CHANBAEK | TERMAKAN SEHUN – P.S I LOVE YOU

Title : P.S I LOVE YOU

psilu
Author : Termakan Sehun (twitter : @Termakan_Sehun)


Lenght : One Shoot! Tapi puanjaaaaaaaaaaaaanggggggggg bingiiiiiitttttttttttttttttttttttttt!
Cast : Park Chanyeol & Byun Baekhyun. Chanbaek. Baekyeol. Eggyeol & Bacon.
Genre : Sad-Romance, Boys Love, Kriminal (?) Apalagi ya? Baca aja deh biar bisa nentuin sendiri.

ORIGINAL SOUNDTRACK :Huh Gak – The Person who once love me. Huh Gak – It Hurts. Taylor Swift – Enchanted. Fire House – I live my life for you. Mariah Carey – When I saw you.

 

FF ini terinspirasi dari banyak kejadian ada salah satu plot yang terinspirasi dari adegan in the hoy nya Mbak Kiran sama Mas Karan di film India judulnya Mohabbattein~ yang penggila Bollywood pasti langsung tau deh.

FF ini juga FF one shoot pertama yang bikin aku jungkir balik jumpalitan jatuh bangun panas dingin. Aku bikin FF ini banyak banget halangannya, dari yang mentok, gapunya ide, stuck pas nulis sampe jatuh sakit! Beuh! Harusnya aku dapet jasa itu, sebagai pahlawan tukang banyak alasan! Hahaha. Tapi beneran deh aku emang butuh tenaga ekstra bikin FF ini.

Ini FF juga FF pertama yang aku pertandingkan mungkin bisa di lihat pengumumannya yang rana udah bikin. Jadi jangan sampe ada yang jadi silent reader yah, ntar gadapet hadiah loh. Lumayan pan pulsa 50 rebu buat beli kuota gadget full service sebulan ngahahahhaha~

Kalau ada kejadian atau mungkin tulisan yang sama itu sama sekali tidak di sengaja yah, aku cuman manusia biasa yang bisa aja terinspirasi dari tulisan orang lain juga.

Sok mangga di waos etah…

 

 

-oOo-

 

 

Pernah tidak, memiliki rasa ingin tahu segala sesuatu yang di lakukan oleh seseorang yang hanya kau kenali lewat pandangan? Itulah yang dirasakan Chanyeol untuk Baekhyun, laki-laki yang mencuri perhatiannya akhir-akhir ini─ Chanyeol ingin tahu setiap detail hal yang di lakukan olehnya, rutinitas apa yang pertama kali di lakukannya ketika pagi menjelang, lagu-lagu yang sering di dengarnya, kebiasaan-kebiasaan yang membuatnya tertawa, hal-hal yang membuatnya bersedih, dan yang terpenting adalah alasan Baekhyun selalu memiliki tatapan sekelam kopi hitam yang selalu di pesannya.

Tidak seperti manusia normal biasanya, yang selalu jatuh cinta pada pandangan pertama. Chanyeol mulai memperhatikan Baekhyun sejak laki-laki itu mencuri perhatiannya di kali ketiga pertemuan mereka. Chanyeol tidak memiliki getar rasa ketika Baekhyun tanpa sengaja menyenggol lengan Chanyeol di pintu masuk café Hollys Coffee. Chanyeol juga tidak berdebar-debar ketika Baekhyun menyebutkan namanya dan berdiri tepat di depannya mengantri untuk mendapatkan secangkir kopi di café yang sama.

Tapi… hal itu terjadi ketika Chanyeol menemukan Baekhyun tengah termenung menatap kepulan asap yang menguar dari secangkir kopi di hadapannya. Pandangan Chanyeol terpaku pada mata Baekhyun yang seolah tenggelam dalam kelamnya kopi tersebut. Baekhyun tampak sedikit pucat dengan kaus putih yang pro dengan kulitnya dan juga headphone besar yang menutup telinganya.

Saat itu, entah apa yang membuat Chanyeol begitu memperhatikannya sedemikian rupa. Chanyeol hanya begitu saja terpesona oleh pahatan indah Sang Kuasa. Momen tersebut tidak boleh di sia-siakan, Chanyeol meraih kamera professional yang selalu bertengger manis di lehernya kemudian mulai membidik Baekhyun sebagai sasaran. Lagi-lagi Chanyeol terpaku, menatap hasil fotonya yang begitu alami, begitu natural, begitu indah. Chanyeol kembali mengarahkan kamera untuk membidik Baekhyun, namun Chanyeol tercekat ketika ia menyadari Baekhyun tengah mengangkat pandangan dan menatap lurus pada lensa kameranya.

Mata itu…

Chanyeol tidak dapat menjabarkannya dengan jelas dan mendetail bagaimana cara Baekhyun memandangnya. Chanyeol hanya merasa begitu banyak luka yang di sembunyikan di balik kelamnya mata indah itu. Butuh waktu lama bagi Chanyeol untuk tersadar dari angan sesaatnya, sebelum akhirnya menurunkan kamera yang menutupi sebagian wajahnya. Karena Baekhyun masih menatapnya lekat, Chanyeol tidak tahu lagi harus berbuat apa selain mengulum senyum di sudut-sudut bibirnya.

Chanyeol sangat mempercayai cinta pada pandangan pertama. Tapi Chanyeol juga tidak menutup kenyataan bahwa jatuh cinta tidak selalu persis dengan teori romantis dalam buku, atau scenario indah film-film percintaan. Manusia tidak memiliki kuasa atas kapan tepatnya ia akan jatuh cinta. Seperti saat ini, meski Chanyeol tahu bahwa Baekhyun tidak membalas senyumnya, tapi Chanyeol sangat tahu pesona Baekhyun masih tercium kuat menyekik lehernya. Dan hal baiknya adalah Chanyeol mengetahui sesuatu yang aneh menyelinapkan sebongkah rasa yang mengembang bernama cinta, terhitung sejak hari itu.

Maka seperti hari-hari biasanya, dengan menggunakan pakaian terbaiknya, Chanyeol duduk di sebuah sofa bundar di dalam Holly’s Coffee. Berharap untuk dapat melihat Baekhyun di waktu yang lebih awal. Dalam setiap helaan nafas yang di hembus, Chanyeol merasa sekujur tubuhnya menegang bila membayangkan bagaimana mata gelap itu mengeluarkan sinar yang berbeda.

Ia mengusap punggung lehernya, tertawa pelan. Telunjuknya memutar lembut pada sisi cangkir café latte rendah gula miliknya. Sesekali melempar pandangan kearah pintu masuk. Sudah hampir dua jam dari waktu biasa Chanyeol menemukan Baekhyun, namun tempat itu masih kosong, sang empu belum menampakkan auranya.

“Ia tidak akan datang.” Seorang lelaki yang menggunakan pakaian dari bahan jeans berseru. Membuat Chanyeol yang sedari tadi memandang kosong tempat yang biasa di tempati Baekhyun menoleh.

“Apa?”

Sang lelaki tadi tersenyum lembut, memposisikan dirinya untuk duduk di kursi di hadapan Chanyeol sembari meletakkan cangkir ketiga café latte yang di pesan Chanyeol. “Kau menunggu pemuda yang biasa duduk di sana bukan? Ia tidak akan datang.”

“Bagaimana kau tahu?” Alis Chayeol berkerut menggeser perlahan cangkir latte-nya.

“Aku bekerja disini apa kau lupa…? Pemuda itu selalu datang tepat pukul sembilan pagi, dan pergi pukul sepuluh pagi. Ia tidak pernah datang di waktu yang lain. Itu tandanya jika pukul sembilan sudah terlewati, maka pemuda tidak akan datang.”

Chanyeol mengerjap, mengalihkan pandangan dari lelaki yang menyandang name-tag ‘Oh Sehun’ di dada menuju secangkir latte di hadapannya. Sedikit rasa kecewa menyisip, namun segera di samarkannya dengan sebuah senyum tipis. Perasaan ini benar-benar merusak konsentrasinya.

Apalagi keesokan harinya ia juga tidak dapat menemukan Baekhyun.

Keesokan harinya lagi. Keesokan harinya lagi. Dan seterusnya.

Baekhyun seolah lenyap.

Oh-ibu, kenapa jantungnya terasa sungsang?

 

-oOo-

 

 

When I saw you… When I saw you…
I could not breathe
I feel so deep
When I saw your smile… When I saw your smile…
I’d never be
I’d never be the same

 

Chanyeol mendongak menatap salju yang terus saja turun. Dinginnya menembus raga seakan masuk dan menimbulkan rasa ngilu di setiap persendian tubuhnya. Sesekali dalam rentan waktu lima detik Chanyeol mengembangkan hidung nya, berusaha untuk mengeluarkan sesuatu yang menggelitik di dalam sana, tetapi gagal. Ia menggosok-gosok hidungnya agar rasa gatal di hidungnya berkurang, menimbulkan warna kemerahan yang sangat kontras dengan kulit putihnya.

Chanyeol berjalan di lorong-lorong yang tidak begitu sepi di dalam sebuah rumah sakit. Ia baru saja memeriksakan keadaan tubuhnya yang sedikit meriang, mungkin karena cuaca yang juga tidak bersahabat dan ketahanan tubuh yang tipis membuat tubuhnya sedikit tumbang.

Chanyeol semakin merapatkan jaket yang di kenakannya tatkala langkah kakinya sudah mencapai lobi rumah sakit. Angin dingin segera saja menyeruak menghempas wajah pucat Chanyeol lalu menjalar sampai keseluruh tubuh begitu pintu otomatis itu terbuka. Rasa menggelitik di hidungnya kembali di rasakannya, sekali lagi ia hendak mengembangkan hidung agar lendir di hidungnya keluar, tapi tiba-tiba gerakannya terhenti tatkala matanya menangkap sosok yang amat di kenalinya. Pemuda itu… Baekhyun.

Bagai sebatang besi merah-membara yang di jejalkan pada tumpukan salju di luaran sana, tubuh Chanyeol seketika menghangat. Pemuda yang akhir-akhir ini menyabotase seluruh psikis Chanyeol hanya dengan gurat tanpa ekspressi miliknya tiba-tiba berjalan melawan arah. Pemuda itu begitu anggun melewatinya. Chanyeol menelan ludah. Apa yang di lakukannya? Tidak tahu. Baekhyun mau kemana? Tidak tahu. Chanyeol mengusap tengkuknya kasar. Jadi sekarang harus bagaimana? Tidak tahu.

Chanyeol bagai bebek yang tersuruk-suruk perintah tuannya untuk turut mengikuti langkah ringan Baekhyun yang mulai memasuki rumah sakit itu. Chanyeol dapat melihat kedua tangan Baekhyun menggenggam benang yang terhubung dengan balon terbang berwarna-warni, entah untuk siapa balon-balon itu. Chanyeol hanya merunut tanpa mengerti maksud.

Pemuda bernama Baekhyun itu masih terus berjalan melewati beberapa lorong rumah sakit kemudian berhenti tepat di depan bangsal rawat inap anak-anak. Baekhyun mengulurkan kakinya untuk menendang pintu bangsal agar terbuka, membuat pandangan seluruh anak-anak penghuni bangsal tersebut menoleh dan berteriak gembira.

Baekhyun tersenyum… begitu manis menatap tingkah antusias anak-anak di bangsal. Seketika raut tanpa aura dan ekspressi yang biasa Chanyeol lihat─lenyap. Chanyeol merasa seperti ada benda tajam menikam tepat di ulu hatinya. Demi melihat pemuda itu membagikan balon-balon terbang dengan menyunggingkan senyuman semanis rainbow cake, Chanyeol rela tubuhnya meriang setiap saat.

Chanyeol jatuh telak dengan satu senyuman itu. Keceriaan itu… mampu menghapus seluruh dingin di tubuhnya. Sungguh, Chanyeol berharap mendapatkan satu balon itu. Namun sayang, hingga pemuda itu keluar dari pintu bangsal satu jam kemudian, melewati Chanyeol seperti melewati patung Hachiko di salah satu stasiun di Jepang, Chanyeol tetap tidak mendapatkan satu balon pun.

Chanyeol meringis, meremas puncak kepalanya yang tak gatal. Oh Tuhan! Kenapa Baekhyun tidak sekalipun menoleh kepadanya???

 

-oOo-

 

“Ada yang membuatmu terganggu?”

Sebuah tepukan ringan di pundak sukses membuat Chanyeol hampir menjatuhkan kamera yang sejak tadi berada di tangannya. Ia menggeleng seraya menoleh sekilas memandang pria yang mengagetkannya kemudian kembali memandangi layar kamera professionalnya. Gurat wajah yang di potretnya beberapa saat yang lalu nampak disana.

“Pemuda itu lagi… siapa namanya? Bumyeo… Baekhyoo─”

“Baekhyun!” Koreksi Chanyeol terhadap ucapan Sehun, pria yang menjadi pelayan café sekaligus sahabatnya itu.

“Ah─ iya Baekhyun itu… kau belum berhasil bertemu dengannya?”

“Sudah…”

Sehun mengerutkan kening. “Lalu?”

Lalu? Lalu Pemuda itu sama sekali tidak perduli padanya. Sempurna tertolak? Tanpa menjawab Chanyeol menolehkan kepalanya menatap lalu lalang manusia yang dapat di saksikannya dari balik kaca jendela Holly’s Coffee. Chanyeol menggumam rendah seraya menggeleng, pikirannya melayang berusaha memunculkan potongan grafis pertemuannya dengan pemuda pemilik kulit pucat beberapa waktu yang lalu. Sementara itu Sehun asyik mengorek-ngorek isi hidungnya seraya mengunyah buah pisang.

“Bagaimana…” Gumam Chanyeol nyaris tak terdengar telinga dan menggantung. “Cara menarik perhatiannya?”

Sehun menoleh, Sehun tetap asyik mengorek hidungnya. “Heunggg─ Kau bilang apa?”

“Aku ingin menarik perhatian pemuda itu tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.” Jelas Chanyeol. “Kau punya saran?”

“Kau tahu─” Sehun berhasil menemukan sejumput isi hidungnya kemudian mengoleskannya ke bawah meja. “─bahkan hubunganku dengan Luhan belum mengalami peningkatan.”

Chanyeol mengernyit, melempar kulit pisang tepat di kepala Sehun. Seharusnya ia tahu, meminta saran kepada Sehun sama seperti meminta saran kepada patung batu. Percuma. Berlalu tanpa solusi. Chanyeol mendesis ketika sempat melihat Sehun kembali mengorek hidungnya dan mengoleskannya lagi ke bawah meja.

“Manusia idiot! Jorok sekali! Enyah kau dari hadapanku!!!”

 

-oOo-

 

Pemuda berparas misterius itu tengah duduk di dalam bangsal anak-anak yang sama seperti sesaat yang lalu Chanyeol menemukannya. Kali ini tanpa balon-balon terbang yang berwarna warni. Baekhyun hanya duduk di depan sebuah kanvas yang di sangga oleh kayu, dikelilingi oleh anak-anak yang menopang dagu menyaksikan kegiatan Baekhyun. Pun juga Chanyeol, seperti manusia yang kehilangan otaknya memandangi setiap gerik jemari Baekhyun yang menari di atas kanvas.

Bagaimana cara menarik perhatiannya?

Chanyeol mendesis perlahan. Seolah mengucapkan sebuah mantra untuk mengabulkan keinginannya. Chanyeol yang sempurna terpesona tidak menyadari jika ia bergumam dalam seraya mencengkeram erat kaca jendela yang pecah akibat tendangan anak-anak di bangsal. Benar-benar seperti di perintah… Chanyeol malah semakin menggesekkan telapak tangannya di ujung runcing kaca pecah tersebut. Menimbulkan warna kemerahan kental yang menguarkan bau anyir.

Bagaimana cara menarik perhatiannya?

Iamulai merasakan perih di sana, ia mengaduh keras. Membuat seluruh penghuni bangsal menoleh dan tergesa-gesa mengerubunginya. Menit berikutnya Chanyeol sudah duduk di dalam bangsal, masih di kelilingi anak-anak dan tentu saja… Baekhyun.

Tanpa kata-kata pemuda itu meraih tangan kanan Chanyeol yang terluka. Pertama-tama Baekhyun menghentikan darah yang mengalir, dengan menggunakan kain tipis seperti sapu tangan bermotif bunga-bunga. Kemudian membersihkannya dengan antiseptik. Seharusnya…. Chanyeol mengerang ketika cairan kekuningan itu berpindah merembes kedalam lukanya yang menganga, tetapi pada kenyataannya Chanyeol malah terpaku. Bagaimana tidak? Ia merasakan jantungnya melompat-lompat layaknya rubah yang baru mendapatkan santapannya. Baekhyun berada di jarak kurang dari satu jengkal dengan diri Chanyeol, bahkan ia dapat dengan nyata mencium aroma citrus yang berasal dari tubuh Baekhyun. Tanpa sadar Chanyeol berkali-kali menahan nafas tatkala Baekhyun membebat lukanya dengan perban.

Bagaimana cara menarik perhatiannya?

Sementara Chanyeol merasakan jantungnya sebentar lagi akan lepas dari porosnya, Baekhyun tetap terdiam tanpa sedetikpun memandang Chanyeol. Mengaitkan ujung-ujung perban tanpa sekalipun berkata-kata. Hampir membiarkan Chanyeol duduk sendiri di salah satu ranjang, jika saja salah satu benang perban yang melilit tangan Chanyeol tidak terkait dengan kancing baju di pergelangan Baekhyun.

Bagaimana cara menarik perhatiannya?

Pertautan kecil di lengan mereka, seperti sudah di atur. Seperti sudah terencana. Chanyeol bersorak gembira dalam hati. Ajaib! Rencana Sang Kuasa memang tidak perlu di ragukan lagi. Chanyeol dapat melihat bagaimana Baekhyun menatap jalinan kecil itu, meski dengan pandangan yang tidak dapat di artikan. Baekhyun tersenyum tipis dan mendekati Chanyeol lagi. Chanyeol membeku melihatnya.

Bagaimana cara menarik perhatiannya?

Baekhyun tersenyum untuknya!!! Baekhyun tersenyum untuknya!!!

Ulangi, B-a-e-k-h-y-u-n… T-e-r-s-e-n-y-u-m… U-n-t-u-k-n-y-a…!!!

 

This night is sparkling,
don’t you let it go
I’m wonderstruck,
blushing all the way home
I’ll spend forever wondering if you knew
I was enchanted to meet you

 

“Apa yang membuatmu terlihat seperti manusia idiot, Park Chanyeol?” Pria berambut pirang yang berada di pojok ruangan kini melipat kedua tangannya seraya menyandarkan bahu kanannya pada tembok. Matanya menatap Chanyeol lekat. Sesekali ia berdecak dan melempar pandangan pada Sehun di dalam ruang peracikan.

“Ia mungkin baru saja cuci otak atau semacamnya, Lu.” Sambut Sehun yang keluar dari peracikan seraya membawa secangkir kopi dan meletakkannya di hadapan Chanyeol. “Espresso tanpa gula sesuai permintaanmu, Park Chanyeol.”

“Apa?” Pemilik nama Luhan tadi membelalakkan matanya, sekali lagi menatap tajam dan tidak percaya kepada Chanyeol. “Setahan apa lidahmu dengan minuman pahit, heh?”

Chanyeol tersenyum menatap kedua rekannya itu, kemudian menyentuhkan bibirnya pada pinggiran cangkir untuk menyesap rasa pahit kopi espresso tanpa gula itu. “Manis.”

Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya, Sehun tersenyum mencibir sedangkan Chanyeol masih tersenyum sepanjang waktu seraya memandangi bebatan perban di telapak tangannya.

“Kalian tahu tidak…” Chanyeol berbicara lagi. “…hal sepahit apapun akan terasa manis untukku saat ini.”

Mungkin jika perban di tangan Chanyeol itu dapat dinikmati, Chanyeol pasti akan berkata perban itu lebih manis dari gula tinggi kalori sekalipun. Luhan dan Sehun terpaku sesaat, mengerjap… mengerjap… hanya bisa mengerjap.

“Aku tidak tahu lagi…” Sehun menepuk keningnya keras-keras seraya melangkah kembali ke dalam peracikan. “Ia benar-benar tidak waras.”

Lalu Luhan, “Kurasa juga begitu…”

 

-oOo-

 

Salju turun lagi. Cukup membuat Chanyeol yang kala itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya, menggigil. Meski sekujur tubuhnya terasa kaku, ada bagian yang tetap terasa hangat menurutnya. Hatinya…
Entah─ akhir-akhir ini suasana hatinya yang sedang membaik atau mungkin hanya karena satu senyuman kemarin?

Chanyeol melangkah sangat ringan, seperti ada per yang berporos di dua kaki jenjangnya. Sesekali ia menendang gumpalan salju di tanah, menyurukkan kakinya lebih dalam disana untuk memberikan efek jejak jejak kaki yang lebih kentara. Perasaannya terlalu bahagia untuk ukuran hal kecil yang baru di dapatnya. Namun itu lah Chanyeol… bahkan pikirannya pun kadang terkesan abstrak.

Chanyeol sedikit menyeringai tatkala kedua kaki ringannya melewati beberapa tempat hiburan malam yang memang mutlak harus ia lewati ketika ia akan pulang. Chanyeol bersenandung tidak perduli. Mengusap lembut perban yang sampai hari ini belum mampu ia lepas. Melangkah lebih cepat. Esok pagi banyak yang harus di kerjakan… termasuk kembali lagi ke rumah sakit untuk menemui Baekhyun. Mengganti perban yang baru─ mungkin?

“Jangan terlalu jual mahal, nak.”

Suara gertakan beberapa pemuda yang tengah menyudutkan seorang pemuda lain terdengar di telinga Chanyeol. Ia melirik sekilas, tubuh-tubuh gempal pemuda dengan tattoo parlente tengah menjahili seorang pemuda di hadapannya. Bukan urusannya, Chanyeol membatin.

“Kau mau kami telanjangi disini? Berikan tasmu…”

Kerumunan itu semakin jahil. Chanyeol masih bersenandung. Pemuda yang di sudutkan berontak mencoba menerobos kerumunan tersebut. Lari. Menabrak Chanyeol. Berhasil. Namun tas pemuda itu juga berhasil di sambar oleh salah satu pemuda di kerumunan itu.

Lain hal, Chanyeol hampir terhuyung karena di timpa tubuh pemuda itu. Ia ingin berteriak marah jika saja ia tidak terpaku lebih dulu oleh paras misterius yang begitu di kenalinya.

“Baekhyun…” Seru Chanyeol lirih tatkala melihat wajah Baekhyun yang begitu rapuh dan ketakutan lalu beralih menatap satu persatu lelaki di kerumunan itu.

“Kembalikan!” Chanyeol mendesis tajam. Menyurukkan tubuh Baekhyun untuk menjauh.

Pemuda-pemuda parlente itu menoleh, memberikan pandangan meremehkan nan menyepelekan. Menyeringai merendahkan, dan yang paling keterlaluan adalah meludah.

“K-e-m-b-a-l-i-k-a-n!”

Tinju Chanyeol melesat tanpa basa-basi besertaan dengan decitan panjang suaranya. Chanyeol tidak pernah berkelahi. Tidak pernah bukan berarti tidak tahu bagaimana caranya bukan? Ketika Pemuda itu balas memukul, dengan satu gerakan gesit Chanyeol mampu menangkap kepalan itu. Memelintirnya hingga salah satunya mengaduh, terjerembab jatuh.

Seketika rusuhlah suasana. Para penghuni tempat hiburan malam berbondong-bondong keluar untuk menyaksikan. Lima lawan satu.

Perkelahian yang jauh dari kata seimbang. Tetapi masalahnya, meski kelima pemuda parlente itu lebih berotot dari tubuhnya, mereka sama saja dengan tukang pukul lainnya; Bodoh dan tidak terlatih. Lupa kalo posisi perkelahian lorong sempit, maka keunggulan jumlah tidak berarti. Chanyeol hanya merasa melawan satu orang.

Tiga menit yang menegangkan berlalu, satu tukang pukul berhasil di pukul mundur, dagunya terkena kepalan tangan Chanyeol, yang lainnya ganas mengambil alih pertandingan. Chanyeol menyambutnya dengan kuda-kuda yang begitu kuat. Tanpa di duganya, salah seorang pemuda mendadak merangsek hendak menikam. Beruntung Chanyeol sempat mengantisipasi meskipun masih menggores lengan atasnya. Chanyeol membalik badan, menghantamkan kepala pemuda pembawa pisau itu tepat pada dinding di belakangnya. Goresan luka di lengannya cukup membuat jiwa bengis seorang Park Chanyeol bangkit.

Bagai seekor elang, Chanyeol menyambar sisa pemuda lainnya yang masih berusaha menjatuhkannya. Ia meninjunya berkali-kali. Lima pemuda tersebut terkapar di jalanan seraya menyeret langkah untuk pergi tunggang langgang dari tempat Chanyeol berdiri.

Chanyeol mendesah panjang, meraih tas Baekhyun yang tergeletak di jalanan kemudian mengembalikan kepada pemiliknya. Baekhyun berdiri kaku di samping tiang lampu. Chanyeol tersenyum, memberikan semacam opsi ketenanangan meski sebenarnya dirinya sendiri juga sedikit pontang-panting tadi.Ia tidak pernah merasa menjadi manusia sekeren ini sebelumnya.

Baekhyun berdiri mematung, sorot mata teduhnya memandang lurus Chanyeol. Chanyeol tertegun, mengulurkan tas yang sedari tadi di genggam. Tapi Baekhyun seperti tidak tertarik lagi dengan tas yang tadi di pertahankannya mati-matian. Justru Baekhyun menyentuh lengan long coat nya yang terbuka tujuh centimeter.

“Ouch…” Chanyeol mengaduh, meringis menahan perih yang baru dirasakannya.

“Kau tidak apa-apa?”

Oh─ apakah Baekhyun cemas padanya? Dari pertanyaan yang di lontarkan seharusnya iya tetapi jika di dengar dari nada bicaranya sepertinya tidak. Tanpa aba-aba Baekhyun mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, kemudian langsung membebatnya di lengan Chanyeol yang berdarah. Chanyeol menahan diri agar tidak lagi mengaduh atau kesakitan di depan pemuda ini. Ia harus tampak sempurna sebagai lelaki sejati. Dengan satu gelengan penuh perhitungan Chanyeol berkata, “Aku tidak apa-apa.”

“Kau yakin? Wajahmu juga…” Baekhyun menjulurkan kedua tangannya menangkup pada wajah Chanyeol, menyentuh tulang pipi yang membiru.

“Ouch…” Chanyeol terpejam sebentar dan reflex menarik pergelangan Baekhyun menjauh dari wajahnya. Kini kedua tangan itu bersentuhan. Kulitnya dan kulit Baekhyun bersinggungan. Memang bukan untuk yang pertama kalinya, namun… sentuhan itu mampu membuat tubuh tegap Chanyeol membeku detik itu juga. “A-akan ku obati sendiri di rumah nanti. Tidak apa-apa.”

Perasaan yang tidak dapat di jelaskan dengan kata-kata timbul dalam dadanya. Hal yang membuatnya merasakan perasaan gembira dan sesak nafas dalam satu waktu yang bersamaan. Sesuatu yang meletup-letup… seperti ada kupu-kupu kecil menari dalam perutnya.

Mata Chanyeol sempurna menatap Baekhyun, seolah ingin menyelami kedalaman pribadi Baekhyun. Chanyeol merasakan pikirannya terbang tak tahu dimana, sekali lagi menikam hati Chanyeol dengan tajamnya pisau pesona dirinya.

Baekhyun mengerjap. Bergerak di balik genggaman Chanyeol, membuatnya segera tersadar akan suasana kikuk yang tercipta.

“Ma’af.” Ucap Chanyeol seraya mengusap belakang telinga.

Baekhyun hanya terdiam. Lagi, sempurna terdiam. Ia meraih tas yang sedari tadi masih di genggam Chanyeol. Sekali lagi Chanyeol menelan ludah.

“Aku harus pulang─” Katanya. Lalu melangkah ringan tanpa menghiraukan Chanyeol. Tanpa seuntai kata terima kasih atau ucapan lainnya. Tanpa perduli bagaimana gelisahnya hati Chanyeol.

Chanyeol mendesah nafas kecewa, meniup-niup poninya yang menjuntai. Benar-benar membalikkan badannya, berusaha meninggalkan harapan yang mulai tergantung lebih tinggi. Di saat itu pula ia mendengar, desahan pelan dari bibir Baekhyun.

“Bisakah─” Desahan pertanyaan dari mulut Baekhyun. “─kau mengantarku pulang?”

Pertanyaan yang dapat diartikan sebagai sebuah permintaan. Ya Tuhan! Mimpi apa Chanyeol semalam. Sumpah! Tuhan mengabulkan doa-doanya selama ini. Sungguh! ia harus berterimakasih kepada pemuda-pemuda parlente tadi. Jika perlu membayar membelikan lollipop candy berukuran besar untung masing-masing mereka.

 

-oOo-

 

“Darimana kau mengetahui namaku?” Baekhyun bertanya kepada lelaki tegap disampingnya, mengajak Chanyeol berbicara karena sedari tadi mereka berjalan di sertai keheningan.

“Eh?” Chanyeol memutar cepat kepalanya kearah pemuda yang lebih pendek darinya. Baekhyun membalas dengan tatapan yang berarti ‘kenapa melihatku?’ dan ‘apa pertanyaanku salah?’ lalu ‘ayo jawab?’. Chanyeol hanya meringis, memajang wajah tanpa dosa.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Lembut, hal itu yang ada di pikiran Chanyeol ketika mendengar Baekhyun berbicara. Bahkan sepertinya gula kapas pun tidak akan bisa menandingi kelembutan suara Baekhyun. Kata-kata tiba-tiba berputar begitu saja dari mulutnya, seperti orang bodoh. “A-aku pernah berdiri di belakangmu ketika kau memesan kopi di Holly’s Coffee dan ketika itu kau menyebutkan namamu untuk catatan pemesanan.”

“H-holly’s Coffee?” Dahi Baekhyun berkerut tajam, memusnahkan aura misterius yang semenjak tadi terasa menyelubunginya. Jari telunjuknya di ketuk-ketukkan di dagu. “Sepertinya aku tidak pernah kesana.”

Kini Chanyeol yang mengerutkan kening, menghilangkan jarak antara alis satu dengan alis yang lainnya. “Hya… jangan bercanda. Holly’s coffee itu rumah kopi yang sering kau datangi tiap jam sembilan pagi dan kau akan meninggalkan tempat tersebut setiap jam sepuluh pagi. Tidak mungkin kau tidak pernah kesana.”

Baekhyun mengangkat pandangan ke arah Chanyeol, mengerjapkan kelopak matanya. “Lalu kau bertemu denganku di tempat itu juga?”

Chanyeol mengangguk mengiyakan. Baekhyun menggumam dalam, wajahnya memunculkan indikasi ia sedang memutar otaknya untuk mencari secarik ingatan yang di bicarakan Chanyeol baru saja. Chanyeol turut berfikir. Sedikit merasa heran dengan tingkah Baekhyun. Bagaimana mungkin seseorang lupa dengan kebiasaannya sendiri? Tapi… bukankah Baekhyun akhir-akhir ini juga sudah tidak pernah terlihat mengunjungi café itu lagi? Jangan berprasangka buruk, Park Chanyeol.

“Apa aku tahu namamu?” Tanyanya lagi.

Chanyeol menggeleng keras. “Kita bahkan belum pernah bercengkerama. Ini adalah pertama kalinya.”

Baekhyun mengangguk, membentuk huruf o pada mulutnya. Menghentikan langkahnya mendadak, mengulurkan tangan kepada Chanyeol untuk dijabat. Chanyeol mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, memandang tangan terjulur itu… bergantian dengan wajah Baekhyun yang begitu nampak penuh teka-teki. Mulutnya terbuka lebar ketika sekali lagi Baekhyun mengedikkan tangan kearahnya.

“Ini… Ng─ maksudku… Apa─”

“Kau bilang ini pertama kali bukan─” Potongnya sekaligus menjadi penjelasan atas apa yang menjadi pertanyaan di otak Chanyeol sesaat lalu. “─namaku Byun Baekhyun.” Ujarnya lagi seraya tersenyum tipis.

Hampir saja Chanyeol menjatuhkan dagu ketika Baekhyun mengucapkan namanya. Seseorang tolong artikan yang di ucapkan Baekhyun. Ajakan berkenalan? Itu artinya ia berkenan untuk membiarkan Chanyeol mengenalnya lebih jauh. Oh Tuhan─ kejutan apa lagi ini? Ataukah Chanyeol yang terlalu berlebihan?

Baekhyun masih menjulurkan tangannya dan juga mengharap balasan jabat tangan Chanyeol. Baekhyun mengharap jabat tangannya? Chanyeol menelan ludah tidak tahu harus berbuat apa selain menggerakkan tangan kanannya menjabat jemari lentik yang mengambang itu dengan kaku. “Aku Chanyeol. Ng─ Park Chanyeol.”

Pertautan yang terjadi kesekian kalinya ini seperti memberikan imbas yang merusak fungsi kerja otak Chanyeol. Dirasanya kupu-kupu kecil kembali menari di areal perutnya, menggelitik dan memberikan rasa kegelian. Keadaan sekitar berubah menjelma menjadi satu padang rumput yang luas, dimana hanya ada dirinya dan Baekhyun yang menjadi pengisinya, keduanya berlarian saling bertautan tangan. Iris mata hitam itu yang dilihatnya, Chanyeol sempurna terpesona olehnya.

“Halo?” Baekhyun menggoyangkan tangannya yang bebas di hadapan Chanyeol. Chanyeol terkesiap dan menggeleng pelan.

“Eh─ Oh─ Ma’af. Kau mengatakan apa tadi?”

Baekhyun terkekeh melihat wajah konyol Chanyeol. Sepertinya sorot misterius itu akan menghilang ketika Baekhyun tersenyum.

“Kita sudah sampai. Jadi bisakah kau lepas tanganku?” Ujarnya masih dengan nada yang selembut awan di langit.

Chanyeol sekali lagi terkesiap, segera menarik tangan dan membentuk senyum kaku kepada Baekhyun. Ia mengusap belakang lehernya seraya menyapukan pandangan pada sekitar. Gedung apartemen yang hampir sama dengan apartemen yang di tempatinya. Hanya berbeda warna dan tingkat saja.

“Kau tinggal disini?”

Baekhyun mendongak kesamping, turut mengikuti arah pandang Chanyeol. “Mmm, lantai dua nomor 09.”

Chanyeol menggumam dalam. Lalu, “Masuklah!” Perintahnya.

Baekhyun mengangguk, ia memutar badan namun sedetik kemudian ia kembali menghadap Chanyeol.

“Park Chanyeol…” Panggilnya masih dengan penuh kelembutan. Chanyeol hanya mengangkat kedua alisnya sebagai jawaban.

“Terima kasih─” Ia memberikan jeda, lagi. “─terima kasih telah menolongku malam ini.” Ia mengangkat pandangan menatap tepat pada manik Chanyeol. “Aku─ senang berkenalan denganmu.” Terhenti lagi. “Selamat malam.”

Chanyeol tanpa sadar menahan nafas nya tatkala kalimat panjang itu meluncur ringan dari bibir indah Baekhyun. Oh ibu─ kebaikan apa yang telah Chanyeol lakukan di masa lampau? Mungkinkah ia seorang ksatria pembela kebenaran? Sampai-sampai di kehidupan masa kini keberuntungan terus mengalirinya. Chanyeol membalas dengan satu senyuman dan satu anggukan kecil. Lalu membiarkan tubuh kecil itu berlari-lari kecil menyusuri jalanan batu granit menuju tempat tinggalnya. Masih menatap dengan intens pada punggung Baekhyun, menyusuri setiap pergerakan yang di lakukan oleh lelaki bermata teduh itu.

Tepat setelah Baekhyun sampai di lantai dua, mungkin di depan kamarnya, Baekhyun menyempatkan untuk menengok kebawah. Chanyeol yang menyadari itu segera melambaikan tangan kirinya sampai siluet pemuda itu menghilang di balik pintu apartemennya.

“Senang berkenalan denganmu juga─” Mendesah bahagia.“─Baekhyun-ah.”

Lagaknya telah lupa dengan rasa sakit yang seharusnya masih bercokol di lengan kanannya.

 

This is me praying that
This is the very first page
Not where the story line ends
My thoughts will echo your name
Untill I see you again
These are the words I held back
As I was leaving too soon
I was ENCHANTED to meet you

 

-oOo-

 

Sukses?

Chanyeol sama sekali tidak tahu menahu bagaimana ukuran sukses atau tidaknya sebuah hubungan. Hanya saja hubungan Chanyeol dan Baekhyun berkembang begitu aneh namun di sisi lain juga menyenangkan. Bahkan dalam satu hitungan waktu Chanyeol telah bersumpah akan menjaga Baekhyun sekuat dan semampunya. Sampai titik darah penghabisan. Berlebihankah? Oh─ tentu tidak. Ia hanya melakukannya seperti teori dalam buku percintaan remaja.

Sukses?

Pagi ini, Chanyeol mendongak menatap butiran-butiran salju putih yang membentang mendominasi seluruh mata pandangnya. Dinginnya? Tidak perlu ditanya. Masih sama menembus raganya. Buku-buku jari kakinya mulai terasa hambar. Chanyeol kedinginan. Tentu saja.

Sudah hampir satu jam ia berdiri di depan sebuah apartemen di lantai dua dengan nomor 09, tanpa tahu harus melakukan apa. Berkali-kali ia menggerakkan jemarinya hendak menekan bel atau sekedar mengetuk pintu besi tersebut, namun berkali-kali itu pula ia mengurungkannya.

Benar kata orang, “Asmara adalah bahaya yang menyabotase seluruh tingkah dan laku seseorang.”

Chanyeol benar-benar dalam tingkat bahaya akut karena asmara telah menyabotase segala hal yang hendak di lakukannya, menjadi urung, tak mampu atau tidak jadi. Bahkan kebas itu mulai menjalar sampai ke betisnya sedang yang di lakukan Chanyeol hanya berdiri kaku termangu menatap warna pintu besi yang mulai terkelupas seraya memasang telinganya baik-baik ─barangkali ia mendengar sesuatu.

Sukses?

Chanyeol harus setidaknya mengetuk pintu itu.

Sekali saja…

Atau membunyikan bel yang bertengger di pinggir pintu.

Sekali saja…

Apa sulitnya? Tapi bagaimana jika Baekhyun membuka pintu ketika ia menekan bel atau mengetuk pintunya? Apa yang harus dikatakannya? Bagaimana harus memulainya?

‘Hai, sedang sibuk ya? Ma’af mengganggu. Bisakah kau─’ Oh tidak itu terlalu formal. ‘Selamat pagi! Sedangapa?’ Tidak! Tidak! Itu terlalu mainstream. Chanyeol butuh kata yang sederhana untuk dapat menemaninya melakukan segala aktifitas bersama. That’s it.Ia mencengkeram erat kamera lensa rangkap yang bertengger di lehernya, memejamkan mata sejenak dan menghela nafas dalam-dalam.

“Selamat pagi! Pagi ini kau tampak luar bi─” Pintu di hadapannya tiba-tiba terbuka tanpa di duganya, tepat ketika Chanyeol hendak menyuarakan percobaannya untuk menyapa, Baekhyun telah berdiri di depan Chanyeol dan menyuguhkan pandangan yang sulit sekali di artikannya. “─asa.”

Chanyeol menjatuhkan jantungnya di tempat. Kelopak matanya sempurna terbuka. Ia yakin wajahnya saat ini tidak ada bedanya dengan tomat merah asli Korea. Ia sudah kepalang basah. Ia sudah terlanjur berenang, hanya ada dua pilihan; tenggelam di tengah atau melanjutkannya sampai akhir. Chanyeol memilih opsi yang terakhir. Ia lalu mengangkat satu tangannya, menyapa.

“Hai!”

“Oh, Hai!” Balasnya datar, memandang aneh pada sosok Chanyeol yang tak ada angin tak ada hujan (hanya salju) berdiri di depan pintunya tiba-tiba.

“Kau euungh─ mau kelhuhar? (Kau mau keluar?)”

Baekhyun mengerutkan kening tatkala mendengar Chanyeol berbicara setengah menggigil. Ia mengalihkan pandangan pada kedua kaki Baekhyun yang terbungkus celan jeans kaus kaki dan sepatu. Kedua kaki tersebut bergetar. Oh─ astaga!

“Ma─suklah.”

Chanyeol tersuruk-suruk menurut.

Menit berlalu sejak Baekhyun menyuruh Chanyeol memasuki apartemennya. Chanyeol tidak sempat memperhatikan apapun di dalam ruangan yang lumayan besar itu, karena ia terlalu sibuk mengatasi kakinya yang semakin gemetar. Ia langsung duduk dan merasakan hangat di bagian bawah tubuhnya.

“Berapa lama kau berdiri di luar sana?”

Suara Baekhyun terdengar dalam menit selanjutnya, Chanyeol menoleh menatap arah suara itu berasal. Ia tidak dapat menemukan siluet Baekhyun, hanya suara berisik dan sedikit gemericik air dari arah dapur yang dapat di pastikannya.

“Beberapa menit─” Gigi Chanyeol gemeretak, menggigil lagi. “─yang lalu.”

Baekhyun muncul dari arah dapur, satu tangannya membawa baskom berisi air hangat dengan asap mengepul sedang tangan yang satu lagi menggenggam secangkir coklat panas.

“Benarkah?” Ujar Baekhyun tampak seperti menyelidik. “Beberapa menit dapat membuat kakimu bergetar sekeras itu?”

Baekhyun meletakkan baskom berisi air hangat tersebut tepat di hadapan kaki Chanyeol, memegang pergelangan kakinya sebagai perintah agar Chanyeol memasukkan kakinya kedalam air di baskom tersebut. Justru getaran keras di tubuh Chanyeol bukan di sebabkan oleh dinginnya cuaca, akan tetapi oleh perilaku Baekhyun yang sangat manis.

Bukan hanya itu, Baekhyun juga menyerahkan cangkir yang di genggamnya kepada Chanyeol. Ia merasa seperti seorang kepala rumah tangga yang sedang di layani istrinya. Oh betapa indahnya dunia… Tanpa basa-basi, tanpa tahu rasa malu, Chanyeol segera meraihnya kemudian menyesap isinya sebanyak-banyaknya dan menyisakan setengah gelas untuk menghangatkan buku-buku jarinya.

“Hhh~” Chanyeol mendesah lega karena kehangatan sedikit demi sedikit menjalari tubuhnya dan mungkin otaknya juga bisa sedikit meleleh. Mungkin…

“─Jadi bagaimana?”

Chanyeol mendongak menatap Baekhyun yang berdiri melipat kedua tangannya menunggu jawaban dari pertanyaan tidak langsungnya. Chanyeol meletakkan cangkirnya di atas meja nakas.

Kemudian, “Errr─ sebenarnya sudah sejak satu jam yang lalu.” Membingkai senyum mengembang dengan rasa gugup.

Baekhyun seketika menutup mulutnya menahan tawa, ia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berjalan memasuki suatu ruangan. Chanyeol hanya mengatupkan mulutnya, memasang wajah bodohnya lagi.

“Lalu bagaimana denganmu?” Chanyeol sedikit berteriak. “Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu hari ini?”

Sedetik berlalu tanpa jawaban.

“Iya dan tidak─” Menggantung. “─ iya pada awalnya dan tidak setelah kau datang.”

Chanyeol tertegun, merasa sedikit bersalah karena sepertinya ia telah mengganggu kegiatan pemuda pemilik surai coklat tua tersebut. “S-sebenarnya aku ingin mengajakmu berkeliling.”

Park-Chan-Yeol-apa-yang-sudah-kau-ucapkan-baru-saja-eoh? Ajakan kencan dengan modus edisi terbaru? Sepertinya…

“Tapi tampaknya aku membuatmu terganggu, mungkin lebih baik aku pulang saja.”

Detik berikutnya, pemuda itu muncul dari ruangan yang sama dengan membawa segenggam kuas lukis yang ujungnya telah tercoreng-moreng oleh warna-warni cat. Memandang Chanyeol yang menepuk-nepukkan kedua kakinya agar air tidak menetes kemana-mana.

“Aku bercanda…” Ujarnya seraya berjalan lagi dan memasuki ruangan lainnya ─yakni dapur. Chanyeol terdiam menunggu, suara gemericik air kembali terdengar, sepertinya Baekhyun tengah mencuci kuas-kuas tersebut. “…aku tidak menyukai udara dingin yang begitu menyengat.”

Baekhyun muncul lagi dari ruangan tersebut, meraih kain lap yang terletak di buffet kaca di sudut ruangan. “Tadinya aku berfikir untuk pergi ke beberapa tempat hari ini, tapi setelah aku membuka pintu dan memastikan sendiri cuacanya, ku urungkan saja. Sepertinya cuaca tidak bersahabat denganku. Terlebih setelah melihatmu yang menggigil begitu berdiri di depan pintu walau hanya beberapa─ menit.”

Chanyeol mengatupkan bibirnya sempurna, memutar kedua bola matanya, mengerling kepada lelaki yang tengah menyeringai di hadapannya. Ia tahu nada bicara Baekhyun menyuguhkan intonasi mengejek kepadanya. Tapi sudahlah… bahkan ejekan pun akan terasa sebagai pujian jika keluar dari mulut Baekhyun.

“Omong-omong─ kenapa aku sama sekali tidak melihat foto keluargamu disini?”

Pertanyaan tiba-tiba Chanyeol sontak membuat pergerakan tubuh Baekhyun terhenti. Ia terkesiap dan mengalihkan pandangan ke arah Chanyeol. Tatapannya kembali sama seperti yang Chanyeol lihat ketika mereka bertemu di Holly’s Coffee. Tatapan angkuh dan misterius bergulat menjadi satu bentuk yang terkadang tampak mengungkung kesedihan. Chanyeol tidak menyadari, ia berkutat dengan cangkir coklat panasnya.

Baekhyun mengalihkan pandangannya, kemudian menunduk sebentar melanjutkan pekerjaannya merapikan ruangan. “Aku tidak ingin.”

“Lalu dimana keluargamu tinggal?”

Baekhyun terdiam memandang kuas-kuas yang tengah ia keringkan di tangannya. Sejenak ia meraih kuas-kuas itu kemudian membiarkannya terbungkus kain lap.

“Bukankah─ kau ingin mengajakku pergi?”

Sukses?

Pertanyaan Baekhyun itu seketika menyentakkan Chanyeol, bahwa ia telah bertanya terlalu jauh kepada pemuda yang notabene baru saja di kenalnya itu. Meskipun pada kenyataannya Chanyeol sudah tahu mengenai  keberadaan Baekhyun sejak lama, tapi tidak untuk Baekhyun. Baekhyun baru saja berbaik hati mengajak Chanyeol berteman. Chanyeol bergumam rendah, menarik kakinya dari baskom. Mengeringkannya di karpet kering yang tersedia di sampingnya.

Sukses?

Guess what?

 

-oOo-

 

Dua pemuda itu duduk berdampingan di salah satu ranjang pesakitan di sebuah bangsal anak-anak. Suara riuh menguar dari mulut-mulut riang penghuninya. Bocah-bocah tanpa dosa yang masih tidak memahami dengan betul apa yang menjadikan mereka terbaring di tempat ini. Tapi meskipun begitu, senyuman tidak pernah berkurang dari bibir mereka. Celotehan bahagia selalu saja mampu menghipnotis seluruh manusia dewasa yang berada di dekatnya.

Baekhyun menggoreskan tinta pada kanvas putih di hadapannya sambil sesekali tertawa kecil, menggoda para penghuni bangsal yang sepertinya tidak pernah kenal lelah untuk tertawa. Gigi pemuda itu berderet rapih, seiring dengan senyumannya yang mengembang. Chanyeol mengulum senyum tipis melihat kebahagiaan itu. Terlebih Baekhyun ambil bagian dari tawa riang mereka. Chanyeol merasa detik ini juga Tuhan menobatkan dirinya sebagai manusia paling beruntung di dunia.

Tanpa pikir panjang Chanyeol menggerakkan kedua tangannya meraih kamera lensa rangkap yang sedari tadi belum sempat ia gunakan. Tidak ingin melewatkan kesempatan emas seperti ini dalam hidupnya. Ia kemudian bersiap menemukan angle yang tepat untuk memotret.

Lalu, klik!

Cahaya lampu flash menyebar ke seluruh penjuru, membuat objek bidikannya menoleh sekilas kemudian tersenyum padanya. Hati Chanyeol seolah mencelos di buatnya, bukan karena senyumnya… melainkan Chanyeol baru saja menyadari sesuatu yang seharusnya di sadarinya sejak lama. Mata Baekhyun itu bukan terbentuk misterius, melainkan memancarkan keheningan yang teduh namun juga keheningan di waktu yang sama. Air wajahnya melukiskan kegembiraan namun di sisi lain terdapat kesenduan yang tidak dapat di ungkapkan. Bibirnya mungkin tersenyum, namun sekali lagi Chanyeol dapat mengoreksinya dengan benar… senyum itu hampa.

Kembali Chanyeol mengarahkan lensa kameranya ke arah segerombolan anak manusia di hadapannya. Tidak ingin terlalu menitik beratkan pada praduga anehnya. Ah, bukankah setiap manusia memiliki masalahnya masing-masing? Bukankah setiap manusia memiliki kesedihannya masing-masing? Jadi untuk apa risau… selama masih bisa tersenyum. Maka tersenyumlah!

Chanyeol masih terus saja sibuk dengan hal-hal yang dapat di jadikan objek menarik untuk di abadikan dalam kameranya. Sehingga ia sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang di sampingnya. Ia juga tidak menyadari bahwa seseorang yang sempat menjadi objek utamanya itu telah lenyap dan mengambil posisi duduk di satu ranjang yang tadi juga di tempatinya.

“Aku tidak tahu bagaimana kau bisa mengajakku kemari.” Baekhyun berbicara.

Chanyeol tersenyum tipis di balik kamera yang masih menutupi wajahnya. Tidak menoleh sedikitpun karena ia tidak ingin kehilangan momen berharga ini. “Asal kau tahu saja, aku bisa membaca pikiranmu dengan baik dan tepat.”

“Begitu ya?” Baekhyun berdecak, mengernyit heran, bertanya mengejek laluberanjak dari ranjang mendekati kotak kecil yang terdapat di meja nakas kemudian kembali duduk di tempat yang sama. “Omong-omong bagaimana lukamu?”

“Kurasa baik-baik saja. Masih bisa berfungsi dengan normal meski sedikit sakit jika kugunakan untuk mengangkat sesuatu. Oh sial─” Chanyeol bergumam rendah, sedikit mengumpat atas kekeliruannya menekan salah satu tombol otomatis di kameranya.

“Syukurlah…”

Baru saja Chanyeol hendak memotret salah satu anak yang tengah melompat dan melayang dengan keceriaan tulus terpampang di wajahnya ketika ia merasa sesuatu menggelayuti lengannya, menariknya mundur beberapa langkah lalu terhempas duduk kembali di ranjang pesakitan. Chanyeol menurunkan kamera yang menutupi setengah wajahnya, terpaku sesaat, mengetahui bahwa yang baru saja menarik lengannya adalah tangan Baekhyun. Lagi-lagi hati Chanyeol mencelos, termangu menatap jemari lentik Baekhyun yang menyentuh kulitnya.

“Tapi setidaknya─” Baekhyun tidak menghiraukan tatapan Chanyeol, seolah terfokuskan hanya pada pikirannya sendiri. Ia menyingsingkan lengan kemeja Chanyeol, terhenti sampai ia menemukan sapu tangan berwarna biru dongker miliknya yang membebat luka sayatan di dalamnya. “─biarkan aku menggantinya dengan perban.”

Jackpot! Chanyeol berbohong tentang ia dapat membaca pikiran Baekhyun. Bahkan untuk hal sepele seperti ini, ia sama sekali tidak dapat menduganya. Justru sepertinya Baekhyun lah yang dapat membaca pikirannya. Ia tidak pernah berpikir untuk mengganti sapu tangan yang ada di lengan kanannya dengan perban atau apapun, bekas sayatan luka itu ia biarkan basah, agar ia selalu teringat akan keberhasilannya menyelamatkan sang pujaan hati. Tapi sungguh, Chanyeol tidak menduga bahwa Baekhyun akan mengetahuinya. Apakah tampang chanyeol begitu mudah di baca? Oh, ia berharap Baekhyun akan membaca mimik wajahnya yang begitu memujanya…

Okay─ Park Chanyeol─ Minum obatmu.

“Sepertinya kau sering terluka ya?” Baekhyun bertanya seraya mengarahkan pandangan ke arah luka lain di telapak tangan Chanyeol. Seolah meminta Chanyeol untuk menjelaskan lebih rinci kisah apa yang terjadi di balik luka itu.

“Eh… ini?” Chanyeol menelan ludah, berpikir cepat. Tersenyum menyeringai. “Luka ini kudapatkan ketika tiba-tiba jiwaku melayang ke tempat yang lain. Mengikuti seseorang…”

Astaga?????? Darimana Chanyeol mendapatkan keberanian mengatakan hal itu? Benar memang kata bijak itu, terkadang urusan asmara dapat membuat seorang pandir menjadi seorang pujangga, begitu juga sebaliknya.

Baekhyun berhenti sejenak, memandang Chanyeol dari jarak yang begitu dekat, kemudian kembali meneruskan membalut lengan Chanyeol seraya menyunggingkan senyum tipis. Tidak kentara. Tapi Chanyeol berhasil membeku lagi dibuatnya.

“Apa jiwa mu juga tengah melayang saat ini?”

Chanyeol menggeleng keras. “Sempurna… jiwaku sempurna disini.”

Oh─ siapapun tolong Chanyeol. Dalam sekejap ia bisa berubah menjadi Jalaluddin El-Rumi jika terus saja berada di dekat lelaki ini. “Apa kau perawat?”

“Bukan.”

“Dokter?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Baekhyun meraih tangan kanan Chanyeol yang juga terbebat perban, menggantinya seperti yang ia lakukan sebelumnya. Kemudian memotong ujung perban lalu mengikatnya. “Aku bukan siapa-siapa.”

Chanyeol sempurna terdiam. Lebih tepatnya semakin terpesona. Entah apa yang terjadi… seperti ada benda kasat mata yang mengikat aura lelaki itu dalam sekali di palung hatinya.

“Anak-anak itu…” Baekhyun kembali berbicara, membenarkan posisi duduknya, memandang lurus ke arah anak-anak yang sibuk dengan dunia masing-masing. “…begitu manis ya? Bahkan di tengah-tengah ketidaktahuan tentang bahaya yang mengancam hidup mereka. Lihat! Seperti tanpa beban mereka tersenyum!”

Chanyeol tetap tidak lepas memandang Baekhyun, meski Baekhyun menyuruhnya untuk mengikuti arah pandangnya. Menurutnya, senyum Baekhyun kali ini begitu menawan hatinya. Tidak ada unsur hampa, misterius atau di paksakan, hanya tulus… Baekhyun memang ingin tersenyum seperti itu.

Entah kenapa─ perasaan Chanyeol tergerak untuk kembali mengabadikan momen dengan kameranya. Lalu ia pun menempelkan kamera lensa rangkapnya menutupi sebagian wajahnya. Menghabiskan waktu satu detik sebelum akhirnya siluet Baekhyun yang sedang tersenyum tulus itu benar-benar abadi di dalam kameranya.

“Hey~” Baekhyun menoleh protes. “Berani-beraninya kau!!! Berikan kameranya…”

Chanyeol reflex menjauhkan kameranya dari tubuhnya, rupanya Baekhyun sedikit tidak terima jika Chanyeol mengambil fotonya diam-diam. Tapi tahukah Baekhyun jika ini bukan yang pertama kalinya? Chanyeol berlari menghambur pada anak-anak yang tengah asyik bermain, berusaha berlari sejauh mungkin dari Baekhyun yang ingin merampas kameranya. Ia bersembunyi di balik punggung salah satu bocah, di hadapannya telah berdiri Baekhyun dengan ancang-ancang yang seakan seperti harimau yang menemui mangsanya.

“Ambil saja jika kau bisa…” Chanyeol menjulurkan lidah, membuat Baekhyun tersenyum sebal. Baekhyun berlari memutar, mengulurkan tangannya agar dapat meraih kamera di tangan Chanyeol, na’as… lengan Baekhyun terlalu pendek untuk hal itu.

Chanyeol terus berlari, Baekhyun terus mengejar. Sesekali keduanya tergelak, sesekali memberengut. Sesekali tertawa, sesekali melirik sebal. Sesekali mengerling, sesekali mengerucutkan bibir.

Bahagiakah…?

 

-oOo-

 

Sejak hari itu… Chanyeol seperti tidak pernah terlupa untuk menemani Baekhyun melakukan apapun. Sekali lagi hubungannya dengan Baekhyun berkembang dengan amat sangat, sangat, sangat dan sangat aneh.

Tidak seperti yang di pikirkannya, Baekhyun sebenarnya memiliki sisi yang hangat meski masih sangat terkesan misterius. Begitu banyak percakapan yang terjalin di antara mereka, meski hanya sebatas permukaan saja. Tetapi Chanyeol tetap merasa bahagia, mengetahui bahwa ternyata Baekhyun seringkali kesulitan tidur malam, Baekhyun suka sekali memasak karena ia begitu mudah lapar, Baekhyun mampu menghabiskan satu kotak besar coklat Rochě Rodin tanpa bantuan siapapun, dan satu yang membuatnya sering tertawa… Baekhyun seperti sering lupa akan hal-hal yang baru saja terjadi. Baekhyun pernah berkata dikala Chanyeol mengejeknya tentang sifat pelupanya.

“Aku punya satu julukan untuk otakku… Ingatan tiga menit. Tiga menit mengingat, tiga menit pula terlupa.”

Chanyeol seketika tidak dapat menghentikan tawanya mendengar hal itu, meskipun ada nada parau dalam suaranya ketika berbicara tentang hal itu. Namun Chanyeol tidak begitu ambil pusing. Begitulah manusia yang di ciptakan dengan segala kekurangannya. Menurutnya, Baekhyun hanyalah orang yang tidak begitu respect terhadap masalalunya dan begitu antusias terhadap masa depannya. Terbukti ketika Chanyeol bertanya tentang siapa orang tuanya, apakah ia memiliki saudara, kenapa ia tidak bersekolah, kenapa ia hidup sendiri… ia akan menjawab dengan satu jawaban pasi yakni; Tidak Tahu. Namun sebaliknya, jika ia ditanyai akan melakukan apa selanjutnya, ia akan sangat kelewat antusias. Hanya itu saja.

Meski sedikit aneh pada kenyataannya, tapi entahlah.

 

“Jadi hari ini… aku harus mengantarmu kemana?” Chanyeol berbicara dengan seseorang yang tak nampak wujudnya di seberang sana. Kedua tangannya bergerak lincah membersihkan perkakas yang berhubungan dengan kameranya, di sela sela antara telinga dan bahunya terjepit sebuah smartphone kecil berwarna hitam.

“Baekhyun!” Ulang Chanyeol memanggil nama pemuda yang di telfonnya. Pemilik nama itu hanya menggumam tidak jelas, sesekali terdengar gemerutuk suara, seperti sedang mengunyah sesuatu dari bibir Baekhyun. “Jangan katakan kau sedang berada di gerai Rochě Rodin sekarang.”

“Oh, Chanyeol, coklat ini terlampau lezat untuk tidak kunikmati setiap harinya.” Baekhyun terkekeh di seberang sana. “Beri aku beberapa menit untuk menghabiskan semua ini.”

Chanyeol memutar bola matanya, menggumam rendah. Meski ia hanya bertegur sapa lewat maya, namun Chanyeol sangat tahu, Baekhyun selalu membeli tiga kotak coklat Rochě Rodin ukuran medium, kemudian menelannya seperti seseorang kasmaran yang sedang bercumbu dengan pasangannya. “Ey~ kau bisa diabetes jika serakus itu memakan coklat.”

“Ucapanmu lebih mirip seperti ahjumma penjual sup iga babi di depan rumahku─Chanyeol.” Baekhyun berbicara sambil mengunyah coklat, terdengar jelas di ponsel. “Cerewet sekali.”

“Oh-ho!” Chanyeol mendongakkan dagunya seolah dapat melihat wajah Baekhyun yang tengah mengernyit sebal. Lalu menyunggingkan senyum bahagia. “Thank you very─much, Mr.B.”

“B? Apa itu?”

“Menurutmu?”

“Ey~ B meansalot Chanyeol.”

Tersenyum menyeringai, Chanyeol menghentikan kegiatannya, menggenggam ponselnya dengan tangan kiri kemudian mendekatkan ponsel kemulutnya. “B… Bodoh.”

Chanyeol seratus persen dapat membaca ekspressi yang terpasang di wajah Baekhyun, sesekali ia mendengar decakan kesal dari sana. Ia baru saja akan berbicara lagi ketika suara denting halus bel apartemennya berbunyi. Ia mengerutkan kening, bertanya tanya dalam hati. Siapa jam segini datang ke apartemennya?

Ia mengurungkan niat untuk berbicara, beranjak dari kursinya mendekat pada pintu. Seolah memperagakan adegan dengan speed lambat, Chanyeol membuka pintu tersebut. Betapa kagetnya ia ketika ia sudah mendapati sosok yang tengah di hubunginya sudah berdiri berkacak pinggang di hadapannya kini.

“Baekh─ Aack!!!” Chanyeol belum sempat selesai menyebutkan nama Baekhyun, ketika tiba-tiba Baekhyun menendang tulang kering kaki kirinya. Chanyeol mengaduh, mengangkat sebelah kakinya dan menahannya dengan kedua tangannya. Sakitnya menyengat, menjalari sekujur tubuhnya. Seseorang tidak akan pernah berfikir bahwa Baekhyun yang seringkali tidak memiliki ekspressi ini bisa menendang sekuat Kapten Tsubasa.

“Itu adalah balasan kau mengataiku bodoh─ Tuan P…” Baekhyun memandang lurus manik Chanyeol, menyipitkan matanya yang sudah sipit menjadi semakin sipit. “…Pabo!!!

Chanyeol meringis masih menahan sakit, meletakkan jari telunjukknya ke belakang lehernya, menggaruk-garuk sesuatu yang sebenarnya tidak gatal disana. Tatapan membunuh masih di layangkan oleh lelaki berparas sedikit feminis di hadapannya.“Aku hanya bercanda.”

Baekhyun menarik panjang nafasnya, mengusap sisa-sisa coklat yang masih lengket di bibirnya. “Aku ingin kuliner saja hari ini, tidak ingin kemana-mana.” Gumam Baekhyun seraya memasukkan potongan coklat terakhirnya. Ia meremas bungkus coklat itu dan melemparkannya ke dalam tong sampah. “Threepoint.”

Chanyeol mengulum senyum, mengangguk perlahan. “Okay─ dimana?”

Baekhyun menelan kasar coklatnya sebelum tersedak karena berbicara, kemudian mengangkat satu tangannya yang sejak tadi menggenggam satu plastik besar buntalan berisi bahan makanan dan saudara-saudaranya. “Jjaannn… Aku akan memasak─ disini.”

Chanyeol mengerjap-ngerjapkan mata. Sudah berapa kali laki-laki ini membuat jawaban yang sama sekali tidak di duganya? Baekhyun benar-benar orang yang sulit di tebak. “Me-ma-sak-di-si-ni???”

Baekyun mengangguk bangga. “Aku akan memasak bulgogi di sini.”

Chanyeol melipat mulutnya kedalam, berusaha berhenti merasa heran dengan setiap ucapan Baekhyun yang tidak terduga. Menghela nafas, tidak ada hal lain yang bisa di lakukannya selain menuruti permintaan Baekhyun.

“Baiklah~ Terserah kau saja.”

 

-oOo-

 

“Kau benar-benar pintar memasak ya?”

Chanyeol bertanya di sela-sela Baekhyun yang tengah meramu resep dengan tangannya yang terlatih. Baekhyun tersenyum lebar tanpa menoleh, seolah memusatkan seluruh pandangannya penuh pada masakan di hadapannya. “Tentu saja.”

Chanyeol mencibir, mendesis pelan. “Tapi aku masih meragukan makanan ini bisa dimakan atau tidak nantinya.”

Suara dengan nada mengejek itu mampu membuat Baekhyun menoleh sepenuhnya, “Kau ingin aku menendang tulang keringmu lagi, eoh?”

Chanyeol tertawa renyah menanggapi seraya berjalan mengambil kamera yang belum sempat ia bersihkan seluruhnya. Ia merangkaikan lagi perangkat-perangkatnya kemudian mengarahkannya pada punggung pemuda yang sibuk memasak itu.

“Baekhyun! Lihat kemari.”

Sesuai panggilan Baekhyun menoleh, tanpa aba-aba Chanyeol menekan tombol shoot. Detik berikutnya, siluet Baekhyun sedang memegang sumpit dengan wajah polos dan mulut sedikit terbuka yang menoleh kebelakang terekam dalam kameranya. Chanyeol tersenyum lebar, Baekhyun hanya berdecak, menggelengkan kepalanya karena ulah jahil Chanyeol.

“Apa wajahku terlihat seperti artis?” Tanya Baekhyun kepada Chanyeol yang masih asyik memegang kamera dan mengarahkan bidikan padanya.

“Sedikit.”

“Benarkah?” Baekhyun membelalakkan mata sipitnya, sekali lagi ekspressi itu terekam dalam kamera Chanyeol. Baekhyun mulai tidak risih dengan kelakuan Chanyeol yang sangat obsess sekali dengan foto, seolah-olah foto adalah nafasnya. “Kalau begitu… aku akan mendaftarkan diri menjadi trainee di SM entertainment besok.”

Chanyeol tergelak panjang di balik kameranya, mengakibatkan beberapa hasil fotonya tampak blur tidak jelas. Baru kali ini Chanyeol bertatap muka dengan seseorang yang memiliki kepribadian ganda sepert Baekhyun, sometimesakan terlihat begitu rapuh, sometimes akan terlihat sangat misterius, semotimes akan terlihat begitu menyenangkan ─seperti saat ini.

“Nah─ sudah siap!” Baekhyun mengangkat pinggan panas dari atas kompor menuju ke atas meja. Uap yang berasal dari daging-daging masak tersebut menguar begitu saja memenuhi ruangan, seakan-akan menggoda agar segera menikmati kelezatannya.

Chanyeol segera meletakkan kameranya setelah beberapa kali memotret baekhyun dan pinggan berisi bulgogi lengkap dengan celemek yang di kenakan Baekhyun. Chanyeol meraih sujeodi atas meja dan tanpa aba-aba ia menyantap langsung daging bulgogi itu panas-panas. Matanya terbelalak, bergumam rendah kepada Baekhyun.

“Ini─” Mata Chanyeol membulat sempurna, mengalihkan pandangan pada Baekhyun yang masih meniupi daging bulgogi-nya. “─enak sekali.”

Baekhyun tersenyum percaya diri, ia membusungkan dada dan menepuknya keras. “Baek-hyun!” Ujarnya menyombongkan diri.

“Aku tidak menyangka kau bisa memasak seenak ini. Kau bisa jadi koki jika kau mau.”

Baekhyun menghentikan sujeo yang mengapit daging di depan mulutnya, mengerjap kaku. “Aku lebih suka memasak untuk diri sendiri.” Ujarnya kemudian memasukkan potongan daging itu ke mulutnya.

Chanyeol berhenti mengunyah, terhenyak atas satu kata yang menjelaskan begitu banyak arti di dalamnya. “Jadi aku yang pertama…merasakan masakanmu?”

Baekhyun menelan lembut makanan di mulutnya kemudian berkata lirih nan lembut, “Sepertinya begitu…”

Chanyeol menelan ludah, ia sangat pintar membaca situasi. Jika Baekhyun sudah mengatakan hal dengan nada yang seperti itu, itu adalah sebuah pertanda bahwa suasana hati Baekhyun akan kembali menurun dan membutuhkan sesuatu untuk mencairkan suasana yang menjadi beku. Tapi kali ini entah karena hal apa, Chanyeol seperti kehabisan ide untuk sekedar menebar komedi atau mengkatrol bahagia untuk Baekhyun. Ia sempurna terdiam mengikuti Baekhyun yang seolah tengah mengheningkan cipta dengan dunianya sendiri.

Keheningan tidak begitu berlangsung lama, tatkala secara mendadak kaca-kaca dinding apartemennya bergoyang layaknya di terpa badai. Chanyeol menoleh, memastikan. Detik itu juga suara seperti ledakan bom menjubel pendengaran kedua manusia yang mengunyah bulgogi itu. Awalnya sedikit tersentak, namun ketika Baekhyun mengatakan bahwa itu kembang api rasa panik di dada Chanyeol sedikit berkurang.

Tiba-tiba sebuah ide melesat bagaikan kembang api yang meluncur di atas langit. Terang dan indah menaungi pikiran Chanyeol. Dengan tergesa-gesa ia menarik lengan Baekhyun untuk berlari menuju rooftop apartemennya. Apartemennya cukup tinggi untuk ukuran apartemen murah di areal Apgu-jeong, jadi ia yakin bisa bebas menyaksikan kembang api di atas sana tanpa penghalang apapun.

Pesta kembang api entah untuk acara apa, persis di hadapan mereka. Di antara padatnya penduduk kota, lebih dari sepulu kembang api raksasa serentak melesat ke angkasa, berdebum-debum. Membentuk tarian cahaya yang mempesona, menyuguhkan suasana yang kontras dengan langit gelap menjadi terang benderang.

Selusin kembang api melesat lagi. berputar-putar. Berpilin. Sebelum meledak menjadi ratusan bola api kecil-kecil di angkasa, yang kemudian mengembang menjadi bunga yang indah di sana. Rembulan bundar sempurna dan gemintang menjadi latar pertunjukan. Indah.

Baekhyun mendongak menatap langit, cahaya kembang api berpendar membias wajahnya yang nyaris tanpa cacat. Baekhyun demi menatap pemandangan itu, tersenyum amat manisnya, meski hanya dapat terbaca lewat sebuah kilatan mata yang terpancar. Chanyeol berdiri di samping lelaki itu. Tidak, Chanyeol tidak menatap kembang api itu. Tapi ia menatap Baekhyun.

“Indah bukan?” Chanyeol berkata pelan.

Baekhyun menoleh sebentar, memandang tepat pada bola mata Chanyeol, membuat lutut Chanyeol lumpuh seketika. Baekhyun tersenyum, Chanyeol menggigiti bibirnya, tidak kuasa bersitatap dengan wajahnya.

Kembang api terus menerus bersahutan, Chanyeol juga terus menerus menggigiti bibirnya, berkutat dengan kalimat-kalimat yang sudah lama ingin di katakannya. Mungkin ini sudah waktunya ia mengakhiri kebersamaan hubungan aneh keduanya dan berubah menjadi kebersamaan indah selamanya.

Chanyeol membuka mulutnya hendak mengucap, namun detik berikutnya ia menutup kembali. Secara tiba-tiba lidahnya kelu dan otak nya tidak dapat mengingat apapun, padahal sebelumnya ia sering melatihnya di depan kaca. Sebagai antisipasi jika waktu seperti ini datang dengan mendadak. Tetapi pada kenyataannya yang terjadi??? Keinginan begitu membuncah di dada, tapi keberaniannya tidak cukup membuatnya dapat berkata-kata. Ia menelan ludah kasar.

Okay~ Baiklah~ Ia akan membiarkan hatinya yang menuntun.

“K-kau─tahu… eh─ Ng─” Chanyeol mengutuk dirinya sendiri dalam hati, mengusap rambutnya. Baekhyun menoleh, menunggu. Chanyeol menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Baiklah, ayo coba lagi!

“Kau tahu, aku sangat bahagia jika─ jika…” Damn! Sempurna tersendat. Lidahnya enggan berputar. Chanyeol menggigit bibirnya lebih keras, sebagai paksaan agar lidahnya mau bersuara. Jantungnya berdentum-dentum seiring dengan dentuman indah kembang api. “─aku sangat bahagia jika sedang memotret, jadi kau tunggu sebentar disini, aku ingin mengambil kameraku di bawah.”

Tanpa menunggu jawaban Chanyeol melesat meninggalkan Baekhyun yang tanpa di ketahui Chanyeol tersenyum samar, begitu tipis. Seolah-olah mengetahui hal apa yang sebenarnya ingin di katakana Chanyeol. Sedangkan Chanyeol berlari bagaikan Rudal Squad menuruni anak tangga, ia merasakan kakinya melemah seolah tidak dapat melangkah. Ia memejamkan matanya erat-erat, memegangi dadanya erat-erat pula. Setelah urusan dadanya ter-selesai-kan, Chanyeol bergegas meraih kameranya dan melesat lagi menuju rooftop, ia juga tidak ingin Baekhyun-nya terlalu lama sendiri.

Baekhyun menoleh tepat ketika Chanyeol terengah-terengah memegangi lututnya di sampingnya. Ia mengerutkan kening, Chanyeol lebih seperti lelaki yang baru saja lomba lari 500 kilometer, terlalu errrr─terengah-engah.

“Kau begitu tidak ingin terlewat momen yang indah seperti ini ya, sampai-sampai harus berlarian dan terengah-engah begitu?”

Tidak! Chanyeol terengah-engah bukan karena terlalu banyak berlari! Tapi ini karena rasa gugup yang tiba-tiba muncul di saat yang tidak tepat. Chanyeol meringis, menegakkan tubuhnya seperti biasa. “Bisa jadi seperti itu…” Berbicara dengan nada senetral mungkin. Kemudian mulai mengarahkan bidikannya pada kembang api disana. Hanya sekali, setelahnya ia mengubah opsi kamera menjadi video, lalu mengarahkannya (lagi-lagi) kepada Baekhyun. “Bicaralah…!”

Baekhyun menoleh cepat kemudian melebarkan matanya, ia sama sekali tidak menyangka jika Chanyeol akan membuat sebuah video. “Chanyeol hentikan!” Pintanya.

Namun Chanyeol tetap bersikeras merekam Baekhyun. “Bicaralah dahulu, katakan apapun, baru aku akan mematikannya.”

Baekhyun memiringkan kepalanya, memasang pandangan dengan gurat memohon. “Baiklah aku akan berbicara─”

Chanyeol tersenyum senang, ia bersiap-siap mengambil angle yang sempurna. Baekhyun berdeham untuk mengawalinya. “Halo─ aku Baekhyun. Emmm… aku tidak tahu harus mengatakan apa saat ini, tapi─” Baekhyun berhenti kemudian menatap Chanyeol sejenak lalu kembali lagi ke kamera. “─aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Tapi ku mohon jangan tertawa. Aku menyimpannya sudah sejak lama, errr─ maksudku sejak pertemuan pertama kita. Tapi sungguh aku tidak tahu harus mengawalinya dari mana─” Baekhyun memberikan jeda sejenak, tatapan matanya, gerak gerik tubuhnya, cara ia berbicara, sempurna membunuh Chanyeol. Chanyeol menggigit bibir menunggu.

“Chanyeol─” Baekhyun menghela nafas. Chanyeol menahan nafas. “Apa kau tidak pernah sikat gigi? Gigimu kuning sekali. Menjijikkan. Ewwh!”

Baekhyun tergelak mengakhiri ucapannya. Sedangkan Chanyeol? Ia merasa ada sebuah batu besar menimpa kepala Chanyeol, berat sekali, hingga ia hanya dapat tersenyum datar sebagai balasannya. Kurang ajar sekali Baekhyun ini. Semakin hari tingkahnya semakin mirip dengan Sehun, sedikit random dan kurang ajar. Chanyeol memutar lidahnya di dalam mulut, seraya mendengus sebal.

“Aku hanya─” Mengibaskan tangannya ke arah kamera, Baekhyun masih sedikit terpingkal. “─aku hanya bercanda. Sekarang giliranmu, aku yang merekamnya.”

Kamera itu berpindah tangan dengan cepat, bahkan Chanyeol belum mengatakan apapun sebagai persetujuan seorang pemilik. Namun terlambat, ia sudah kepalang basah, siluetnya sudah terekam dalam kameranya sendiri.

“Ayo bicara!” Baekhyun ganti memerintah.

“Aku tidak bisa!” Rengek Chanyeol.

“Kau bisa!”

“Tidak.”

“Oh ayolah Chanyeol!”

Chanyeol mendongak menatap langit yang kini sepi, kilatan kembang api itu kini sudah menghilang, beberapa saat kemudian kembali menatap kamera seperti semula. “Tanyakan saja sesuatu…”

“Lagi?”

Chanyeol mengangguk, memasang wajah polos tanpa dosa. “Yang lebih rasional, bisa tidak?”

Baekhyun tertawa lagi. “Oh─ okay, ini amat sangat rasional.” Baekhyun berpikir sejenak. “Kenapa kau begitu suka memotret?”

Chanyeol berdengung, memikirkan satu jawaban yang lugas dan tepat untuk mewakili jawaban yang di butuhkan Baekhyun. “Sebenarnya tidak ada alasan khusus, hanya saja aku selalu terpesona dengan bidikan yang ku hasilkan. Aku merasa memotret adalah hal yang paling menyenangkan dalam hidupku. Memotret kadang bisa menjadikanku lebih ambisius dari biasanya─”

“Lalu?” Baekhyun menyela senang.

Chanyeol menghela nafas sejenak. “─lewat fotografi banyak sekali momen penting yang dapat di abadikan. Misalnya ketika sedang bersama keluarga, sahabat, kekasih. Foto akanmenjadi saksi bisu yang di bekukan oleh waktu. Menurutku, fotografi dapat menampilkan sisi berbeda yang tidak selalu kita temui dalam kehidupan sehari-hari, aku bisa melihat seseorang atau suatu hal dari perspektif lain.”

Tersenyum sebentar “Ada kepuasan tersendiri ketika bisa mengambil sisi berbeda dari orang lain. Gambaran perasaan manusia yang terekam oleh kamera begitu jujur. Dan yang terpenting─ setiap kali aku membuka satu demi satu foto yang kuhasilkan… otakku secara otomatis akan memutar potongan grafis yang terjadi kala foto itu di abadikan. Pendek kata sebagai─ pengingat waktu.”

Chanyeol mengakhiri penjelasannya dengan senyum mengembang, dan di detik berikutnya luntur ketika melihat ekspressi wajah Baekhyun yang sedang tertegun. Ya Tuhan ekspressi itu lagi! Chanyeol bergegas meraih kamera yang sampai sekarang masih dalam keadaan on. Baekhyun tertunduk dalam, membuat Chanyeol berpikir… apakah ada kata-katanya yang menyinggung Baekhyun secara tidak langsung? Seketika hati Chanyeol mendendang resah. Sungguh, ia sangat benci gurat wajah Baekhyun yang seperti itu. Seperti seseorang yang tidak memiliki hari untuk esok.

Baekhyun tiba-tiba merendahkan tubuhnya, agar ia bisa duduk di lantai kotor rooftop. Ia menerawang, matanya berkaca-kaca. Tenggorokannya tercekat kuat, merasakan sakit yang tiba-tiba timbul begitu saja di sekitar kepalanya, menggerogoti sedikit kesadarannya ketika air mata terjatuh dari pelupuknya.Ia mencengkeram erat kepalanya, menggeram dalam nyaris tak terdengar.

Chanyeol terkejut. Air mata itu membuat hatinya sesak, nafasnya berantakan dan nyawanya serasa melayang. Di genggamnya lelaki itu segera, sangat erat. “Ada apa? Apa kau sakit?”

Baekhyun menghentikan air matanya dengan kesadarannya yang tersisa. Satu usapan penuh menyentuh pipinya berhasil menghilangkan bukti bahwa ia baru saja menangis. Sekuat tenaga ia memandang Chanyeol dan mengulum senyum di paksakan. Pandangan itu begitu teduh.

“Dingin.” Baekhyun mendesis lirih, Chanyeol merapatkan lengannya memeluk Baekhyun. Ia merasakan sesuatu yang lain dari diri pria ini, badan Baekhyun sempurna bergetar. Tampaknya ia benar-benar kedinginan, atau apalah. Chanyeol kebingungan, dengan panik ia melepas kemeja yang di kenakannya, membiarkan dadanya polos di terpa angin malam, membebatkannya di tubuh kurus Baekhyun.

“Dingin… Tolong aku.” Baekhyun mendesis lagi, suaranya terdengar sangat parau. Chanyeol dapat membaca ekspresi suram yang di tunjukkan Baekhyun melalui suaranya. Hatinya sesak, nafasnya berat.

Tanpa pikir panjang lagi ia menggelayutkan tubuh Baekhyun di punggungnya. Secepat yang ia bisa, bagaikan angin temaram yang menghembus, Chanyeol melesat menuruni tangga menuju apartemennya. Terengah-engah menggotong tubuh lunglai Baekhyun. Apakah Baekhyun pingsan? Apakah Baekhyun baik-baik saja? Apakah Baekhyun─ ah, berbagai macam pertanyaan mengalun di otaknya, mirip seperti lagu yang di sukainya, selalu berputar sampai ia kebosanan dan ingin menghapusnya.

Chanyeol merebahkan tubuh lemah Baekhyun di tempat tidurnya yang lusuh.Tidak tahu harus melakukan hal apa untuk menenangkan pemuda itu. Ia menempelkan telapak tangannya tepat di dahi Baekhyun. Chanyeol memberengut, tubuhnya tidak demam. Lalu kenapa Baekhyun kedinginan?

Chanyeol menarik selimut tebal miliknya, membentangkannya di atas tubuh Baekhyun. Baekhyun masih menggigil. Chanyeol semakin cemas, merasa ada yang sengaja menceloskan bara api ke lubuk hatinya. Ia masih menggenggam erat tangan Baekhyun yang lemah, seolah-olah ingin membagi kehangatan yang di milikinya kepada pemuda itu. Gejolak aneh bermunculan di sudut hatinya, Chanyeol was-was, ketakutan, di sisi lain ia sedikit bahagia dapat menggenggam erat tangan Baekhyun.

Baekhyun masih terus menggigil. Haruskah ia merapatkan lengan ke tubuh pria kecil itu? Mensejajarkan wajahnya di dada bidang Chanyeol? Astaga! Apa yang kau pikirkan Chanyeol? Jangan pernah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Chanyeol mengusap lembut surai kecoklatan pemuda itu. Bulir-bulir keringat dapat ia sentuh dengan tangan basahnya.

Ia tertunduk lesu, menyandarkan punggung pada pinggiran tempat tidurnya. Menatap lemah pemuda di hadapannya.

Pikirannya buncah sudah.

 

-oOo-

 

You know you’re everything to me
And I could never see
The two of us a part
And you know I give my self to you
And no matter what you do

 

Merdu kicau burung yang beterbangan mengepak sayap kesanana kemari mampu membuat Chanyeol merasa sedikit terganggu. Iamengerang perlahan, menumpukan dahinya di atas lututnya. Tubuhnya terasa begitu kaku dan ia menjadi sulit bergerak. Angin dingin berhembus menusuk langsung persendian tubuhnya, ia meraba belakang lehernya karena merasa pegal. Mengerutkan kening dalam keterpejaman matanya, tumben sekali chanyeol tidur tanpa menggunakan sehelai baju pun. Masih dengan posisi meringkuk duduk Chanyeol terkesiap, ia mendongakkan wajah, membuka mata.

Bukankah semalam ia bersama…

─Baekhyun.

Ia memutar kepalanya cepat, tempat tidur nya kosong. Sementara ia yakin sekali semalam Chanyeol merebahkan lelaki itu di tempat ini. Chanyeol merenggangkan tubuhnya sebelum akhirnya tersuruk-suruk berdiri dan berjalan ke arah pintu. Aroma kopi segera menyeruak tatkala iamembukanya. Chanyeol mengerutkan dahi, bertanya-tanya siapakah yang menyebabkan aroma kopi ini bergelung di apartemennya?

Chanyeol berjalan seraya menguap, matanya masih begitu berat terasa. Iamengucek mata berkali-kali agar dapat melihat dengan jelas, seseorang dengan rambut coklat acak-acakan berdiri membelakangi dirinya. Lelaki itu tidak menyadari kehadiran Chanyeol di belakangnya karena lelaki itu sedang menikmati kopi yang ada di genggamannya.

Lelaki tu… Bagaimana ia menikmati kopinya… jendela di hadapannya… matahari yang merangsek masuk… berpendar di wajahnya…

Benar-benar mengingatkan Chanyeol dengan pertemuan pertama mereka di Holly’s Coffee. Memandangnya ketika itu membuat Chanyeol merasa begitu senang. Sayang sepertinya Baekhyun tidak mengingatnya…

“Oh─ kau sudah bangun?” Baekhyun menoleh ketika menyadari kehadiran Chanyeol di belakangnya, ia memasang senyum mengembang disana. Bergerak mendekati rak kayu yang berisi beberapa benda pecah belah. “Apa aku mengganggu tidurmu? Aku hanya ingin─” Ia membuka rak kayu itu. Berjinjit, berusaha untuk mendapatkan satu gelas lagi dari sana. “─membuatkanmu secangkir kopi.”

Chanyeol bergegas menghampiri Baekhyun yang sepertinya sangat kesulitan meraih cangkir tersebut, badan Chanyeol memang jauh lebih tinggi dari Baekhyun, oleh karena itu ia menjulurkan tangannya menggantikan Baekhyun mengambil gelas di rak tersebut.

“Terima kasih.” Baekhyun meraih gelas di tangan Chanyeol lalu kembali ke kusen dapur, masih dengan senyum yang mengembang. Baekhyun tidak menyadari satu hal, bahwa Chanyeol begitu handal membaca situasi.

“Apa kau baik-baik saja?” Chanyeol menatap punggung Baekhyun lekat, sekeras apapun Baekhyun menyembunyikan sesuatu, hal itu akan terbaca oleh Chanyeol dalam satu kilatan mata saja. “Wajahmu terlihat pucat.”

Baekhyun yang kala itu sedang mengaduk kopi buatannya seketika berhenti, matanya terpejam, bibirnya di gigit kuat-kuat. “Aku─ baik-baik saja.”

Bohong! Chanyeol tahu Baekhyun berbohong. Bahkan ia masih sangat yakin lelaki itu masih menyimpan rasa sakitnya. Tapi apa? Bolehkah ia bertanya? Bolehkah ia mengetahuinya? Chanyeol sempurna tertegun menatap senyum bahagia Baekhyun yang bersamaan dengan tatapan sendu. Sungguh, seperti ada benda kasat mata yang mengiris hatinya.

“Semalam kau─” Chanyeol tercekat. Mengigit lidahnya, seperti ada kesalahan pada kata-kata yang selanjutnya akan di katakannya.

Baekhyun mengulum senyum tipis, menyandarkan punggungnya di meja tinggi dapur. Cukup tanggap untuk menangkap apa yang akan di katakan Chanyeol. “Aku sendiri tidak tahu.”

Chanyeol mendesah. Ia sudah bosan mendapat jawaban yang itu-itu saja. Setiap kali Chanyeol bertanya Baekhyun akan menjawab nya dengan dua kata pasti ‘tidak tahu’. Ia inginkan jawaban yang lain. Egoiskah? Tentu tidak, keinginan di hati Chanyeol tidak pernah egois. Mungkin Chanyeol akan menerima jika Baekhyun tidak menceritakan tentang masa lalunya. Tapi untuk hal yang seperti tadi malam? Tahukah Baekhyun ia begitu menghawatirkannya? Sepanjang malam ia mencoba tetap terjaga untuk menjaga Baekhyun. Ia benar-benar kehilangan akal sehatnya sa’at melihat Baekhyun seperti itu.

“Apa di otakmu hanya ada kata-kata tidak tahu saja?”

Baekhyun merapatkan jemari kedua tangannya, berujar datar, “Aku benar-benar tidak tahu Chanyeol.”

“Kau bohong! Wajah pucatmu pagi ini menunjukkan kau tidak baik-baik saja.” Lidah Chanyeol secara tiba-tiba memutar kata-kata itu.

“Sungguh─” Baekhyun sedikit tercekat. “─aku tidak apa-apa.”

“Aku tidak percaya.” Chanyeol meninggikan suaranya. “Apa kau tidak percaya padaku? Apa kau akan selalu menyembunyikan segala sesuatu dariku?”

Baekhyun mengatupkan bibirnya kuat-kuat, tatapannya tajam menusuk Chanyeol. Sekeras apapun Chanyeol memaksa toh pada kenyataannya Baekhyun memang tidak mengerti apa-apa. Semalam ketika Chanyeol berbicara tentang kenangan, tiba-tiba kepalanya berdenyut keras sekali, hingga ia tidak mampu berdiri. Ia benar-benar tidak tahu kenapa. Baekhyun mengangkat pandangan, menatap Chanyeol lekat. “Aku pulang saja!”

Tidak ingin memperpanjang perkara, Baekhyun beranjak dari hadapannya, merapikan rambut dan pakaiannya, meraih tasransel-nya dan melenggang panjang-panjang ke arah pintu.  Menurutnya semua ucapan Chanyeol tidak beralasan. Chanyeol terpaku sesaat sebelum melayangkan tinjunya ke awang-awang, ia menyesal tidak dapat mengontrol rasa perasaannya.

Entah, ia hanya merasa dadanya naik, nafasnya sesak, jantungnya sungsang. Ia takut terjadi sesuatu dengan Baekhyun. Itu firasat. Tapi kembali lagi, seharusnya Chanyeol menyadari… siapalah Chanyeol untuk Baekhyun. Harusnya ia cukup bersyukur Baekhyun mau menjalin hubungan pertemanan dengan lelaki yang tidak berasal dari kasta manapun seperti dirinya. Harusnya ia tidak perlu berlebihan seperti itu… tetapi ia khawatir. Dosakah ia jika mengkhawatirkan seseorang yang di cintainya, meskipun hal itu berbentuk sesuatu yang sepele?

Chanyeol memutar badannya ketika Baekhyun baru saja menutup pintu apartemen Chanyeol dengan keras. Menatap seonggok jaket yang tergeletak begitu saja di atas sofa putih gading-nya. Chanyeol mengumpati dirinya sendiri, Baekhyun keluar tanpa menggunakan jaketnya. Tergesa-gesa Chanyeol meraih jaket Baekhyun dan tak lupa memakai jaketnya sendiri, ia mengikuti jejak Baekhyun berjalan keluar dari apartemen. Siluet Baekhyun masih dapat di tangkap Chanyeol sekelebat menuruni tangga di ujung apartemen. Ia mempercepat langkahnya, berharap dapat mensejajari langkah Baekhyun.

Baekhyun menuruni tangga cepat-cepat. Dalam setiap helaan nafas yang ia hembus, ia menggumam berat. Tubuhnya menggigil, bukan karena dingin yang menerpa tubuh yang hanya terbalut oleh kaus tipis saja, melainkan karena perasaan aneh yang menjalar di dadanya. Setiap langkah yang ia lewati, ia merasa seperti melayang. Kebas. Syaraf-syarafnya seperti telah mati dan tak berfungsi. Pening kembali melanda.Ia seperti tidak dapat melihat, tidak dapat mendengar dan tidak dapat merasa.

Baekhyun mengarahkan satu tangannya untuk mencengkeram kepalanya kuat-kuat, berusaha terus menyeret langkahnya. Sementara tangan yang lain terjulur kedepan mencengkeram besi tiang lampu yang ada di halaman gedung apartemen Chanyeol. Besi itu seharusnya terasa sangat dingin di tangannya, tapi nyatanya Baekhyun sama sekali tidak dapat merasakan apapun. Ia terus mencengkeram besi itu hingga buku-buku jarinya memutih.

Di detik itu Chanyeol akhirnya dapat mensejajari langkah Baekhyun.

“Baekhyun!”

Chanyeol menepuk pundak Baekhyun, meminta perhatian Baekhyun. Tetapi Baekhyun tidak merespon, iajustru menepis tangan Chanyeol dari bahunya dengan sangat kasar. Baekhyun menggeliat dan mengerang tertahan. Wajahnya terlihat begitu… kesakitan. Seketika ada sesuatu yang berdesir, benar-benar membuat Chanyeol cemas. Chanyeol mendesis takut, berkali-kali mengguncang tubuh Baekhyun agar tidak hilang kesadaran. Ya Tuhan, Chanyeol panik. Wajah Baekhyun semakin pucat-membiru.

Mungkinkah ia kedinginan?

Chanyeol tergesa-gesa menangkupkan jaket yang tadi di bawanya di atas tubuh Baekhyun. Chanyeol gentar memikirkan beberapa hal. Firasatnya… kekhawatirannya… satu saja dari pikiran itu cukup membuat hatinya menciut. Tanpa perduli, ia merapatkan lengannya memeluk Baekhyun. Pemuda itu menghantamkan kepalanya berkali-kali ke dadanya.

“Baekhyun tenanglah… Kau ini kenapa?” Chanyeol bertanya panik memegangi bahu sempit pemuda itu. Berusaha untuk menghentikan ulah Baekhyun.

Detik berikutnya─

Baekhyun benar-benar menghentikannya.

Hening.

Chanyeol hanya memandang nanar pada Baekhyun.

Kemudian, Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan. Mengangkat wajah memandang Chanyeol. Tatapannya terlihat bingung. Ia mengangkat satu tangannya, menahan kepalanya yang kesakitan. Bergumam rendah, mengerjapkan matanya.

“Kau─” Mengerjap.

Chanyeol menahan nafas.

“─siapa?”

 

-oOo-

 

Entah keberapa kalinya Chanyeol mondar-mandir di depan salah satu bangsal rawat inap rumah sakit Gangwoon, kemudian duduk, mendesah nafas panjang, mondar-mandir lagi lalu duduk lagi begitu seterusnya. Terpekur mencetak ulang kejadian demi kejadian mengejutkan di hari ini.

Masih nyata dalam ingatan bagaimana Baekhyun mengerang kesakitan, sekejap tiba-tiba bertanya suatu hal yang tidak dapat ia tolerir sebagai sebuah lelucon. Baekhyun seolah-olah tidak mengenalnya? Benarkah? Apa hal itu hanya satu bentuk pemberontakan Baekhyun terhadap pertengkaran kecil yang mereka lakukan tadi pagi?

Chanyeol menggelengkan kepalanya keras, memejamkan mata, menenggelamkan wajahnya di kedua ceruk telapak tangannya sendiri. Kekuatannya telah lenyap begitu saja, sejak Baekhyun mendadak lemas dan terpejam di rengkuhannya, menyisakan kecemasan yang menampar kalam batinnya.

“Kau yang membawa pasien bernama Baekhyun itu?”

Tiba-tiba seorang dokter pria paruh baya yang mengenakan jubah berwarna putih kebesaran bertanya padanya. Chanyeol mendongak, bergegas berdiri memasang wajah lelah. “Ya, saya sendiri.”

Dokter itu tersenyum senang, gurat wajahnya terlihat lebih lelah dari milik Chanyeol. “Ah, senang akhirnya bisa bertemu dengan seseorang yang mengenal Baekhyun, sulit sekali menemukan orang-orang yang berkaitan langsung dengannya. Perkenalkan… aku Moon Heejoon.”

Chanyeol menjabat uluran tangan dokter tersebut. “Park Chanyeol.” Dari cara dokter Moon membuka pembicaraan, sebuah tanda tanya besar langsung menghujani pikirannya. “Kau sudah mengenal Baekhyun?”

Dokter itu tersenyum tenang, mengangguk pelan. “Aku dokter yang menangani penyakit Baekhyun selama setahun terakhir ini. Kukira Baekhyun pasti tidak pernah menceritakan ini kepadamu.”

Chanyeol berkedip kaget. Ia memang sudah menangkap gelagat aneh sejak kejadian malam itu, namun ia tidak menyangka Baekhyun benar-benar memiliki penyakit yang butuh penanganan. Chanyeol terdiam, menatap dokter Moon lekat, meminta penjelasan.

“Ada gangguan Autoimun dalam Cerebrum atau otak besarnya, tepatnya di lobusoccipital. Penyakit ini hampir seperti kasus Alzheimer, namun ini lebih ringan. Karena letak gangguannya ada di tempat yang dapat merekam visual, penderita biasanyaakan sering kehilangan ingatannya di waktu-waktu yang tidak terduga. Jika penyakit ini di ibaratkan sebuah perjalanan, ia akan berada di antara garis Alzheimer dan Amnesia. Oleh karena itu saat pertama kali aku menanganinya, aku begitu kesulitan menghubungi orang-orang terdekatnya. Kau tahu─” Dokter Moon sedikit mendesah. “─bahkan Baekhyun tidak ingat siapa keluarganya, dimana rumahnya, siapa saudaranya.”

“Ja-jadi…” Chanyeol tercekat, lidahnya sulit bergerak. Ia sekarang mengerti kenapa Baekhyun selalu tertegun jika Chanyeol membahas tentang keluarganya. Baekhyun benar-benar tidak tahu. “…Baekhyun─”

Dokter Moon mengangguk. “Ia bahkan selalu melupakanku, tapi di beberapa kali pertemuan aku meyakinkannya bahwa aku ini dokternya dan Baekhyun adalah pasienku. Bahkan baru beberapa hari yang lalu ia lupa lagi denganku, sepertinya hanya satu yang tidak pernah ia lupakan seumur hidupnya─ namanya. Baekhyun selalu mengingat namanya.”

Dokter Moon tersenyum samar, melanjutkan pembicaraannya lagi. “Autoimunitu mendeteksi organ organ tubuh sebagai musuhnya, sehingga ia akan menyerangnya sampai organ tersebut lemah bahkan rusak. Dalam kasus Baekhyun, masih terdeteksi sebagai kelemahan otaknya untuk mengingat sesuatu, hanya saja sudah dalam tahap akhir. Jika di biarkan terus menerus maka otaknya akan rusak dan ia akan─ mati.”

“Apa tidak ada jalan untuk menyembuhkannya?”

“Selalu ada Chanyeol─” Dokter Moon melipat tangannya, tersenyum tenang. “─Tuhan tidak mungkin menciptakan suatu masalah tanpa jalan keluarnya. Hanya saja cara tempuh jalan keluar itu berbeda-beda.”

Chanyeol menelan ludah mendengar penjelasan Dokter Moon.

“Baekhyun bisa sembuh dengan operasi bedah di kepalanya, bahkan melalui operasi tersebut ia akan berangsur-angsur mengingat kembali segala yang pernah di lupakannya. Aku bisa mengajukannya kepada professor bedah kepala di rumah sakit ini sejak lama, hanya saja semua butuh biaya yang besar. Aku belum cukup mampu untuk membebaskan biayanya.”

Chanyeol kehilangan kata-kata, tubuhnya terasa tidak seimbang. Sekala gelisah tertancap di ulu hatinya. Nafasnya terlepas. Jantungnya kebas. Otaknya seketika tumpul.Dokter Moon sempat menepuk pundaknya lagi sekilas, sebelum beranjak dan meninggalkannya sendirian.

Apa yang harus ia lakukan?

Chanyeol seperti sedang mengulum hampa, ia yakin dapat melakukan segala hal untuk Baekhyun. Tapi jika itu berurusan dengan uang, semuanya menjadi terasa berbeda.

Chanyeol bukan konglomerat. Chanyeol bukan orang dari kalangan berada. Chanyeol juga bukan dari kasta yang tinggi. Ia hanya lelaki biasa yang ingin membakukan cintanya kepada titisan adam bernama Baekhyun. Tidak ada hal yang istimewa darinya. Sungguh!

Dengan berbalut kegelisahan dan kebingungan yang saling tumpang tindih, Chanyeol memutuskan untuk melangkah memasuki ruangan dimana Baekhyun berada.

Ruangan itu serba putih dan menguarkan bau yang khas. Chanyeol sempat bergidik karena begitu banyak alat yang terdapat di tempat itu. Ia mengalihkan pandangan pada lelaki yang sedang terbaring menutup mata dengan wajah yang pucat. Ia berjalan mendekati lelaki itu. Duduk di tepian ranjang lalu menggenggam lembut jemari lentiknya.

Tanpa pembatas─

“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya kepadaku, Baekhyun.” Parau chanyeol berbisik di hadapan Baekhyun. Bibirnya tak hentinya menciumi seluruh permukaan tangan lelaki bersurai coklat itu. “Apa kau juga melupakan penyakitmu sendiri? Itu konyol!”

Hanya kosong yang menyekat setiap inci ruang batinnya. Bahagia sebelumnya seperti angkuh dan menjauh dari tepinya. Dalam desah lemah, Chanyeol hanya dapat pasrah. Kenapa hanya diamnya yang dapat di dekap Chanyeol hari ini? Lalu kemana senyum itu? Kemana celoteh manja itu? Kemana sikap manis itu?

Tiba-tiba saja ketika kepasrahan menggetarkan seluruh hatinya, sebuah pergerakan kecil dari Baekhyun mengecup balik pengharapan Chanyeol. Itu lebih dari sekedar obat untuk sekarat penantiannya. Chanyeol mengembangkan senyum ketika perlahan kedua mata teduh Baekhyun terbuka, ia juga membantu Baekhyun menegakkan punggung untuk duduk.

“Dimana aku? Apa yang terjadi?”

Pertanyaan kecil terlontar dari bibir Baekhyun di saat Chanyeol tengah membenahi letak bantal yang ia sisipkan di belakang punggung Baekhyun. Selesai, Chanyeol kembali duduk di tepi ranjang dan tersenyum. “Kau di rumah sakit, Baekhyun. Kau tidak ingat? Kau pingsan di halaman depan apartemenku.”

Baekhyun menyapukan pandangan ke seluruh ruangan bernuansa putih tersebut, wajahnya menunjukkan gurat ketidak-pahaman. Lalu pandangannya terhenti pada Chanyeol yang sedang mengusap butiran bening dari matanya.

“Kau─ siapa?” Baekhyun tersenyum canggung, mengurai jemarinya yang bertaut dengan Chanyeol. “Apa kau yang membawaku kemari?”

Bahagia sesaat Chanyeol lenyap begitu saja. Menjamu kesedihan dan menyesatkan gembira di belantara hati tak bertuan.

“I-ini ak-aku Park Chanyeol. Kau tidak mengingatnya juga?”

Baekhyun menggigit bibirnya, keningnya berkerut. Ada ketidak-mengertian di sana. Baekhyun tidak sedang berpura-pura. Ia benar-benar tidak mengenali Chanyeol, dalam bentuk grafis apapun.

“Kau─

─mengenalku?”

 

-oOo-

 

“Kau─ mengenalku?”

Pertanyaan itulah yang membuat Chanyeol saat ini gontai berlari terkungkung kalut. Haruskah ia menyalahkan keadaan untuk semua hal yang telah menghempaskan kebahagiaan yang baru saja di rajut? Ia tahu keadaan selalu bertindak berbeda. Semua orang termasuk Chanyeol tidak akan dapat menyangkal jika keadaan telah menjawab. Biarkan saja ia mengalir dan mengalir, berkelok dan menyimpan keteduhannya.

Lelaki itu, Park Chanyeol terseok-seok melangkah menuju apartemennya. Bulir bening tidak hentinya menganak-sungai di pipi halusnya. Rasanya seperti tengah malam tanpa nyala cahaya. Membabi buta kesendirian beranjak pulang ke tempat tinggalnya.

Apa yang harus ia lakukan?

Iamengingat satu hal yang menjadi alasannya tetap menjadi fotografer.

Kenangan.

Benar─ sebuah kenangan yang akan membuat ingatan Baekhyun kembali. Setidaknya, Baekhyun mampu mengingat secuil saja. Ia tidak ingin terlupa bahkan sebelum mampu mengucapkan rasa.

Di laci, sebuah lemari kayu yang biasa digunakan Chanyeol sebagai tempat peralatan pecah belahnya, terdapat tumpukan foto hasil bidikan Chanyeol. Lalu, ia seperti di ayunkan pada cerah dunia, Chanyeol meraih memori card di dalam kamera lensa rangkap miliknya, memasukkannya asal kedalam computer usangnya, dan berusaha mencetak foto tentang Baekhyun sejelas mungkin.

Setelah foto-foto tersebut tercetak rapih, Chanyeol meraih scrapbook yang biasa di gunakannya untuk merekatkan foto hasil jepretannya, ia melakukan hal yang sama, merekatkan foto-foto yang berhubungan dengan Baekhyun di scrapbook itu. Ia mengurutkan dari awal mereka bertemu sampai hal terakhir yang mereka lakukan. Tidak lupa ia membubuhkan beberapa tulisan tentang tanggal dan waktu serta kejadian apa yang terjadi di setiap sisi foto-foto itu.

Voila!

Chanyeol berhasil membuat paperplan singkat tentang kebersamaan dirinya dengan Baekhyun beberapa waktu yang lalu. Semoga saja dapat sedikit menumbuhkan ingatan Baekhyun.

Chanyeol tersenyum penuh harap dalam hati.

 

-oOo-

 

Baekhyun sedang duduk bersandar di bantal-bantal di atas ranjang ketika Chanyeol datang dengan nafas yang terengah-engah. Baekhyun terlihat ceria seperti biasa, hanya saja yang membuatnya sedikit berbeda adalah─ ia tidak mengingat Chanyeol lagi.

Chanyeol langsung duduk di samping Baekhyun seraya berusaha memasang senyum mengembang ala Park Chanyeol. Sekuat tenaga mengontrol perasaannya untuk setidaknya bersikap tenang dan biasa saja di hadapan Baekhyun. Begitu melihat Chanyeol, Baekhyun langsung tersenyum kaku dan memandang kikuk Chanyeol.

“Kenapa kau memandangiku seperti itu?”

Baekhyun tersenyum pias dengan alis terangkat. “Kau ini sebenarnya siapa? Apa aku mengenalmu?”

Chanyeol balas tersenyum muram, lalu membentangkan scrap book buatannya di hadapan Baekhyun. “Kau ingat ini?”

Baekhyun sedikit terperangah mendapati gambar dirinya terekam dalam berbagai pose yang di tempelkan di buku itu. Ia memandang tepat pada siluet yang di tunjuk Chanyeol─ Baekhyun tengah menyesapi aroma kopi di dalam Holly’s Coffee.

“Ini di dalam café yang sering kau kunjungi, kau selalu membeli kopi hitam dan datang pada pukul sembilan lalu pergi tepat pukul sepuluh. Di sana aku bertemu denganmu pertama kali.”

Baekhyun memutar kepala, mengalihkan pandangan pada Chanyeol, ia mengerutkan alisnya kemudian menggeleng perlahan.

Baekhyun tidak ingat.

Chanyeol tergeragap namun ia tidak ingin menyerah begitu saja. Mungkin saja Baekhyun memang tidak ingat, bukankah ketika mereka berkenalan pun Baekhyun sudah mengatakan ia tidak menyadari pertemuan pertama mereka? Chanyeol membalik halaman berikutnya. Beberapa foto terdapat di sana, termasuk foto Baekhyun yang sedang berada di bangsal anak-anak di rumah sakit ini.

“Ada yang kau ingat?”

Baekhyun memandang dalam siluet demi siluet yang terdapat di sana. Ia hanya menggigit bibir seraya ─menggelengkan kepala lagi.

Baekhyun masih tidak ingat.

Chanyeol menutup matanya, air mata hampir buncah. Iaingin membenturkan kepalanya ketika pikiran dan hati tak sanggup menampung pilu. Namun semampunya, Chanyeol mencoba bermadah ke lapang hati, sekuat tenaga membuka halaman berikutnya dan seterusnya yang lagi-lagi masih tidak dapat di ingat Baekhyun.

Chanyeol benar-benar hampir putus asa jika saja Baekhyun tidak bersikeras menahan halaman yang saat ini terbuka. Halaman terakhir yang berisi benda-benda kesayangan Baekhyun dan juga beberapa kejadian yang terjadi selama Baekhyun berada di apartemennya.

“Oh… ini─”

Chanyeol seketika menoleh menatap Baekhyun penuh harap ketika Baekhyun berseru.

“Ini─ aku tahu ini.”

Chanyeol membulatkan kelopak matanya. “Kau ingat?”

Baekhyun mengangguk. “Coklat Rochě Rodin─ kesukaanku.”

Seperti kata keramat yang setia merunut kejutan di setiap barisnya, Chanyeol tidak dapat lagi menyembunyikan kebahagiannya. Ia mengangguk keras sekali sampai-sampai menjatuhkan bulir-bulir bening dari kedua matanya. Chanyeol menangis…untuk pertama kalinya di depan Baekhyun. Sedikit ingatan itu memberikan pengharapan besar bagi Chanyeol untuk percaya bahwa Baekhyun akan dapat mengingatnya lagi. Chanyeol memutar kepala memunggungi Baekhyun, sejenak menyembunyikan air mata haru yang semakin deras mengalir di pipinya.

Baekhyun mengkerut. Raut wajahnya berubah sedih. Ia menyadari buruknya ingatannya membuat lelaki di hadapannya ini menangis. Baekhyun sejenak menyentuh pundak Chanyeol yang tersedan.

“Ma’afkan aku. Aku benar-benar tidak mampu mengingat apapun.”

Chanyeol terkesiap, telapak tangannya menyentuh pipi mengusap seluruh air mata yang tercipta. Ia menarik nafas panjang dan menghelanya lalu memutar pandangan ke arah Baekhyun.Ia menyentuh lembut kedua bahu Baekhyun, tersenyum tegar.

“Tidak apa-apa. Kau akan mengingatku lambat laun.” Chanyeol menunduk memandang scrapbook yang kini tengah di pegang Baekhyun, lalu mendongak lagi. “Bawa buku itu… bukalah sesering mungkin. Siapa tahu kau akan ingat.” Chanyeol menghirup cairan didalam hidungnya yang muncul mendadak akibat ia sempat menangis tadi. “Aku harus pergi dahulu. Kau istirahatlah yang cukup. Oya, aku juga sudah mengepak barang-barang kesukaanmu barangkali kau bosan. Besok aku datang kemari lagi. Okay~”

Baekhyun hanya mampu mengangguk seraya menggigiti bibirnya. Ada rasa aneh yang tiba-tiba menyusup di dadanya. Sentuhan lembut Chanyeol seolah menguatkan dirinya untuk berusaha mengingat siapa Chanyeol sebenarnya.

 

-oOo-

 

Sepeninggal Chanyeol dari ruangan itu Baekhyun termangu. Ia menekuk lututnya bersandar pada dinding. Sakit kepala di otak besarnya tidak begitu terasa. Migrain ini… apayang sebenarnya terjadi padanya? Baekhyun juga tidak mengerti. Ia memandang ke luar kusen jendela, matahari tampak mengayun menggodanya untuk beranjak dan sekedar menikmati, andai saja kepalanya tidak berdenyut dan menyuruhnya untuk tetap di tempat.

Baekhyun mengangkat satu tangannya menahan kepalanya yang sakit, mendesis perlahan. Satu tangannya lagi mencengkeram erat scrapbook yang memiliki sampul berwarna hitam dengan hiasan ke emasan di tengahnya. Baekhyun menggigit bibir ─salah satu kebiasaannya akhir-akhir ini jika ia ingin mengingat sesuatu. Ia membuka lagi halaman pertama buku itu. Matanya memandang lekat-lekat. Jemarinya meraba-raba.

Siluetnya tertangkap disana, tapi kenapa ia tidak dapat mengingat apapun kejadian yang terekam disana?

Kepalanya berdenyut lagi. Baekhyun merintih memegangi kepalanya lebih kencang. Satu-satunya yang diingatnya hanya namanya dan coklat blok kotak bermerek Rochě Rodin itu. Ia terus memperhatikan tiap lembar foto yang di tempel Chanyeol di sana beserta caption yang tertulis di bawahnya.

“Heck─ kenapa aku tidak bisa mengingat apapun?”

Baekhyun menggumam seraya menyentuh lembut halaman akhir buku tersebut. Sebuah tonjolan berasal dari kantong kecil yang di tempelkan di halaman paling akhir. Baekhyun mengerutkan kening, ia meraih sesuatu di dalam kantong kecil tersebut.

Sebuah foto hitamputih yang menangkap siluetnya dan siluet Chanyeol. Baekhyun sedang tertawa dengan penuh sisa coklat Rochě Rodin di sekitar bibirnya. Kemudian Chanyeol menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata manapun.

“Apa ini?”

Baekhyun mengedikkan bahunya, menggenggam potret itu erat.

Sementara itu…

Chanyeol masih di landa kebingungan yang hebat, terbukti dari pergerakannya yang selalu tidak seimbang. Iaduduk tercenung di sofa apartemennya, memegangi sebuah amplop tipis yang baru saja di berikan oleh pihak rumah sakit kepadanya.

“Kondisi Baekhyun semakin memburuk Chanyeol.”

Chanyeol mencengkeram kepalanya, potongan grafis itu tiba-tiba saja berputar di kepalanya. Dokter bodoh itu berkata seenaknya.

“Ia harus menjalankan operasi.”

Chanyeol mengerang ia menyambar seluruh benda yang ada di hadapannya. Amplop tipis di tangannya ini terasa berat. Begitu berat sampai Chanyeol harus memeganginya dengan kedua tangan. Apakah ia sudah siap membuka amplop ini?

Oh tentu tidak─

Tapi bukankah ia sudah berjanji akan melakukan apapun untuk Baekhyun?

Dengan tangannya yang agak gemetar, ia merobek amplop tersebut dan mengeluarkan secarik kertas yang terlipat rapi. Matanya mulai membaca tulisan di kertas tersebut. Semakin ia membaca pelipisnya semakin berkedut-kedut. Jantungnya terasa lepas dari porosnya.

Tidak… Tidak…

Begitu selesai membaca, kedua tangannya terkulai lemas dan ia memejamkan mata erat-erat. Napasnya berat dan terputus-putus. Dunianya mendadak gelap, ia kehilangan arah. Seperti tak lagi dapat menjamah apa yang ada di sekitarnya.

11.476.000 won. Bukanlah jumlah yang sedikit bagi seseorang seperti Chanyeol. Harus mendapatkan uang darimana sebanyak itu?

Haruskah ia menghubungi Sehun? Atau Luhan?

Tidak… Tidak…

Chanyeol tidak mau merepotkan keduanya. Lalu apa yang harus ia lakukan?

Chanyeol meringsut, ia tidak boleh terlalu lama di dalam tempat ini. Tempat ini tidak berperasaan, jejak Baekhyun tertinggal di mana-mana sama sekali tidak mengurangi kecemasan Chanyeol.

 

I dedicate my life to you,
You know that I would die for you
But our love would last forever

 

Chanyeol kembali berjalan menyusuri lengang. Waktu sudah malam, ia hampir tidak merasakan setiap sensasi perpindahan waktu yang biasanya tidak pernah ia lewatkan. Pikirannya kacau. Tidak ada yang lebih di pikirkannya selain Baekhyun. Ia tidak pernah merasakan membutuhkan seseorang seperti ia membutuhkan Baekhyun. Chanyeol terlanjur menitipkan seluruh perasaannya pada lelaki bersurai coklat tua itu.

Chanyeol mendongakkan kepala. Salju turun seolah membantu Chanyeol menangis. Ia menghembuskan nafas panjang. Ia terus berjalan, sampa-sapai tidak menyadari beberapa waktu yang lalu ia juga pernah melewati tempat ini. Tempat di mana kedekatannya dengan Baekhyun berawal. Pemukiman penuh tempat hiburan. Beberapa waktu yang lalu Chanyeol menyelamatkan Baekhyun disini.

Chanyeol menyeringai, labirin hatinya saat ini selalu membawa Chanyeol kembali ke tempat saat keduanya bermula. Sungguh, seberat apapun itu, akan ia tanggung. Selama ia masih bisa melihat Baekhyun hidup.

Ia meneruskan berjalan satu langkah, namun ia menghentikannya lagi. Seolah ada ratusan lampu bersinar mengelilingi atas kepalanya.

Ia, Park Chanyeol─

─nampaknya mengerti apa yang harus ia lakukan.

 

-oOo-

 

Sehun memandang aneh pada sosok Chanyeol yang tengah duduk melipat kedua tangannya di kursi paling sudut Holly’s Coffee, kepalanya ia dongakkan sampai pengunjung lain tidak dapat membedakan apakah Chanyeol memiliki kepala atau tidak. Kopi hitam sesuai pesanan lelaki itu juga tidak tersentuh sedikit pun.

“Kenapa temanmu?” Salah satu barista bertanya kepada Sehun.

“Entahlah…” Sehun mengedikkan bahunya. “Bisa kau gantikan aku sebentar? Aku ingin menemui temanku.”

Barista tersebut mengangguk, mengiyakan. Sehun mengelap kedua tangannya seraya melesat langsung menuju tempat duduk Chanyeol. Sepertinya Chanyeol tidak menyadari Sehun telah duduk di hadapannya sampai Sehun menyentaknya pelan.

“Mengagetkanku saja!” Umpat Chanyeol keras.

Sehun memutar bola matanya sejenak lalu kembali seperti semula. “Kau yang terus melamun, sampai tidak menyadari kedatanganku.”

Chanyeol mengernyit dengan wajah pias. Sehun dapat membaca dengan jelas kilatan lelah di mata Chanyeol. “Bagaimana perasaanmu?”

Chanyeol kembali mendongakkan kepalanya ke sandaran kursi. “Seperti yang kau lihat─ kacau.”

Sehun memasang wajah prihatin, ia tidak menyangka hidup Chanyeol yang selalu menganut kebebasan sekejap menghilang hanya karena ia mencintai seseorang. “Sejak kau mengatakan apa yang terjadi pada Baekhyun, aku tidak tahu harus membantumu dengan apa.” Sehun menghela nafasnya panjang. “Aku jadi tahu betapa kau mencintai Baekhyun. Jadi─” Sehun menggenggamkan sebuah amplop coklat ke tangan Chanyeol. “─mungkin ini bisa membantu. Walau jumlah nya masih jauh dari kata cukup untuk membiayai operasi Baekhyun.”

Chanyeol terkesiap, ia melepaskan apa yang baru saja Sehun berikan. Memandang Sehun dengan penuh tanda tanya besar. “Aku tidak mau merepotkanmu kali ini. Aku datang kemari bukan untuk meminta sumbanganmu. Sungguh…” Chanyeol menelan ludah kasar. Entah kenapa memandang Sehun seperti ini membuatnya merasa ingin menangis. “…kau sahabatku yang paling baik, aku tahu itu. Tapi jauh lebih baik jika kau menyimpannya, siapa yang tahu kau membutuhkannya─Sehun. Lagipula, aku sudah mendapatkan uang yang ku butuhkan.”

Kali ini Sehun yang terkesiap, ia sedikit bertanya-tanya darimana Chanyeol mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat. Bahkan gajinya pun tidak lebih banyak dari gaji Sehun. Tetapi Sehun mencoba tetap bersikap wajar, mungkin Chanyeol memang sedang mendapat hoki atau semacamnya.

“Lalu apa yang kau risaukan sekarang?”

Chanyeol meraih cangkir kopi hitam yang mendingin di meja, menyesapnya perlahan. Pahit dan dingin. Persis seperti keadaannya saat ini.

“Kau akan mengerti jika Luhan mengalami hal yang sama dengan Baekhyun.”

Sehun terbelalak, melayangkan tinju keras di lengan Chanyeol. Chanyeol meringis, berpura-pura kesakitan. Sehun tertawa kecil, diikuti dengan tawa Chanyeol yang terasa aneh di dengar Sehun.

“Sehun-ah,” Chanyeol memanggil Sehun lirih. Sang pemilik nama hanya terdiam menanti kelanjutan kata yang akan di bicarakan Chanyeol. “Terima kasih kau telah menjadi sahabat terbaikku. Aku─ entah keberapa kali aku merepotkanmu. Sepertinya hampir setiap detik aku selalu merepotkanmu. Terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana membalasnya. Tapi aku berjanji ini terakhir kalinya aku merepotkanmu─”

Sehun mengerutkan kening. “Chanyeol ini tidak lucu. Kau berkata seolah-olah kau akan mati saja.”

Sehun sepertinya tidak dapat menangkap raut wajah Chanyeol yang sejak tadi berubah serius. Chanyeol menggeleng. “Aku benar-benar berterima-kasih kepadamu, Sehun. Tapi tolong bantu aku sekali lagi─ aku mohon.”

Sehun menghela nafas panjang. “Kau tahu aku tidak pernah berkata tidak kepadamu─ Chanyeol!”

Sejenak Chanyeol tersenyum kemudian meraih sebuah kertas putih gading mulus dari saku dalam jaketnya, lalu ia menelan ludah dan berkata pelan, “Jadwal operasi Baekhyun akan di lakukan hari ini.” Tersendat, tenggorokan Chanyeol seperti tercekat. “Aku─ ingin kau memberikan ini kepada Baekhyun ketika ia sadar nanti.”

Sehun menatap kertas yang di ulurkan Chanyeol lalu kembali menatap Chanyeol dengan tatapan tidak percaya. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran sahabatnya ini. Sehun meraih perlahan surat itu. “Apa ini?”

“Surat─ berisi perasaanku selama ini kepadanya. Aku terlalu menyepelekan kebersamaan kami sampai-sampai aku kehilangan kesempatan untuk mengungkapkannya.” Chanyeol berkaca-kaca. Ia lalu menatap hal lain untuk mengelabuhi Sehun. “Jadi tolong berikan itu untuk Baekhyun jika ia siuman nanti. Meski─ aku tidak pernah tahu apakah Baekhyun masih mengingatku atau tidak, setidaknya aku sudah menunjukkan usahaku agar ia terus mengingatku.”

Terhenti.
Chanyeol sempurna terhenti.
Ia merasa luka naik mencekik lehernya yang sedang merangkai penjelasan untuk Sehun.

Tenggorokan Sehun pun ikut tercekat. Namun ia tetap diam dan mengangguk perlahan. Ia takut apabila ia mencoba bersuara, ia akan melakukan sesuatu hal bodoh seperti meneteskan air mata untuk sahabatnya yang nappeun ini.

Chanyeol menarik sudut-sudut bibirnya keatas membentuk sebuah senyum kecil sebelum ia beranjak dari kursi itu. Ia menepuk perlahan bahu tegap Sehun sebelum akhirnya bayangannya menghilang di antara hiruk pikuk pejalan kaki di luaran sana.

Sehun membalas dengan tersenyum kaku.

“Hal bodoh apa yang akan kau lakukan, Park Chanyeol!”

 

-oOo-

 

─South Korea Today─

“Pemirsa─ perampokan telah terjadi di sebuah Bank Hana di cabang Apgu-jeong. Perampok ini sama sekali tidak melukai korban yang saat itu tengah melakukan transaksi di bank, ia hanya mengambil uang sejumlah 12.000.000 won kemudian berlari pergi. Kasus ini telah di selidiki oleh─”

Baekhyun sedang mendengarkan berita itu ketika ia mendengar derap langkah menuju ruangannya. Ia mengalihkan pandangan pada pintu dan sebentar menunggu wajah siapa yang akan muncul disana. Detik berikutnya wajah gerising Chanyeol muncul di balik pintu. Baekhyun mengembangkan senyumnya.

“Hai!” Sapa Baekhyun lembut.

“Hai─” Chanyeol baru saja hendak membalas sapaan Baekhyun ketika ia mendengar suara televisi yang sedang memberitakan seorang perampok 12.000.000 won itu. Wajahnya menegang, secepat kilat ia meraih remote televisi dan mematikannya. Baekhyun membeku di tempat tanpa kata-kata memandang Chanyeol lekat.

“Aku tidak suka berita kriminal.” Sanggah Chanyeol memberikan alasan kepada Baekhyun, kembali memasang senyum palsu di bibirnya. “Bagaimana perasaanmu hari ini?”

“Tadi Dokter Moon mengatakan aku akan di operasi hari ini. Aku sedikit gugup.”

Chanyeol melipat mulutnya kedalam, menormalkan detak jantungnya yang berdetak cepat. Bukan hanya Chanyeol yang dilanda cemas, bahkan Baekhyun pun juga.

“Kau ingin jalan-jalan?”

Baekhyun menatap Chanyeol hambar. “Tapi kepalaku terasa berat sekali. Aku tidak mungkin mampu berdiri.”

Chanyeol membisu ketika Baekhyun mengeluhkan rasa sakitnya, ia tahu Baekhyun jauh lebih merasakan sakit daripada sekedar ucapan datar dari bibir mungil itu. Chanyeol berpikir sejenak kemudian tersenyum. “Tunggu disini sebentar, okay! Jangan berani-berani turun dari ranjangmu sendiri.”

 

Sepuluh menit berlalu dan Chanyeol belum kembali, Baekhyun mulai bertanya-tanya apa yang akan di lakukan lelaki itu. Namun tepat di saat itu, Chanyeol membuka pintu dan memasuki ruangan dengan membawa kursi roda.

“Kau─ untuk apa kursi roda itu?”

Chanyeol tersenyum mendekati Baekhyun. “Untuk menghilangkan rasa gugupmu.”

Tanpa aba-aba Chanyeol menggendongnya seperti pengantin baru, kemudian mendudukkannya di kursi roda itu.

“Ayo kita pergi!”

Chanyeol mendorong dengan semangat kursi roda itu, keduanya berjalan melewati beberapa bangsal yang ada. Chanyeol beberapa kali berbelok hingga akhirnya sampai di sebuah bangsal yang begitu tidak asing bagi Baekhyun.

“Tempat ini…”

Chanyeol menundukkan kepala memandang Baekhyun. “Kau mengingat sesuatu?”

Baekhyun mengerutkan kening menggigit bibir. “Tidak─ tapi aku melihat tempat ini di buku yang kau berikan.”

Chanyeol mencelos, hal ini lebih menyedihkan dari yang dipikirkannya. Seandainya saja Chanyeol memiliki keajaiban agar Baekhyun dapat secepatnya pulih. Baekhyun tampak bahagia melihat anak-anak yang tengah bermain, seperti tidak ada beban yang mereka tampung. Merasa sedikit heran karena Baekhyun begitu mudah berbaur dengan anak-anak kecil tersebut.

Baekhyun hendak berdiri mengikuti anak-anak kecil yang berlarian itu, namun sepertinya pening di kepalanya belum mereda. Tubuhnya limbung dan hampir terjatuh. Untung saja Chanyeol sigap dan segera menangkap tubuh Baekhyun. Chanyeol lalu mendudukkan Baekhyun kembali di kursi roda, mendorong kursi roda itu menjauhi anak-anak tersebut. Perasaan senang berlebihan sepertinya berbahaya bagi Baekhyun.

Chanyeol merendahkan tubuhnya, bersimpuh di hadapan Baekhyun ketika keduanya sudah berada di lorong di depan bangsal yang sama. Tatapanya kembali cemas. “Baekhyun─ kau tidak apa-apa?”

Baekhyun tersenyum merekah. Mengangguk perlahan. Chanyeol balas tersenyum kecut. Pandangan bening Baekhyun terasa menusuk-nusuk ulu hatinya tajam. Menelanjangi setiap inci jiwa yang memang sudah luruh untuknya.

Tiba-tiba Baekhyun mengulurkan sebelah tangannya, meraba perlahan pipi Chanyeol. Seulas senyum samar tersungging lagi di bibir Baekhyun. Tubuh Chanyeol menegang, ia menelan ludah kasar. Jantungnya berdebar begitu keras, hingga ia sedikit takut jika jantungnya melompat keluar tiba-tiba.

Ini konyol.

Ada kekuatan kasat mata yang mendorongnya untuk mencondongkan tubuhnya perlahan. Sepotong praduga jauh menepi. Kepercayaan yang ia bela sepenuh hati. Cukup satu helaan nafas dan Chanyeol mereguk manisnya bibir Baekhyun. Membungkam seluruh kegamangan hati untuk rasa tanpa getar bertalu.

Kepala Chanyeol terasa begitu ringan, lelaki di hadapannya menutup matanya, bagai memasrahkan apapun yang akan di lakukan Chanyeol pada saat itu. Tubuh Chanyeol terasa melayang, dadanya hampir meledak. Bibir Baekhyun terasa begitu dingin dan Chanyeol tidak melakukan apapun selain menempelkan bibirnya ke bibir Baekhyun.

Ciuman indah yang hanya berlangsung setengah menit. Detik berikutnya Chanyeol menarik diri hendak memberikan senyum kecil ketika tiba-tiba Baekhyun tidak dapat menyangga kepalanya. Ia terkulai, tidak sadarkan diri.

Chanyeol terbelalak. Merebahkan kepala Baekhyun di dadanya. Ia tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Ia memekik di rongga kosong, tarian luka begitu saja bertalu-talu. Kesakitan menyerang kuat. Dan tangispun berguguran dari pipi pasinya.

Ia mengerjap panik. Berteriak kepada siapapun yang lewat. Hingga beberapa detik kemudian, beberapa anggota medis beserta peralatan lengkap mendatanginya. Dalam satu gerakan cepat membawa Baekhyun ke dalam ruang gawat darurat. Chanyeol hanya mampu merunut ikut seraya menggenggam erat jemarinya.

Jadwal operasi masih tiga jam lagi dan Baekhyun sudah tidak sadarkan diri. Chanyeol menangis sejadi-jadinya. Menghabiskan detik demi detik penuh tanya dan harap di lorong instalasi.

Dua orang dengan seragam lengkap berdiri mendekatinya. “Kau sudah siap di investigasi?”

Chanyeol mendongak menatap dua lelaki di hadapannya. Masih terisak, ia menggumam parau, “Tunggu sebentar… aku ingin bertemu dengannya sekali lagi.”

Dua orang berseragam tersebut saling berpandangan lalu mengiyakan. Duduk diam di samping Chanyeol. Membiarkan lelaki bertubuh tinggi itu tenggelam dalam kesedihannya sendiri. Chanyeol masih tergugu ketika seorang perawat keluar memanggil namanya dan mengatakan Baekhyun ingin bertemu dengannya sebelum operasi di jalankan. Tergesa-gesa Chanyeol memasuki ruangan itu. Tersendat nyeri ketika melihat wajah Baekhyun yang amat sangat pucat, sinarnya meredup. Chanyeol mengusap lembut kepala Baekhyun. Hatinya pilu menatap senyum dari bibir Baekhyun.

Tidak banyak kata yang tercipta, hanya sorot mata yang berbicara. Sepertinya Baekhyun sendiri pun terlalu lemah untuk berkata-kata. Chanyeol menghela nafas, mencoba meredakan sedikit sesak di dadanya. “Berjanjilah padaku kau akan tetap hidup.”

Baekhyun mengerutkan kening, kedua kelopak matanya mengerjap.

“Setelah operasi ini berlangsung dengan baik, berjanjilah kau akan tetap hidup dengan bahagia.”

Senyap. Hanya suara isakan tertahan Chanyeol yang terdengar. Baekhyun tertegun mengulurkan jemarinya di pipi Chanyeol. Chanyeol semakin pilu, ia menggenggam erat jemari Baekhyun. ia ciumi jemari lemah tersebut.

“Berjanjilah… untukku.” Chanyeol mencoba bersuara sekali lagi kemudian ia mendengar Baekhyun menghela nafas dan mengangguk lemah. Matanya meredup dan menutup rapat.

Baekhyun kembali tidak sadarkan diri.

Sungguh! Betapa kesedihan itu memasung setiap kebahagiaannya. Dadanya terasa sesak. Kembali ia meneteskan air mata sebelum akhirnya melepaskan genggamannya dari jemari lentik lelaki yang tertidur itu.

Chanyeol melangkah keluar ruang darurat, beberapa paramedis riuh memasuki ruangan itu. Operasi akan segera di lakukan rupanya, lebih cepat dari waktu yang di jadwalkan. Tubuhnya membeku. Entah kapan lagi Chanyeol dapat melihat mata indah itu terbuka, bibir mungil itu tersenyum kepadanya, menyapanya.

Chanyeol membuka pintu terakhir menuju lorong dengan hati yang kebas. Matanya seolah rabun, telinganya tuli, bibirnya kelu. Ia memandang dua lelaki berseragam dengan batch ‘Kepolisian Republik Korea’ di belakang rompinya, dua lelaki berseragam yang sudah menunggunya sejak beberapa jam yang lalu. Chanyeol menunduk sejenak, menarik nafas panjang dan menghelanya.

Lalu mengulurkan kedua tangannya kedepan.

Dalam satu kali gerakan, dua lelaki berseragam itu mengaitkan besi dingin pada kedua tangan Chanyeol. Menggiringnya keluar menuju rumah sakit ini menuju tempat yang sudah dapat di tebak Chanyeol sebagai akhir perjalanannya sampai beberapa tahun kedepan.

Sekali lagi…

Chanyeol menolehkan kepalanya kebelakang, berharap dapat melihat siluet Baekhyun yang sedang tersenyum melambaikan tangan kepadanya.Tetapi kenyataannya berbeda, di balik kaca bening itu hanya ada ruang kosong.

Chanyeol menunduk memutar kepalanya kembali. Apalagi yang dapat di rangkumkannya selain doa. Selebihnya adalah rindu yang mengembun di nadi Baekhyun.

 

 

─South Korea Today─

“Pemirsa─ perampokan telah terjadi di sebuah Bank Hana di cabang Apgu-jeong. Perampok ini sama sekali tidak melukai korban yang saat itu tengah melakukan transaksi di bank, ia hanya mengambil uang sejumlah 12.000.000 won kemudian berlari pergi. Kasus ini telah di selidiki oleh anggota kepolisian. Dan menurut kepala kepolisian setempat pelakunya juga telah menyerahkan diri beberapa saat setelah kasus itu terjadi. Namun anehnya, pelaku yang berinisial PCY tersebut meminta waktu satu hari lagi sebelum ia di tahan dan mendekam di penjara. Pihak kepolisian memperbolehkan dengan syarat harus di jaga dengan dua anggota kepolisian. Dalam kasus ini pelaku akan di kenai pasal *** tahun *** untuk kasus pencurian dan akan di vonis penjara selama─ lima tahun.”

 

-oOo-

 

Beberapa bulan kemudian…

 

Baekhyun-ah
Maaf, bertubi-tubi maaf
Ma’af sebaris waktu telah mencuri kelengahanku.
Selain ma’af aku tak punya bekal lain untuk mengembalikan senyumanmu.
Ma’af. Kuiba. Tulus caraku berlindung dari bencimu yang bertahta.
Untuk serapah kata yang tidak sengaja mencederai perasaanmu, ma’afkan aku.
Jika hal yang tak bisa di nalar ini tak pantas mendapatkan ma’afmu, ma’afkan aku.
Baekhyun─ lelaki terkuat yang pernah ku temui dalam hidup.
Saat ini aku yakin kau sedang berada di kedai kopi, tempat di mana aku pertama melihatmu.
Kau tidak terlihat nyata saat pertama bertemu.
Aku tidak pernah melihat seseorang yang menikmati kopi dengan cara yang begitu aneh.
Tapi kau dengan segala ekspressimu itu mampu menarik perhatianku.
Aku tidak pernah berpikir untuk mencintaimu, walau hanya sekejap.
Tapi yang terjadi tak ubahnya alur nasib yang berbalik menohok seluruh permukaan hatiku.
Aku mencintaimu sejak kali ketiga aku melihat parasmu, dan semakin mencintaimu tatkala lembut sapa darimu terucap dan mata teduhmu menggugat.
Mengurungku dengan cinta satu-satunya.
Ku biarkan tanpa banyak pertanyaan.
Bukankah tidak butuh suatu alasan untuk mencintai seseorang?
Baekhyun-ah
Hidup telah berubah seperti yang kita tahu.
Aku tidak benar-benar perduli jika nantinya kau tidak lagi mengingatku.
Tapi jangan pernah melupakan janji yang telah kau buat di saat terakhir kita bertemu,
bahwa kau akan hidup dengan baik─untukku.
Jadi pulanglah… temukan hal-hal yang sempat terlupakan olehmu.
Aku akan membantumu─melihatmu dengan hatiku.
Aku mencintamu─ Baekhyun.

 

P.S I Love You.

 

Baekhyun mendekap surat itu erat. Air matanya buncah di pipi piasnya. Ia mendekap erat surat itu di dadanya. Ia tidak perduli kepada Sehun yang menatap iba di hadapannya. Ia hanya ingin melakukan satu hal untuk Chanyeol saat ini?

Bisa di tebakkah?

Baekhyun ingin sekali melempari kepala Chanyeol dengan batu saat ini juga, agar Chanyeol sadar betapa bodohnya tingkah Chanyeol.

Ya─ ia sudah mendengar semuanya. Tentang perampokan bank yang di lakukan Chanyeol hanya untuk membiayai operasi bedah kepalanya. Dan ia rela mendekam di penjara selama lima tahun lamanya. Apakah itu bukan hal bodoh namanya? Jika ia jadi Chanyeol, ia pasti akan memikirkan kembali hal itu. Menghabiskan waktu selama lima tahun di penjara itu bukanlah hal yang menyenangkan bukan?

Untung saja Baekhyun bukan Chanyeol. Baekhyun adalah Baekhyun dan Chanyeol tetaplah Chanyeol.

Baekhyun benar-benar tergugu, ia merasakan rasa sakit dan haru di saat yang bersamaan. Ia benar-benar tidak pernah menduga akan di cintai sebegitu besar oleh seseorang yang aneh dan ajaib seperti Park Chanyeol.

“Ia juga meninggalkan ini untukmu.” Sehun menyela di tengah-tengah tangisan Baekhyun. Ia menutup mulutnya lalu mengangkat pandangan ke arah Sehun. “Kamera yang sering di gunakan Chanyeol. Kau pasti ingat kan kalau Chanyeol sangat suka memotret?”

Baekhyun mengangguk, ia mengingatnya dengan pasti bahwa Chanyeol sangat menyukai fotografi. Baekhyun meraih kamera itu dari tangan Sehun.

“Simpan saja kalau kau mau dan kembalikan kepada Chanyeol jika ia telah bebas.” Sehun tersenyum hangat, menepuk lembut kedua bahu Baekhyun. “Ingat─ Chanyeol tidak pergi dari dunia ini, jadi jangan bersedih berlebihan. Kau bisa menemuinya kapanpun kau mau.”

Baekhyun ikut berdiri ketika Sehun berdiri. Sekali lagi mengulas senyum sebelum Sehun kembali lagi tenggelam dalam kesibukannya. Kini kehidupan benar-benar berubah. Dulu Baekhyun merasa hidupnya seperti kembang api yang hanya bersinar sesaat, sekarang ia merasa seperti matahari yang selalu bersinar di pagi hari.

Terima-kasih, Park Chanyeol!

You Rock!

 

 

 

 

 

 

 

 

Epilog:

 

Chanyeol sedang beringsut kelelahan setelah membersihkan bak kamar mandi ketika sang sipir memanggil namanya. Itu adalah tanda bahwa ada seseorang yang menjenguknya. Ia sempat berpikir kenapa Sehun berkunjung dua kali dalam seminggu, biasanya ia selalu menolak jika Chanyeol menyuruhnya untuk mengunjunginya lebih dari satu kali seminggu. Ah, tapi yasudahlah… siapa tahu ia membawa kabar berita baik atau semacamnya. Chanyeol melepaskan sarung tangan karetnya kemudian membenarkan letak bajunya. Ia tergesa-gesa keluar dari kamar mandi dan berjalan lurus menuju tempat biasa ia di kunjungi.

Tidak lupa Chanyeol membungkuk dan tersenyum kepada sipir-sipir yang sedang berjaga sebelum memposisikan dirinya duduk di kursi yang berderet di sana. Chanyeol sedikit mengerutkan kening tatkala melihat siluet Sehun dari balik kaca temaram yang memisahkan antara pengunjung dan tahanan. Sejak kapan Sehun menjadi sedikit pendek? Chanyeol sempat menyipitkan matanya sejenak.

Mungkin lelaki itu merasakan kehadiran Chanyeol disana sehingga lelaki itu berbalik arah menghadap Chanyeol dan membuat nafas Chanyeol tercekat. Ia hampir saja kehilangan keseimbangan tubuhnya tatkala lelaki itu dengan seluruh sorot matanya yang menusuk, mengulum senyum untuknya. Tidak lagi kosong, hanya ketulusan yang terbingkai disana.

Mendadak seluruh mata Chanyeol perih, seluruh rasa yang berusaha di pendamnya muncul kembali ke permukaan, membuatnya hampir melupakan bagaimana caranya bernafas. Melihat wajah lelaki bernama Baekhyun di hadapannya seketika menghantam kepalanya untuk mengingatkan… betapa ia merindukan lelaki dengan senyum indah itu.

Chanyeol masih membeku di tempat, sampai akhirnya ia teringat bahwa ia harus membalas sapaan Baekhyun. Chanyeol menarik sudut-sudut bibirnya keatas. Setitik rasa lega membuncah di sekujur tubuhnya.

Jika begitu… itu artinya─

Baekhyun masih mengingatnya!

Ulangi, Baekhyun masih m-e-n-g-i-n-g-a-t-n-y-a!!!

 

─END─

 

 

SUBHANALLAAAAHHHHHH~
Finally selesai juga ini FF Ya ALLAH…
LAILAHAILLALLAHU, puji syukur kehadirat-Mu…

Seperti yang udah di ucapin di atas, ini ff pertandingan ya.
dan silahkan komen di bawah sini kalo suka sama ff ini hehehe~
Jangan lupa follow twitter kami yang di @Termakan_Sehun dan @kyuu_hime bagi yang pengen dapetin hadiah.

Thank you buat kak Nine-tailed Fox yang selalu support aku…
Dedek Hyobin yang menemaniku di saat saat terberatku hahaha.

Oya, FF ini itu terinspirasi dari MV bersambungnya Huh-Gak judulnya ‘The person who love me once sama It Hurts.’ Jadi ini emang mirip tuh MV pemirsah! Haha.

Makasih ya udah baca.

P.S I LOVE YOU!!!

138 thoughts on “CHANBAEK | TERMAKAN SEHUN – P.S I LOVE YOU

  1. Pantesan ini ff kayak familiar banget jalan ceritanya, ternyata terinspirasi dari mv huh gak wkwk
    Nangis thor ㅠㅠ chanyeolnya baik banget~ sampe terharu ngeliat kelakuannya.
    Gak tau lagi mau ngomong apa thor, gua biasa jarang mau baca ff boyslove gini kalo gak yang bener bener wow. Wkwk
    Soalnya menurut pengalaman biasa kalo yang ff boyslove suka nyangkut ke rated M wkwk
    Hebatlah thor~ ditunggu ff selanjutnya

  2. Allahuakbar!! ini ff bikin air mata gue jebol!!
    Fanfictnya daebak banget thor! feelnya dapet bangeeeettt!! T.T
    Ada sequelnya gak thor? kalau ada gue tunggu yaaa ^^

  3. SEDIIHHH. pengen mecahin kepala chanyeol! aaaaaa keren ih author daebak syekaliihhh!! pas baca yang berita perampokan itu… ih sumpeh pengen mecahin kepala chanyeoolll!! pabooo aaaa pcy-____,- tapi itu tuh nghh banget ya kalo punya pacar kayak pcy….. keren banget thor. gatau mau bilang apa lagiii.❤❤

  4. Thor.. Ini ff DAE to the BAK. DAEBAK BINGITS!!! Waktu baca di bagian yg kayak film india, gua senyum2 sendiri thor. Yaa walaupun ff ini lebih sangat panjang dari ff yg lainnya, tapi gua sangat seneng bacanya. Ceritanya bikin kepo kalo baca cuman setengah. Tapi endingnya kurang greget thor. Harusnya bikin sampe yeol keluar penjara. Tapi gpp deh. Keep writing thor ^^

  5. Ya allahuakbar… ini authornya makhluk jenius dr planet mana si ??!! Ini ff baekyeol paling kere yg prnh aku baca !!! Ini kerenkerenkeren bgt !! Pengen bgt aku kliping trus d laminating trus dpajang dkamar biar bs dbaca terus…
    Oke aku lebay !! ‘-‘v

    Tp serius ini keren bgt.. ga tau lah mau komen apa.. keren aja udah pokoknya… aku suka bgtbgtbgt.. dah…
    Sukses trus ya thor… ^^9

  6. thooooorr… eluuu gillaaaaa …!!!!!😡😡 habis dah tisu sekotak gra2 nih ff ! … sumvah trharu bingit :”””) .. daebak thor ..bner .. gumaweo ne buat ff yg keren ini !! :”)

  7. DEMI APAPUN AKU INGIN MENCEKIKMU KARENA MEMBUATKU MENANGIS SEJADI-JADINYA THOOORRRRR

    aku tahu ini sad. tapi aku nggak nyangka akan se-sad ini. mana alurnya perlahan tapi pasti padahal aku udah gereget pingin tahu ada apa dan ada apa lainnya karena penasaran banget mulai dari si Baekhyun nggak muncul di kedai kopi atau apalah itu tadi ;w;

    untung ya Tuhan, untung Chanyeol ngerampok. bukan jual ginjel atau organ tubuh dan akhirnya mati. ya ampun aku udah mikir dia bakal mati karena pake.pesan terakhir segala. Chanyeol bikin bete!!!!

  8. Ini keren bangettttt T.T mau nangissss apalagi bagian baekkie pergi dari apartemen chanyeol dan tbtb lupa segalanyaaaaa\°Δ°/ alurnya ga ketebak bangetttt yaampun diterbitin pasti keterima nih yaa yaampun ini gabisa ditebak banget dan justru panjang-nya itu bikin super duper penasaran#readergaje aaaa bikin lagi thor yang kayak gini, kalo bisa sequel:D

  9. Ya Allah.. Aku nyesel baru baca epep ini.. Aku kira udah pernah baca epep ini sbelumnya.. Trnyata ini prtama kali aku baca..
    Nggak perlu banyak kata2.. Intinya ini epep daebak puoolll… Aku terharu seneng dll.. Sayang endingnya terlalu singkat.. Aku pnginnya nyritain chanyeol leluar dari penjara terus nikah sama baekhyun.. Kan ao sweet tuh..
    Tapi nggak papa sih.. Ini aja udah bersyukur chanyeol maaih bisa ktemu baekhyun„ baekhyun masih hidup dan bersyukurnya lagi baekhyun masih inget chanyeol..

    P.S author, bkin epep chanbaek yg banyak ya..

    Love U author.. Love U Forever ChanBaek..
    From,
    Rahayu Isnaeni
    ChanBaek shipper..

  10. gila😥 ini ff keren bangeeeett sumpah, huwaaaa gue gak tau harus ngomong apa lagi :’v suka banget sama gaya bahasa author🙂 pokoknya keren deh, keren keren keren!! daebaakkk :v belajar banyak dari author🙂 bikin ff yang banyak ya thor, ditunggu ff selanjutnya😀

  11. DEMI RAMBUT PELANGI OH SEHUN. Author kau membuatku memusatkan dua bola mataku pada layar ponselku dimulai pukul 11.55 dan usai pukul 12.55 bahkan aku masih menyempatkan diri meninggalkan tanda disini. Aku nggak ngantuk sama sekali. Mataku seger lagi kena air. Air mata. Hehe. Ini bukan one shot. Ini. One shoooooooooooooooot. Angst nya kerasa banget. Bayangin chanyeol bersihin bak, bikin aku ragu kalo dia biasku. Makasih thor udah bikin mata seger tengah malem. Keep writting. Love you! You rock!

  12. FF ini sukses buat aku nangis…bener! ini sedih bgt menurut aku…aku suka FF nya…keren bgt… :’) author daebak

  13. Annyeong…salam kenal..aku reader baru blm lama baca karyamu ternyata wow…tulisannya sederhana ..kata katanya natural tapi feel dapat banget dan bagiku kamu calon penulis novel…daebak dan selalu trus menulis..fighting

  14. Wwooowwwww it’s so AMAZING!!!! Awalnya aku udh ngira klo Baekhyun punya penyakit lupa2 gitu.. Aku kira Chanyeol mau ngedonorin /emang darah-,-/ otaknya buat Baekhyun dann akhirnya Chanyeol mati ehh tau nyaaa ngerampok bank :v Kata2 yg diblock in itu lirik dari backsound nya bkn??? Aku bingung “P.S I Love You” nah ! P.S itu artinya apaan thor??

  15. akhirnya selesai juga bacanya,,kkk ^^ nemu ff ini krn baca rekomen ff chanbaek/baekyeol semalem di om google. terima kasih buat yg udah nyaranin ff ini buat dibaca, menemani diriku di weekend yg cukup hampa ini *halah* ceritanya bener2 bikin assfdgdjdhd thor *gak tau ngebahasainnya gmna* kata2nya juga dalem banget. chanyeol ooh chanyeol, dia terlalu tulus T_T bagus bangetlah pokoknya..keep writing author-nim ^^

  16. Ya Allah, sumpah ini bikin nangizzz;( FFnyaaa… Alurnya keren bahasanya juga bagus… Bener juga, ajaib tuh Chanyeol bisa ngelakuin hal diluar perkiraan ama Baekhyun sampe ngerampok bank, adeuhhh… Tapi kok Sehun ngupil-ngupil sieh? Iuh, bias ku ternyata jorok di FF ini, hehehe. Pokoknya ni FF bikin histeris nangis… Hahaha… Good job!😀

  17. Ahh author nya hebat banget aku baca ini ff sampe be ingusan Haha sedih banget ini cerita Saya jadi terharu thor:’)

  18. ff nya sukses bikin aku terharu!!
    author-nim JJANG!!!
    sebenernya aku udh tau ff dari lama, bahkan judul sma linknya udh aku simpen, tapi aku lupa dan akhirnya kelelep deh ff nya, pas aku buka-buka lagi file aku, aku nemu ini, demi apaaa ..
    aku salut bgt sama chanyeolnya disini, dia bener” laki” sejati, gantle banget dah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s