 

 

Sehun kembali tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat saat ini. Apa- apaan ini? Mengapa Luhan dan Kai bisa lepas dari bom waktu Tao? Kali ini wajah datar Sehun benar- benar tertekuk. Seharusnya jika bom waktu sudah diaktifkan.. tidak akan ada yang bisa mencegahnya untuk meledak walaupun Tao sendiri yang menginginkannya.

 

 

Lalu.. mengapa?

 

 

Apa yang terjadi?

 

 

“Brengsek! Apa yang dilakukan si bodoh Tao itu!!!” Teriak Sehun murka. Suho bisa melihat jika Sehun benar- benar marah. Tapi, Suho pun ikut bingung sebenarnya.. mengapa Luhan dan Kai bisa bebas dari bom waktu itu? Suho bahkan mengira tidak ada harapan bagi Luhan dan Kai untuk selamat tadinya. Apa yang terjadi dengan Tao? Apakah pemuda itu selamat juga?

 

 

“Cih!” Sehun kemudian mengarahkan tangannya untuk membuat sebuah pedang dari angin. Pedang itu sangat panjang dan mengerikan. Perlambangan dari rasa dendam Sehun selama ini. Jika memang harus dia yang membunuh Luhan dengan tangannya sendiri. Tidak masalah—

 

 

Toh, sama saja.

 

 

 

Luhan dan Kai merasa angin ribut kembali mengelilingi mereka. Mereka masih sangat lelah, rasanya belum begitu pulih untuk langsung bertarung. Namun Sehun tentu saja tidak mau mengerti hal itu. Ia sudah muak sekali. Sangat!

 

Kai memeluk Luhan dengan erat, memandangi Sehun dengan tatapan tidak kalah tajam. Mengapa Sehun begitu tidak bisa memaafkan Luhan? Bukankah mereka dilahirkan lagi dijaman ini untuk memperbaiki masa lalu?

 

Bukannya mengulang masa lalu.

 

Bukannya saling membunuh seperti ini…

 

 

“Sehun—yang kau lakukan bukanlah cara untuk memperbaiki takdir klan.” Ujar Kai pelan. Ia usap rambut Luhan yang kini menangis dipundak Kai. Luhan lelah.. Ia lelah melihat Sehun seperti itu. Ia lelah merasa bersalah atas keegoisan Sehun yang sama sekali tidak bisa memaafkan kesalahnnya dimasa lalu.

 

Bolehkah.. Luhan merasa pasrah saat ini?

 

Luhan hanya ingin segalanya cepat selesai.

 

Selesai.

 

Ia tidak kuat melihat Sehun seperti ini… ia sedih.

 

 

“Aku tidak perduli dengan Klan. Aku mengumpulkan sekutu untuk mempermudah jalanku membunuh Luhan.”

 

Suho yang masih berada didalam kurungan angin Sehun hanya bisa menggeleng, ia terduduk sembari menangis. Tidak menyangka bahwa Sehun benar- benar menganggap mereka sebagai alat. Suho menyayangi Tao, Xiumin, dan Kyungsoo sebagai keluarga. Mereka yang meninggal untuk Sehun… rasanya jadi sia- sia. Mengapa?

 

Mengapa mereka bisa begitu berharap pada Sehun?

 

Sampai berani mengorbankan nyawanya untuk kebahagiaan Sehun—

 

 

 

“KAU MENGORBANKAN KLAN KU UNTUK KEPENTINGANMU!!” Kai tidak bisa menahan amarahnya. Luhan mengusap dada Kai agar pemuda itu tenang. Tapi, Kai benar- benar marah. Sehun seperti setan.

 

 

“Klanmu? Maaf, Kai… Klan Devil adalah klan-ku.. dijaman ini—

 

 

—aku terlahir sebagai klan Devil. Aku bukan klan Angel.”

 

 

Kai dan Luhan tersentak. Luhan membuka pelukan Kai kemudian memandangi Sehun dengan sangat tajam. Tidak percaya dengan ucapan Sehun sama sekali. Bagaimana mungkin—

 

“Bukankah itu yang kau inginkan Luhan? KAU BAHAGIA, BUKAN? HARAPANMU MENJADI KENYATAAN! AKU TERLAHIR SEBAGAI KETURUNAN KEGELAPAN!”

 

“Sehun! Demi Tuhan, aku tidak pernah—“

 

“Diam! SUDAH KUKATAKAN JANGAN PERNAH MEMANGGILKU SEPERTI ITU!” Sehun mengarahkan ujung pedangnya pada Luhan. Kai tentu saja bergerak kehadapan Luhan untuk melindungi pemuda itu. Tatapan mata Sehun dan Kai bertemu.

 

“Minggir!” Sehun berteriak pada Kai.

 

“Robek jantungku kalau begitu!” ujar Kai dingin tanpa rasa takut.

 

Sehun diam.

 

Kai tersenyum sinis, “Kau tidak berani membunuhku karena kau takut mati, bukan? Jika aku mati—seluruh keturunan klan Devil akan mati dan kau—juga akan mati.”

 

Sehun menyeringai. “…Ada seorang pemuda yang melanggar sumpahnya untuk masuk ke klan Devil demi aku. Dan—aku tidak akan membunuhmu karena aku tidak ingin dia mati.”

 

Deg

 

 

Suho mengangkat wajahnya untuk menatap Sehun. Apakah yang Sehun maksud adalah dirinya? “Sehun…”

 

 

Luhan melirik Suho yang terkurung dalam angin Sehun tidak jauh dari posisi mereka. Luhan tersenyum tipis… ternyata Sehun benar- benar menyukai Suho. Ternyata Sehun juga memiliki orang yang ingin ia jaga— sama hal nya seperti Luhan. Walau Sehun menjelma sebagai iblis sekalipun.. bukan hanya Sehun.. siapapun itu, pasti memiliki orang yang ingin ia jaga. Karena—didunia ini, tidak mungkin ada manusia yang bisa hidup sendirian.

 

Namun..

 

Apakah Luhan bisa berharap… jauh didalam lubuh hati Sehun yang sekeras karang… ada celah kasih sayang disana walaupun setitik. Dan celah kecil itu bisa menolong Sehun dan hatinya?

 

“Aku juga ingin melindungi orang yang aku cintai.. tidakkah boleh?”

 

Kai berucap dengan lantang. Tidak membuat ujung pedang Sehun bergerak walau sesenti. Sehun memang tidak akan membunuh Kai karena alasan pasti, Kai pemegang jantung Matahari Merah. Bom waktu itu mengunci Matahari kembali didalam diri Kai dan Luhan.

 

 

“Minggir.” Suara Sehun benar- benar terdengar dingin.

 

 

“Sehun—apakah kematianku bisa membuatmu bahagia?”

 

 

Suara lemah Luhan menyentak Kai, ia pandang Luhan dengan cepat dan menggeleng. Seperti tahu akan apa yang Luhan pikirkan saat ini. Luhan hanya memberi senyuman manis pada Kai kemudian berjalan selangkah. Kai tidak mencegah Luhan saat ini. Ia hanya memperhatikan.

 

“Tidak cukupkah kasih sayang selama ini meluluhkan dendammu? Aku menyayangimu seperti aku menyayangi nyawaku sendiri. Bukankah dahulu kita berjanji akan selalu bersama? Bukankah kau mengatakan padaku bahwa kita tidak akan pernah terpisah!! BUKANKAH DAHULU KITA BERJANJI HIDUP BERSAMA SELAMANYA, SEHUN! TIDAKKAH KAU INGAT?!”

 

Sehun menggertakkan giginya, geram. “Diamlah, Luhan! Janji itu hanyalah—“

 

“Bagimu mungkin janji itu adalah sampah, NAMUN BAGIKU JANJI ITU SEGALANYA!!”

 

“Diam!! KUBILANG DIAM!”

 

“Kau yang diam dan dengarkan aku, Sehun!!” Luhan menghapus air matanya dengan kasar. Ia dekati Sehun hingga ujung pedang Sehun hanya berjarak satu senti dari leher putihnya. Kai tentu saja tidak membiarkan hal itu terjadi, ia bermaksud menarik Luhan.. Namun, pemuda cantik itu menghempaskan tangan Kai dan tetap memandang Sehun.

 

“Lu—“ bisik Kai lirih.

 

“Jika kau mengira aku membencimu, aku akan meneriakkan kata tidak! Jika kau pikir setelah ini aku akan membencimu, aku akan meneriakkan kata tidak! Jika kau menusukkan pedangmu kedadaku dan merobek jantungku.. dan kau pikir aku akan mati.. aku akan meneriakkan kata tidak! Karena aku tidak akan mati! AKU TIDAK AKAN MATI DENGAN MENGOTORI TANGANMU, SEHUN!!” Luhan dengan mengejutkan langsung menggenggam pedang Sehun hingga darah menyeruak dari buku- buku tangan Luhan.

 

“Lu! Berhenti!!” Kai menarik tangan Luhan tapi pemuda cantik itu terlalu keras hati. Ia tidak melepaskan pandangan mata berairnya dari Sehun. Sama sekali tidak—

 

 

Sehun dengan wajah datarnya tidak bergeming. Ia melirik tangan Luhan yang menggenggam pedangnya sekilas kemudian tersenyum sinis. “Munafik.”

 

 

“Terserah dengan apa yang kau katakan, Sehun! Aku menyayangimu…”

 

 

Deg

 

 

“Pembohong.”

 

“Aku menyayangimu.”

 

“Diam, Luhan.”

 

“Yang kuharapkan hanya kebahagiaanmu.”

 

“TUTUP MULUTMU, LU!”

 

“Aku bersumpah bahwa menyayangimu, Sehun!!!”

 

“AKU MEMBENCIMU!!”

 

Sehun mengayunkan pedang panjangnya hingga tangan Luhan terlepas dari pedang tersebut. Kai tidak ambil pusing dengan teriakan Luhan ketika pemuda tampan itu membawa Luhan masuk kedalam pelukannya. Pedang Sehun benar- benar terarah pada Luhan dan—

 

 

 

“Luhan tidak akan meninggalkanku, bukan? Luhan akan menjadi keluargaku—walau aku sudah diadopsi… kau akan mengingatku, kan?”

“Sehun bicara apa? Tentu saja aku tidak akan melupakan Sehun!”

“Janji?”

“Pernahkah aku mengingkari janji?”

“Aku hanya takut kau melupakan aku.”

“Aku yang takut jika kau berubah, Sehun.”

 

 

 

CRAS—

 

 

Kenangan itu…

..membuatku lemah.

 

 

 

Tes

 

Tes

 

 

Darah tercecer dilantai.

 

Sebuah panah yang terbuat dari petir menembus dada seseorang.

 

 

“A—A…”

 

 

Hanya tatapan tidak percaya dari semua orang disanalah yang menyambut pemuda dengan mata tajam yang mengeluarkan air mata. Ia berucap tajam sembari mengendalikan petir dikedua tangannya.

 

 

“..Aku mempercayaimu…

 

 

 

… Penipu.”

 

 

 

 

 

To Be Continue

 

 

 

Oh ya, Chapter 12 “The Betrayed Angel” adalah Chapter ENDING!!

So, dont miss it!!😄

See ya!

  

175 thoughts on ““The Betrayed Angel” Part 11

  1. AUTHOOOOOORRRRRRR!!! *lari ke pelukan author(?)* uwaa maaf yaa thor baru komen di chap ini,biar sekalian aja gitu(?) Dan ini ff udah lama ya? Yaampun aku baru tau demi apa,tapi tenang aku udah baca dari awal kok thor. Gilaaaaaaa ini keren banget banget bangeeeet!! Berasa kek dibawa ke dunia percy jackson /hah apa. Pokoknya ini kereen,fantasinya itu loh gregetttt. Angst nya juga dapet,secara aku lagi haus akan ff angst rawrrr(?) Rela mantengin layar hape berjam jam demi melahap habis ini ff gila. Tapi kok…chap 12 nya gak ada?!?!! ~T_T~ padahal udah seru banget ceritanya,kenapa gak dilanjutin wahai author gilaku tercinta?! :”)) betapa kejamnya dirimu pada diriku yang haus akan cintanya park chanyeol ini thor :”3 aduh makin kacau ya =_= intinya aku cinta banget sama ini ff! Tapi masih heran kenapa sehun bisa sejahat itu…tidak adakah setitik saja cahaya kebaikan di hatinya yang beku itu? :(( dan luhan…tidakkah kau sadar bahwa sehun hanyalah iblis terkutuk yang sudah kehilangan akal sehat dan hati nuraninya,mengapa kau tetap bersikap baik padanya wahai malaikat? :”) byunbek…sadarkah kau akan betapa tulusnya cinta seorang park chanyeol padamu? Aku rela dia lebih memilihmu daripada aku byunbek AKU RELAAAA(?) Berbahagialah kalian,karena pada dasarnya aku adalah BAEKYEOL SHIPPER!!♥/gapentingya. Kris…sebegitu besarnya kah cintamu pada huang zitao? Huang zitao kembalilah!! Aduh ini komen gak ada habisnya yaa =_=” udahan deh kasian ntar author bisa sekarat bacanya /emang dibaca;plakk. DITUNGGU KELANJUTANNYA YA THOOR,JAN LAMA LAMA NTAR AKU KEBURU NIKAH SAMA CHANYEOL /AMIN(?) BYE AKU PADAMU AUTHOR GILAKU TERCINTA<333333

  2. Wah wah wah… mana ini kelanjutannya.. tinggal satu chapter lagi T_T
    Ugh… why this ff is so perfect with the storyline and the twist… it’s complicated but amazing as well…
    Chingu… mau baca ending chapternya u,u penasaran… ayo update lagi dong chingu..🙂 #thumbsup

  3. THOR KAPAN FF INI LANJUT?! NUNGGU TAORISNYA, KRIS NYA MATI KAN KASIAN THOR, TERUS TAO NGE JANDA GITU?! HIKS

    PADAHAL KRIS CINTA MATEK SAMA SEMOK TAO XDD

    LANJUT LANJUT THOR PLIS LANJUTTTTTTTYYY

  4. Aaarrrgghhhh kereeennn kereeeenn kereeeeennn !!!!
    Thor gw reply nya cuma di part ini gpp kah?? Boleh yaakkk^^
    Thorrr !!! Kereeenn !!!
    Di awal chap gw kira ni ff plagiat ff Primrose taunya kagak plagiat sama sekali !! Cerita nya emang sama karena sama2 terinspirasi dari itu anime tapi jalan ceritanya bedaaaaaaa bangeeettt !!!!!!!
    Saoloohhh kapan ni ff dilanjutin thooorr !!! Ayolah thooorrr ini udah 2016 !!! Palli lanjutinnn pleaseeeeeee *puppy eyes :v*
    Tertarik banget ama ni ff saolooohhhhh >_< suka banget ama ni ff !!!! Ff di sini itu emang keren kereennnn !!! Gw suka semuaaaaa !!! Thooorr next thoooorrrr jebbbaaallllyoooooooo~
    Gw cinta The Betrayed Angel !!! Gw cinta banget !!! Lanjutin pliiissss !!! Gw tunggu !! Mei harus udah ada yak !! #maksa :v
    Sekian dan terima anak chanbaek ini :v

  5. Thooooor udah hampir 3 tahun para readers menunggu dan ff ini belum juga update 😭😭😭
    Jangan bikin kami para readers frustasi karena penasaran sama ending ff ini…
    Dari dulu sampai sekarang aku masih setia nungguin ff ini… Namun ternyata sampai saat ini belum juga ada kelanjutannya…
    Padahal, ini salah satu ff terbaik yang pernah aku baca 😣😣😣
    Aku berharap author bakalan selesaikan ff ini sampai ending… Aku akan tetap setia menunggu 😊😊😊

  6. Biarpun udah lihat pnguman klo blog ini nggk lnjut tpi entah knpa qw msih brharap pling nggk ff ini dikelarin…buat authornya ini ff keren bnget dan suksesbuat qw pnsaran stngah mati sama akhir critanya.

  7. Thor asli dah gua nunggu ini sampe 2 tahun sumpah gak boong 😰 dari gua masih nge dc sampe dc nya bubar anjir wkwkwk :””” INI FF TERBAIK YANG PERNAH GUE BACA, SETELAH ITU FF ANOTHER LOVE THOOORRR ALLAHUUUUU CAPEQ DEDE MENUNGGUNYAAAAA :”””””(

  8. author cintaku, 2016 udah mau abis nih 😂 dan aku masih nunggu last chapt ff ini 😂 duh betapa kering kerontanya jiwa ini menunggu mu 😂 // plak plak
    .
    .
    .update juseyooooo 🙇

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s