CHANBAEK | NINE TAILED FOX – NATSU NO IRO

Bagaimana kah rasanya bebas?

 

Itulah yang Baekhyun fikirkan tiap kali otaknya berputar merenungkan kehidupan yang dijalaninya selama ini. Terlahir dari keluarga berkecukupan, segala yang ia butuhkan dan inginkan terpenuhi dengan mudahnya, mengenyam pendidikan disekolah bergengsi sejak playgroup, memiliki orang tua terpandang, kepandaian diatas rata-rata…bukankah semua itu merupakan rangkaian kehidupan sempurna yang didambakan setiap orang?

 

Baekhyun memilikinya— semua.

 

Hanya saja…

 

Hati ini…terasa kosong.

 

.

.

 

Title: Natsu no Iro (Colour of Summer)

iro

Author: Nine-tailed Fox

Genre: Romance, School Life

Cast: Exo Baekhyun, Exo Chanyeol

Supporting Cast: Exo Jongin, Exo Kyungsoo

Length: 1shoot

Disclaimer: –

Summary: –

 

Ada yg tau anime berjudul FREE! ??

FF ini terinspirasi dari anime tersebut.

Udah lama ga nulis ya, kerjaan saya marathon nonton terus…maaf kalo ga memuaskan.

Terus itu ya, saya lebih sering bayangin setting sekolah ala-ala anime gitu…jadi disini Chanbaek lebih sering make e-mail daripada sms, soalnya di Jepang pun seperti itu. Dan Fyi, di jepang atau korea…telpon genggam ga pake pulsa kyk di indo. Saya suka pengen ketawa baca chanyeol keabisan pulsa pas mau nelpon baekhyun di beberapa fanfic. ^.^

 

Cukup ah…lanjut yah!

 

Action!

 

.

.

 

St. Spark High School adalah sekolah menengah atas bergengsi dan bertaraf internasional, dibantu beberapa staf pengajar asing, juga berhubungan langsung dengan kementrian pendidikan Korea Selatan. Jadwal belajar penuh selama senin hingga jum’at, kelas dimulai pukul sembilan pagi dan berakhir pukul sembilan malam. Terkecuali hari sabtu dimana kelas berakhir pukul tiga sore, karena waktu setelah pulang sekolah dikhususkan untuk semua kegiatan ekstrakulikuler.

 

Baekhyun hanyalah satu dari ribuan banyaknya siswa yang bersekolah di St. Spark High School, namun hanya dirinya seorang yang merasa bahwa sekolah ini membosankan.

 

Tapi sebenarnya, sekolah atau…dirinya sendiri yang membosankan?

 

Jelasnya, Baekhyun bukan orang yang gemar memamerkan keberadaannya. Ia merasa biasa saja dapat menjadi bagian dari keluarga besar St. Spark High School disaat teman-temannya yang lain merasa bangga dan cenderung menyombongkan diri.

 

Baekhyun bukan anak yang enerjik, bukan pula anak yang gemar menebar senyum, canda serta tawa. Go-sensei, guru olahraga…paling sering meneriaki dirinya dengan kata-kata semacam ‘Jangan loyo Mr. Byun!!’ atau ‘Mana semangatmu Mr. Byun?!!’ juga ‘Mr. Byun kusuruh kau berlari bukan berjalan!!’. Kyungsoo juga sering menambahkan dengan memberinya berbagai julukan seperti Expresionless Baekhyun, Lazy Baekhyun, Dummy Baekhyun, Yawning Baekhyun— Gah! Semua tidak ada yang bagus!

 

Well, well, well…lupakan semua itu. Baekhyun tidak akan marah— tepatnya tidak akan peduli. Paling-paling ia hanya akan menguap lalu menjatuhkan kepalanya diatas meja.

 

Kemudian Kyungsoo akan berteriak “Baekhyun, dengarkan aku bicara!”

Haaaahh— ini membosankan. Bahkan jauh lebih membosankan daripada memandangi permukaan sungai tenang yang mengalir tanpa hambatan.

 

Awan yang bergerak bebas diangkasa sana, perlahan namun pasti…membuatnya iri.

 

Ketika itu hari sabtu, kala Baekhyun menangkap sosok seseorang dikolam renang, pukul setengah empat sore lebih tepatnya.

 

Niat awalnya, untuk menemukan handuknya yang tertinggal seusai mengikuti pelajaran olahraga renang. Ia sengaja kembali ke kolam renang indoor setelah waktu belajar selesai, karena pastinya tempat itu tidak akan terlalu ramai karena hanya ada klub renang saja yang berlatih disana. Setelah meminta izin pada kapten klub renang, Baekhyun memasuki gym dan mulai mencari disudut-sudut yang sempat disinggahinya ketika pelajaran berlangsung.

 

“Ah, ini dia.” Baekhyun menjepit es krim Vanilla Blue dimulutnya, sebelum berjongkok agar lebih mudah menarik handuk tangan merah favoritnya yang tersangkut disudut loker ruang ganti siswa.

 

Baekhyun melangkah meninggalkan ruang ganti setelah selesai dengan keperluannya, sambil sesekali menjilat es krim Vanilla Blue yang dibelinya di kantin sekolah sebelum mendatangi tempat ini. Dimusim panas seperti sekarang ini entah mengapa es krim terasa berkali-kali lipat lebih lezat dari biasanya.

 

Gym telah ramai, klub renang termasuk salah satu klub yang paling sering berlatih diantara klub olahraga lainnya. Mungkin karena kolam renang sekolah ini berada dalam ruangan, tak perlu merasa kepanasan saat musim panas atau kedinginan saat musim dingin, selain itu klub ini cukup memiliki banyak anggota, meski tak sebanyak klub basket atau sepak bola. Prestasi klub ini tak perlu diragukan, seingat Baekhyun klub renang merupakan klub yang paling banyak menghasilkan piala setelah klub sepak bola dan baseball. Yah, Baekhyun mengetahui semua itu karena kekasih Kyungsoo— yang entah siapa namanya itu merupakan salah satu anggota inti klub renang. Seseorang bermarga Kim dan berkulit gelap…siapa— ya.

 

“Bersiap!!!”

 

Suara seorang anggota yang berseru memberi aba-aba membuat langkah Baekhyun terhenti, sedikit terkejut pada awalnya. Namun dengan cepat, sorot matanya segera terpaku pada sosok seorang yang tengah melompat kedalam kolam.

 

Mata tipis Baekhyun terbuka sedikit lebih lebar. Entah mengapa, gerakan melompat lelaki itu nampak sangat indah dimatanya. Bentuk tubuhnya sungguh sempurna…dan ketika genangan air menelan sosoknya, menyisakan percikan yang nampak berkilau tertimpa sinar mentari akibat langit-langit Gym yang tembus pandang— ah…itu sungguh…

 

Oh! Lelaki itu mulai melaju didalam air. Tanpa sadar bola mata gelap Baekhyun bergerak mengikuti pergerakan lelaki tersebut, kepalanya bahkan sampai menoleh…lelaki itu melaju dengan cepat sampai keujung kolam, lalu kembali melesat kearah sebaliknya.

 

“Hebat…” gumam Baekhyun tanpa sadar. Cahaya-cahaya kecil seolah berpendar dalam kedua matanya. Ia sungguh terpesona…akan sosok itu.

 

Sosok yang indah dan lincah…seperti lumba-lumba.

 

“Rekor baru Chanyeol!!”

 

Chanyeol?

 

Chanyeol? Chanyeol. Chanyeol. Chanyeol—

 

Nama itu segera mendapatkan tempatnya dalam ingatan Baekhyun.

 

Ia masih memandang Chanyeol yang tetap bertahan dalan kolam, tertawa mendengar pujian teman-temannya yang berdiri ditepi kolam. Kemudian pemuda itu melepas kacamata renang (Google)-nya, dilanjutkan dengan membuka penutup kepala membuat surai hitam kecoklatan itu berhamburan hingga menutupi keningnya.

 

Saat itulah, Baekhyun untuk sejenak…lupa bagaimana caranya bernafas.

 

Ini perasaan yang baru kali pertama ia rasakan. Bagaimana menjelaskannya— ia tidak tahu…lebih mudah menjelaskan puisi Korea klasik dan sejarah runtuhnya Kekaisaran Rusia.

 

Sebentar…sepertinya Chanyeol menyadari perhatiannya dan kini pemuda itu menatapnya lekat seperti tengah menangkap basah seorang penguntit. Lalu apa yang harus ia lakukan? Melarikan diri? Harusnya seperti itu bila tidak ingin merasa malu lebih lama…tapi—

 

Hatinya merasa seperti tertantang. Perasaan mendebarkan ini, ia menyukainya. Lebih suka daripada ketika menaiki Jetcoaster atau berada dalam mobil dengan kecepatan penuh.

 

Lama keduanya bertatapan. Bagi Baekhyun, waktu bagaikan membeku…sampai akhirnya Chanyeol yang mulai merasa tak peduli mengabaikannya dan kembali berlatih.

 

Sebenarnya apa yang terjadi…wahai peri musim panas?

 

… … … … …

 

Maka untuk memuaskan rasa keingintahuannya, Baekhyun memutuskan untuk bertanya lebih lanjut pada Kyungsoo.

 

“Kau tahu Chanyeol?” tanyanya dengan wajah datar seperti biasa.

 

Namun hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak biasa bagi Kyungsoo, ia masih belum percaya Baekhyun bertanya hal semacam itu. ‘Kau tahu Chanyeol?’— pemuda bermata sebulat bulan purnama itu menahan sorak gembira yang hendak menghambur keluar dari mulutnya. Great! Kapan lagi seorang Byun Baekhyun tertarik terhadap seseorang? Ini pertama kalinya selama tiga tahun mereka berteman. Ini adalah keajaiban dunia kedelapan!

 

“Ada yang salah?” Baekhyun bertanya kedua kalinya karena melihat sorot ketidakpercayaan terpantul diwajah sahabatnya.

 

Kyungsoo menggeleng pelan, masih bertahan dengan mata bulatnya yang melebar “Tidak. Aku hanya merasa aneh karena kau menanyakan perihal seseorang padaku. Biasanya ‘kan tidak pernah.”

 

Baekhyun terdiam menatap Kyungsoo dengan tekun.

 

Pemuda bermata bulat sempurna itu tersenyum “Bagiku adalah hal tidak biasa kau tertarik pada seseorang.”

 

Baekhyun masih mempersatukan kedua belah bibirnya. Sedikit banyak, ucapan Kyungsoo berputar dikepalanya. Membuatnya tersadar akan ketidakwajaran yang terjadi pada dirinya semenjak menemukan sosok Chanyeol bergerak dengan lincah dalam kolam renang, sebagaimana seekor lumba-lumba melaju dilautan. Seolah-olah Baekhyun bukanlah dirinya sendiri…sesuatu yang tak dapat dijelaskan itu tak kunjung enyah darinya, malah kian menyebar hingga terasa menghujam jantung.

 

Sesuatu hebat yang tak pernah Baekhyun rasakan dan alami sebelumnya.

 

“Chanyeol yang kau maksud, pasti Park Chanyeol.” Kyungsoo mengeluarkan dua kotak bekal dari dalam tasnya “Pria tinggi, bermata bulat dan memiliki senyum lebar itu…merupakan andalan Klub Renang. Dia sangat ahli dalam Freestyle, karena dirinyalah sekolah kita tak pernah keluar dari sepuluh besar nasional selama dua tahun ini. Dia memang sangat berbakat, tampan dan juga merupakan idola hampir separuh populasi siswa disekolah.”

 

Tidak, dia bukan hanya berbakat. Chanyeol seolah-olah memang dilahirkan untuk merasakan dan menyatu dengan air. Baekhyun bahkan dapat menemukan, jejak penuh warna yang ditinggalkan pemuda itu ketika melaju dalam air.

 

Itu sangat…indah.

 

“Setahuku dia selalu berlatih dipagi hari, mungkin sekitar jam tujuh pagi.” Kyungsoo berdiri dari kursinya seraya membawa serta dua kotak bekal yang ia bawa dari rumah, tentu saja buatan tangan sendiri “Aku pergi dulu, okay? Jongin sudah menunggu. Sampai jumpa lagi saat kelas berikutnya.”

 

“Ung.” Baekhyun mengangguk kecil dan segera setelahnya, Kyungsoo melesat meninggalkan kelas.

 

Dan langit cerah dibalik naungan awan putih pun kembali menjadi satu-satunya objek yang Baekhyun perhatikan. Ia dapat menemukan segumpal awan yang bentuknya menyerupai lumba-lumba, langit biru adalah lautan…lumba-lumba mengingatkannya pada Chanyeol, Chanyeol yang berenang dengan lincah dan gesit didalam air.

 

Ah— sejak kapan Chanyeol memenuhi fikirannya?

 

… … … … …

 

Sesuai ucapan Kyungsoo, Baekhyun sengaja bangun lebih awal bahkan sebelum ayah, ibu dan para kakaknya selesai bermimpi. Diiringi tatapan heran penjaga keamanan rumah, ia meninggalkan rumah menuju sekolah. Tepat waktu lah ia sampai. Pukul tujuh Baekhyun telah duduk manis dibangku pemain yang terletak sedikit menjauh dari tepi kolam. Seraya menyantap Sandwich tuna sarapannya, ia menunggu pemuda yang sedari awal perjumpaan telah membuatnya merasakan hal aneh. Park Chanyeol.

 

Gym diwaktu sepagi ini memang kosong. Jarang sekali nampaknya ada siswa yang bersedia meluangkan waktu untuk latihan pagi, terkecuali dimusim pertandingan yang mengharuskan mereka berlatih ekstra. 

 

Baekhyun menengadah, menatap langit-langit Gym transparan yang tepat menaungi kolam, melancarkan bias sinar mentari menyatu dengan air kolam, membuat permukaan air nampak berkilau seolah bertaburkan bubuk sihir.

 

Ah, indahnya—

 

Betapa beruntungnya orang seperti Chanyeol yang dapat dengan bebas menjelajah tempat seperti itu. Ia begitu bebas, melaju didalam air dengan begitu ringan tanpa beban, seolah ia memang dilahirkan untuk hidup tak terkekang dan terus merasa bahagia. Baekhyun hanya merasa, beban dalam dirinya lenyap untuk sementara…ketika melihat Chanyeol berenang dengan bebasnya.

 

Terasa keberadaan seseorang ketika Baekhyun menelan makanannya. Ia menoleh pada perisimpangan yang berada beberapa meter disebelah kanan, persimpangan dimana ruang ganti pemain berada.

 

Kedua mata tipisnya nampak sedikit melebar. Kala sosok yang menjadi tujuannya mendatangi tempat ini muncul dengan mengenakan pakaian renang. Celananya berwarna hitam dengan aksen garis merah, membuat kulitnya yang putih alami khas Korea tampak menyolok. Penutup kepala senada dengan celana, serta Google yang menggantung dilehernya.

 

Oh— itu dia…lelaki yang belakangan ini selalu mengacaukan isi fikirannya.

 

Chanyeol melangkah mendekati kolam seraya sesekali meregangkan tangan serta mengenakan google menutupi mata. Menaiki udakan lompatan lalu bersiap melompat…

 

Kembali Baekhyun lupa bagaimana caranya bernafas, ketika melihat orang itu menjatuhkan diri kedalam air.

 

Tetap mengesankan. Sempurna tanpa celah. Membuat jantungnya berdesir halus.

 

Baekhyun mencengkram dada kirinya erat. Ketika jiwa-nya berseru mempertanyakan keanehan yang terjadi pada dirinya. Apa ini? Perasaan apa ini sebenarnya?

 

Tidak bisa. Baekhyun tidak sanggup. Ini aneh. Semua ini aneh.

 

Dipaksanya tubuh mungilnya untuk berdiri, meninggalkan dibangku begitu saja satu Sandwich yang masih tersisa. Berlari meninggalkan Gym dengan nafas yang telah tersengal bahkan sebelum ia mulai berlari.

 

“Apa-apaan anak itu?” ujar Chanyeol bingung. Ia terus menatap punggung kecil itu hingga benar-benar lenyap dari jangkauan matanya.

 

… … … … …

 

Ini mungkin gila.

 

Seharusnya yang ia lakukan adalah sekolah, belajar yang rajin kemudian lulus dengan nilai sempurna. Mengikuti jejak kedua kakaknya sesuai dengan titah ayah dan ibu-nya.

 

Bukannya terus menatap langit dan memikirkan Chanyeol yang tengah berenang.

 

Benar ini gila.

Kesehariannya berubah.

Baekhyun tak dapat menahan dirinya untuk tidak melihat Chanyeol latihan dipagi hari, kemudian pergi begitu saja ketika hatinya tak sanggup lagi membendung daya tarik Chanyeol terhadap dirinya.

 

Baekhyun terlalu sibuk memikirkan Chanyeol, hingga lupa untuk merasa bosan seperti biasa.

 

“Baekhyuuu~n!!”

 

Suara panggilan Kyungsoo yang tak asing ditelinga, mengundang Baekhyun berpaling dari menatap langit. Ia menoleh dan segera menghadap Kyungsoo yang telah duduk didepan tempat duduknya, tempat duduk sahabatnya itu, sebenarnya berada dipaling depan tepat dihadapan podium guru.

 

“Hei, hei Baekhyun…” Kyungsoo duduk menghadap Baekhyun tanpa memutar kursi.

 

Baekhyun tak menjawab atau balik bertanya, melainkan hanya melempar tatapan penuh tanya pada teman baiknya yang bermata bulat tersebut.

 

“Pulang sekolah hari ini, apa kau ada rencana lain?”

 

Baekhyun menggeleng pelan lalu Kyungsoo segera menggenggam sebelah tangannya dengan penuh harap.

 

“Bagus. Kalau begitu, tentu kau bisa menolongku bukan?”

 

.

.

.

 

Jadi yang dimaksud pertolongan oleh Kyungsoo adalah…

 

Sebentar, sejak kapan Kyungsoo menjabat sebagai manager klub renang? Oh iya, sejak kelas sebelas…Baekhyun lupa— tidak peduli.

 

Dan disinilah kini Baekhyun berdiri, tepat disamping Kyungsoo…berhadapan dengan belasan klub basket pria untuk memberitahukan jadwal latihan hari ini. Ditangan sang manager, telah tersemat rapi secarik kertas berisi menu latihan yang diamanatkan Nam-sensei, sang pelatih.

 

Tentunya, Baekhyun tidak dimintai bantuan hanya untuk berdiri seperti orang idiot disamping Kyungsoo yang tengah memberi pengarahan. Pertolongan yang dimaksud Kyungsoo adalah agar Baekhyun bersedia menggantikannya pergi berbelanja kebutuhan klub, sementara ia mengawasi latihan para anggota. Kebutuhan seperti cadangan handuk dan air minum, juga obat-obatan. Babak semi-final kejuaraan nasional akan diadakan beberapa hari lagi dan latihan semakin intensif. Klub tentu harus siap sedia mem-fasilitasi apa pun kebutuhan anggotanya untuk mendapat hasil terbaik dalam mengharumkan nama sekolah.

 

“Aku sudah meminjam sepeda salah satu anggota klub. Ini kunci rantainya, sepedanya yang berwarna merah.” Kyungsoo menyerahkan sebuah kunci beserta secarik kertas berisi daftar barang yang harus dibelinya “Karena berat, aku akan meminta seseorang menemaimu, sebentar…hhmm…”

 

“Biar aku saja.” seseorang mendekat sebelum Kyungsoo selesai memutuskan siapa yang akan dipilihnya untuk menemani Baekhyun belanja.

 

“Ah, benar juga. Chanyeol itu besar dan kuat…kau bisa memperbudaknya sesuka hatimu, Baekhyun.” celetuk Kyungsoo tanpa dosa.

 

“Bicara apa kau pendek!” Chanyeol menarik keras kulit pipi Kyungsoo, membuat yang bersangkutan mengaduh pelan.

 

Setelah selesai menggoda Kyungsoo yang kini nyaris menangis seraya mengusap pipinya, Chanyeol melangkah santai menghampiri Baekhyun.

 

“Berikan kuncinya. Kita berangkat sekarang.”

 

“Ung…” Baekhyun menyerahkan kunci sepeda pada Chanyeol dan segera melangkah menyusul pemuda tersebut.

 

Namun belum sampai lima langkah ia ambil, terdengar Kyungsoo berseru ditepi kolam.

 

“YAK, KALIAN PARA KURA-KURA! JANGAN LAMBAT, DASAR TIDAK BERGUNA!”

 

Dengan menggunakan pengeras suara yang entah kapan telah digenggam oleh tangan kanannya.

 

“KIM JONGIN! BERHENTI MENGGODAKU ATAU KUTENDANG KAU SEKARANG JUGA KE SAMUDERA PASIFIK! LATIHAN, CEPAT!!”

 

Dan lelaki berkulit gelap itu pun berlari dengan terbirit-birit lalu menjatuhkan diri kedalam kolam. Para anggota klub seperti melakukan marathon dalam air.

 

Baekhyun tertegun…

 

“Dia memang seperti itu saat latihan. Galak.” ucap Chanyeol membuyarkan lamunannya.

 

Baekhyun yang sedikit terkejut segera menoleh dan menemukan Chanyeol berdiri dibelakangnya, sangat dekat…Baekhyun dapat merasakan kalau punggungnya sedikit panas. Ah, Chanyeol tidak jadi meninggalkannya rupanya.

 

“Ayo pergi.”

 

“B-baik…”

 

Jantungnya berdegup kencang, kedua matanya melebar memandang tangannya yang kini…berada dalam genggaman Chanyeol.

 

Kemudian…kedua pipinya terasa panas.

 

.

.

.

 

Baekhyun seperti biasa dengan mata kosong-nya dalam menatap sesuatu, memandang sebuah sepeda gunung berwarna merah dengan model stang lurus. Dibagian kursi boncengan yang didudukinya saat menuju departement store tadi, kini sudah penuh dengan tumpukan berisi botol air mineral dan handuk baru, sementara belanjaan yang lain yaitu perlengkapan pertolongan pertama dan obat lainnya berada dalam kantung plastik putih ditangan Baekhyun kini. Lalu yang menjadi pertanyaan…

 

Dia pulang naik apa? Sepeda itu ‘kan…hanya muat dinaiki satu orang saja sekarang.

 

“Susah juga…” ujar seseorang yang berdiri disampingnya.

 

Chanyeol yang baru saja selesai membayar belanjaan mereka menggaruk kasar kepalanya bingung. Sayang sekali pihak sekolah melarang siswa membawa kendaraan bermotor seorang diri tanpa pengawalan supir, ia mengerti karena alasan tersebutlah Kyungsoo tak ada pilihan lain selain menganjurkannya menggunakan sepeda. Jika tidak seperti itu, Chanyeol pasti sudah mengendarai motornya sendiri ke sekolah. Eh, oh…ia tidak punya motor, benar juga…ayahnya menolak membelikannya kendaraan keren itu jika usianya belum mencapai dua puluh satu tahun.

 

“Ng…itu— aku bisa naik bus seorang diri.”

 

“Ha?”

 

Baekhyun mengangguk pelan namun yakin “Tidak masalah. Aku bawa obat-obatan ini dan naik bus kembali kesekolah, kau gunakan saja sepeda itu.”

 

Mata bulat dan besar yang tenyata tak kalah indah dari milik Kyungsoo itu menatapnya tertegun. Lebih dikarenakan raut wajah Baekhyun yang terkesan ‘tanpa rasa’ dibandingkan ucapannya barusan yang terdengar santai…tidak peduli lebih tepatnya.

 

“Tidak bisa seperti itu, kita pergi bersama dan harus kembali bersama pula.” Chanyeol berkata tegas.

 

“Tapi…” sekali lagi Baekhyun melirik sepedanya “Bagaimana caranya? Mau menuntun sepeda hingga kesekolahpun percuma, itu sangat melelahkan.”

 

Kembali Chanyeol mengerang. Gusar karena tak mendapat jalan keluar yang baik…lalu melepaskan jaket olahraga sekolah yang menutupi tubuh bagian atasnya.

 

“Baiklah, seperti ini saja!”

 

Dililitkannya jaket tersebut dengan rapi dibagian tengah sepeda yang berada diantara setir dan jok pengemudi. Hingga kini, nampaklah benda besi itu seperti tempat duduk yang nyaman.

 

Baekhyun sedikit menaikan alisnya…ia tidak mau berfikir seperti itu, tapi—

 

“Kau duduk disana lalu aku mengemudi?” tanya Baekhyun polos seraya menunjuk tepat pada bagian yang tertutupi jaket Chanyeol.

 

“Bukan aku, tapi kau tentu saja!” seru Chanyeol tak habis fikir, lalu mengumpat “Dasar. Cepat naik.”

 

Pemuda bertubuh jauh lebih tinggi itu melangkah mendekati sepeda lalu menaikinya, kaki kirinya digunakan untuk menumpu beban tubuh sekaligus sepeda agar tidak jatuh, juga agar Baekhyun lebih mudah menempatkan diri ditempat duduk khusus ciptaannya barusan.

 

“Tunggu apa lagi, huh?”

 

Baekhyun mencengkram erat kantung plastik ditangannya. Kenapa tiba-tiba— perasaan aneh yang dirasakannya ketika melihat Chanyeol berenang muncul kembali. Aneh, Chanyeol sedang tidak berenang saat ini. Tidak tengah melakukan gerakan anggun…juga tidak tengah bertelanjang dada dengan tubuh basah.

 

Lalu?

 

“Baekhyun?”

 

Suara amat khas milik Chanyeol meruntuhkan lamunan yang menyelimuti kepalanya, ia segera mengarahkan mata tipisnya pada sosok sang pemuda tampan yang tengah menatapnya dengan tatapan yang memerintahnya untuk lekas naik.

 

Baekhyun meneguk liur paksa, ia mulai berkeringat dingin dan dengan langkah kaku mendekati sepeda.

 

Oh tuhan—

 

“Kau bisa memegang semua itu?”

 

Pemuda yang bertubuh lebih mungil mengangguk mantap, masih bertahan dengan wajah gugupnya seraya mendekap kantung plastik berisi obat-obatan “A-aku baik-baik saja.”

 

“Baiklah…”

 

Angin lembut membelai seluruh permukaan wajah Baekhyun ketika Chanyeol mulai mengayuh sepedanya.

 

Dalam posisi seperti ini, dimana dirinya duduk menyamping didepan Chanyeol, seolah berada dalam kurungan kedua tangan kokoh pemuda tampan itu…Baekhyun sama sekali tak memiliki nyali menatap Chanyeol, ditambah posisi duduk serta bentuk sepeda gunung ini yang mengharuskan pengendara untuk sedikit condong kedepan, dapat dibayangkan sedekat apa kepala mereka.

 

“Untung tubuhmu kecil, jadi rasanya pas sekali…”

 

Baekhyun hanya mampu mendekap semakin erat kantung belanjaannya, berharap tindakan tersebut dapat sedikit meredam suara detak jantungnya yang kian menggila.

 

Sungguh, apa sebenarnya yang terjadi.

 

.

.

.

 

Sebenarnya mereka hanya ditugaskan untuk berbelanja kemudian lekas kembali kesekolah, bukannya berhenti sejenak untuk istirahat ditaman dan duduk dibangku panjang yang terletak tepat dibawah pohon. Namun itulah yang mereka, Baekhyun serta Chanyeol lakukan…mereka hanya bisa mengalah terhadap sengatan matahari musim panas yang membuat rasa lelah dan gerah dengan mudah melanda.

 

Baekhyun sendiri kini tengah duduk dibangku, menanti Chanyeol kembali dari membeli es krim di Convience Store terdekat. Sebenarnya semua ini Chanyeol yang memutuskan seenaknya, namun Baekhyun tidak menolak…ia sendiri bingung bagaimana ia dapat menanggukan kepala begitu saja ketika Chanyeol mengajaknya rehat di taman.

 

“Maaf menunggu…” Chanyeol menempatkan diri disebelah kiri Baekhyun. Sebuah kantung plastik putih kecil diletakannya diantara dirinya dan pemuda mungil tersebut.

 

Chanyeol mengambil salah satu es krim dengan bungkus berwarna biru muda, membukanya hingga tersembulah bagian atas es krim yang juga berwarna serupa dengan bungkusnya, asap tipis sedikit menguar dari benda dingin tersebut.

 

“Ini…” diberikannya es krim itu kepada Baekhyun, yang bersangkutan hanya terdiam menerimanya.

 

Es krim rasa Vanilla Blue kesukannya. Chanyeol tahu— atau hanya kebetulan?

 

“Aku melihatmu memakan itu saat datang ke kolam renang. Benar tidak?”

 

Ditangan Chanyeol terdapat sebatang es krim berwarna gelap, mungkin rasa coklat atau kopi…atlet andalan klub renang itu tertawa ketika berbicara barusan. Cara tertawanya cukup unik, bibir tebalnya yang berwarna segar itu akan tertarik kedua sudut yang berbeda, membuatnya terlihat sedikit lebih lebar, kemudian nampak pula deretan gigi-gigi rapi dan bersihnya, selain itu kedua mata besarnya akan menipis hampir seperti terpejam.

 

Senyum tulus khas Park Chanyeol.

 

“Ung…terima kasih.” ucap Baekhyun dengan senyumnya yang teramat tipis, namun masih dapat terekam dalam ingatan Chanyeol.

 

Ia mulai menjilat es krimnya, sambil sesekali melihat Chanyeol yang langsung saja menggigit benda dingin itu tanpa mengulum atau menjilatnya.

 

Menarik— sangat.

 

Keduanya makan dengan tidak banyak mengeluarkan suara. Hanya Chanyeol yang sesekali mengeluh mengenai betapa panasnya hari ini, Kyungsoo yang galak, ujian masuk universitas yang menyusahkan…macam-macam, dan Baekhyun hanya akan mengangguk pelan tanpa bersuara.

 

Musim panas…ternyata tidak sepenuhnya membosankan. Baekhyun mengulum es krimnya dengan tersenyum samar.

 

“Hei…aku mau tanya…”

 

Baekhyun melepaskan es krim dari mulutnya, lalu menoleh dan mendapati Chanyeol yang telah selesai dengan es krimnya sendiri, ia hanya iseng memainkan batangnya saja dengan mulut.

 

“Aku penasaran…” Chanyeol melempar pandang kearah lain, nada suaranya terdengar ragu dan gugup “Mengapa kau selalu melihatku saat latihan pagi?”

 

Akhirnya…ia bertanya juga. Walau Baekhyun belum memikirkan jawaban yang baik, namun ia yakin kalau suatu saat Chanyeol akan bertanya akan kebiasaan barunya tersebut. Ini tidak mengejutkan, paras Baekhyun tetap dalam ketenangan seperti biasa.

 

Baekhyun mematahkan sebagian kecil es krim dengan giginya. Ia menarik nafas sejenak sebelum memutuskan untuk menjawab.

 

“Aku hanya…senang melihatmu berenang.” sang pemilik suara yang bertubuh mungil menjilat bibirnya “Kau terlihat…sempurna. Kau memiliki apa yang tidak kumiliki, Chanyeol.”

 

Satu yang bertubuh lebih tinggi tertegun “Maksudmu?”

 

Ada sunyi beberapa detik sebelum Baekhyun kembali bersuara.

 

“Banyak orang berkata, kalau aku adalah anak yang beruntung.” Baekhyun mengigit lagi sebagian kecil es krimnya “Aku lahir dari keluarga terpandang. Hidup berkecukupan, tak kekurangan apa pun. Aku selalu menempati peringat teratas tiap kali mengikuti ujian atau try out, mungkin dengan itu aku dapat dengan mudah memasuki perguruan tinggi manapun tanpa harus bersusah payah.”

 

Sunyi kembali mengambil alih. Chanyeol bahkan sampai perlu menahan nafasnya melihat raut wajah Baekhyun yang ‘seadanya’…sepertinya anak itu memang tidak ahli berekspresi.

 

“Tapi hanya itu…dan selesai. Tidak ada lagi cerita mengenai hidupku.”

 

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya.

 

“Aku selalu bertanya-tanya. Untuk apa aku hidup? Apa hidup itu hanya seperti ini? Lalu apa artinya hidup? Dan lain-lain…dan juga seterusnya…tapi aku tidak mendapatkan satu pun jawaban. Apa pun yang kulakukan…semua terasa hampa.”

 

“Lalu…apa hubungannya denganku?”

 

Pertanyaan Baekhyun mengundang seulas senyum tipis diwajah Baekhyun. Pemuda mungil itu menoleh dan menatapnya lekat.

 

“Bukankah sudah kukatakan kalau kau berbeda, Chanyeol?” ucap Baekhyun membuat pertanyaan semakin menumpuk dalam kepala Chanyeol “Kau bisa berenang dengan sebebas dan seindah itu…membuatku iri. Kau memiliki banyak warna dalam dirimu dan kurasa hidupmu pun banyak diterpa gelombang dan ombak…tidak sepertiku yang hanya bagaikan sungai mengalir tenang.”

 

Chanyeol terdiam. Ini kali pertama ia menemukan Baekhyun berbicara panjang lebar seperti sekarang. Jauh dilubuk hatinya, ia merasa sangat beruntung.

 

“Hee~h…kau bicara seperti orang tua, Baekhyun. Semua ucapanmu seolah-olah hidupmu begitu pendek dan suram.” cibir Chanyeol.

 

Namun siapa sangka Baekhyun akan mengangguk “Ya, kau benar. Mungkin kalau hidupku seperti ini terus, menjadi tua atau muda…tidak ada bedanya.”

 

Idiot—

Bicara apa anak ini?! Chanyeol tidak habis fikir.

 

“Setelah itu aku selalu ingin melihatmu. Aku selalu memikirkanmu dan selalu melihat bayanganmu dimana pun. Kehadiranmu membuat keseharianku berubah. Chanyeol, kau adalah warna baru dalam hidupku.”

 

Ap—

 

Darah dengan cepat naik kekepala Chanyeol, menjadikan warna wajahnya menjelma menjadi merah…bagai kepiting rebus yang langsung matang tanpa dimasak terlebih dahulu.

 

“A-apa katamu…” Chanyeol merasa kepalanya mendidih, ia jadi sulit berbicara dengan benar.

 

Sialanya, Baekhyun tetap tenang…sepertinya ia tak sadar bahwa kata-katanya barusan membuat Chanyeol kacau setengah mati. Dengan santai Baekhyun memandang Chanyeol polos seolah dirinya adalah bocah berusia lima tahun.

 

“Chanyeol, wajahmu me—“

 

“Bodoh! Kau tidak sadar apa yang baru saja kau katakan?!!” gusar Chanyeol.

 

“He?”

 

“Kau baru saja menyatakan cinta padaku. Bodoh!”

 

Kening Baekhyun berkerut…lalu ia menggeleng pelan “Tidak. Aku sama sekali tidak mengatakan kata ‘cinta’…mungkin kau salah dengar, atau kau bingung dengan kata-kataku?”

 

Alis Chanyeol berkedut, amarahnya sedikit melambung.

 

“Kau ini—“ pemuda tampan itu memutus kalimatnya begitu menyadari bahwa percuma saja melawan keluguan Baekhyun “Sudahlah…terserah kau saja…”

 

“Apa kau merasa terganggu?” tanya Baekhyun mengudang Chanyeol untuk menoleh “Aku akan berhenti mengunjungimu jika benar seperti itu…”

 

Hening kembali berkuasa. Tatapan datar Baekhyun terpaku sempurna pada mata besar Chanyeol…hal tersebut seolah menjadi belenggu bagi pemuda tampan tersebut untuk mengeluarkan suara atau bergerak sedikit pun.

 

“…Tidak…” wajah Chanyeol kembali berwarna merah, namun kali ini merah merona yang membuatnya nampak manis “Kau boleh menemuiku kapan pun kau mau…Baekhyun.”

 

Dan setelah itu Baekhyun membuat Chanyeol terhanyut dengan senyum manisnya…senyum yang mungkin saja hanya pernah ditangkap oleh sepasang mata bulat milik Chanyeol.

 

“Terima kasih.”

 

Atmosfir berubah hangat setelahnya. Bumi rasanya seperti berhenti berputar untuk beberapa detik kedepan. Hanya dengan saling bertatapan, menatap mata masing-masing…sang waktu lewat tanpa permisi, bahkan tanpa mereka berdua sadari.

 

Sampai terdengarlah suara ponsel yang bergetar.

 

Chanyeol tanpa sengaja meninggalkan ponselnya ditas sekolah, dengan begitu sudah pasti jika ponsel yang bergetar tersebut adalah milik Baekhyun.

 

Diterimanya panggilan yang masuk, lalu mendekatkan gadget pintar tersebut pada telinganya.

 

“DIMANA KALIAN BERDUA?!! KEMBALI SEBELUM AKU YANG MENCARI KALIAN DAN KALIAN AKAN MENYESAL!!”

 

Panggilan diakhiri.

 

Suara Kyungsoo yang terlampau besar, mungkin dapat merusak speaker ponsel.

 

Namun hal tersebut, tak dapat mencegah bagi senyum untuk menjelma menjadi tawa diwajah mereka berdua— diwajah Chanyeol saja lebih tepatnya, karena Baekhyun seperti biasa, hanya tersenyum tipis.

 

… … … … …

 

Musim panas masih berlanjut. Angin yang selalu berhembus tak dapat mengusir hawa panas memicu peluh, walau telah mengenakan seragam musim panas yang hanya berupa kemeja putih lengan pendek dan celana panjang kotak-kotak merah-hitam.

 

Sambil melangkah dilorong kelas, ingatan Baekhyun menjelajah kebeberapa hari lalu. Hari kencan pertama dengan Chanyeol tepatnya. Sebenarnya mereka hanya berbelanja keperluan klub, namun Kyungsoo menyebutnya kencan karena ia dan Chanyeol tak kunjung kembali ke sekolah bahkan sampai satu setengah jam setelah latihan dimulai.

 

Setelah kejadian itu, hubungannya dan Chanyeol dapat dikatakan sedikit lebih dekat. Mereka telah bertukar nomor ponsel dan sesekali saling mengirim e-mail— Chanyeol yang lebih sering mengirim pesan lebih dulu. Hari ini pun seperti itu, alasan Baekhyun menyusuri lorong kelas karena beberapa menit sebelum bel istirahat berbunyi, ponselnya bergetar menandakan adanya pesan dari Chanyeol yang memintanya bertemu didepan kelas pemuda tampan tersebut.

 

Terlihat sosok pemuda tinggi melambaikan tangan dengan mata besar yang tertuju padanya, dan segera saja Baekhyun berlari kecil menghampiri.

 

“Hai..”

 

“Hai…” kedua belah bibir tipis Baekhyun membentuk seulas senyum samar “Ada apa?”

 

“Ah— aku hanya…” Chanyeol gugup tiba-tiba. Senyumnya nampak kaku dan rona merah tipis nampak tercermin diparas rupawannya.

 

Damn!

Chanyeol merasa sulit berkata-kata. Padahal dahulu, ia tak mendapat kesulitan sedikit pun dalam mengajak para gadis berkencan— sebelum mengenal Baekhyun tentunya. Tapi tunggu, Baekhyun bukan gadis dan ia tak akan mengajaknya berkencan, hanya pesta kecil-kecilan merayakan keberhasilan klub renang menembus babak final, hanya itu, bukan kencan. Catat!

 

“Chanyeol…?”

 

“Eh— ah…se-sebenarnya klub renang akan mengadakan pesta kecil merayakan keberhasilan kami masuk babak final, aku bermaksud mengajakmu…bagaimana?”

 

“Ung~ “ sang pemuda manis mengangguk “Kyungsoo sudah mengajakku lebih dulu…”

 

Sial, manager-nya yang galak itu.

Kyungsoo membuat Chanyeol sedikit kurang keren…dan kecewa karena tak menjadi orang pertama yang mengajak Baekhyun kepesta.

 

“Lalu…kau bisa?”

 

“Tentu.” jawab Baekhyun disertai anggukan pelan.

 

“Baguslah…ka-kalau begitu—“ Chanyeol kembali gugup, ia melempar pandang kearah lain, apa pun itu selain mata Baekhyun “Aku…akan menjemputmu nanti malam, pukul enam sore.”

 

“Eh?”

 

Pemuda yang lebih tinggi terlihat kalang kabut, dalam hati merasa takut pemuda kecil dihadapannya akan menganggapnya terlalu agresif…seperti maniak. Dan ia pun telah menyiapkan hati untuk ditolak— tapi juga berharap hal tersebut tak sampai terjadi tentunya.

 

“Boleh saja…” jawab Baekhyun.

 

Chanyeol menatapnya tak percaya. Bersyukur sekali kemungkinan terburuk tak sampai terjadi.

 

“Benarkah?”

 

“Ung…” Baekhyun mengangguk lagi “Akan kukirimkan alamatku melalu e-mail.”

 

“Baiklah.”

 

“Aku akan kembali ke kelas. Sebentar lagi pelajaran selanjutnya akan dimulai. Sampai jumpa…nanti sore.”

 

Sebuah lambaian singkat mengawali kepergian Baekhyun. Chanyeol terus menatap punggung kecil itu sampai ia menghilang dibalik pintu kelas.

 

Terdengar bel berbunyi namun Chanyeol tak segera memasuki kelasnya. Ia bersandar pada dinding, menghela nafas seraya melonggarkan simpul dasi yang entah mengapa membuat lehernya bagaikan tercekik.

 

Helaan nafas berhembus dari kedua belah bibirnya “Kenapa aku jadi seperti ini…?”

 

Ponsel dalam kantung celananya bergetar kemudian. Dikeluarkannya benda tersebut dan mengamati apa yang tertera pada layar. E-mail dari Baekhyun, berisi alamat rumahnya.

 

Chanyeol tersenyum.

 

Sebenarnya, ia telah menanyakan lebih dulu alamat Baekhyun pada Kyungsoo.

 

.

.

.

 

Acara penjemputan berlangsung sukses. Orang tua Baekhyun bahkan menawarkan agar mereka diantar dengan mobil oleh supir, namun Baekhyun menolak dan lebih memilih menggunakan bus. Rumah Baekhyun cukup besar, garasinya cukup untuk dua sampai tiga mobil, halamannya luas dan ia memiliki seekor anjing puddle bernama Mariandel. Sangat berkelas, berbeda sekali dengan Chanyeol yang asal-asalan dalam menamai anjing siberian husky-nya dulu…namanya Patamon.

 

Dalam perjalanan mereka memang membicarakan banyak hal, atau lebih tepatnya Chanyeol yang lebih sering berbicara dan Baekhyun hanya mendengarkan dengan baik. Namun tidak ketika sampai ditempat pesta…setelah pesta dimulai keduanya nampak kaku, itu semua karena teman-teman lain mengatai mereka sebagai pasangan baru karena datang bersama, bergandengan tangan pula. Chanyeol jadi malu untuk mengajak Baekhyun bicara.

 

Disebut pesta sepertinya kurang tepat juga, karena mereka hanya mengadakan perayaan kecil disebuah tempat karaoke. Memesan makan dan minuman non-alkohol dan semua dibayar secara patungan. Chanyeol sudah bertekad kalau dirinya yang akan membayar bagian Baekhyun, jadi pemuda manis yang telah menjadi kesayangannya itu tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun.

 

Great!

Chanyeol merasa keren.

 

Selama pesta berlangsung, meski tak saling bertukar kata, Chanyeol hampir selalu memperhatikan Baekhyun. Ia melihat pemuda manis itu nampak berdiri dan menuju pintu keluar, sepertinya hendak menyusul Kyungsoo yang beberapa saat sebelumnya meninggalkan ruangan bersama Jongin.

 

Chanyeol pun segera memacu kaki-kaki panjangnya mengikuti Baekhyun.

 

.

.

.

 

Sepasang kaki kecil melangkah menyusuri lorong yang didekorasi dengan wallpaper dinding berwarna dan bermotif mencolok, penerangan nampak minim membuat ruangan tidak terlalu terang, sedikit remang. Tak terdengar suara apa pun selain langkah kaki, karena ruang karaoke yang dilewatinya merupakan ruang kedap suara.

 

Baekhyun hanya ingin mengikuti Kyungsoo, ia merasa gugup berada diantara orang yang tak terlalu dikenalnya. Tapi Jongin menarik tangan Kyungsoo dengan langkah tak sabar, terlalu cepat…kini mereka menghilang.

 

Namun beberapa saat lalu telinga Baekhyun menangkap suara seperti orang mendesah serta mengerang, suara laki-laki dan sepertinya ia tak asing.

 

Dan Baekhyun memutuskan mengikuti rasa keingintahuannya, mengendap menuju sumber suara berasal. Ia melangkah dengan merapat dinding, mendekati sebuah persimpangan kearah kanan. Suara desahan itu semakin jelas— bukan maksud hati menguntit, hanya saja sebagai anak manusia biasa yang masih berkembang, tentu dirinya dipenuhi rasa keingintahuan yang tak dapat dibendung.

 

Selangkah lagi, ia melongok, mengintip ada apa gerangan dan kedua matanya segera melebar.

 

Kyungsoo bersama Jongin. Tengah melakukan kegiatan ‘ini dan itu’ yang hanya pernah Baekhyun lihat dalam manga atau film.

 

Kyungsoo terpojok, Jongin mendesaknya. Bibir mereka bersentuhan, bersatu dibawah dominasi Jongin. Dapat Baekhyun lihat betapa tersiksanya wajah Kyungsoo— namun juga nampak menikmati. Sesekali Kyungsoo mendesah saat Jongin beralih menjatuhkan kecupan dilehernya, lalu—

 

“Gyaa—!”

 

“Shhtt~”

 

Penglihatan Baekhyun menghitam. Sebuah tangan besar nan hangat menutup matanya, sementara tangan lain memeluk pinggangnya dari belakang dan menariknya mundur.

 

“Apa yang kau lihat, hm?”

 

Tepat sekali. Itu Chanyeol.

 

Chanyeol segera mengangkat tubuh Baekhyun layaknya sepasang pengantin baru, membawa pemuda manis itu menjauhi tempat dimana mungkin Jongin dan Kyungsoo akan bertindak lebih jauh. Baekhyun sendiri nampak terkejut bukan main, namun hal itu bagai kesenangan tersendiri untuk Chanyeol.

 

“Jangan katakan ini pertama kalinya kau melihat Kyungsoo dan Jongin melakukan hal seperti tadi…”

 

Baekhyun mengangguk tanpa sungkan dan Chanyeol langsung menepuk keningnya. Benar saja rupanya, hidup Baekhyun terlalu suram dan…membosankan.

 

“Sudahlah, tak usah difikirkan…”

 

Chanyeol meninggalkan kursi lobi, berjalan menuju vending machine dan membeli dua kaleng minuman cola.

 

“Ini…” Chanyeol menyerahkan salah satu minuman pada Baekhyun, lalu kembali menduduki tempat disamping pemuda manis tersebut.

 

“Terima kasih…”

 

Keduanya menikmati minuman dingin tersebut dalam sunyi, musik latar yang diputar oleh petugas tempat karaoke tak memperbaik suasana diantara keduanya sama sekali. Baekhyun terus saja menatap minuman kaleng ditangannya, entah pemuda manis itu sadar atau tidak jika sesekali Chanyeol meliriknya.

 

“Aku kira kita tak kan bicara sampai acara selesai.” ujar Chanyeol pada akhirnya, memikat Baekhyun untuk menoleh dan memandangnya penuh tanya. Pemuda tampan itu memperlihatkan senyum khasnya “Aku merasa sedikit…gugup— mereka terus mengatai kita sebagai sepasang kekasih…aku merasa tidak enak padamu.”

 

Baekhyun terdiam, memerhatikan sikap Chanyeol yang nampak gelisah “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja…”

 

Senyum tipis itu kembali menampakan diri.

 

Senyum yang membuat kedua mata bulat Chanyeol hanya tertuju padanya. Itu hanya senyum biasa, tidak istimewa sama sekali…hanya saja— terasa spesial.

 

Chanyeol fikir, dia tidak sadar kalau dirinya spesial.

 

Pemuda tampan itu tersenyum dan berkata “Baekhyun…”

 

“Ya?”

 

“Ayo pergi bersamaku.”

 

“Eh?!”

 

.

.

.

 

Mereka sampai dikolam renang sekolah dengan selamat. Masih tersisa satu setengah jam lagi sebelum Gym ditutup yaitu pukul sembilan malam.

 

“Lampunya tidak dinyalakan?” tanya Baekhyun seraya mengikuti langkah Chanyeol menuju ruang ganti pemain.

 

“Tidak perlu, kalau terlalu terang, cahaya bintang jadi tidak terlihat jelas.”

 

Baekhyun mengedarkan pandangan kesegala sudut yang dapat terjangkau penglihatannya, tempat ini luas sekali. Tidak terlalu gelap karena cahaya bintang menembus langit-langit transparan tepat diatas kolam. Ia pun turut menengadah, menemukan banyaknya bintang dilangit malam musim panas. Indah sekali, seperti lautan titik-titik cahaya.

 

“Untung saja tempat karaoke yang kita datangi tadi dekat dengan sekolah…” ucap Chanyeol seraya membuka pintu ruang ganti.

 

Ruangan terang benderang setelah Chanyeol menekan sakelar lampu.

 

Keduanya melangkah lebih dalam dan Chanyeol mulai membuka satu persatu loker pemain, memeriksa isinya dengan teliti.

 

“Sedang mencari apa?” tanya Baekhyun.

 

“Pakaian renang.”

 

“He? Untuk apa?”

 

Dengan itu Chanyeol mengacungkan ibu jarinya “Apa kau mau coba…berenang dibawah langit berbintang?”

 

Itu pose yang…keren—

Tapi apa guna jika setelah itu tetap tak menemukan pakaian renang untuk Baekhyun.

 

“Ah! Benar juga!” Chanyeol menghantamkan kepalan tangan kanannya pada telapak tangan kiri dan tertawa lebar “Kita bisa mencari pakaian renang untukmu di ruang ganti klub renang perempuan!!”

 

“Tidak. Terima kasih.”

 

Chanyeol kembali mencari. Abaikan rasa sedikit menyesal karena gagal membuat Baekhyun mengenakan pakaian renang perempuan— ia benar-benar sukses menjadi maniak Baekhyun.

 

“Aku menemukannya.”

 

Woman Swimsuit?

 

“Bukaann…” Chanyeol menggeram malas “Pakaian renang milik Kyungsoo, dia selalu menyimpan satu dalam loker untuk jaga-jaga. Aku baru saja ingat.”

 

Diserahkannya pakaian renang itu pada pemuda manis yang akan mengenakannya. Modelnya tertutup, mirip pakaian menyelam namun bagian celana hanya sampai sebatas lutut sementara bagian lengan hanya sepanjang diatas siku. Berwarna dasar hitam dengan corak hijau dibagian bahu, paha dan lengan. Ukurannya tidak terlalu besar, mengingat ukuran tubuhnya tak jauh beda dengan Kyungsoo, mungkin pakaian renang ini akan muat dikenakannya.

 

“Lalu bagaimana dengan—“ Baekhyun tak berniat melanjutkan ucapannya setelah melihat Chanyeol entah sejak kapan telah menanggalkan pakaiannya dan hanya mengenakan celana renang saja untuk menutupi tubuhnya “Kau…mungkinkah kau selalu memakai celana renang kapan saja dan dimana saja?”

 

Chanyeol kembali mengacungkan satu ibu jarinya dengan amat bangga “Yosh! Tentu saja!!”

 

Baekhyun tak habis fikir

Park Chanyeol memang tidak terduga.

 

“Aku tunggu di kolam renang!!!” dan ia pun melesat menuju kolam layaknya seorang bocah saat hendak memasuki taman bermain.

 

Helaan nafas terdengar pelan. Baekhyun menutup pintu ruang ganti secara perlahan, sempat terdengar suara sesuatu tercebur kedalam air.

 

“Yasudahlah.”

 

Mungkin berenang dibawah langit berbintang…bukanlah ide buruk.

 

Sekitar lima menit kemudian, Baekhyun meninggalkan ruang ganti dengan telah mengenakan pakaian renang. Ia melangkah mendekati kolam, gerakan kaki-kakinya sempat terhenti ketika matanya menangkap sosok Chanyeol yang bergerak lincah di air. Dan seperti sebelumnya, saat ini adalah ketika jantungnya mulai berpacu lebih keras, kelopak matanya akan jarang berkedip dan kedua belah bibirnya akan terasa kelu.

 

Kakinya tak bisa lagi melangkah normal, gerakannya kaku dan butuh waktu lebih lama baginya untuk sampai ke tepi kolam. Duduk disana dan hanya membiarkan air merendam kakinya hingga sebatas lutut.

 

“Jangan hanya duduk seperti ini…” Chanyeol berjalan menghampiri lalu mengulurkan sebelah tangannya “Ayo…turunlah.”

 

Baekhyun mengangguk kemudian menyambut uluran tangan Chanyeol. Kini tubuhnya telah terendam hingga sebatas dada, namun bagi Chanyeol yang lebih tinggi, ketinggian air hanya mencapai perutnya saja. Selain itu, mungkin karena kolam baru saja dibersihkan…garis pembatas tidak dipasang dan mereka dapat berenang dengan leluasa.

 

“Kalau berenang…harus basah seluruh tubuh.”

 

“Ap—mmpph!”

 

Baekhyun refleks menahan nafasnya ketika Chanyeol menekan puncak kepalanya agar ia menyelam sepenuhnya dalam air. Kedua matanya tertutup karena merasa kaget, namun sentuhan lembut sebuah tangan dipipi, membuatnya membuka mata. Paras tersenyum Chanyeol lah yang pertama kali ia lihat, mereka berdua sama-sama menyelam dalam air. Tubuhnya terasa ringan, Baekhyun merasa seperti terbang. Namun terlepas dari semua itu…tak seperti yang ia sangka pada awalnya, bias cahaya bintang membuat bagian dalam kolam tetap terang walau dipenuhi air. Gelembung udara yang keluar dari hidung dan mulutnya berterbangan didepan wajahnya. Aneh.

 

Dan detik berikutnya, Baekhyun tak dapat menahan diri untuk tidak mengambil nafas kepermukaan.

 

Ia menghidup udara sebanyak ia sanggup. Menahan nafas memang bukan keahliannya dan lagi pula Baekhyun tak terlalu suka melakukannya. Beberapa saat kemudian, Chanyeol menyusul muncul kepermukaan.

 

“Bagaimana? Rasanya hebat sekali bukan? Aku sangat suka berenang malam hari seperti ini…” tukas Chanyeol yang selalu menampakan deretan gigi putihnya.

 

Baekhyun tak menjawab melainkan menghadapkan wajahnya dengan langit-langit gedung, sesaat dirinya merasa takjub karena cahaya bintang benar-benar menghujani permukaan air.

 

Terpantul sama serpihan benda angkasa bercahaya tersebut dipermukaan air, menjadikan kolam layaknya lautan bintang.

 

“Rasanya…seperti negeri dalam dongeng.”

 

Begitulah ucapnya.

 

Sejenak Chanyeol membeku, dilihatnya sosok Baekhyun yang tepat dibawah sorotan cahaya bintang…indah.

 

Yah, seperti negeri dalam dongeng.

 

Dan kau adalah peri dalam dongeng itu, Baekhyun.

 

Tanda diduga, Chanyeol bergerak cepat mengangkat tubuh Baekhyun. Mendekap tubuh kecil itu tepat didepan tubuhnya sendiri, dalam posisi tangan kiri Chanyeol yang menjadi tempat Baekhyun duduk sementara tangan kanan memeluk pinggang ramping tersebut. Cara menggendong untuk bocah.

 

“Ch-Chan—“

 

Kumpulan kata yang hendak dilontarkannya hilang dalam sekejap, saat kedua mata berbeda ciri khas itu berbenturan. Dalam posisi yang sangat dekat, kurang dari sejengkal. Posisi Baekhyun sedikit lebih tinggi mengharuskan ia menunduk dalam memandang wajah Chanyeol yang sedikit menengadah.

 

Detak jantung Baekhyun lebih cepat melebihi cepatnya perputaran jarum jam.

 

Ia tak pernah ingat pernah sedekat ini dengan Chanyeol. Rasanya…lebih mendebarkan dibanding melihat Chanyeol melesat dalam air.

 

Ah, ia ingat! Perasaan aneh itu…

 

“Baekhyun…” suara khas Chanyeol menggema sampai kehatinya.

 

Baekhyun tak kuasa menjawab. Dipandanginya dengan seksama satu persatu bagian yang membentuk paras rupawan pria bermarga Park tersebut. Sepasang mata bulat nan unik yang jarang dimiliki orang Korea, dagu bulat yang lucu, kedua pipi berbentuk simetris…juga dua belah bibir merah muda segar yang begitu menawan. Bahkan walau surai hitam dikepalanya kini dalam keadaan basah, sama sekali tak mengurangi nilai keindahannya.

 

Sebentar…

Baekhyun butuh waktu untuk berfikir. Tapi apa!! Apa yang harus dia fikirkan! Semua hampa! Otaknya kosong!

 

“Baekhyun…” astaga, suara itu lagi. Kali ini disertai dengan gerakan tangan Chanyeol yang membelai helaian sisa poni hitam basahnya yang mulai memanjang, kemudian menyelipkannya dengan perlahan disela telinga “Baekhyun…izinkan aku untuk mewarnai dirimu.”

 

Ia masih tak kuasa menjawab walau Chanyeol telah selesai dengan ucapannya. Karena ucapan singkat tersebut, telah berhasil membuat detak jantungnya semakin menggila.

 

“Aku ingin terus membuatmu tertawa. Aku ingin kau selalu menemukan kebahagiaan…dan aku tak ingin kau berfikir bahwa hidupmu hampa.”

 

Raut wajah Baekhyun mulai meluluh, tak setegang ketika pertama kali berbentur pandang dengan Chanyeol. Aliran darahnya berdesir halus dan dadanya terasa hangat walau jantung didalam sana masih enggan memperhalus dentumannya.

 

Pemuda tampan itu masih setia dengan senyum lembutnya “Benar katamu hidupku selalu dipenuhi berbagai macam hal. Aku bebas melakukan ini dan itu sesukaku. Aku mengenal banyak warna selain abu-abu, ada merah, hijau, biru, ungu…dan hitam. Dan mulai sekarang, akan kubagi semua warna hidupku padamu…”

 

Baekhyun masih bertahan dalam diam. Dan berfikir…selama bertahun-tahun hidup dalam kekosongan dan hanya mengenal satu warna yaitu kelabu, hanya karena kehadiran seorang laki-laki enerjik, penuh semangat yang selalu tertawa lebar…akankah semua menjadi berbeda?

 

Haruskah ia membiarkan perasaan aneh ini menyatu dan mengalir bersama darah dalam tubuhnya.

 

Bisakah ia mempercayai perasaan ini?

 

“Kau selalu menatapku dengan mata sendu tiap kali melihatku saat latihan pagi…” suara khas Chanyeol kembali menggema “Kau seolah tengah mengulurkan tanganmu, memohon padaku untuk menarikmu serta kedalam air.”

 

Kedua mata Baekhyun sedikit melebar. Ia hanya tak menyangka bahwa sosoknya ternyata semenyedihkan itu dimata Chanyeol.

 

“Aku mempercayai kata-katamu saat kita makan es krim berdua ditaman. Dan sekarang…dengan sepenuh hati, aku siap menerima uluran tanganmu…dan menarikmu serta kedalam air.”

 

Pemuda itu kembali tersenyum lebar.

 

Dalam satu detik bagaikan pundaknya terasa jauh lebih ringan. Ia merasa seluruh rangkaian kata-kata yang Chanyeol lontarkan menyentuh lubuk hatinya yang selama ini ia kunci rapat dan tak pernah tersentuh apa pun sebelumnya.

 

Baekhyun menyerah dalam berkata-kata. Namun ia tak mencegah atau menolak ketika Chanyeol mendekatkan wajahnya dan menekan tengkuknya…sehingga proses pertemuan dua bibir itu hanya berlangsung beberapa detik.

 

Diawali dengan sentuhan ringan, tanpa rasa sedikit pun. Beberapa detik terus seperti itu hingga rasa hangat mulai menjalari seluruh tubuh. Kemudian Chanyeol menjauhkan wajahnya, tersenyum penuh arti kala menemukan untuk pertama kali…sedikit semburat merah muda dikedua pipi empuk Baekhyun.

 

Warna baru Baekhyun.

 

Dan kemudian Baekhyun melihat…wajah Chanyeol yang mendekat dengan mulut terbuka dan mata terpejam, tak sampai satu detik selanjutnya, bibirnya terasa hangat. Rasa hangat yang tak biasa, dengan sedikit sentuhan basah, rasa hangat yang membuat kelopak mata terasa berat— namun bukan mengantuk, sama sekali bukan. Dengan kedua mata terpejam Baekhyun menikmati rasa nyaman dari sentuhan Chanyeol. Sepasang tangan kurusnya mulai bergerak perlahan melingkari leher sang pemuda tampan. Beberapa kali lenguhan Baekhyun tertelan menghasilkan suara redam, hanya ada celah tipis diantara kedua bibir yang melekat nyaris sempurna itu bagi suara untuk meloloskan diri.

 

Ciuman ini telalu membuat terlena…Chanyeol bersedia mati kehabisan nafas namun tentu Baekhyun tak dapat ia biarkan seperti itu.

 

Kedua pasang mata itu kembali saling berbenturan ketika penyatuan diakhiri. Baekhyun terengah, tentu saja— hawa panas dan detak jantung yang menggila tak dapat mentolerir tubuh mungilnya yang minim kekuatan. Ia hanya mampu terdiam menatap lekat senyum diwajah Chanyeol yang kental akan keyakinan. Matanya bercahaya, lebih bercahaya dan indah dibanding matanya sendiri.

 

Ini pertama kali Baekhyun melihatnya…mata seseorang yang tak pernah menyerah dan berputus asa.

 

Akhirnya Baekhyun menyadari, ketika ia mulai merengkuh leher Chanyeol, mengenyahkan ruang diantara dirinya dan Chanyeol, merasakan hangatnya tubuh permuda tampan itu dengan tubuhnya sendiri. Merundukkan kepala, mencari posisi yang nyaman dilekukan leher Chanyeol…ia ingin seperti Chanyeol. Ia ingin bebas seperti Chanyeol. Memiliki keyakian kuat seperti Chanyeol…dan juga memiliki banyak warna dalam hidup ini seperti Chanyeol.

 

Baekhyun selalu mengejar sosok Chanyeol tanpa ia sadari.

 

“Aku kira…Chanyeol adalah pelangi yang tak mungkin kujangkau.” ucapnya lirih disela tangis kecilnya.

 

Chanyeol tersenyum lembut seraya merengkuh tubuh kecil dalam dekapannya semakin erat, kecil…tubuhnya benar-benar kecil, tingginya pun tak seberapa. Walau tak menatap langsung wajah Baekhyun, Chanyeol dapat menyadari…bahwa telah adanya air mata yang terjatuh.

 

 

“Baik ayahku, ibuku atau kakakku…tidak pernah mengatakannya. Chanyeol adalah yang pertama. Orang pertama yang mengajakku berlari bersama. Walaupun melelahkan, tapi sedikit demi sedikit…aku dapat melukis pelangi, dilangitku sendiri.” — Byun Baekhyun

 

 

“Haa—tchihh!!!”

 

“Astaga…” Chanyeol mengusap punggung kecil Baekhyun “Sebaiknya kita segera naik.”

 

… … … … …

 

Demam itu rasanya tidak enak. Baekhyun benci sekali jika harus menderita demam. Tidak bisa main, tidak bisa membaca, tidak bisa makan sendiri, tidak bisa berguling-guling dikasur…juga tidak bisa melihat pertandingan final Chanyeol secara langsung.

 

Tubuhnya panas tepat keesokkan hari setelah hari karaoke dan Chanyeol mengajaknya berenang malam hari di kolam renang sekolah. Sialnya, ketika itu Chanyeol lupa mengatakan kalau lusa adalah hari pertandingan final berlangsung. Itu artinya, tepat ketika Baekhyun demam, Chanyeol berangkat ke Daegu, sehari lebih cepat dari hari pertandingan…itu merupakan peraturan bagi para pemain yang akan bertanding difinal. Untuk persiapan, tes uji coba lapangan dan sebagainya. Meski Chanyeol telah mengirim pesan dan menelpon, tetap saja Baekhyun merasa tidak puas jika tidak mengantar kepergian Chanyeol secara langsung. Mau menyaksikan siaran televisi pun…ibunya melarang keras dan menyuruhnya agar tidur seharian penuh.

 

Ini sudah hari ketiga sejak pertandingan final berlangsung, itu artinya lima hari sudah Baekhyun tak bertatap muka dengan Chanyeol. Pemuda itu bahkan tak mengirimnya pesan atau menelpon sama sekali, Baekhyun jadi tidak tahu bagaimana hasil pertandingan. Menang atau kalah?

 

Tapi kalau Chanyeol…mungkin— pasti menang.

 

Terasa getaran dibalik bantalnya. Itu ponselnya, Baekhyun sengaja menyembunyikannya disana. Bisa habis kalau sampai ketahuan tidak tidur dan malam memainkan ponsel, menunggu pesan dan telpon dari Chanyeol yang sialnya tak kunjung datang.

 

From: Chanyeol

 

Sekarang aku berada dibawah pohon berbunga merah yang pernah kita datangi berdua sebelumnya. Ingin bergabung?

 

Baekhyun menggeram. Dasar tidak ada pekerjaan lain selain mengusili orang…apalagi orang yang sedang sakit. Setelah lima hari tidak bertemu hanya itu yang dikatakannya?

 

Ia membenamkan wajahnya pada bantal. Memang kondisi tubuhnya sudah membaik, tidur selama lima hari ternyata membuahkan hasil. Meski kesal, tapi sangat ingin bertemu. Akhirnya Baekhyun memutuskan untuk meninggalkan tempat tidurnya. Mengambil jaket dan mengenakannya seraya berjalan mengendap meninggalkan rumah.

 

Pohon berbunga merah yang pernah didatanginya berdua dengan Chanyeol, tentu saja pohon ketika istirahat makan es krim setelah berbelanja keperluan klub beberapa waktu lalu. Ia berlari secepat kakiknya sanggup berpacu…keinginannya untuk segera bertemu Chanyeol tak dapat lagi dibendungnya. Dan langkahnya semakin cepat kala menangkap siluet seseorang tinggi dikejauhan sana, tepat dibawah pohon. Chanyeol berdiri disana, tepat menghadap kearahnya seolah menantinya sampai. Baekhyun tak sanggup lagi berlari, sepertinya tubuhnya sedikit menghangat…ia memutuskan berhenti untuk menarik nafas ketika jaraknya hanya tersisa beberapa langkah dari Chanyeol.

 

Mencuri beberapa saat untuk merampas oksigen, diam-diam mempersiapkan omelan dan protes yang akan digunakannya melawan Chanyeol.

 

Namun baru saja ia menegakan tubuh dan membuka mulut…suaranya tak sanggup keluar.

 

Chanyeol masih berdiri ditempatnya, namun kali ini dengan mengulurkan tangan yang menggenggam sesuatu kepadanya. Sesuatu itu adalah sebuah medali, dengan plat logam bundar berwarna keemasan.

 

Dia tersenyum lagi. Himpunan gigi putihnya terlihat lagi

 

“Emas adalah kemenangan.”

 

Lalu ia berkata lagi.

 

“Aku menang demi dirimu. Kemenanganku…untukmu.”

 

Ada jeda satu detik sebelum akhirnya Baekhyun melesat, menjatuhkan tubuh kecilnya dalam dekapan pria didepannya. Dapat ia rasakan Chanyeol mengalungkan sesuatu dilehernya, Baekhyun sudah dapat menebak benda apa itu walau tak melihatnya.

 

Namun yang jelas…ini kedua kalinya Chanyeol membuatnya menangis.

 

 

“Jika rasa cinta mudah terucap…maka perasaanku padamu, jauh lebih dari itu. Aku ingin terus berjalan berdampingan denganmu walau seluruh warna didunia ini telah memudar.” — Park Chanyeol

 

. . .

 

OWARIMASHITA

 

Udah deh?!

Dou desu ka? Ii desu ka? Dame desu ka?

Saya tetep cinta Baekhyun :*

Kalau ada persamaan cerita, kata, adegan…maaf itu sama sekali ga sengaja.

 

Ini FF Battle sama Termakan_Sehun…jadi tolong komen hanya pada Fanfic yang kalian suka. Fanfic saya atau fanfic termakan_sehun. Satu aja ya…jangan dua2nya. Ntar kami bakal pilih komen terbaik, ada hadiahnya juga…

 

Trus siapa diantara saya atau termakan_sehun yg menang…hhm~ pokoknya ga bakal ada hadiah buat yang menang, tapi ada hukuman untuk yg kalah. Liat aja nanti okay?

 

Makasih udah baca!! Ditunggu komennya ^.^

90 thoughts on “CHANBAEK | NINE TAILED FOX – NATSU NO IRO

  1. Aku gak tau mau ngomong apa. Yang jelas ini ff keren banget (y) aku suka penggambaran tokoh nya. Baekhyun jadi kalem gitu. Sebenernya aga aneh ya baekhyun jadi orang yang membosankan. Padahalkan aslinya? Tapi sumpah thor, ini daebak banget. aku suka moment makan ice cream sama di kolam renang. di tunggu karya mu selanjutnya thor🙂

  2. Huwaa!!! Romantis banget chanbaek! Daebak! xD btw, aku penggemar ff author nine-tailed fox. walaupun ini baru ff kedua yg aku baca :v tp dr pertama baca ff baka na romantica, author udah keliatan berbakat banget!😀 daebak buat semua ff author!!! xD

  3. Ughh!!! How so sweettt😄
    Pas banget gitu seorang byun baek yg merasa kesepian akhirny bertemu yeol yg memang orang sangat menyenangkan ^^

    Dan yeol,what are doing? Membawa anak org berenang malam2 hingga ia jatuh sakit? Ckckckck…

  4. Terharuuuuuuu~ asli thor ff.a sweet abis.. udah gak bisa ngomong apa” lagi deh thor.. daebak buat author.a (y)

  5. Ini FF ter so sweet yg pernah aku baca…
    Tolong lanjutin ya thor. Ceritanya…
    Ini romance banget..and so sweet…
    Ak tunggu ya thor…

  6. aaaaa… author suka anime free juga trnyataaa aaa!! keren nih aku suka authornya suka dicampurin sma jejepang gitu ehehe😀 ini yang aku cari2! btw authornya otaku sma kpopers juga ya? ahaha ^^

  7. sukaaaaaaaaaaaaaa kyaaaa xD ga bisa comment laen saking speechless nya huhu so sweet bgt :3 Yaampun baru kali ini nemu karakter Baekhyun jadi expressionless, biasanya dia jadi org kek cacing kepanasan ._.v delusi tentang chanyeol cuma make celana renang kyaaa *nosebleed* >< perfect bgt, 2 tumb buat Authornya😀

  8. Aku suka ff ini astaga kece sekali (y) kehidupan baek gak jauh beda ma kehidupanku -.- jadi pengen punya seseorang yg mau mengulurkan tangannya buatku haha *curcol* pokoknya aku sukaaaaaaa

  9. aku baru baca FF ini and ceritanya bikin aku senyum2 sendiri..
    aku bingung ini perumpamaannya Makoto sama Haru apa Haru sama Rin.. tapi FFnya bagus banget.. sugoi!!! keep writing !

  10. wahahahaha~ aku suka aku suka >__<
    .
    .
    Kyungsoo, kau menyeramkan nak, apalagi disaat di kolam renang ._.
    tapi salut sama keprofesionalitasnya dia😀
    dan aku nyaris tersedak disaat bayangin Baekhyun dengan wajah datarnya secara tidak sadar malah ngungkapin perasaan ke Chanyeol. dan menurutku presepsi Chanyeol benar ._.

    “Jika rasa cinta mudah terucap…maka perasaanku padamu, jauh lebih dari itu. Aku ingin terus berjalan berdampingan denganmu walau seluruh warna didunia ini telah memudar.” — Park Chanyeol

    aduh, kata-katanya greget😄
    di tunggu next ff-nya^^
    Keep writing and fighting^^

  11. EH GUA UDH LIAT INI LAMA DARI KIM KUMIKO TRS GW KIRA ADA ANGST2NYA GT JD MLS BACA TERNYATA………… ANJEEEERRRR SUGOII ATUH INI FIC!!!!!! FREE OTOKEEE AAA DAEBAK ATUUUH!
    e btw kol gadiupdate lagi de?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s