Mukashi Kara no Uta – CHANBAEK – PART 1

Title: Mukashi Kara no Uta (Song For a Long Time Ago)

Author: Nine-tailed Fox

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol. Wu Yi Fan, Huang Zi Tao, Oh Sehun, Do Kyungsoo

Length: Chapter 1 0f 2

Disclaimer: –

Summary: –

Warning: This is BOYS LOVE STORY. THIS IS CHANBAEK STORY.

Kalo ada typo, jangan salahin saya.

Kalo ada kemiripan cerita, jangan salahin saya.

Kalo ada yang merasa cerita ini mirip dengan milik seseorang, maafkan saya.

 

mukashi kara no uta

 

 

Ia akan menyesal, Baekhyun yakin jika dirinya akan sangat menyesal.

 

Telah melepaskan Chanyeol untuk Kyungsoo.

 

Tapi keadaan seolah mengatakan bahwa Kyungsoo telah ditakdirkan untuk Chanyeol, karena ia adalah orang yang pertama kali mendapatkan hati Chanyeol. Sementara dirinya…Baekhyun tersenyum pahit. Hanya pemeran pembantu yang dimunculkan demi membuat kisah percintaan dua tokoh utama nampak dramatis.

 

Baekhyun sendiri tak mengerti mengapa ia dapat berlapang dada membiarkan Chanyeol dan Kyungsoo kembali merajut kasih. Memangnya ia malaikat? Memangnya ia orang paling dermawan sedunia dan sepanjang masa? Bukankah Baekhyun sendiri tahu bahwa Chanyeol adalah separuh hidupnya, nafasnya dan dirinya sendiri? Selama empat tahun ini ia adalah seorang pemeran pembantu yang disangka sebagai pemeran utama. Kyungsoo kembali untuk mengambil kedudukan yang seharusnya adalah miliknya, dan Baekhyun harus menyingkir. Itu faktanya.

 

“Aku rasa semua sudah selesai.” Ujar Baekhyun seraya menutup kotak berisi benda-benda kecil miliknya. Ia kemudian berjalan keluar kamar yang dahulunya ia tempati bersama Chanyeol. Dan menemukan Kyungsoo tengah bersenda gurau dengan mesra bersama mantan kekasihnya.

 

Kyungsoo yang menyadari kemunculan Baekhyun segera menghentikan sejenak candaannya bersama Chanyeol, pemuda kecil itu lalu meninggalkan konter dapur untuk menghampiri Baekhyun.

 

“Kau sudah selesai?” tanya Kyungsoo.

 

Baekhyun mengangguk mantap “Ya. Terima kasih sudah mengizinkanku masuk dan mengumpulkan barang-barangku yang tersisa.”

 

“Tidak masalah. Lain kali datanglah berkunjung kemari.”

 

Seulas senyum hadir, Baekhyun sejak dulu beranggapan kalau Kyungsoo adalah orang yang baik…bukan salahnya ia dan Chanyeol putus jika faktanya Chanyeol pun masih mencintai Kyungsoo. Semua hanya kembali ke tempat seharusnya, ya hanya itu. Matanya lalu berbenturan dengan mata bulat Chanyeol, hanya beberapa detik sampai akhirnya Baekhyun membungkuk memberi salam dan memutuskan untuk meninggalkan apartemen yang dahulu sempat ditempatinya, tentu bersama Chanyeol.

 

Baekhyun rasanya akan terserang asma bila berada satu ruangan dengan Chanyeol. Kecanggungan tak dapat ia hindari, sisa-sisa empat tahun lalu tak dapat lenyap begitu saja hanya dalam waktu empat hari.

 

Atau mungkin…tak dapat lenyap sama sekali.

 

“Semoga kau cepat beradaptasi dengan apartemen barumu, mengingat empat tahun ini kau tinggal di mansion mewah-nya Park Chanyeol.” Sindir Tao ketika mereka berada dalam mobil, pulang ke apartemen tempat tinggal baru Baekhyun. Itu memang semacam sindiran, Tao sedikit tidak menyukai Chanyeol entah apa alasannya, namun Baekhyun merasa lumrah dan hanya tersenyum kecil.

 

Tao berkata padanya dua hari setelah ia putus dengan Chanyeol. Orang tua di Cina dulu sering memberi nasihat, manusia itu mahluk yang sejatinya tak mengenal kata puas. Jika memiliki satu, maka ia menginginkan dua, jika memiliki dua maka ia menginginkan tiga, dan seterusnya. Lalu Baekhyun sempat menyela dengan mengatakan bahwa penjabaran tersebut sedikit tidak sesuai dengan keadaannya saat ini, tapi setelah itu Tao kembali bertuah…orang tua Cina dulu berkata kalau manusia juga seperti tanah liat, elastis, fleksibel, mudah dibentuk serta dipengaruhi oleh keadaan dan situasi.

 

“Selama apa pun waktu berlalu, jangan banyak berharap pada makhluk bernama manusia.” Kata Tao pada akhirnya.

 

Cinta hanyalah ikrar tak kasat mata. Manusia sering melupakan berbagai hal, termasuk kata-kata cinta, ungkapan cinta, janji cinta dan cinta-cinta lainnya. Cinta tak dapat menjamin kebersamaan dua makhluk yang ─katanya─ saling mencintai. Cinta adalah perjanjian hitam di atas hitam, sehingga wujud dan maknanya tidak dapat dipahami. Cinta itu konyol. Cinta itu menggelikan…cinta itu adalah sumber pembodohan dan malapetaka.

 

Tao dan segala pendapat sarkasnya…pola pikirnya merupakan buah traumanya akibat perceraian kedua orang tuanya tiga tahun yang lalu.

 

Baekhyun tak bersuara, ia memilih menatap keluar jendela dan membiarkan Tao menyetir dalam kesunyian. Logikanya tak bekerja saat itu, seluruh persendian tubuhnya lesu dan ia tak bergairah sama sekali untuk bergerak. Empat tahun bersama Chanyeol begitu cepat berlalu, namun empat hari tanpa Chanyeol terasa begitu lama berlalu. Dadanya terasa sesak, kerinduan di hatinya telah menumpuk seperti sampah. Jika rasa rindu memiliki aroma, maka dapat dipastikan tubuh Baekhyun akan menguarkan aroma kerinduan yang begitu pekat.

 

Ini berat…Baekhyun rasa kepalanya akan pecah. Ia lelah tersenyum, ia lelah mengabaikan kenyataan dan bersikap apa adanya, tapi ia bisa apa selain melakukan semua itu? Kesempatannya hidup berdampingan dengan Chanyeol telah habis…pria itu memilih untuk pergi dan berpaling pada cinta lamanya.

 

“Beristirahatlah. Sampai besok dan selamat tidur.” Ucap Tao sebelum kembali ke apartemennya yang berada tepat di sebelah apartemen Baekhyun. Mereka memang tinggal di gedung yang sama.

 

Pintu telah terkunci rapat.

 

Baekhyun rasa malam ini ia akan menangis lagi.

 

.

.

.

 

Baekhyun sangat berterima kasih dengan kebiasaan lamanya yang selalu mendengarkan musik lewat earphone jika tengah berkonsentrasi, jujur saja kinerja otaknya tidak akan maksimal tanpa mendengarkan music…berkat hal tersebut ia tak perlu mendengarkan kemesraan Chanyeol dan Kyungsoo yang sialnya bekerja satu ruangan dengannya. Yah, meski ada beberapa orang lain yang juga bekerja di ruangan itu, namun, oh haruskah ia mengatakan jika mejanyalah yang paling dekat dengan meja kedua orang itu? Sungguh dramatis.

 

Setiap istirahat siang, Kyungsoo dan Chanyeol akan menjadi orang terakhir yang meninggalkan ruangan meninggalkan Baekhyun seorang diri. Alasannya adalah karena Chanyeol merupakan kepala divisi yang memimpin mereka sebagai satu tim, sedangkan Kyungsoo tak mungkin pergi meninggalkan kekasihnya.

 

Baekhyun sedang malas makan siang, ia tidak bernafsu…biasanya ada Tao yang akan menjemputnya untuk makan siang. Tapi sepertinya sahabatnya itu sedang rusuh direcoki oleh seorang pria blasteran bernama Wu Yi Fan yang kabarnya adalah teman lama Chanyeol dan Kyungsoo saat di sekolah menengah pertama.

 

Pemuda bertubuh kecil itu sudah membuka mulut untuk menguap kalau saja tidak ada seseorang yang menyodorkan sebuah kantung plastic putih padanya. Baekhyun menengadah dan buru-buru melepas earphone-nya saat menemukan kalau orang tersebut adalah Park Chanyeol.

 

“Aku tahu kau belum makan. Terimalah.” Katanya dengan senyum tipis, benar-benar tipis seperti benang.

 

Baekhyun mengangguk kaku “Ah, te-terima kasih…”

Di dalamnya terdapat sebuah roti stroberi dan sebuah susu stroberi, tapi sungguh perutnya tengah tak dapat menerima apa pun saat ini, maka dari itu Baekhyun memasukkan kantung berisi susu dan roti itu ke dalam laci, tanpa menyentuhnya sedikit pun. Kemudian kembali menyumpal kedua telinganya dengan earphone…tanpa menyadari tatapan sendu dari kedua mata bulat milik seorang pria di dekatnya.

Baekhyun menyadarinya…hanya saja hatinya berharap, Oh Tuhan, biarlah semua ini cepat berlalu.

 

.

 

“Dasar pria bule menyebalkaaaa~n!!” Tao mengepalkan kedua tangannya erat, mengumpulkan amarahnya di sana sambil membayangkan bahwa saat ini ia tengah mencekik kuat-kuat leher seorang pria blasteran Russia bersurai pirang dan bermata abu-abu gelap.

 

“Sudah hampir tiga puluh menit kau hanya mengeluhkan soal Wu Yi Fan itu, Tao. Kau pikir telingaku tidak panas? Talk to my butt, then…” ujar Baekhyun yang kemudian melenggang mendahului Tao begitu saja.

 

Tao merengut kesal, lalu mempercepat langkah kembali menyamai Baekhyun, ia masih ingin mengeluh soal si blasteran “Tapi, tapi, tapiiiii~ dengar dulu Byunnie…kau harus tahu kalau tadi dia mengecup pipiku! Kau juga harus tahu berapa kali dia mengedip genit padaku dalam sehari! Dia benar-benar pria genit!”

 

“Sepertinya kau merasa terhibur, Tao…” Baekhyun menyeringai jahil.

 

Sudah jadi rahasia umum kalau Wu Yi Fan, teman baik Chanyeol itu hampir setiap hari menyambangi kantor tempat Tao bekerja hanya untuk melancarkan aksi pendekatannya pada pemuda sesama warga Negara Cina itu. Baekhyun pernah beberapa kali melihatnya, Tao memang bekerja di perusahaan yang sama hanya saja berbeda divisi. Dan yang ia lihat, Wu Yi Fan adalah pemuda yang pantang menyerah, meski beberapa kali Tao menolaknya mentah-mentah…ada saja gombalan-gombalan baru darinya setiap hari. Tapi Baekhyun rasa, Wu Yi Fan harus bekerja ekstra keras untuk dapat meluluhkan hati Tao, karena Tao bukanlah pemuda yang akan dengan mudah terhanyut oleh lagu lama.

 

“Aku terhibur…yah, dia seperti badut. Besok akan kutendang bokongnya kuat-kuat. Belum tahu saja dia aku jago Kung Fu…”

 

“Lakukan pelan-pelan atau kau bisa membuatnya mati.” Tanggap Baekhyun yang kemudian memasuki salah satu Convenience Store, diikuti oleh Tao. Mereka bermaksud membeli segelas kopi hangat sebelum menuju stasiun bawah tanah.

 

Tao membeli Black Coffee sementara Mochachino untuk Baekhyun, setelah mendapatkan kopi favorit masing-masing, keduanya melangkah mendekati jendela dan menunduki kursi yang tersedia di sana. Hingga sepuluh menit kedepan yang mereka lakukan hanya mengamati para pejalan kaki yang lewat dalam kebisuan…Tao beberapa kali berusaha menyeruput kopinya yang masih panas, sedangkan Baekhyun memilih untuk menunggu saja sampai berubah hangat.

 

“Bukankah besok adalah ulang tahunmu, Byunnie…” Tao memulai percakapan setelah menelan sedikit kopinya yang masih cukup panas “Bagaimana kalau kita memasak banyak dan melakukan pesta kecil-kecilan?”

 

“Kau memang bilang ‘kita’ tapi pada akhirnya tetap aku yang memasak semua!”

 

“Hehe…aku bantu, sedikit…” Ucap Tao dengan suara pelan saat mengucapkan kata ‘sedikit’.

 

Baekhyun menatap genangan coklat kental dalam gelas kertas yang digenggamnya, rasa kesat bercampur manis masih terasa pekat dalam mulutnya. Ia ingat kalau Chanyeol sangat suka mencium bibirnya setelah pria manis itu meminum mochachino…terasa lebih menggairahkan, katanya. Chanyeol juga berkata kalau ia adalah pencandu kafein, maksudnya kafein yang terkandung dalam liur Baekhyun setelah pemuda bertubuh mini itu menyesap mochachino tentunya.

 

Baekhyun mengela nafas…ia tak kan menangis, setidaknya tidak di sini, tidak di depan Tao.

 

Terakhir kali ia merayakan ulang tahunnya bersama Chanyeol adalah dengan makan malam sederhana di atap gedung mansion, menu saat itu adalah kalkun panggang yang diolesi madu, Chanyeol sendiri yang membuatnya…dengan penuh cinta, dia bilang. Setelah itu dilanjutkan dengan berdansa pelan diiringi lagu instrumental berjudul Love In The Ice. Mungkin semua itu adalah hadiah terakhir dari langit untuknya, karena bintang bertaburan begitu banyak dalam pekatnya malam. Semua itu kini hanya tinggal selembar kenangan dalam buku ingatan Baekhyun yang telah ditandainya, agar dapat dikenang setiap saat.

 

Aahh~ tidak…ia ingin menangis, Tuhan.

 

“Aku akan menghantam kepalamu sampai kau amnesia jika kau tidak berhenti memikirkan mantan kekasihmu itu, Byunnie.”

 

Tao menusuk pipinya dengan ujung telunjuk, membuat Baekhyun tersentak dan bersyukur…karena air matanya belum sempat menetes.

 

“Kau tahu saja, Tao.” ujar Baekhyun tersenyum sendu lalu menyesap kopinya yang mulai dingin.

 

God~ pria macam apa yang melepas suka rela kekasihnya demi orang lain tapi menyesalinya diam-diam? Jika Kyungsoo dan Chanyeol melihat wajahmu yang seperti saat ini…kusarankan padamu untuk menggali lubang lalu melompat ke dalam dan mengubur diri.” Setelah itu Tao meminum kopinya dengan beberapa tegukan kasar.

 

Baekhyun rasa ia akan ke psikiater untuk konsultasi masalah stress yang didapatnya karena terlalu sering menerima ungkapan super sakras dari Tao, sahabatnya. Tetapi, ia jadi mengerti arti dari ungkapan ‘Kejujuran pahit itu lebih baik daripada kebohongan manis.’ setelah bertemu si pemuda Cina cerminan panda yang kalau bicara tidak pernah dipikir dahulu.

 

Dalam berbagai hal, kebenaran merupakan hal terpahit.

 

Ada orang yang hancur karena tak kuasa menahan rasa pahit, ada pula orang yang tetap kuat bertahan karena sanggup menelan kepahitan tersebut dan membiarkannya melebur dalam hati, bersatu dengan tubuh dan jiwa.

 

Baekhyun tidak ingin menjadi jenis orang yang pertama, tapi Baekhyun juga belum siap jika harus menjadi jenis orang yang kedua.

 

Ini kali pertama ia begitu menyedihkan seperti sekarang di malam sebelum ulang tahunnya.

 

Rasanya begitu pahit menusuk jantung, membayangkan jika esok dan seterusnya tak kan ada lagi hari-hari bahagianya bersama Chanyeol.

 

Kebenaran itu…begitu pahit ya, Tao.

 

“Haaahhh~” desah Tao.

 

Namun tangan kirinya tetap bekerja mengusap kepala Baekhyun yang kini terbenam dalam lipatan kedua tangan di atas meja.

 

“Menangisnya sebentar saja ya, Byunnie. Aku malu dilihat orang.”

 

.

 

Chanyeol dan Kyungsoo melangkah beriringan memasuki toko pernak-pernik setelah memarkirkan mobil di pelataran parkir terdekat. Kalau boleh jujur, Chanyeol malas mampir kemana-mana setelah pulang bekerja, ia lebih ingin langsung pulang dan beristirahat…kalau saja Kyungsoo tidak memaksanya singgah ke daerah pertokoan untuk membeli hadiah karena besok Baekhyun berulang tahun.

 

“Hei, bagaimana benda ini menurutmu Chanyeol?” Kyungsoo menunjukan figure statue dalam kotak plastik berhiaskan pita merah muda dengan plat nama Girls Generation’s Taeyeon.

 

Pria yang lebih tinggi memandang benda itu sesaat, lalu menggeleng dengan wajah tak berminat sebelum akhirnya kembali mengamati jejeran boneka entah hewan apa yang terpajang disalah satu etalase.

 

Kyungsoo mengedip bingung. Sejak kapan item bertema Girls Generation tidak cocok menjadi hadiah ulang tahun Baekhyun yang sepengetahuannya, adalah penggemar berat girl group tersebut? Mata bulatnya kembali mengamati benda yang masih berada ditangannya, ah─ padahal figure statue ini begitu cantik, Taeyeon versi boneka tengah bergaya dalam kostum pemandu sorak dengan sebuah pom-pom dikedua tangannya. Atau mungkin boneka Taeyeon dalam kostum supir taksi lengkap dengan mobil taksinya, akan membuat Baekhyun lebih senang? Jika tidak, bagaimana dengan miniatur stage yang lampunya dapat menyala lengkap dengan figure statue Taeyeon, Tiffany dan Seohyun di dalamnya? Sshh─ Kyungsoo menggaruk kepala bingung, semua benda ini sangat bagus…kira-kira mana yang akan lebih disukai Baekhyun?

 

“Berikan saja dia boneka ini.” sebuah suara khas mengacaukan konsentrasinya, dilihatnya Chanyeol tengah memegang sebuah boneka entah hewan apa yang berwarna putih “Baekhyun tidak terlalu menggemari Girls Generation lagi sejak setahun lalu…”

 

Kyungsoo mengambil boneka tersebut dari tangan Chanyeol “Boneka apa ini? Unta?”

 

“Bukan, dasar kau.” Chanyeol mengambil kembali boneka itu dan tersenyum tipis saat menatapnya “Ini llama. Akhir-akhir ini Baekhyun menggemari llama, karena ia pikir aku mirip dengan llama, konyol bukan─”

 

Chanyeol berhenti berkata saat menyadari kalau baru saja ia mengungkit masa lalunya dengan Baekhyun di hadapan Kyungsoo…kekasihnya.

 

Atau…ia lupa kalau saat ini Kyungsoo lah kekasihnya.

 

Bukan Baekhyun.

 

Bukan Baekhyun.

 

Bukan…

 

 

Ditatapnya boneka llama itu dengan lekat. Dapat berdiri dengan empat kaki, mengenakan pita merah kecil di telinga kanan, serta lonceng kecil berbunyi nyaring di lehernya, boneka ini nampak sangat imut. Baekhyun sangat menyukai sesuatu yang kecil, lucu dan imut…dan Chanyeol merasa jika seperti itu sama artinya Baekhyun menyukai diri sendiri, karena dirinya juga merupakan makhluk kecil, lucu dan imut.

 

Dibiarkan ingatannya berlabuh pada saat-saat sebelum saat ini, saat ia dan Baekhyun masih bersama…tanpa menyadari bahwa hal itu merupakan sesuatu yang tabu karena dirinya telah memilih kembali pada cinta lamanya, Kyungsoo.

 

Kebiasaannya mengingat sosok Baekhyun bagai hobi lama yang telah mendarah daging dalam dirinya. Sosok tersebut begitu sukar tergantikan…mungkin tidak bisa.

 

Tidak bisa.

 

Ia tidak bisa melupakan.

 

Tidak bisa melupakan.

 

Tidak bisa…melupakan…

 

Baekhyun─

 

“Baiklah bila menurutmu begitu, aku pilih boneka ini saja!” lamunan Chanyeol runtuh seketika saat Kyungsoo merebut boneka tersebut darinya.

 

Pemuda bermata sama bulatnya dengan Kyungsoo itu tertegun menatap sang kekasih, jujur dalam kepalanya masih ada sosok Baekhyun.

 

“Tunggulah sebentar. Aku akan membayar sekaligus meminta petugas membungkus boneka ini menjadi kado ulang tahun untuk Baekhyun.” Kyungsoo tersenyum lembut.

 

Chanyeol hanya mengangguk kaku “Ng~”

 

Namun sebelum benar-benar pergi, Kyungsoo mendekat dan berjinjit agar bibirnya dapat menyentuh bibir Chanyeol.

 

Sebuah kecupan pun terjadi.

 

“Aku mencintaimu.” Bisik Kyungsoo lalu tersenyum jahil “Dan aku tidak akan mengatakan pada Baekhyun kalau hadiah ini adalah pilihanmu…”

 

Mengapa kini begitu sulit mengatakan hal yang sama kepadamu ya, Kyungsoo?

 

.

.

.

 

Pagi ini Baekhyun dikejutkan dengan suara terompet yang membuat telinganya pengang setibanya ia di kantor. Serpihan konfeti pun bertebaran di mana-mana, Kyungsoo lah yang paling banyak menebarkannya juga orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun setelah ayah, ibu, Sehun adiknya, Tao…dan oh, Yifan si blasteran Russia juga sudah mengucapkanya karena Tao mengatakan kalau hari ini adalah ulang tahunnya. Baekhyun tidak merasa heran jika Chanyeol sama sekali tak mengatakan apa pun, mungkin pria itu benar-benar ingin melupakan masa lalu kebersamaan mereka.

 

Kyungsoo tersenyum gemas ketika melihat Baekhyun memeluk hadiah boneka llama pemberiannya seperti anak kecil yang diberikan mainan baru, ia adalah orang terakhir yang memberikan hadiah saat makan siang, setelah semua rekan kerjanya memberi kado atau bunga, ada juga yang patungan memberikan mantel mahal untuk musim dingin nanti.

 

“Terima kasih, Kyungsoo…” ucap Baekhyun dengan mata berbinar, boneka llama itu masih dipeluknya erat dan nampak tak berniat sama sekali untuk dilepaskan.

 

Sang pemberi hadiah tersenyum lembut, ia belum pernah melihat seseorang sebahagia Baekhyun saat menerima hadiah sederhana macam boneka murahan. Kenyataan bahwa Chanyeol lah yang memilih boneka tersebut membuat hatinya bagaikan diremas pelan-pelan namun sakit yang dirasa begitu tak tertahankan. Hal tersebut sama artinya dengan masih adanya ikatan antara Chanyeol dan Baekhyun, ikatan yang terlalu kuat sampai-sampai tak ada seorang pun yang menyadarinya termasuk kedua orang yang bersangkutan itu sendiri.

 

Ia memang cinta pertama Chanyeol, seseorang yang Chanyeol cintai paling lama. Tapi, Baekhyun lah orang yang hidup paling lama bersama pria tinggi itu. Meski pun kini Chanyeol kembali memilihnya…namun dahulu pria tampan itu pernah mencintai Baekhyun dengan begitu besar.

 

Pernah atau…masih?

 

“Baekhyun…”

 

“Ya?” ia masih asyik mengusap pipinya pada permukaan lembut boneka llama-nya.

 

“Boneka itu…Chanyeol yang memilihnya…”

 

Beberapa detik kemudian tubuh kecil Baekhyun kaku seketika saat ia benar-benar mengerti apa arti ucapan Kyungsoo. Disebutnya nama sang mantan kekasih menon-aktifkan dengan sempurna persendian tubuhnya. Ia benar-benar tidak siap jika harus membicarakan Chanyeol hanya berdua dengan Kyungsoo, atau lebih baik sama sekali tidak melakukannya. Baekhyun tidak ingin hari ulang tahunnya lebih buruk dari ini, ia hanya tersenyum kaku dan menggangguk pelan.

 

“Begitukah?” katanya gugup dengan senyum kaku “Sampaikan terima kasihku untuknya kalau begitu…”

 

Baekhyun berhenti memuja hadiah dari Kyungsoo, ia tak mungkin lagi melakukannya karena boneka itu kini semakin terlihat seperti Chanyeol, meski sejak dulu ia memang berpikir kalau lelaki tampan tersebut mirip llama, walau lebih banyak yang menyebutnya mirip jerapah. Ia menarik kursi kerja-nya bermaksud untuk duduk dan menyelesaikan tugasnya yang tertunda, namun suara Kyungsoo memaksanya membatalkan niat.

 

“Benarkah kau tidak apa jika berakhir seperti ini?” Kyungsoo seolah dapat membaca isi hati Baekhyun.

 

Lelaki yang ditanya terdiam untuk beberapa saat, ia berulang kali melipat kedua belah bibirnya kedalam mulut sambil sesekali menghela nafas dalam. Pikirannya berkecamuk antara memilih untuk bersikap berpura-pura keren di hadapan Kyungsoo atau bersikap jujur dan memberitahu secara tidak langsung bahwa hampir tiap malam ia menangis sebelum tidur kemudian akan bangun satu jam lebih awal dipagi harinya hanya untuk mengompres kantung matanya yang membengkak menyaingi Tao.

 

Baekhyun sadar jika wajahnya telah menyendu saat kembali melihat Kyungsoo, ia menelan liur paksa, menelan pahit-pahit keinginannya untuk menangis.

 

“Aku…” kedua belah bibirnya bergetar saat mencoba mengeluarkan suara. Namun sedetik kemudian, tawa pahit melepaskan diri dari kedua belah bibir tersebut “Aku tidak baik-baik saja Kyungsoo…”

 

Lelaki yang lainnya mengangkat kedua alis penuh tanya, ia tidak akan bertanya lebih karena tanpa pertanyaan pun…pembicaraan ini sudah memiliki jalurnya sendiri.

 

“Aku sakit, aku gila, aku berdarah-darah dan hampir setiap harinya aku selalu ingin mengeluarkan kembali makanan yang baru saja kutelan…” Baekhyun mendekati Kyungsoo dan kembali berdiri di hadapannya “Yang ingin kukatakan adalah, aku benar-benar kacau semenjak berpisah dengan Chanyeol…”

 

Baekhyun memang tersenyum tapi parasnya memancarkan kesedihan lebih banyak dan ia masih enggan mempertanyakan masalah ini lebih lanjut. Biarlah Baekhyun jujur, sambil sesekali melirik pintu kantor yang sedikit terbuka memperlihatkan bayangan seseorang melalui celah pintu, Kyungsoo tetap tenang sebagai pendengar.

 

“Sudahlah, sebaiknya tak perlu membahas masalah ini lebih lanjut, Kyungsoo…”

 

Mata Kyungsoo membulat saat melihat Baekhyun hendak kembali ke tempat kerjanya, ia panik seraya kembali melayangkan pandang ke arah pintu. Dengan gerakan cepat, pemuda manis itu menggapai lengan Baekhyun “Tunggu dulu, Baekhyun! Jelaskan padaku lebih banyak lagi, mengapa kau membiarkan Chanyeol kembali padaku?!”

 

Baekhyun nampak terkejut, namun sedetik kemudian wajahnya kembali tenang saat menemukan rasa penuh keingintahuan tersirat dari raut wajah Kyungsoo. Pemuda manis itu menelan liur sebelum menjawab.

 

“Karena itu adalah yang Chanyeol inginkan.”

 

Kyungsoo menatap penuh tanya.

 

“Apa yang dapat kulakukan bila orang yang kucintai tak lagi ingin berada disampingku? Perasaan seperti ditolak mentah-mentah itu…haruskah aku berpura-pura tidak merasakannya dan memaksa Chanyeol untuk bertahan disampingku?” Baekhyun mengulas senyum simpul sebelum melanjutkan “Toh jika Chanyeol tetap bersedia, keadaannya tidak akan sama seperti dulu…haruskah aku mempertahankan keadaan yang membuat kami berdua sama-sama menderita?”

 

“Jadi…kau melakukan semua ini untuk Chanyeol?”

 

Baekhyun menggeleng cepat “Aku hanya tidak ingin terus merasa ditolak oleh orang yang kucintai…”

 

Dan setelah itu, Kyungsoo seperti mengalami kebisuan sementara…keadaan ini tak dapat lagi ditepis. Sekarang hanya ada dirinya dan Chanyeol, tanpa adanya kehadiran Baekhyun.

 

Pemuda bermata bulat itu kembali melirik kearah pintu, bayangan sosok seseorang yang sepertinya mencuri dengar pembicaraan mereka sejak awal masih setia berdiri di sana.

 

Benar begitu ‘kan, Chanyeol?

 

.

 

Baekhyun melamun dengan bertopang dagu di meja kerjanya. Berkas-berkas telah ia rapihkan, jemarinya sesekali memainkan kunci mobil Tao yang dihiasi gantungan kunci buah persik berwarna merah muda. Setengah jam yang lalu, Tao memang datang ke kantornya untuk mengajak pulang bersama, namun beberapa menit kemudian, seorang pria blasteran muncul dan memaksa sahabatnya itu pulang bersama menggunakan mobil mewahnya, Wu Yi Fan memang orang borjuis…sama halnya dengan Chanyeol.

 

Ia ingin segera pulang, tapi pikirannya masih dipenuhi oleh pembicaraannya dengan Kyungsoo saat istirahat makan siang tadi. Tidak mungkin Baekhyun menyetir mobil Tao dalam keadaan pikiran yang masih berantakan, bisa-bisa ia pulang hanya tinggal arwah.

 

“Hhhhh~” helaan nafas berat meluncur dari kedua belah bibirnya.

 

Dua jam lagi hari ulang tahunnya akan segera berakhir. Dalam hati, Baekhyun masih bersikukuh menampik kalau ia menanti ucapan selamat dari mantan kekasihnya. Ia tidak berharap, hanya menunggu…dua hal yang sulit dipisahkan maknanya. Tao tidak menghubunginya sama sekali, itu artinya sahabatnya itu masih berkeliaran di tengah kota bersama si pria warga Negara ganda Russia-China itu. Entah kemana mereka pergi, tapi tadi Tao terlihat menolak keras saat Yifan memaksanya pulang bersama.

 

Jam sebelas. Enam puluh menit lamanya ia melamun seperti orang dungu, perutnya terasa lapar lagi sehingga Baekhyun memutuskan untuk segera pulang saja. Setelah menutup pintu kantor, Baekhyun berjalan menuju lift yang akan membawanya ke tempat parkir bawah tanah, pintu lift sudah akan tertutup saat sebuah tangan besar mencegahnya dan membuatnya kembali terbuka lebar.

 

Kedua mata tipis Baekhyun sedikit melebar.

 

Demi kepala adiknya, Sehun yang kini berwarna-warni…Baekhyun tidak siap bila harus berada di satu ruangan sempit yang tertutup, bersama Park Chanyeol.

 

Sepuluh menit sudah berlalu dalam keadaan senyap, Baekhyun rasanya bagai berada bersama patung. Tapi syukurlah pria tinggi itu benar-benar menutup mulut, mau berkata apa dia sepanjang lift menurun dua puluh lantai lagi. Baekhyun melepas satu tali tas ransel di pundaknya, bermaksud mengambil earphone karena ingin mendengarkan lagu, dari pada sepi sendiri tidak karuan, begitu pikirnya. Namun detik selanjutnya, ia sungguh tak menduga jika lift akan mengalami guncangan sehingga tubuhnya limbung dan secara refleks bertumpu pada tubuh tinggi pria di sebelahnya dengan cara bertumpu pada lengan kokohnya. Dan sedikit banyak ia dapat merasakan bahwa pria tinggi itu turut mencengkram tangan kecilnya, mungkin.

 

“Eughh!” mulutnya terpekik kecil akibat guncangan, tangannya terasa erat dalam genggam lelaki tinggi tersebut.

 

Beberapa puluh detik kemudian barulah guncangan benar-benar terhenti, kedua matanya yang terpejam rapat-rapat terbuka secara perlahan, ia buru-buru melepas lengan lelaki tinggi itu dan kembali berdiri tegak.

 

“Ma-maaf, ya. Aku tidak sengaja!!” ucapnya panik tanpa menatap Chanyeol.

 

Lelaki itu tak menjawab. Baekhyun mana peduli, kini ia sibuk berpaling wajah sambil berkomat-kamit menyumpah serapahi tindakannya yang benar-benar ceroboh. Ia bisa dikira mencari kesempatan dalam kesempitan. Eerrghh─ memalukan sekali!

 

“…Baekhyun…”

 

Memalukan seka─

Eh? Tadi seperti ada suara…Baekhyun berkedip-kedip sembari berpikir. Itu tadi…Chanyeol yang memanggilnya?

 

Pemuda itu menelan liur paksa, butuh waktu beberapa detik hingga akhirnya Baekhyun memutuskan untuk menoleh namun masih diiringi perasaan ragu. Sorot matanya memancarkan ketakutan entah karena apa.

 

“Y-ya…?”

 

Baru saja ia menoleh, sesuatu telah membungkam mulutnya. Nafasnya tercekat, untuk beberapa detik Baekhyun merasa seperti tercekik, kedua matanya terbelalak beradu pandang dengan sepasang mata lain yang selama ini membuatnya rindu setengah mati. Baekhyun menyadari bahwa sesuatu yang kini bertautan dengan bibirnya, merupakan sesuatu yang bertekstur lunak, lembut dan lembab, sesuatu itu bergerak saat kedua mata yang mengunci pergerakan tubuhnya itu menutup perlahan.

 

Tidak ada suara.

 

Namun pria mungil itu menyadari kalau kini Chanyeol tengah menciumnya, mereka berciuman dan bibir pria tinggi itu mulai bergerak.

 

Baekhyun terkejut, mereka tak seharusnya melakukan ini. Dengan mulut yang berusaha ia bungkam susah payah, keduatangannya terangkat guna mendorong bahu kokoh sang pria kurang ajar yang merupakan mantan kekasihnya.

 

“Chanyeol! Apa yang─” ucapnya saat bibir mereka sedikit terpisah.

 

Sayangnya, Chanyeol tak memberi kesempatan bagi Baekhyun untuk bertindak lebih jauh, entah apa yang merasukinya, kedua tangannya mencengkram kedua pergelangan tangan Baekhyun, ia sadar jika pemuda mungil itu semakin panik, namun ia tak dapat menahan diri untuk tidak mendorong tubuh tak berdaya tersebut hingga punggung sempitnya membentur dinding.

 

“Mpph!”

 

Baekhyun terpekik saat sisi belakang kepalanya turut terbentur dinding lift. Chanyeol benar-benar kesetanan, mungkin. Menyerangnya hingga seperti ini, tidak ada perlakuan lembut atau apa pun sama sekali. Ia mencoba memalingkan wajah, namun tangan kiri Chanyeol beralih menahan tengkuknya. Kembali mencumbu bibirnya penuh hasrat.

 

Pria yang terpojok masih bersihkukuh menutup mulut rapat-rapat, kedua matanya pun terpejam rapat hingga kening dan pelipisnya mengkerut. Tapi hal tersebut tak berlangsung lama karena ringisan kecil meluncur dari kedua belah bibir tersebut, ternyata akibat Chanyeol menjambak sedikit rambut belakang Baekhyun, tentu saja menimbulkan rasa terkejut.

 

“Ahh~ nggh─”

 

Mulut mungil tersebut mendesah saat benda asing menerobos masuk, benda basah yang kini bergerak liar di dalamnya. Begitu lancang Chanyeol memainkan lidahnya di dalam rongga yang bukan miliknya, membelai langit-langit rongga tersebut, menyapa benda kecil mungil berwarna putih yang berderet rapi membentuk sebuah pola yang dahulu kerap kali menandai beberapa bagian kulitnya. Chanyeol baru saja menemukan setitik kerinduan dalam relung hatinya, kerinduan yang membuatnya begitu menikmati saat-saat ini, yang sesungguhnya tak patut lagi ia dapatkan. Tubuh Baekhyun sedikit melembut, tak lagi setegang sebelumnya…Chanyeol sangat hafal seberapa besar ketahanan tubuh mungil mantan kekasihnya ini terhadap ciuman darinya. Ia sangat senang karena hal tersebut sama sekali tidak berubah, maka kesempatan ini Chanyeol gunakan untuk menyelipkan sebuah cincin di jari manis kiri Baekhyun, cincin yang sejak tadi sudah ia genggam di tangan kanan, kini hanya perlu menyematkannya saja di jari Baekhyun, dengan mudah tentunya.

 

Ciuman pun terus berlangsung. Baekhyun menyerah karena ia merasa lemas dan lelah.

 

Sampai ketika pintu lift terbuka, Chanyeol menjauhkan diri.

 

Kini hanya tersisa dua sosok pemuda dalam posisi yang masih sama, hanya saja bibir mereka tak lagi menyatu. Baekhyun menunduk, kepalanya terasa berat, Chanyeol masih menggenggam tangan kirinya meski tak seerat tadi. Kedua matanya sedikit terhalangi helaian poni rambutnya yang jatuh karena tertunduk, tetesan liur kental beberapa kali terjatuh dari dagu mungilnya, nafasnya tak berirama saat ini.

 

Ia lelah, tapi juga marah.

 

Didorongnya tubuh tegap Chanyeol dengan segenap kekuatan yang tersisa, meski pemuda tersebut hanya sampai mundur satu langkah, namun kesempatan itu Baekhyun gunakan untuk melarikan diri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meninggalkan Chanyeol seorang diri dalam kesunyian.

 

Sesampainya di basement pun, Baekhyun tak segera memasuki mobil yang ditinggalkan Tao. Ia ingin mencuri waktu untuk menangis, berjongkok di samping ban depan seraya mengusap kasar bibirnya dengan punggung tangan kiri. Tangisannya semakin kencang kala menemukan sebuah cincin platina berkilau polos tanpa permata, tersemat di jari manis tangan kirinya. Saat itu ia tersadar kalau Chanyeol yang memasangnya, hanya saja terlalu lemah untuk menolak dan terlalu marah untuk mengingat kalau seharusnya ia melepas benda itu dan melemparnya kembali pada sang pemberi, bukannya pergi begitu saja.

 

Mulutnya bersuara tersendat-sendat, kerongkongannya seperti tercekat…butuh beberapa detik untuk sebuah isakan lolos dari kedua belah bibir mungilnya. Ia pun terus menangis dengan tanpa sadar mendekatkan punggung tangan kirinya pada mulut, seolah bibirnya mengecup cincin pemberian Chanyeol.

 

.

.

.

 

Hari berikutnya, Baekhyun tak berniat untuk mempertahankan cincin tersebut di jari manisnya…ia lebih memilih pura-pura tak menyadari raut wajah kecewa Chanyeol ketika pria tinggi itu mencuri pandang ke arahnya dan menemukan kalau Baekhyun tak mengenakan cincin pemberiannya.

 

Baekhyun hanya berpikir, kalau ia tak memiliki alasan yang kuat untuk mengenakan cincin tersebut. Bukan karena kini ada Kyungsoo, bukan…sejak awal pemuda kecil itu tak ada hubungannya dengan ini.

 

Jemari lentiknya meraih cincin yang kini berfungsi sebagai bandul kalung di lehernya. Ia terbaring tepat menghadap langit-langit, diangkatnya bandul tersebut hingga dalam penglihatannya sejajar dengan lampu kamar yang benderang. Pada bagian dalam cincin tersebut, terukir sempurna deretan huruf yang berbunyi ‘Baek-Hyun Byun’ namanya, menandakan bahwa cincin itu dibuat hanya untuknya, hanya untuk menjadi miliknya, hanya untuk tersemat di jari lentiknya.

 

Baekhyun tak dapat mengira seberapa besar keinginannya untuk mengenakan cincin ini, cincin yang diberikan Chanyeol di hari ulang tahunnya. Tapi ia tak memiliki keberanian untuk mendukung keinginannya tersebut, hatinya masih terliputi kabut kekalutan. Ia bukan lagi kekasih Chanyeol, tapi pria itu menciumnya dan memberinya hadiah berupa cincin…Baekhyun tak tahu apa maksud semua itu? Tak terpikirkan sedikit pun baginya untuk berharap, kenangan selama empat tahun itu terlalu berharga bila disejajarkan dengan harapan semu.

 

Ciuman beberapa waktu lalu seolah Chanyeol lakukan untuk menyakitinya, menarik paksa kenangan tentang mereka yang mulai terkubur di dalam hati Baekhyun, layaknya pohon yang dicabut secara paksa hingga keakarnya. Bukankah itu sangat menyakitkan?

 

Pria manis itu masih betah bergelung di atas ranjangnya, ini hari minggu dan ia sungguh malas keluar. Baekhyun hanya ingin sendiri, menenangkan diri, melepas penat dan menghirup udara bebas tanpa perlu takut tersendat karena kehadiran Chanyeol di sekitarnya.

 

Baekhyun mendesah, ia genggam erat cincin pemberian Chanyeol hingga terasa panas.

 

Aahhh─

Semua ini begitu membuat hati dan fisiknya lelah.

 

“Baekhyuuuuuuuuunn!!!!”

 

Suara pintu terbuka, Tao masuk dengan hebohnya secara meluncur hingga menimbulkan kepulan asap di kakinya, padahal kamar Baekhyun ‘kan bebas dari debu.

 

“Apaaaa?” dengan malas Baekhyun menjawab, posisi tidurnya membelakangi Tao.

 

Sang sahabat mendekat seraya berkacak pinggang “Ini hari minggu!”

 

“Lalu?”

 

“Terlarang bermalas-malasan di hari minggu!”

 

“Lalu?”

 

“Ayo kita keluar dan refreshing!

 

“Lalu?”

 

Urat-urat sedikit timbul di permukaan kulit kening Tao mendengar tanggapan Baekhyun yang selalu sama dan hanya satu kata pula. Kesal, dengan segenap kekuatan disibaknya selimut putih yang menutupi tubuh kecil Baekhyun hingga terkapar di lantai.

 

“Jangan seperti mayat hidup begitu!! Bangun sebelum kau kutenggelamkan di bak mandi!!”

 

Namun Baekhyun tak bergeming, kini ia malah asyik memeluk dakimakura ─bantal dengan sarung pembungkus bergambar Dino Cavallone “Ngghh~ malas, ah…”

 

“Huh!!”

 

Tanpa pikir panjang, Tao pun menjatuhkan tubuhnya sendiri di atas tubuh kecil Baekhyun…hingga jika dilihat dari atas, posisi mereka seperti membentuk tanda tambah.

 

“Uagh!” suara Baekhyun tertohok, tubuh kecilnya terasa remuk seketika menerima beban tubuh Tao yang hampir setara dengan tubuh Sehun, adiknya “Kau ini apa-apaan, hah?!!”

 

“Habis kau tidak mau bangun…yasudah aku saja yang ikut tidur.” Tao dengan cepat merasa nyaman dan mulai memejamkan mata.

 

Baekhyun yang hampir saja mengamuk akhirnya memutuskan untuk santai saja saat mendengar Tao bersenandung kecil. Ia kini dalam posisi bertelungkup dan membenamkan dagunya di atas bantal.

 

“Baekhyun.”

 

“Hm?”

 

“Kau terlihat berbeda sejak hari ulang tahunmu itu…” tanya Tao membuat jantung Baekhyun berdegup kencang sekali “Apa terjadi sesuatu yang tidak kuketahui?”

 

Pemuda paling kecil di sana terdiam sejenak, lalu berkata “Ya, ada yang terjadi. Tapi aku sedang tidak ingin membicarakannya.

 

Tao membuang nafas “Pasti ada hubungannya dengan Chanyeol, bukan?” Baekhyun tak menjawab dan Tao kembali membuang nafas “Kau ini benar-benar tak bisa menyingkirkannya dari hidupmu, ya…”

 

“Jangan mengarah ke sana, please~”

 

Kedua kalinya Tao menghela nafas, untuk kali ini sepertinya ia harus menahan diri untuk tidak bersikap kurang ajar pada sahabatnya yang lebih tua setahun darinya itu. Pemuda penggemar buah persik itu akhirnya beranjak dari atas tubuh Baekhyun dan duduk di tepi ranjang.

 

“Hari ini Wu Yi Fan mengajakku makan pancake, dia bilang boleh mengajakmu juga. Mau ikut tidak?”

 

.

 

Baekhyun tidak menyesal ikut bersama Yifan dan Tao…meski saat ini kedua orang itu telah memasuki dunia mereka sendiri, ia cukup terhibur melihat polah Tao yang berkali-kali hendak menendang bokong Yifan saat pria blasteran itu melayangkan gombalan garing. Tapi tetap saja, perasaan sedikit senang itu tak dapat terwujud melalui ekspresi di wajahnya. Matanya memang tertuju pada Yifan dan Tao yang berjalan berdampingan beberapa langkah di depannya, sambil ribut, tapi…Baekhyun bahkan tidak tahu pikirannya tengah melayang kemana saat ini.

 

Di tengah lautan manusia yang memenuhi trotoar, Baekhyun dengan cepat melupakan bagaimana rasa pancake yang beberapa saat lalu ia makan bersama Yifan dan Tao. Berbagai toko menyajikan display yang menarik…namun belum cukup manjur untuk menarik perhatian pemuda manis yang hanya melangkah tanpa semangat, keberadaannya bagai terlupakan oleh dua temannya di depan sana.

 

Baekhyun menghela nafas, langit begitu cerah di atas sana dan hatinya masih bergetar karena belum sepenuhnya dapat melupakan kejadian di lift saat Chanyeol menciumnya paksa.

 

Ini malapetaka.

Benar-benar kacau…hancur tak berbentuk.

Tak ada kah akhir yang tepat sebagai penyelesaian semua masalah ini?

Atau setidaknya…tempat untuk melarikan diri?

 

“…Byunnie…”

 

Suara gentle yang masih asing di pendengarannya membuat dirinya tersentak. Ia memusatkan perhatian pada seorang pria berkontur wajah eropa dengan tinggi sedikit melebihi Chanyeol, Baekhyun harus sedikit mendongak untuk dapat menemukan parasnya yang tampan. Pria blasteran itu tersenyum.

 

“Jangan melamun terus. Kita harus menunggu saat yang tepat untuk menyebrang.”

 

Baekhyun tersenyum tipis “Ya. Aku mengerti.”

 

Lalu Tao yang berseru sambil menyikut perut Yifan “Hei! Kenapa kau harus memanggilnya Byunnie juga?!”

 

“Wow…apa aku membuatmu cemburu, sayang?” goda Yifan bersama seringai wajahnya.

 

“Bukan kau! Aku cemburu dan tidak rela kalau ada orang lain yang memanggil Baekhyun-ku dengan sebutan Byunnie!” sahut Tao sadis, tidak peduli pada wajah Yifan yang sudah seperti korban pengkhianatan istrinya.

 

Baekhyun ingin tertawa ketika ia menemukan sosok dirinya bersama Chanyeol dulu saat melihat sosok Tao dan Yifan yang bertengkar kecil, mereka lucu. Tapi ingatan indah itu pula lah yang membuatnya urung tertawa, bandul cincin pemberian Chanyeol terasa panas digenggamnya erat.

 

Kedua teman baiknya itu masih ribut beradu mulut saat Baekhyun menyadari kalau rantai kalungnya putus dan membuat cincin-nya terjatuh.

 

“Ah! Gawat!”

 

Akibat bentuknya yang bundar simetris, cincin tersebut bergulir dengan lancar…Baekhyun terus mengikutinya tanpa mempedulikan kemana benda tersebut mengarah, yang ia pikirkan hanyalah jangan sampai kehilangan benda tersebut.

 

Jangan sampai kehilangan.

 

Jangan sampai kehilangan.

 

Hadiah…dari Chanyeol.

 

“Byunnie!! Belum saatnya menyebrang!!!”

 

Eh?

Baekhyun menoleh kebelakang saat cincin-nya telah ia dapatkan. Ia melihat Tao berteriak panik dan seperti ingin menghampirinya, namun tubuhnya ditahan oleh Yifan.

Kenapa?

 

“Baekhyun awas!!!!”

 

Dan sebuah kendaraan besar pun menghantam tubuh mungilnya.

 

.

 

Terdengar suara benda pecah belah terjatuh.

 

Chanyeol dan Kyungsoo cukup terkejut, terutama Chanyeol karena dia lah sang pemegang gelas, pria itu baru saja hendak beranjak dari kulkas setelah mengisi gelasnya dengan jus jeruk.

 

“Kau baik-baik saja?” kata Kyungsoo seraya menghampirinya.

 

“Ya, aku baik-baik saja.”

 

“Benarkah?” pria mungil itu memastikan dan Chanyeol kembali mengangguk mantap “Sebentar, akan kuambil peralatan untuk membereskannya.”

 

Pemuda yang lebih tinggi hanya mengangguk paham, ia membiarkan Kyungsoo pergi menuju gudang tempat tersimpanya peralatan untuk bersih-bersih. Pandangannya kembali melayang pada pecahan gelas yang berserakan di dekat kakinya. Ia berjongkok, dan meringis saat menemukan kalau ujung ibu jari kakinya sedikit tergores dan mengeluarkan darah. Hanya luka kecil tapi Chanyeol masih meringis…hanya luka kecil, tapi mengapa rasanya sakit sekali?

 

.

 

Baekhyun melihat sesuatu yang berwarna merah pekat, sesuatu itu sangat kental, berbau anyir dan mengalir kemana-mana. Ia juga mendengar suara Chanyeol yang bernyanyi sambil memainkan gitar kesayangannya. Suaranya berat dan sedikit serak, namun terdengar sangat seksi.

 

Aku tersesat

Bagai akan menghilang sebentar lagi

 

Membelah rerumputan tinggi

Menatap matahari yang nampak buram

 

Kau berkata

“Kalau kau sendirian, ikutlah denganku.”

 

Kebisingan mengejutkanku

Sampai-sampai perasaan seperti baru saja dilahirkan memenuhi kepalaku tak karuan

 

“Apakah ini mimpi?”

 

Berkumpul di markas rahasia

Mengingat saat itu

Hari yang sederhana namun menyenangkan

Ayo sedikit mengobrol

 

Jejak pesawat terbang mengawang di langit

Dan aku berteriak “Menakjubkan, bukan?!”

 

Mengapa aku tak dapat mengulang

Wajah seperti apa yang kau buat

 

Masa kini menghempaskan masa lalu

Segera saja terasa sakit

 

Summer Time Record by IA (Kagerou Project Original Song)

Re-Song by Mafu-mafu Utattemite – Acoustic Version

 

Baekhyun tersenyum. Dalam hati bertanya, mengapa tersenyum rasanya sesakit ini? Mengapa seluruh tubuhnya mati rasa?

Sesuatu yang berkilau tertangkap matanya. Bentuknya bundar dan itu adalah cincin pemberian Chanyeol, tak jauh dari jemari-jemari lentiknya yang terlumuri sesuatu berwarna merah. Tangannya bergerak terpatah-patah untuk menggapai benda tersebut sebelum diinjak oleh orang-orang yang hendak menghampirinya. Dan ketika telah mendapatkannya, Baekhyun menggenggam erat benda tersebut dan merengkuhnya di dada.

 

Ia pun tersenyum, dengan mata yang mulai terpejam.

 

“Aku mendapatkanmu.”

 

~TSUZUKU~

 

 

81 thoughts on “Mukashi Kara no Uta – CHANBAEK – PART 1

  1. Aaahhhh~ ini ff bikin nangissssss.
    Nyesek bgt ada diposisi Baekie, antara.sahabat dan kekasih.
    Panjangggggg…. puassssssssss😀
    Feelnya wow bgt.
    Tapi jengkel ama Chanyeol, maunya tu anak apa sih pake ngasih cincin buat Baekie??
    Balikan, sekedar nunjukin dia masih ada rasa, atau cuma krn ulang tahun??
    Lalu Kyungsoo mau diapain coba!!!

    Baek ok!!

  2. baek, chan, dio selalu jadi cast ff favorit hihi
    tapi selalu baek yg tersakiti. chan ini emang deh ngeselin kadang
    jadi kamu pilih baek apa dio, chan. aku aja? haha nglantur

    btw ini ff nya bagus. sukaaaaa
    author-nim selalu keren bikin ff
    semangat nulisnya aku bantu doa yaaa kakak
    *bismilahirohmanirohim*

  3. Author nine tailed-fox ini author favoritku!!!!!!! Karya-karyanya bagusss banget, apalagi yang ini~ pemilihan katanya bagus, walau alurnya begini, ceritanya nggak terkesan “dibuat-buat”! two thumbs up for the best author!!!! Keep writing ne~

  4. sebenernya ini ff aku udah pama save page.tapi males banget baca angst.terus tadi baca tl isinya yang chanyeol ngasih cincin ke soo haahahha:”’jadi pengen baca dehh.baekhyun keren banget.bisa ngerelain yeol walaupun emang sakit sih.hm *pengalaman.TERUS ADUH TAORIS KENAPA LUCU BANGET SIH AAKKKKK.daann pas bagian baek ketabrak tuh yang emang nyesek banget masa ya:’)

  5. Yaa allah sakitnya jadi baekhyunn TT .. Chanyeol cepat putusin dong ! Kamu milihnya kyungsoo atau baekhyunn .. Aaaaaa penasarannnn bangett sama ending nya kaya apa …

  6. Ya Ampun, saya nangis ini bacanya..
    kok nyesek banget sih..
    kisah Baekhyun berasa ngaca diri sendiri (kecuali adegan ketabraknya tentu) #plak *malah curhat XDD
    saya telat bacanya nih…
    mau lanjut ke Chap 2.nya yaaa..
    NAISEU FF…
    I LIKE IT…

  7. Aaaarrrggghhhh…………. Y_Y
    Kenapa setiap FF yg FABULOUS, So SOMETHING and PERFECT harus menyematkan takdir dimana my Baekhyun menderita???!! T.T

    Omaigadsan ini FF masuk dalam list FF2 terkeren yg pernah saya baca!! Masuk dalam list recommended FF buatan saya juga!! *lol*
    Thanks author Nine Tailed Fox-san, udah bikin saya nangis pagi2.. Y_Y baru bangun tidur tiba2 terpikir buat buka wordpress nya rurunkafanfiction yg udah lama banget saya tunggu2 apdetannya.. Emang dasar jodoh banget sama FF cantik ini :’) kkkkkkk~ >.<
    Btw Author-san kalian pada kemana sih?? Ayo semuanya comeback~~
    Salam buat author Hyobin dan Termakan Sehun ^^

  8. Antara sedih sama geregetan sendiri waktu bacanya.. agak bingung, emang sebenernya kyungsoo itu dulu kemana? Kenapa ujung2nya dia harus balik lagi?? Hahahaha suka sama taoris moment nya.. mereka cocok banget..

  9. Halohalo~ aku pengunjung baru. Tadi abis liat-liat FF di sini, maaf belum bisa ninggalin jejak di semua FF-nya😦 /deepbow/

    Perkenalkan yah, aku readers baru. Hm, gatau Author di sini bakal peduli ada orang nyasar dan sok-sok kenal gini apa enggak, tapi apa salahnya aku ngenalin diri? Well, namaku Shaza. Untuk line, aku ga bisa memberi tahu /slapped/ mungkin ga ada juga yang kepo weeh~ -__-
    Tapi orang kayak Sha ini gampang di stalk loh /apeng yah -__-/

    Gimana ya? Aku bingung mau mulai dari mana /bengong/ biasanya aku buat komen tuh sepanjang sungai nil /eh? gak gitu juga sih. Jadi..

    Tadi seperti yang udah kubilang, aku ke sini barusan, dan habis ngeliat-liat. Jujur aja yah, di antara seluruh FF di sini, aku paling suka buatan kak 9Tails. Entah apanya yang aku suka /lah? Enggak deng, aku punya alesan dan bisa menjelaskannya kok.. ehem-ehem.
    But, wait~~ bukan berarti FF yang lain gak bagus yaaa~~ semuanya bagus kok, aku yakinkan itu. Semua berbakat dan mampu muasin readers🙂

    Oke, pertama yang aku suka dari kak 9Tails (jujur, aku kepo nama kakak siapa..rasanya janggal aja manggilin sembilan buntut /tampol) itu adalah… susunan kata yang dipadu oleh kakak itu almost perfect i guess😉

    Aku bukan readers yang suka sama cerita drama membahana yang naik turunin emosi gitu /? kadang, plot ringan yang gak terlalu banyak konflik akan jadi cantik dan menarik kalau si pengarang pintar memadupadankan kata-katanya. Simpel dan menarik, itu semua bisa dijadiin motivasi buat si penulis.

    Dan, kurasa semua itu udah terperangkap di kak 9Tails. Bakat buat membawa pembaca terhanyut sama ceritanya ini tuh sempurna bersarang di kakak /? oke, selanjutnya apa lagi yang aku suka?

    Entah kenapa, aku merasa kakak seperti begituuuu memahami perasaan para karakter di sini, lagi-lagi bikin pembaca terhanyut. Bagaimana kakak menjelaskan soal perasaan Baek yang sakit, memori soal Chanyeol masih keputer di kepalanya, dan semua.. aku suka cara kakak menulisnya. Sungguh cocok buat jadi novelis romansa, aku yakinkan itu😀

    Mungkin typo masih luput yah, Seperti konjungsi di- yang menyatakan tempat lupa diberi spasi. Contoh yang benar: di atas, di dalam, di rumah, di ruang, etc.
    Begitu juga dengan ke- semestinya diberi spasi, seperti ini: ke sana, ke kiri, ke taman, etc. Sedangkan buat urutan, kita gausah kasih spasi, contoh: kesekian, kelima, ketujuh, etc.

    Oke, oke.. mungkin kekurangan kecilnya hanya di situ. Aku minta maaf kalau ada salah-salah kata dan terkesan menggurui, jujur.. aku begini karena aku suka banget sama FF ini. Dirapihin sedikit aja pasti bakal berada di list nomer satu FF favoritku🙂 okeoke, aku bingung mo ngomong apa lagi -__-

    Aku harap saranku dipakai ya kak. Sekali lagi minta maaf kalau banyak omong dan.. SKSD banget nih kesannya /ya ampun/ tetep semangat nulis cerita secantik ini yah!! FIGHT!!

  10. Kaget loh si baekhyun ketabrak, dan apalagi saat ngambil cincin itu loh yg bikin jadi nangis huhuhuhuhuhuhu😦

  11. Annyeong🙂
    unnie ff nya bagus banget……. pokok’nya keren abis deh :))
    author disini ff nya bagus”🙂
    keep writing ya unnie🙂

  12. huaaaa berada di posisi baekhyun pasti benar-benar menyakitkan.
    gak bisa melepaskan tapi juga gak bisa berbuat apa-apa untuk meraihnya kembali.
    apalagi ada orang ketiga juga. sakit banget pasti T^T
    .
    Kristao lucu, mereka seperti menjadi bagian pemanis dalam cerita ini
    Jadi ceritanya gak full pahit dan hurt mulu.

  13. Hai hai *lambaitangan*
    Heehee.. Aku mau comment yaak? :3 sebenernya aku udah pernah baca, tapi lupa udah comment apa belom -_-
    Sumpah!! Ngefans bangett sama kak Gumiho!! The best deh pokonya!! Bener tuh kata shaza, ffnya disini tuh keren gimana gtoohh.. Apalagi buatan kak Gumiho!! Bukan bermaksud gimana”, semuanya bagus koq, cuma gak tau kenapa tiap kak Gumiho yang bikin tuh.. Rasanya kita terbawa masuk ke dalam cerita. Sampai” kita tuh kyak nge-rasain apa yang dialamin sama para pemain(?). Mending kak Gumiho jadi novelis deh, kyaknya cocok tuh! Karena Dari Tara Cara bahasa udah bagus, tinggal sedikit bersihkan typo yang bertebangan(?).

    Okee, siip! Sebenernya aku kangen ff silent eyes, tapi karena kak rana lagi sibuk yaudah deh cuma bisa nunggu -___- gak tau kenapa, baca nih ff berasa kek aku yang jadi baekhyun:/ hmm.. Adoohh!! Jadi bingung sendiri ToT mau comment apa? Huh.. Efei puasa :3 disini suka sama character baek, walaupun kek sok tegar gimana gtooh *ehh tapi suka aja >_<

    Karakter Tao disini rada sadis yaak? Apa cuma aku yang ngerasa kek gtu?:/ hemeh.. -_- tapi Tao termasuk teman yang baek, walaupun itu dengan caranya sendiri. YiFan oppa keknya lebay gimana gtooh deh -_- *tabokkris* okee.. Mungkin cuma segini yang bisa saya comment, kurang-lebihnya mohon dimaafkan. Karena sebentar lagi lebaran :3 yeheet~
    Buat para author rurunka, mohon maaf lahir Dan batin🙂 ~
    Pay.. Pay..muaacchh… :* heehee..
    Salam xoxo

  14. aaa cicjaaaak bekyooon ‘o’
    ini awalnya geemana, kenapa tjhanyeol dioper oper bekyon-kyungsoo, emangnya chanyeol cowok apaan? idih yuk capcus

    *ngesot ke next chapt

  15. aah..kak 9-tailedfox..km bener2 jjang dlm menghidupkan karakter tokoh di ff ini..
    saya sampe bs bener2 merasakan nyeseknya baekhyun dsni krna jujur sy jg prnah mglami..#curhat
    kbyang sakitnya baek yg typ hr ‘disuguhin’ kmsraan’y chansoo..
    benci bgt sm krakter yeol dsni yg kesan’y pengecut bgt..
    puncaknya wktu baek kcelakaan demi cincin itu..aaargghttt nyesek,,
    keep writing kak,mw sad ending jg gpp,asal yeolnya yg dapet balesan grgr bkin menderita baek~~huhu

  16. Aku lupa udh review blum y ff ini. Ah review ulang aza dah. Baek tegar y wlw sbnrny dy menderita. Rela melepaskan orang yg d cintainy kembali ke cinta pertama nya, ah baek gentle bgt dah. Sedihny dpt thor.

  17. Well, maaf baru bisa review😦
    Aku suka sama ff-nya. Dan entah kenapa rasanya aagak nganu(?) ketika Orang ke-tiga dalam hubungan ChanBaek itu… kyungsoo ._.
    Chanyeol yang dingin, angkuh, tapi punya sisi romantis dan susah ditebak.. pas kayaknya dengan penampilan Chanyeol di era WOLF😀😀
    Jadi, aku bayangin Chanyeol di era WOLF saja, yeth?

    Baekhyun…. hatimu terbuat dari apa, neng…???
    aku gemes sama Baekhyun ><

    eheum…
    Tao.. ucapannya sadis tingkat dewa. ya 11-12 kayak aku sih sebenarnya, haha😀
    dan Kris Ya Allah~
    syudahlah, aku lanjut ke chapter selanjutnya🙂
    Keep writing and fighting^^

  18. wow ff nya kereeeeen. bahasa itu loooh. beuh (y) beneran suka sama gaya bahasanyaaaa~~
    ceritanya sih jgn ditanya pasti sukaaa..
    kasian baekhyun nya. heu :’
    kesel sama cy disini. nyebelin -_-
    nyesek bgt kalo gue jadi baek, harus ngerelain org yg jelas2 kita sayang kembali ke mantannya. dan sialnya mantannya cy itu orang yg baek kenal. ugh
    semoga ending nya tetep chanbaek

    dan itu baeknya beneran ketabrak? tapi ga mati kan? engga dong iyaka iyakan?
    well utk menjawab petanyaan gue mending kita langsung meluncur ke chap 2 nya. yuhuu :v

    dan hai author-nim ^^- gue readers baru disini. salam kenal /bow/

  19. aduh ini gimana jelasinnya ya.
    ASDFGHJKLQWERTYUIOPZXCBNNM
    CAMPUR ADUUKKKKK😥

    chanyeolnya labil gitu ya, ragu antara kyungsoo atau baekhyun tapi langsung ninggalin baekhyun gitu aja.

    ya gitu yeol, siapa suruh ninggalin, ujung-ujungnya butuh sendiri kan?

    baekhyunnya kasian banget thor sumpah deehh😥 romansa romansa jadi pihak yg ditinggal sampe harus ngompres mata melulu tiap hari.. untung ada tao, yah setidaknya ada yg ngingetin buat ga bunuh diri lah yaaa…

    itu pas ngambil cincin…. </3
    potek setengah matiii
    pas kejadian lift…
    bikin seneng sekaligus gregetaann..

    well, mungkin baekhyun sebenernya pemeran utama yg memandang dirinya sendiri sebagai pemeran pembantu. walaupun kenyataannya yg paling terikat disini itu chanbaek❤

    WAJIB BANGET HAPPY ENDING PENGENNYAAAAAAA

    good job thor, selalu kerenlah pokonyaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s