Mukashi Kara No Uta – Chanbaek – Part 2

Title: Mukashi Kara no Uta (Song For a Long Time Ago)

Author: Nine-tailed Fox

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol. Wu Yi Fan, Huang Zi Tao, Oh Sehun, Do Kyungsoo

Length: Chapter 2 0f 3

Disclaimer: –

Summary: –

Warning: This is BOYS LOVE STORY. THIS IS CHANBAEK STORY.

Kalo ada typo, jangan salahin saya.

Kalo ada kemiripan cerita, jangan salahin saya.

Kalo ada yang merasa cerita ini mirip dengan milik seseorang, maafkan saya.

Sori ini diluar dugaan bisa ampe lebih dari dua chapter gini, mungkin tamat di ketiga ya, semogaaa…

selain itu mungkin ini cerita agak ga ‘gue banget’ ya, maklum baru kombek masih butuh penyesuaian, makasih yg udah luangin waktu buat baca dan komen :*

Terakhir sebelum mulai, maaf kalo ada typo dan kesalahan lainnya…saya terlalu kece untuk jadi sempurna *haha!*

 

mukashi kara no uta

 

 

Seorang pemuda rupawan berdiri di samping ranjang, tubuhnya sedikit kurus namun tetap tak mengurangi betapa pantasnya ia menjadi idaman setiap wanita mau pun lelaki. Sinar matahari yang ingin menjamah kulit putih sedikit pucatnya terhalangi kain sederhana yang ia kenakan dalam bentuk kaus putih v-neck, cardigan musim semi berwarna abu-abu terang yang bagian lengannya ia tarik hingga siku juga celana levi’s biru pucat beserta sepatu sandal santai mengalasi telapak kakinya, tak lupa jam tangan sport hitam mengisi pergelangan tangan kirinya.

 

Dia lah Oh Sehun, adik Baekhyun dari ayah yang berbeda. Pemuda bersurai sewarna pelangi yang bagi sebagian orang mungkin nampak sedikit nyentrik, namun warna rambutnya itu justru membuat wajahnya terlihat segar.

 

Sehun terpaut tiga tahun lebih muda dari Baekhyun. Ayahnya menikah dengan ibu Baekhyun yang telah menjadi janda selama satu tahun akibat ditinggal mati suaminya karena kecelakaan pesawat. Walau pun demikian, Baekhyun sama akrabnya dengan Sehun terhadap ayah tirinya…mungkin dikarenakan ayah Sehun telah menjadi ayahnya sejak kakaknya itu masih sangat kecil.

 

Raut wajah sendu masih bertahan di paras tampannya, memandang tubuh tak berdaya kakak satu-satunya yang terkapar di atas ranjang rawat inap. Jemari-jemari panjangnya bergerak untuk mengusap tangan sang kakak yang terbebas dari jarum infus namun tetap ada beberapa luka lecet yang merusak kelembutan kulit putihnya. Ia menghela nafas, mengusap tangan yang lebih kecil darinya itu dengan perlahan, seraya merapalkan doa dalam hati agar sepasang mata tipis yang serupa dengan miliknya itu segera terbuka.

 

Semua anggota keluarga sedih melihat kondisi Baekhyun, ibunya bahkan langsung pingsan saat pertama kali melihat kondisi Baekhyun. Kini ayah dan ibunya memilih untuk beristirahat di apartemen Baekhyun dan baru akan kembali sore hari nanti, sekarang Sehun lah yang bertugas menjaga Baekhyun, tanpa mempedulikan rasa lelah yang mendera tubuhnya akibat perjalanan dari Suwon ke Seoul.

 

“Tao-hyung…” ucap Sehun tanpa melepaskan tangan Baekhyun, namun mata sendunya kini mengarah pada sosok di sisi lain ranjang yang tengah terisak berat seraya mendunduk dalam-dalam.

 

Seorang pria blasteran bersurai pirang kotor yang tak Sehun kenal, segera mengusap bahu tegap Tao “Tenanglah Tao…”

 

Namun Tao menepis kasar tangan besar tersebut dan langsung berdiri dengan menatap Yifan penuh amarah dalam kedua matanya yang berair itu “Apa yang kau lakukan?!!!”

 

“Tao…”

 

“Kau seharusnya tidak mencegahku menghampiri Baekhyun!!!”

 

“Aku hanya tidak ingin kau dalam bahaya Tao.” Yifan berusaha tenang menjelaskan, meski berkali-kali berusaha menyentuh Tao, pemuda yang disukainya itu tetap saja menepis tangannya.

 

“Apa kau baru saja mengatakan tidak apa-apa jika Baekhyun mati?!!”

 

“Bukan begitu maksud─”

 

“Omong kosong!!” Tao mendorong kasar tubuh Yifan hingga pemuda tinggi itu mundur beberapa langkah “Aku benci padamu!!”

 

Setelah menunjuk batang hidung Yifan dengan mata nyalang, Tao melenggang pergi begitu saja diiringi suara debuman pintu geser ruang rawat Baekhyun yang bahkan membuat Sehun mau pun Yifan sendiri bergidik kaget.

 

Pria berkontur wajah eropa itu menghela nafas lalu menoleh pada Sehun “Maaf ya, Sehun atas keributannya…”

 

Sehun menggeleng pelan sambil tersenyum lembut “Tidak apa-apa, Yifan-hyung…sebaiknya kau kejar Tao-hyung sekarang.”

 

“…Baiklah…” Yifan pun berjalan menghampiri pintu dan langsung setengah berlari saat dirinya telah meninggalkan ruangan.

 

Sehun menghela nafas, sedikit dikarenakan rasa lelah yang masih menggerayangi tubuhnya, tapi ia tidak ingin beristirahat sama sekali, ia ingin memastikan bahwa kakaknya baik-baik saja. Diambilnya selembar kain sapu tangan lalu merendamnya di dalam mangkuk plastik besar berisi air hangat, diperasnya kemudian diusapkannya pelan-pelan ke wajah Baekhyun, pelan sekali─ sangat pelan…hanya sekedar tetap membuat wajah sang kakak tetap segar dan lembab. Sesekali beralih menggusap tangan kanan, lalu tangan kiri tak lupa juga leher ia usap dengan air hangat yang telah ia campurkan aroma therapy cair lavender kesukaan Baekhyun.

 

Ia telah meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di Seoul, Sehun akan pindah dan menetap bersama Baekhyun di apartemennya. Ia hanya tidak bisa meninggalkan sang kakak seorang diri setelah kecelakaan ini, lagi pula Baekhyun pasti butuh seseorang untuk mengurusnya saat masa pemulihan nanti.

 

Beberapa detik kemudian, Sehun menoleh ketika mendengar suara pintu bergeser. Ia melihat seorang pria tinggi bersurai gelap memasuki ruang rawat Baekhyun.

 

Pria itu mendekat dan menyapa Sehun “Hai, Sehun…”

 

“Hai juga…Chanyeol-hyung…” Sehun tersenyum tipis.

 

Menit berlalu dalam kesunyian, Sehun tetap pada pekerjaannya mengusap beberapa bagian tubuh Baekhyun dan juga menyisir rambut kakaknya agar lebih rapi, sementara Chanyeol hanya terpaku menatap Baekhyun sendu, tanpa ada niat untuk duduk walau kursi yang sebelumnya ditempati Tao tak ada yang menduduki.

 

“Em…aku akan menunggu di luar…” ucap Sehun pada akhirnya, ia lebih dulu membuang air dan meletakan mangkuk plastik beserta sapu tangannya di kamar mandi, sebelum keluar ruangan meninggalkan Baekhyun bersama Chanyeol.

 

Sehun bukannya tidak mengetahui masalah antara Chanyeol dan kakaknya, kalau boleh jujur sebenarnya ia sangat marah akibat keputusan Chanyeol meninggalkan Baekhyun. Namun apa mau dikata? Sehun tak ingin emosinya meledak dan akhirnya ia memaki Chanyeol di hadapan sosok kakaknya yang masih terkapar tak berdaya. Cukup dengan melapangkan dada dan membiarkan Chanyeol merenungkan waktunya bersama Baekhyun, hanya berdua di dalam sana.

 

Ia berpapasan dengan seorang pemuda kecil bermata bulat saat keluar dari ruangan dan menutup pintu. Sehun tidak kenal siapa laki-laki itu, mungkin hanya kenalan Chanyeol yang datang bersama…ia hanya menunduk hormat dan dibalas sopan oleh laki-laki tersebut. Kemudian Sehun memutuskan untuk duduk saja disalah satu bangku tunggu seraya mendengarkan musik lewat ipod-nya.

 

.

 

Di dalam, Chanyeol masih setia memandang Baekhyun, tubuh ringkih itu kini terbujur kaku seperti Princess Aurora dalam cerita Sleeping Beauty, padahal menurutnya Baekhyun lebih mirip dengan Princess Snow White yang ceria, lincah dan lucu. Ia ingin menyentuhnya, sangat ingin…tapi kondisi Baekhyun saat ini seolah menjadi rantai yang menjerat seluruh bagian tubuhnya.

 

Siapa yang tidak hancur hatinya melihat tubuh orang yang amat kita cintai, hampir seluruh bagiannya terbalut perban? Belum lagi bercak merah yang menodai perban, menandakan betapa dalam luka yang didapanya, sebelah matanya pun tertutup perban, apa Baekhyun masih dapat melihat dengan baik kelak? Lalu lehernya yang juga dililit perban, apa nanti pemuda mungil ini masih mampu bernafas dengan baik? Dan ada apa dengan bagian kulit yang tak tertutupi perban itu, bagaimana mungkin terdapat begitu banyak lecet di sana?

 

Sebenarnya…seperti apa kecelakaan yang dialami Baekhyun?

 

Chanyeol mendadak lemas, tubuh tegapnya yang beberapa saat lalu berdiri kokoh, kini jatuh terduduk lemas di kursi.

 

Nafasnya mulai tersengal entah karena apa, bibirnya gemetar dan pandangannya berubah tak menentu, persis seperti orang yang hendak meninggalkan garis kewarasan. Dengan tangan gemetar diraihnya tangan lemas Baekhyun, rasanya tidak sehangat dulu. Baekhyun seolah tidak ada di sini…

 

Baekhyun…kau di mana?

 

“Maafkan aku…Baekhyun…” ucapnya dengan bibir bergetar, dikecupnya punggung tangan dengan jarum infus tersebut “Maafkan aku, maafkan aku…”

 

Permohonan maaf itu pun kemudian, terus berlangsung diiringi isakan pelan.

 

.

 

Sehun menoleh dan tanpa sengaja menemukan sosok Tao sedang berjalan bersama Yifan menuju ke arahnya, ah mungkin lebih tepatnya ke arah kamar Baekhyun. Tao melangkah dengan kepala tertekuk, sesekali menoleh ke arah yang berlawanan dengan posisi Yifan, jelas sekali bila sahabat baik kakaknya itu sangat ingin menghindari bertatapan dengan pemuda blasteran di sampingnya, atau mungkin sedang tidak ingin melihatnya. Entahlah, namun Sehun dapat menemukan masih adanya sedikit amarah di raut wajah Tao. Setidaknya Yifan berhasil membujuk Tao kembali, hal yang sulit dilakukan oleh orang selain Baekhyun sebenarnya.

 

Keduanya semakin dekat, Tao berhenti ketika menyadari kehadiran Kyungsoo di sana. Untuk beberapa saat pemuda Cina itu menatapnya sinis dan Kyungsoo hanya menunduk sopan seraya melayangkan senyum kepada Yifan.

 

Tao dengan wajah cemberut berpaling dari Kyungsoo dan melangkahkan kaki mendekati pintu kamar, namun gerakannya saat hendak menggeser pintu terhenti ketika melihat sosok pria tak asing melalui kaca bundar transparan yang memang terdapat di bagian atas pintu, seperti sisi untuk mengintip. Sejenak Tao memandangnya dengan sorot mata keras, menunjukkan jelas ketidaksukaannya akan kehadiran Chanyeol di dekat Baekhyun. Tak perlu lagi membahas apa alasannya tidak menyukai mantan kekasih sahabatanya itu, yang jelas Tao sudah siap untuk mendepak Chanyeol keluar dari kamar, bila perlu keluar dari gedung rumah sakit.

 

Pemuda Cina itu sudah akan membuka pintu ketika sebuah tangan besar berkulit putih mencegahnya “Tunggu Tao…”

 

Tao mendelik kesal pada Yifan “Mau apa kau?”

 

Helaan nafas halus terdengar dari kedua belah bibir Yifan, dengan gerakan perlahan ia menjauhkan tangan Tao dari gagang pintu.

 

“Kau lihatlah itu…” ucap Yifan mengarahkan Tao kembali memandang ke dalam kamar Baekhyun, Chanyeol masih pada posisinya, jelas sekali bila pria tinggi itu tengah menggenggam sebelah tangan Baekhyun dengan kedua tangan. Tao hanya memandangnya penuh tanya “Di sini, bukan hanya kau yang mencemaskan Baekhyun.”

 

“Aku tahu. Semua orang di sini tentu saja mencemaskan Baekhyun, tidak ada orang yang tidak cemas bila seseorang yang dikenalnya sedang sakit.” Tao masih keras kepala.

 

“Tidak…” Yifan menatap Tao untuk beberapa detik sebelum kembali menatap Chanyeol dan Baekhyun di dalam sana “Menurutmu siapa yang paling cemas di sini? Siapa orang yang paling takut kehilangan Baekhyun? Orang tua Baekhyun? Sehun? Atau kau…?”

 

Tao terdiam, keningnya berkerut, sedikit amarah masih nampak terpancar dari sorot matanya. Ia pikir Yifan adalah laki-laki yang suka ikut campur, tapi sepertinya lebih dari itu Yifan juga merupakan laki-laki yang sok tahu.

 

Atau…Tao lah yang tidak mau mengakui kalau semua ucapan Yifan selama ini adalah benar?

 

“Aku bertanya padamu, Tao…” tanya Yifan serius “Apa yang akan kau lakukan, jika seseorang yang pernah kau sakiti kini tengah berada di ambang kematian, padahal kau belum mengatakan kalau kau menyesal dan ingin meminta maaf?

 

Tao masih membisu namun raut wajahnya mulai melunak. Kyungsoo dan Sehun tanpa sadar pun turut membisu dan tertegun menatap sang pria blasteran.

 

“Apakah kau bersedia menukar nyawanya yang di ambang kematian itu dengan nyawamu sendiri?”

 

Kini giliran Tao yang tertegun menatap Yifan.

 

“Apakah kau akan menjadi gila jika dipisahkan dengannya?”

 

Yifan tersenyum menghadapi kebisuan Tao, ia tahu jika anak itu hanya terlampau menyayangi Baekhyun tanpa ada maksud menyakiti Chanyeol sama sekali. Diusapnya pelan surai hitam legam di kepala Tao dengan amat lembut dan penuh kasih.

 

“Chanyeol adalah satu-satunya orang yang bersedia mati demi Baekhyun. Chanyeol adalah satu-satunya orang yang akan gila jika berpisah dengan Baekhyun. Aku tidak memintamu memaafkan Chanyeol, tapi setidaknya berikan dia keringanan…aku pun akan sama gilanya dengan Chanyeol jika dipisahkan darimu, Tao…”

 

Raut wajah Tao jauh lebih lembut kali ini, lebih seperti seorang anak kecil yang dilarang ayahnya untuk bermain permainan yang disukainya. Tao tidak ingin mengakui kebenaran ucapan Yifan, tidak sama sekali dan tidak akan pernah. Dan Tao juga tidak akan tersentuh dengan pengakuan Yifan, siapa yang peduli pria itu akan gila atau tidak bila dipisahkan dengannya? Lagi, siapa pula yang mau bersama selamanya dengan orang seperti Yifan?

 

Tao benci Wu Yi Fan.

Hanya itu. Titik.

 

Dengan wajah tertekuk, kedua tangan bersendekap dan pipi yang mengembung, pemuda Cina penggemar buah persik itu pun duduk di samping Sehun yang tersenyum lembut memandangnya.

 

“Maafkan Chanyeol ya, Kyungsoo…” ucap Yifan dengan senyum sendu.

 

Kyungsoo pun hanya tertawa kecil “Aku sudah memaafkannya sejak awal…”

 

.

.

.

 

Chanyeol melangkah menyusuri lorong rumah sakit, ia sengaja pulang lebih awal agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu hanya berdua dengan Baekhyun yang belum juga siuman sejak satu minggu lalu. Tanpa perlu bertemu Tao yang masih sibuk di kantor, atau Sehun yang tengah sibuk mengurus berkas-berkas yang diperlukannya untuk melanjutkan kuliah di Universitas Korea, sementara kedua orang tua mantan kekasihnya itu masih belum mengetahui perihal putusnya hubungan mereka, jadi Chanyeol masih dapat santai bila bertemu keduanya.

 

Jika ada seseorang yang memintanya melakukan pengakuan dosa di gereja, Chanyeol siap kapan saja melakukannya. Ia akan berkata pada pendeta di sana bahwa ia nyaris membunuh mantan kekasih yang sebenarnya masih sangat ia cintai, ia juga akan berkata karena hidup sebagai pengecut dan tak berani bertatap muka pada setiap orang yang mengetahui perbuatan dosanya.

 

Tapi semua itu tidak akan membuatnya berlega hati…selama Baekhyun belum membuka mata, hidupnya tidak akan pernah tentram.

 

“Permisi…” suara seorang wanita memanggilnya dari arah belakang.

 

Pemuda bertubuh tinggi itu berhenti melangkah dan membalikkan tubuhnya untuk menemukan seorang perawat wanita tengah berlari kecil menghampirinya.

 

“…ada apa?” tanya Chanyeol.

 

Perawat tersebut menatapnya penuh harap “Apa anda kerabat dari pasien Byun yang menempati kamar 0822?”

 

Chanyeol terdiam sejenak, lalu berkata “Ya, aku….kerabat dekatnya…”

 

“Ah, syukurlah kalau begitu…” perawat itu menghela nafas lega, kemudian mengeluarkan sebuah plastik kecil dari saku seragamnya dan menyodorkannya pada pria tampan di hadapannya dengan dua tangan “Aku ingin menyerahkan ini kepada keluarga pasien Byun, pasien Byun menggenggam benda dalam plastik ini dengan sangat erat dalam keadaan kritis saat memasuki unit gawat darurat…”

 

Untuk beberapa saat, mata bulat Chanyeol terpaku pada plastik yang masih berada di tangan perawat tersebut, lebih tepatnya pada benda di dalam sana…cincin milik Baekhyun, cincin pemberiannya yang ia berikan di lift dengan diawali insiden cium paksa darinya yang entah kerasukan apa saat itu.

 

“Sebenarnya kami ingin memberikan langsung setelah pasien Byun dipindahkan ke ruang rawat inap, tapi karena banyaknya pasien yang perlu ditangani, kami baru dapat melakukannya hari ini dan kebetulan aku melihatmu menghabiskan waktu lama di ruangan pasien Byun, dan kebetulan juga kita bertemu sekarang. Silahkan diambil.”

 

Setelah meneguk liur paksa, entah karena apa…barulah Chanyeol mampu mengulurkan tangan dan menerima benda tersebut.

 

“Sepertinya benda itu sangat penting bagi pasien Byun, kami kesulitan membuka kepalan tangannya saat hendak memberikan pertolongan padanya. Kami mohon maaf atas keterlambatan mengembalikan benda ini.” perawat tersebut membungkuk hormat “Saya permisi dulu. Selamat siang.”

 

“Ah, ya…terima kasih banyak, suster…” Chanyeol turut membalas perlakuan sopan perawat tersebut.

 

Ditatapnya kepergian perawat tersebut sebelum akhirnya menatap lekat cincin dalam plastik di atas telapak tangannya. Sebenarnya terdapat pula seutas rantai yang sepertinya adalah kalung, kemungkinan besar, Baekhyun menggunakan cincinnya sebagai bandul kalung sehingga tak ada seorang pun termasuk Chanyeol yang menyadari bahwa sesungguhnya Baekhyun selalu mengenakan cincin pemberiannya, walaupun bukan ditempat yang seharusnya.

 

Seulas senyum tipis terlukis menambah nilai keindahan paras seorang Park Chanyeol, ini pertama kalinya ia tersenyum tulus sejak mengetahui Baekhyun mengalami kecelakaan.

 

Ia pun menyambung langkah ke tempat di mana sang pemilik cincin berada.

 

Kini ia telah berada di kamar Baekhyun, duduk di tepi ranjang seraya mengamati wajah damai yang masih terlelap itu. Perban di tubuh kecil itu telah berkurang jumlahnya, hanya tinggal yang melilit kening dan tangan yang terinfus, sayangnya bagian bawah sudut mata kirinya masih perlu ditempeli kain kasa, nampaknya luka di sana sedikit infeksi dan masih harus ditutup. Chanyeol mengambil salep dari atas susunan laci yang kemasannya mirip seperti pasta gigi, mengeluarkannya sedikit di ujung jari telunjuk kemudian mengoleskannya pelan-pelan dibeberapa bagian wajah Baekhyun yang mengalami luka, sehingga nanti bekas lukanya tak terlalu nampak mencolok. Ia juga melakukannya di beberapa bagian tangan serta kaki. Dokter berkata kalau salep tersebut aman untuk digunakan kapan saja.

 

Setelah selesai dengan pekerjaannya, Chanyeol kembali memandangi cincin Baekhyun yang baru dikeluarkannya dari dalam kerah kemejanya. Benar, Chanyeol kini mengenakannya sebagai kalung seperti yang Baekhyun lakukan. Ditatapnya lekat benda tersebut, hatinya bagaikan remuk saat menemukan noda darah kering menutupi hampir sebagian permukaan cincin yang dahulunya berwarna perak berkilau. Bahkan ukiran nama Baekhyun dibagian dalamnya pun turut tertutupi noda merah pekat.

 

Chanyeol menggenggamnya erat dalam kepalan tangan, kemudian mengecup kepalan tangannya tersebut seolah ia mengecup cincin Baekhyun yang ada di dalamnya.

 

Hatinya tak sanggup lagi melihat Baekhyun tak kunjung membuka mata, tiap detiknya tak pernah ia berhenti sekalipun berharap agar kekasih hatinya segera kembali merekahkan senyum cantiknya.

 

Diusapnya perlahan bibir merah muda yang dahulu sering dicicipinya, bibir itu masih sama lembutnya. Dengan sepenuh hati dan keberanian penuh, dikecupnya pelan bibir tersebut, masih hangat…Baekhyun masih hidup. Baekhyun tidak pernah kehilangan harapannya.

 

“Cepatlah kembali, Baekhyun…” bisiknya dengan wajah yang begitu dekat.

 

Kemudian setelah menjauh, dikecupnya lama punggung tangan Baekhyun yang terbebas dari jarum infus.

 

“Kembalilah, Baekhyun. Aku menunggumu…selalu. Maafkan aku…”

 

Setetes air meluncur kala Chanyeol mengedipkan mata. Ia mengusapnya cepat, tak ingin terlihat memalukan di hadapan pria mungil yang bahkan tak dapat melihat keberadaannya. Seulas senyum kembali hadir menghiasi paras tampannya, sebelum kedua belah bibirnya terbuka dan terdengarlah senandung merdu.

 

Tahu kah kau, setiap menit

Hatiku berteriak ‘Aku hidup!’ tujuh puluh kali.

 

Tapi jika bersamamu, sedikit lebih tergesa-gesa

Dan berteriak ‘Aku mencintaimu!’ seratus sepuluh kali

 

Selama jantungku masih berdetak, aku ingin melindungimu

Hal itu cukup menjadi alasanku untuk hidup

Selama kita menyatukan perasaan ini, lagi dan lagi

Kita akan semakin mengerti satu sama lain

 

Bila ada sebuah alasan

Bagi kita untuk saling bertemu

Aku tidak tahu itu takdir atau bukan

Tapi semua itu tak mengubah betapa bahagianya kita karena dapat bertemu

 

Shinpakusuu #0822 (Heart Rate #0822) by Hatsune Miku

Re-Song by Kogeinu Utattemite

 

Chanyeol sangat berharap kelak, ia masih dapat menyenandungkan sebuah lagu untuk Baekhyun.

 

.

.

.

 

Seumur hidupnya ia terlelap, dan entah bagaimana, lelapnya kali ini lah yang paling nyenyak…Baekhyun merasa ia terlalu lelap tertidur sampai-sampai terasa lelah, ia mulai merasakan sekujur tubuhnya pegal, bergerak pun rasanya sangat sulit, tulang-tulangnya bagaikan besi berkarat yang akan berderit saat digerakan, sementara dua kelopak matanya tak ubahnya seperti dua gerbang baja yang amat berat bila hendak dibuka.

 

Namun, di samping semua penderitaannya akibat terlalu lama tertidur, Baekhyun tak pernah merasa kedinginan, ia merasa seseorang selalu berada di sampingnya, menggenggam erat tangannya dan menyalurkan kehangatan.

 

Siapa orang itu?

 

Siapa dia?

 

Baekhyun ingin orang itu menjadi orang pertama yang dilihatnya ketika membuka mata.

 

“…bu…ibu, a-ayah. I…bu, ibu…”

 

Suara serak nan lirih terdengar mengalun dari kedua belah bibir merah muda pucat tersebut, kelopak matanya berkedip dengan gerakan kaku, kedua tangannya mencoba bergerak namun tertahan oleh sesuatu yang mencengkram erat tangan kanannya. Dengan susah payah mata sayunya melirik, nampak himpunan surai kehitaman halus menggelitik kulit tangannya.

 

Dan satu-satunya orang yang memiliki surai kehitaman itu adalah…

 

“Ch-Chan…yeol. Chan…yeol…Chanyeol…”

 

Dirematnya pelan tangan pria yang terlelap dalam posisi duduk tersebut, hingga tak lama pria tersebut bergerak kecil akibat merasa terganggu.

 

“Ng-ngghh…” eluhnya parau.

 

Baekhyun kembali bersuara “Chanyeoo~l…”

 

Kini mata bulat Chanyeol nampak dalam bentuk aslinya, melebar takjub saat indera pendengarannya menangkap alunan suara yang selama ini dinantikannya. Segera ia mengangkat kepala dan kedua alisnya langsung naik memberi kesan seakan-akan kedua bola matanya hendak melompat keluar.

 

“B-Baek…”

 

Dibutuhkan waktu beberapa detik bagi otak Chanyeol untuk mengelola apa yang dilihatnya menjadi sebuah informasi, yaitu Baekhyun yang telah tersadar dari tidur panjangnya. Kedua mata tipis itu kini telah terbuka walau masih sayu, menatapnya langsung, yah lurus menatapnya langsung! Chanyeol segera berdiri dari duduknya karena merasa takjub.

 

“Ya Tuhan! Kau sudah sadar? Baekhyun!” tautan tangan keduanya terlepas begitu saja.

 

“Bisakah…kau memberiku air?”

 

“Eh, oh ya…tentu saja…astaga, syukurlah…” Chanyeol ricuh sendiri menuang air mineral dalam gelas dan menambahkan sedotan agar Baekhyun lebih mudah menyesapnya. Namun beberapa detik selanjutnya ia tersadar akan sesuatu yang penting “Ouh, ya ampun! Aku harus memanggil dokter!”

 

Chanyeol pun segera menekan tombol panggilan selagi Baekhyun menyesap airnya.

 

.

 

Kini dokter tengah memeriksa keadaan Baekhyun, Sehun beserta kedua orang tuanya telah hadir di sana karena Chanyeol yang menghubungi Sehun lebih dulu, dan sepertinya Tao pun akan segera tiba karena Sehun juga menghubunginya beberapa saat lalu. Ibunda Baekhyun masih menangis, setibanya ia di sini dan menemukan Baekhyun dalam keadaan sadar, tangisnya segera pecah tanpa harus menunggu satu detik terlewat. Dengan bertopang di bahu sang suami, berkali-kali ia mengucapkan rasa syukur karena Tuhan masih mengizinkan putra sulungnya melihat matahari terbit.

 

Baekhyun mengeluh tubuhnya pegal, karena itu Chanyeol sedikit menaikkan bagian kepala ranjang agar pemuda manis itu merasa lebih nyaman. Ia menyesal tak sempat berbincang lebih lama karena tak sama lima menit setelah ia menekan tombol panggilan, seorang perawat datang dan memanggil dokter saat melihat pasiennya yang koma sejak dua minggu lebih kini tersadar.

 

“Sepertinya tidak ada kelainan apa pun dengan kepala Baekhyun-ssi, hanya sedikit pendarahan di bagian pelipis. Namun kaki kiri anda mengalami patah tulang dan harus memakai gips untuk beberapa waktu.”

 

“Baik…terima kasih, dokter…” Baekhyun menjawab lemas, kondisi fisiknya masih sedikit lemah setelah lama tak sadarkan diri dan Sehun segera menggenggam erat tangan kakaknya itu.

 

Tak beberapa lama, terdengar suara seseorang membuka pintu dengan kasar, tidak sabar sepertinya…orang yang rupa-rupanya adalah pemuda bernama lengkap Huang Zitao itu segera menghampiri Baekhyun yang nampak tersenyum tipis menyambutnya.

 

“Oh, Tuhan! Astaga! Buddha! Kau benar-benar sudah sadar?! Tidak ada yang sakit? Kau baik-baik saja?”

 

“Aku hanya lemas…Tao.”

 

“Oh, Dewa…syukurlah…” Tao memeluk Baekhyun lembut, masih takut tubuh teman baiknya itu merasa kesakitan.

 

Yifan yang turut hadir pun tersenyum bahagia, ia menepuk pundak Chanyeol pelan membuat sahabatnya itu menoleh dan juga melempar senyum walau tipis. Hanya Yifan yang memahami betapa senyum tersebut mengandung arti yang mendalam, rasa syukur dan lega karena akhirnya Baekhyun mendapatkan kembali kesadarannya, rasa suka cita dan bahagia karena orang yang amat ia cintai tidak sampai meninggalkan dunia.

 

Rasa syukur dan bahagia yang mendalam…karena Baekhyun masih hidup, Baekhyun tidak mati, Baekhyun masih ada di sini. Ia masih dapat melihat Baekhyun tertawa, tersenyum dan mungkin menangis. Tuhan masih berkenan memberinya kesempatan, Tuhan masih berkenan mengembalikan Baekhyun padanya.

 

Baekhyun telah kembali.

 

Selamat datang kembali, Baekhyun…

 

“Retrograde Amnesia?” tanya Tao dan Baekhyun hanya mengangguk. Sang pemuda Cina mendengus bingung “…Apa…itu?”

 

“Itu artinya Hyung-ku tidak dapat mengingat beberapa kejadian sebelum terjadinya kecelakaan…” jawab Sehun yang baru saja keluar dari kamar mandi.

 

“Apa? Benarkah itu, Baekhyun…?”

 

Baekhyun mengangguk lemas dengan senyum sendu “Maafkan aku Tao, aku bahkan bingung mengapa aku bisa di rumah sakit. Tanggal terakhir yang kuingat adalah sehari sebelum ulang tahunku…saat itu kita pulang kantor dan mampir untuk membeli kopi, bukan?”

 

“Kau benar, lalu setelah itu…kau tidak ingat apa pun lagi?” interogasi Tao, Baekhyun kembali menggeleng pelan “Kau tidak ingat soal perayaan kecil di rumah dan di kantor? Juga saat kita makan pancake bersama si bodoh Wu Yi Fan sebelum kau mengalami kecelakaan?”

 

Pemuda yang duduk bersadar pada kepala ranjang menggeleng lagi, entah untuk kali keberapa, wajahnya semakin sendu saat menyadari kesedihan hinggap di raut wajah Tao.

 

“Tidak apa-apa, Baekhyun…aku pun minta maaf karena saat itu aku tak mampu menolongmu, kau kecelakaan dan cedera seperti ini, semua karena salahku. Maafkan aku, Baekhyun…”

 

“Tidak seperti itu Tao.” Baekhyun buru-buru mengusap sebelah pipi Tao, ia panik melihat kedua mata sang sahabat yang nampaknya akan segera berair dalam waktu dekat “Saat itu, aku lah yang tidak hati-hati, seenaknya menyeberang jalan karena…karena…─”

 

Semuanya terdiam. Hening menyeruak tepat ketika Baekhyun tak melanjutkan kalimatnya, Sehun serta Tao menatapnya penuh tanya.

 

“Ka-karena…” lanjut Baekhyun terputus-putus. Tangannya yang bertempat di sebelah pipi Tao turun perlahan dengan lemas, beralih meremat selimut yang menutupi pinggang hingga ujung kakinya “Karena…”

 

“…Baekhyun…”

 

Pemuda yang baru saja disebut namanya segera menoleh, menatap Tao lekat “Karena apa Tao? Karena apa aku menyeberang begitu saja?”

 

Tao yang ditanyai tentu saja merasa bingung, tiba-tiba saja Baekhyun mendapatkan sepotong kecil ingatannya, namun bagian terpenting dari ingatan tersebut justru tak diingatnya. Ia telah menjelaskan pada Sehun, bahwa sebenarnya ia tak begitu memperhatikan Baekhyun saat itu. Tao terlalu sibuk meladeni Wu Yi Fan yang ─baginya─ menyebalkan sampai-sampai membuatnya mengabaikan Baekhyun. Jujur, ia tidak tahu mengapa Baekhyun menyeberang…dan sejujurnya pula ia baru menyadari keberadaan sahabatnya itu saat telah meninggalkan trotoar.

 

“Kenapa Tao?! Jawab aku!!” Baekhyun hampir kalap.

 

“Byunnie, a-aku…tidak…─”

 

“Karena kau melamun, hyung!!”

 

Sehun menyela dan kini dua orang lainnya menatap lekat padanya, terutama Baekhyun yang menatapnya dengan kening berkerut.

 

“…Apa?”

 

Pemuda bersurai sewarna pelangi itu nampak gugup, mulutnya mengeluarkan jawaban begitu saja karena sedikit panik melihat sang kakak mulai hilang kendali.

 

“Ya, itu…eum, maksudku kau melamun saat itu, hyung. Kau melamun dan tidak memperhatikan lampu lalu lintas sehingga menyeberang begitu saja. Ya ‘kan…Tao-hyung?”

 

Kedua mata Tao sedikit membulat sebelum akhirnya menanggapi ucapan Sehun “Oh, ya! Benar, kamu melamun Byunnie.”

 

Raut keingintahuan masih belum sirna dari wajah Baekhyun “Benarkah…tapi aku merasa─”

 

“Cukup, hyung.” Ucap Sehun yang kemudian mendorong tubuh sang kakak agar berbaring, setelah itu ia juga menaikkan selimut hingga menutupi dada Baekhyun “Kau harus istirahat, jangan memaksakan diri, oke? Tidurlah…”

 

“Sehun benar, tidurlah sebentar sampai waktunya makan siang. Aku akan keluar membeli makanan kesukaanmu…” Tao turut membenarkan posisi selimut Baekhyun. Satu kali ia dan Sehun berbentur pandang, saling menyampaikan rasa lega dalam sunyi karena setidaknya berhasil membujuk Baekhyun agar lebih tenang.

 

Namun Tao dan Sehun tidaklah mengetahui, bahwa kedua mata yang terpejam itu hanyalah kamuflase belaka. Baekhyun mulai merasa, bahwa ia telah melupakan sesuatu yang penting…sesuatu yang amat sangat penting, sampai – sampai merasa kehilangan walau ia tak dapat mengingat hal tersebut.

 

.

 

Ini hari yang berat bagi Chanyeol melihat kursi kerja Baekhyun di kantor tak kunjung ditempati sang pemilik, juga beberapa kali matanya menangkap kelakuan memalukan Yifan yang tiada kapok-nya mendekati Tao.

 

Jangan sebut Chanyeol iri, please~

 

Jangan pernah membayangkan Baekhyun dan dirinya seperti Yifan dan Tao.

 

Jangan, please~

 

Dan Chanyeol mengerang saat tersadar bahwa sebenarnya, dirinyalah yang membayangkannya. Membayangkan jika dirinya dan Baekhyun dapat melakukan hal seperti Yifan dan Tao. Setidaknya, Baekhyun tidak akan menendang bokongnya jika ia menggombal garing.

 

Chanyeol membuka kaos putih tipis yang dipakainya sebagai dalaman, melemparnya begitu saja tak peduli jatuh di mana nantinya. Ia menghadapkan dirinya yang telanjang dada pada cermin, pantulan sosoknya yang cukup menyedihkan tampak jelas di sana. Kantung matanya tidak tebal, tidak hitam seperti Tao, masih normal dan wajar, kedua pipinya masih empuk berisi dan tidak tirus…ia masih mampu membuat wanita mau pun pria akan memekik girang hanya dengan tersenyum selama tiga detik. Ia hidup dengan baik, tidur dan makan teratur, tak pernah telat bekerja…ia masih Park Chanyeol yang sempurna.

 

Ia masih…

 

Park Chanyeol

 

Yang sempurna

 

Di luarnya.

 

Tangan lebarnya menekan keran air, dan segera membasuh wajah setelah air mengalir deras…rasanya dingin mengenai kulit. Ia butuh sedikit tamparan, mungkin…untuk memancing semangatnya keluar. Tao pasti akan dengan senang hati melakukannya.

 

Chanyeol ingin bertemu Baekhyun, tapi ia tidak yakin…ia tidak yakin apakah ia memiliki alasan yang tepat. Baekhyun tidak mengingat perihal cincin pemberiannya saat ulang tahun, padahal ia tahu betapa pria manis itu mengganggap benda tersebut seperti harta karun paling berharga. Ia ingin bertemu, ia rindu pria kecil-nya…ia tak sanggup lagi menampung kerinduan di hati yang membuat dada sesak. Di genggamnya cincin yang menggantung di lehernya, begitulah cara Chanyeol melampiaskan kerinduannya terhadap Baekhyun selama ini. Tapi Baekhyun telah melupakan benda ini…melupakan sesuatu yang paling berarti di antara mereka.

 

“Chanyeol!!” panggil Kyungsoo dari luar kamar mandi.

 

“Ya?!” sahut Chanyeol sedikit berteriak.

 

“Bisa kemari sebentar?!”

 

“Ya, tunggu sebentar!” segera saja pria tinggi itu menanggalkan seluruh pakaiannya dan menyelesaikan acara mandinya.

 

Sedikit info tidak pentik, ia bukan pria metroseksual seperti Yifan yang memerlukan waktu satu jam penuh hanya untuk berlama-lama di kamar mandi, satu jam─ tidak kurang, mungkin lebih. Memang dia pikir siapa dirinya? Lee Minho? Jerry Yan? Untuk apa setengah mati mem-prepare penampilan kalau dirinya saja bukan artis. Dasar pelawak.

 

Tiga puluh menit kurang Chanyeol sudah bersih dengan penampilan rumahnya yang rapi, ia hanya mengenakan kaus merah dan celana training hitam saja sebagai pakaian santai sehari-hari, tentunya…tetap yang mahal dan bermerek terkenal. Ia tak akan mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut bila sedang malas, hanya beberapa kali digosok dengan handuk dan Chanyeol akan meninggalkan kamarnya untuk mengambil sebotol kecil air mineral dari dalam kulkas yang ada di dapur. Chanyeol membuka tutup botolnya seraya menduduki sofa dengan satu kaki terlipat, ia membiarkan setengah isi botol membasahi kerongkongannya sebelum kembali menutup botol airnya lalu meletakkannya di atas meja.

 

“Apa kau benar-benar akan pergi?”

 

Kyungsoo yang duduk di sebelahnya menoleh bersama seulas senyum di wajah lalu mengangguk pelan “Ng, apartemenku yang baru sudah siap ditempati. Lain waktu datanglah bersama Baekhyun…akan kubuat banyak kue yang enak untuk kalian.”

 

“Maafkan aku, Kyungsoo…”

 

“Hm? Bukankah seharusnya kau mengucapkan terima kasih?”

 

Pria di sebelahnya hanya tertawa kecil mendengar ucapannya, kemudian menggeleng pelan dan menggenggam sebelah tangannya erat “Kau tahu maksudku…”

 

Senyum di wajah Kyungsoo pudar secara perlahan. Ia menatap lekat Chanyeol yang kini berwajah sendu. Di matanya, Chanyeol tetap sama seperti dulu. Tetap tampan, menawan dan menarik…dulu mereka sempat saling menyukai, saling mencintai dan merajut kisah kasih bersama-sama. Namun kini, sekeras apa pun Kyungsoo berusaha menenggelamkan diri ke dalam telaga penglihatan Chanyeol, ia tidak akan menemukan apa yang dahulu pernah menjadi miliknya.

 

Cinta.

 

Cinta Chanyeol. Cara Chanyeol memandangnya, tak lagi sama seperti dulu.

 

Walau pun ia tak dapat membaca isi hati dan pikiran Chanyeol, tapi ia tahu bahwa di sana hanya ada satu nama. Nama yang tengah dirindukan pria itu hidup dan mati.

 

Bukan dirinya. Bukan lagi dirinya.

 

“Chanyeol…” ucap Kyungsoo lembut, ia sedikit memiringkan posisi duduknya agar berhadapan langsung dengan pria di sebelahnya. Ia tak melepas tautan tangan mereka, malah semakin mengeratkannya “Aku tahu kalau sejak awal, semua ini tidak akan berhasil…hanya kenangan yang tersisa di antara kita, tidak ada yang lain…”

 

Benar, Chanyeol tahu itu…tapi ingatan akan cintanya yang dulu begitu besar terhadap Kyungsoo membuat empat tahun bersama Baekhyun bagaikan tersapu angin sepoi begitu saja. Saat ini, ia sangat menyayangkan jenjang pendidikannya yang tinggi sampai menuntut ilmu ke kampung halaman neneknya di Berlin, Jerman…jikalau di hadapkan dengan masalah hati sesederhana ini saja, dirinya setara dengan seekor monyet yang gemar bergelantungan dari dahan ke dahan.

 

Penyesalan tak dapat dihindari walau kenyataannya telah sangat terlambat untuk itu, biarlah ini menjadi hukuman baginya. Batu hambatan akan selalu ada dalam kisah percintaan mana pun dan siapa pun.

 

“Sekarang aku hanya seseorang dengan status ‘spesial’ di kehidupanmu karena aku adalah cinta pertamamu, cinta pertama akan selalu memiliki tempat khusus di hati. Kau tahu bukan?” senyum telah kembali menghiasi paras Kyungsoo, sorot matanya semakin melembut seolah ia tengah berbicara dengan anak usia lima tahun yang butuh nasihat karena telah berbuat nakal “Namun yang terpenting bukanlah yang pertama atau yang terakhir…tapi saat ini, Chanyeol. Kau pasti telah menyadari…siapa yang kau cintai saat ini bukan?”

 

Chanyeol masih terdiam, ia melihat paras Kyungsoo yang begitu teduh dan tanpa dosa…entah berapa kali pemuda manis itu memaklumi tindakan bodohnya.

 

Dilihatnya Kyungsoo menekan dada kiri dengan tangannya yang bebas, dan berkata sambil tersenyum “Peranku sebagai tokoh utama, selesai sampai di sini…”

 

Untuk beberapa detik ketertegunan menghampiri paras Chanyeol, namun pada detik selanjutnya…raut wajah Chanyeol berubah kosong, hampir menyerupai adik Baekhyun yang Kyungsoo ketahui bernama Oh Sehun. Kehampaan nampak jelas menyelimuti kedua mata Chanyeol, jujur Kyungsoo turut merasa sedih…terlebih ketika pria yang biasanya selalu berdiri dengan punggung tegap itu menjatuhkan kepala di atas pundak kecilnya. Kyungsoo dapat merasakan kening Chanyeol menempel pada pundaknya.

 

“Tapi aku…” ucap pria itu lirih dengan suaranya yang khas “Aku telah menyakitinya, Kyungsoo. Aku telah menghancurkannya. Apa yang harus kulakukan?”

 

Kyungsoo tahu bahwa telah ada air mata yang menetes. Berat bagi Chanyeol untuk mengakui bahwa lebih besar kesempatan baginya melepaskan Baekhyun…ketimbang merengkuhnya kembali. Pemuda dengan sepasang mata yang juga bulat sempurna itu menghela nafas, kini adalah waktunya kisah antara Chanyeol dan Baekhyun, ia tidak diharuskan untuk ikut campur.

 

“Tidak ada kesalahan yang tidak dapat diperbaiki, Chanyeol. Jangan menyerah untuk melakukannya…”

 

.

.

.

 

“Pelan-pelan…” Baekhyun meraba-raba plester luka berwarna ungu yang menutupi luka di bawah sudut mata kirinya.

 

Sementara Sehun tengah menggulung kedua lengan kaus nya hingga siku, persiapan untuk melepas plester tersebut “Aku tahu…”

 

Sebuah cermin bundar telah siap di tangan Baekhyun agar ia juga dapat melihat ketika Sehun melepas plesternya. Ia merasa sudah saatnya plester tersebut dilepas agar luka di dalamnya cepat mengering.

 

“O-ouh…” ringisnya seraya menatap cermin, saat plester tersebut sudah setengahnya terlepas.

 

Sehun menariknya secara perlahan-lahan, khawatir sang kakak akan merasa perih. Dilihatnya pula luka di dalam sana sedikit masih basah dan berwarna merah muda dengan darah kering di sekitarnya, nampaknya kulitnya terkelupas hingga dagingnya sedikit terlihat. Baekhyun kembali meringis saat plester sudah benar-benar terlepas, Sehun segera membuangnya ke tempat sampah di dekat kakinya.

 

“Bagaimana?” tanya Sehun seraya menurunkan lengan kausnya.

 

“Sakit…” jawabnya singkat, lalu kembali memandangi bekas luka tersebut lewat cermin di tangannya “Sepertinya akan berbekas.”

 

Sehun tertawa kecil kemudian mengecup singkat luka di wajah kakaknya tersebut “Kau ini baru saja kecelakaan, hyung…mana mungkin sama sekali tak meninggalkan bekas luka di tubuhmu. Sebentar, akan ku olesi salep agar cepat sembuh…”

 

“Tapi lihat, bentuk lukanya seperti bentuk hati…” komentar Baekhyun mengganggap lucu bekas luka tersebut.

 

Selagi Sehun membalurkan salep di luka Baekhyun, pintu kamar terbuka dan terlihatlah seorang Huang Zitao memasuki kamar─ sendirian, tanpa Wu Yifan, tumben sangat, mungkin Tao kabur diam-diam dan meninggalkan pria blasteran itu sendirian di tepi jalan.

 

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Tao seraya meletakan kantung plastik putih bawaannya di atas susunan laci di samping tempat tidur Baekhyun, di sana sudah ada sekeranjang buah, botol air besar dan beberapa toples kecil berisi makanan ringan. Tao kemudian mengeluarkan isi kantung plastiknya yang ternyata adalah kotak berisi Red Velvet Cake kesukaan Baekhyun, ukurannya seloyang penuh, cukup besar seperti kue ulang tahun. Baekhyun memekik girang karenanya.

 

“Sepertinya semakin baik setelah melihat kue yang dibawa olehmu, Tao-hyung…” Sehun yang menjawab, Baekhyun sendiri malah lebih memilih sibuk mencolek krim yang menghiasi kue.

 

Tao turut tertawa, kemudian memeriksa kembali ke dalam kantung plastiknya dan segera mendesah kecewa.

 

“Ada apa?” tanya Sehun.

 

“Aku lupa membeli minuman untuk kita…” Tao melipat kantung plastiknya dan menyelipkannya di bawah kotak kue “Sebentar, akan kubeli dulu di mesin minuman yang ada di luar.”

 

Sehun hanya mengangguk, membiarkan Tao pergi lalu beralih memukul tangan nakal Baekhyun yang mulai membuat bentuk kue menjadi tidak cantik.

 

Sementara Tao menggeser pintu kamar, sosok seorang pria tinggi segera menghadang langkahnya. Dari aroma parfumnya jelas orang itu bukan Yifan, tentu saja karena pria tersebut adalah Park Chanyeol. Sorot mata Tao segera berubah sinis, timbul keinginan mencegah Chanyeol memasuki kamar. Chanyeol bergeser ke kiri, Tao menghalanginya, Chanyeol bergeser ke kanan, Tao tetap menghalanginya.

 

Chanyeol menghela nafas jengah “Apa?”

 

“Kau. Tidak. Boleh. Ma-suk!” ucap Tao dengan nada yang membuat telinga Chanyeol panas.

 

Sekali lagi Chanyeol menghela nafas, kali ini sengaja dilebih-lebihkan untuk menyindir sahabat mantan kekasihnya tersebut. Chanyeol tahu kalau sejak awal Tao tidak begitu menyukainya, tapi itu bukan masalah…ia tidak ingin dan tidak perlu tahu apa alasannya, nama Tao berada di urutan paling akhir dari daftar orang-orang yang akan ia pedulikan di muka bumi ini. Tanpa pikir panjang, Chanyeol menarik kerah kemeja Tao dan melempar begitu saja tubuh pemuda tersebut ke dalam pelukan Yifan yang ternyata telah berdiri di belakangnya sejak tadi. Jangan tanya reaksi pria bule jejadian tersebut…bahkan sekarung berlian pun tak dapat membuatnya lebih bahagia dibandingkan dengan tubuh Huang Zitao dalam pelukannya.

 

“Urusi dia.” Kata Chanyeol dingin.

 

Sementara Chanyeol telah masuk dan menutup pintu, Tao sibuk meronta-ronta dalam pelukan Yifan.

 

“Hei! Lepaskan aku! Jangan sentuh aku! Jangan peluk aku! Jangan tersenyum padaku! Singkirkan tanganmu dariku! Enyah dari hadapankuuuuuuuuu!”

 

Aih, Tao nya benar-benar membuat gemas.

 

.

Di dalam, entah bagaimana akhirnya Chanyeol hanya tinggal berdua dengan Baekhyun…oh, ya Sehun baru saja keluar, ingin mencari angin segar katanya. Tapi sialnya setelah itu, suasana menjadi luar biasa canggung. Baik dirinya mau pun Baekhyun, sama sekali tak ada yang berniat membuka suara, keduanya hanya menutup mulut seraya memandangi berbagai macam hal tidak jelas yang dapat mereka temukan disana, misalnya saja pintu kamar mandi yang terbuka, kulit apel di tempat sampah atau seekor kupu-kupu yang kebetulan hinggap di tirai jendela.

 

Chanyeol dengan gugup duduk di tepi ranjang, persis menghadap Baekhyun karena setidaknya ia harus membuat langkah pertama atau waktu berharganya dengan pemuda manis ini akan terbuang sia-sia.

 

“Bagaimana kabarmu?” tanya Chanyeol standar.

 

Baekhyun tersenyum lembut, ada sedikit luka kering di sudut bibirnya, tapi mungkin akan langsung terkelupas bila sedikit di garuk “Aku baik-baik saja, terapiku lancar dan kata dokter beberapa hari lagi aku boleh pulang.”

 

“Benarkah?” tanya Chanyeol lagi dan Baekhyun hanya mengangguk. Jujur, Chanyeol merasa amat sangat lega “Bagus sekali kalau begitu.”

 

Hening kembali terjadi, kejadian yang Chanyeol harapkan ketika dirinya dan Baekhyun tanpa sengaja sama-sama bersuara, kemudian ia akan mempersilahkan pemuda manis itu untuk mengutarakan ucapannya lebih dulu, sama sekali tidak terjadi walau beberapa menit sudah terlewati. Mungkin bagi Baekhyun, ia sudah tidak ada keinginan untuk membicarakan apa pun lagi pada Chanyeol, mantan kekasihnya…memikirkan kemungkinan itu saja, sudah membuat pria tinggi tersebut kembali ragu mengajak Baekhyun bicara.

 

Tapi bukankah Kyungsoo berkata padanya untuk jangan menyerah dalam memperbaiki apa pun kesalahannya?

 

“Em…Baekhyun…”

 

“…Ya?”

 

Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dengan cara yang amat lembut, tangan dengan jari-jari yang begitu langsing dan kurus. Pria rupawan itu menelan paksa liur-nya sebelum kembali mengeluarkan suara.

 

“Aku…maafkan aku…” ucapnya pelan, lalu kembali berkata “Maafkan aku untuk apa yang telah kulakukan, untuk perbuatan…juga keputusan bodohku…”

Berat bagi Chanyeol untuk mengucapkan rangkaian kata tersebut, meski pada akhirnya ia mendapatkan kelegaan yang cukup membuatnya sedikit merasa tenang. Ada─ entah sebesar apa rasa malu yang ditahannya sekuat tenaga saat ini, karena jujur saja…memohon maaf atas kesalahan sendiri itu amat sangat berat, sekecil apa pun kesalahan tersebut. Persetan dengan orang-orang yang mengatakan ‘tidak perlu malu untuk mengakui kesalahan sendiri’, mengakui kesalahan dengan kata lain mengakui aib sendiri, aib adalah hal yang memalukan tentu saja.

 

Tak ada yang berbicara lagi setelah terakhir kali Chanyeol bersuara, Baekhyun menatapnya dalam sunyi dengan raut wajah yang sukar ditafsirkan, semoga saja pemuda manis itu tidak sedang berpikir untuk tidak menerima permohonan maafnya.

 

Chanyeol menarik nafas mantap “Maafkan aku karena telah menukar empat tahun kisah kita dengan cinta masa lalu-ku yang bahkan telah layu tanpa kusadari. Saat kutemukan bahwa semua hanya ilusi, tanganmu telah benar-benar terlepas dari genggamanku…maafkan aku karena telah menghancurkan perasaanmu.”

 

Kali ini matanya entah sejak kapan telah terpaku pada kedua mata bening Baekhyun yang memancarkan ketertegunan. Chanyeol seolah terhisap ke dalam genangan yang kini merefleksikan sosoknya tersebut. Ia tersenyum, menunjukan bahwa semua ini tak akan lagi menjadi masalah besar di antara mereka berdua, bahwa semua ini akan segera usai. Tidak tahu diri memang jika mengharapkan ia dan Baekhyun dapat kembali menjalin hubungan seperti dulu, tapi keinginan agar hal tersebut tercapai juga tak dapat dihindari.

 

Dasar rendah kau Park Chanyeol.

 

“Chanyeol…” sang pemilik nama mendelik. Tuhan, rasanya bagai seabad menanti Baekhyun akhirnya mengeluarkan suara, apalagi sampai menyebut namanya. Pemuda itu tersenyum lembut dan…tulus “Terima kasih…”

 

Kemudian kini giliran Baekhyun yang berusaha menggenggam tangan Chanyeol, meski hal tersebut sia-sia karena ukuran tangan pria tinggi tersebut terlalu besar untuk dapat ia tangkup sepenuhnya.

 

“Karena aku bukan orang pendendam, aku memaafkanmu…” ucapnya lembut, sepertinya Baekhyun masih terlalu lemah untuk bicara dengan semangat “Aku tidak tahu apa yang kau harapkan, tapi jika kau meminta lebih dari ini, maaf…aku tidak dapat mengabulkannya.”

 

Ucapan Baekhyun seolah bagai anak panah yang menembus jantungnya dengan telak. Munafik, jika ia tak mengharapkan apapun. Munafik, jika ia mengatakan tidak lagi mencintai pria manis ini dan sama sekali tak mengharapkannya kembali. Munafik, jika Chanyeol mengatakan tak keberatan melepas Baekhyun dan berakhir dalam hubungan pertemanan belaka. Nyatanya, Chanyeol mengharapkan sebaliknya dari semua hal tersebut. Ia masih mengharapkan Baekhyun. Ia masih mencintai Baekhyun dan mengharapkan pemuda itu untuk kembali. Ia sama sekali tidak rela melepas Baekhyun dan akan mengacungkan jari tengah pada hubungan ‘berlabel’ pertemanan.

 

Tapi…tapi semua keinginannya itu tak kan terkabul bila yang mengharapkannya hanya satu pihak.

 

Baekhyun jelas menolak bahkan sebelum Chanyeol mengeluarkan isi hatinya.

 

“Untuk sementara, entah sampai kapan, aku mohon…biarlah semua seperti ini, seperti apa adanya. Aku belum siap bila harus ada yang berubah dalam sekejap. Aku…takut…maaf.”

 

Chanyeol kini menggunakan kedua tangannya untuk menangkup tangan Baekhyun. Bagaikan ular, rasa bersalah menjalar dari ujung kakinya hingga ke puncak kepala saat mendengar suara lirih pemuda manis di hadapannya. Ia tak mungkin memeluk Baekhyun meskipun sangat ingin, hanya mampu menangis dalam hati menyadari bahwa Park Chanyeol yang dahulunya baik hati kini telah menjelma menjadi penjahat yang menghancurkan hati orang terkasihnya.

 

“Aku tidak akan memaksa meskipun sangat ingin. Selama membuatmu bahagia, apapun itu aku akan melakukannya…”

 

Baekhyun tersenyum sendu, sadar keinginannya telah membuat Chanyeol kecewa “Terima kasih, Chanyeol…”

 

Angin hembus melalui jendela yang terbuka, dengan lancang menghempaskan satu demi satu surai gelap keduanya. Tirai berkibar membuat seekor kupu-kupu yang awalnya bertengger di sana, kabur entah kemana.

 

“Aku mau tidur, nyanyikan sebuah lagu untukku, Chanyeol…”

 

Ia tersenyum tipis “Tentu.”

 

Menurut Baekhyun suara Chanyeol tetap enak didengar walau sebenarnya akan lebih baik bila pria tampan itu bernyanyi seraya memainkan gitar. Tapi dengan atau tanpa gitar, Baekhyun sama sekali tidak masalah…ia tetap menyukai suara Chanyeol.

 

Keduanya masih saling bertatapan saat Chanyeol mulai melantunkan sebuah lagu.

 

Seekor kupu-kupu hinggap di bahuku

Ia berbisik menyampaikan pesan dari angin

 

Pesan yang di dalamnya menyebut namamu

Aku tidak peduli dan tetap membaca novelku

 

Suatu hari aku menatap punggungmu dan bertanya

“Untuk apa kau membawa ransel sebesar itu?”

 

Kau menjawab

“Aku akan pergi ketempat di mana aku dapat memandang langit sambil tersenyum.”

 

Kenapa harus langit?

Tak bisakah dengan melihatku saja kau tersenyum?

 

Lagi-lagi seekor kupu-kupu hinggap di bahuku

Ia berbisik menyampaikan pesan dari angin

 

Pesan yang di dalamnya menyebut namamu

Aku tidak peduli dan tetap memandangmu

 

Lalu tanpa sadar aku berteriak

“Jangan pergi!! Tetaplah di sini, akan kubuat kau selalu tersenyum!”

 

Aku janji.

 

Lyrics by Me (9Tails)

 

Ketika itu Baekhyun sedikit mengangkat tangannya, disambut dengan Chanyeol yang langsung menyelipkan jemari kokohnya di antara jemari kurus pemuda manis tersebut, mereka pun bertautan tangan dengan erat…hingga Baekhyun benar-benar terlelap.

 

~TSUZUKU~

71 thoughts on “Mukashi Kara No Uta – Chanbaek – Part 2

  1. Disini chanyeolnya lebih banyak ya.. gak kaya di part sebelumnya yang cuma sekilas2 doang.. penasaran sama kelanjutannya, baekhyun kenapa harus hilang ingatan segala.. yah, lagi2 suka sama taoris moment, karakter yifan bener2 bikin gemes hahaha

  2. uwaaa!!!!! gw baru bisa komen T.T
    baekhyunaa cpat sembuh.. u are my sunshine, baekpup!!
    buat canyol tmbah nista, menderita!!! buat dumbyeol smkin merana, orz orz
    gw CBshipper, tp gw ga suka ama si dumb ottokhae??
    kak 9tails, lnjut ff nya, gw sukaaaaaaa bange~t ama ff lu T.T
    anda emang berbakat buat hati ane nangis darah, nyeseknya to the max
    lnjut trus, ok? fighting!! ^O^
    arigatou~~

    p.s: lirik terakhirnya keren >.<

    p.s.s: ane lupa mau tulis apalagi#digampar

    p.s.s.s: i love u~
    *eaaaaaaaaaaaaaa

  3. Aku langsung melesat ke sini, huhaaa~~
    Eh, eh.. masa kulihat tadi readers di atas banyak yang ngira udah end yah /.\
    Biasa, mungkin mereka males baca note yang udah capek-capek dibuat sama kakak. Aku juga sering kayak gitu tau, kan gimana yah.. orang udah dibilangin, eh malah kagak paham /slapped/ /apaapaan gue malah curhat/

    Okeoke, aku sudah tidak sabar menunggu kelanjutannya. No metter what lah, pokoknya harus dilanjut yaah! Aku tunggu selalu ya kak 9Tails.
    Suka banget sama karakter Chanyeol tahuuuu~ oiya dong, biasnya siapa dulu coba /plak.
    Oke, tetep semangat nulis lanjutannya.. fighting!

  4. huaaaa nyesek bnget… emang ga gampng buat nerima mntn kmbli pa lgi klo dah nyakitin hati , pi salut baby byun sifat’y gwe suka pke bnget

  5. Annyeong lagi :))
    Unnie lanjut nya jangan lama” yaa, aku setia menanti FF mu yang kece ini🙂
    Your FF is great!!!

  6. Sudah? ah~ nanggung bangeet. Bikin sequelnya dong kak, pasti seruu. yah yah yah? Nangis bacanya. huhuu:'(
    Bikin sequel yaaah kaak pliiis. Ini terlalu gantuung. Tapi yaudah sih kalo kakak nggak mau. gabisa maksa kan ya.hehe
    keep writing aja deh, fighting(!^^)9

  7. iye bakyon ngga pendendam, gue yang dendam ! ah cendol jelek, ileran, tukang ngupil hambuh esmosi aku karo kue ! aduh sabar sabaar.. puasaa..

  8. heyyy -_- aku suka banget sama ff inii ^_^ aku pernah liat video di u tube namanya “anterograde tomorrow” kan itu fan music video, couple nya itu kaisoo ^_^ d,o tuh kayak amnesia gitu setiap paginyadia merasa gak inget apa2x terus ketemulah sama kai tetangga apartemen yang suka merokok, terus mereka ber2 tuh kayak bikin moment yang diabadiin di kertas memo sama foto jadi dari camera polaroid, terus ditempel di samping kasur d,o biar d,o inget terus sama kai, kai kan ngidap penyakit– apa gitu gara2x keseringan mrokok, terus kai meninggal. meninggalkan d,o yang bingung pas ngeliat foto polaroid sama memo2x yang penuh disamping kasurnya, biasanya ada kai yang langsung bisa masuk kamar d,o. ya- karna kai punya kunci cadangannya d,o dikasih sama d,o juga itu- kai biasanya langsung jelasin maksud dari kata2x di memo2x itu– tapi karena kai meninggal, dan d,o pun gatau kai meninggal, dan siapa itu kai. dan dia memulai hari lagi seperti dulu.. tanpa kai, memo, dan foto jadi yang biasanya setiap hari bertambah memenuhi dinding kamar d,o.– selesai

    aa– aku pengennya chanyeol sama baekhyun bersatu lagii dan hidup bersama haha ~ *ngarep* maaf cuma request doang kok^_^ pokoknya daebak! buat ff inii
    keep writing ya thor~

    HWAITING!!

  9. ini hurt~~nomu appo~~
    biarpun di chap sblmnya sy komen mnta si chan menderita tp tetep g tega ngebayanginnya..
    prjuangan chan emank blm klytan sih di chap ini,smg di chap terakhir smua brbuah manis ya kak~~pleaseuu
    baek sbnernya msih cnta sih sm si chan,cm dy ada smcem trauma krna disakitin kali ya,jd dy brusaha melindungi prsaan’y biar g trluka lg,,noh chan,rasain lu,nyadar kan akhirnya..
    bagian yg plg sy suka dsni tu pas si chan nyanyi,bagus bgt liriknya,yg sblm2nya jg,jd pgn googling cr lagunya~~
    okedeh kak..segitu aja cuap2 gaje sy,smg cpt di updte dan bs happy end ya..himneoo!!!!

  10. Eoh? Pertama aku mw blg lirikny keren. Huaaa. Trz kyungsoo bnran berhati malaikat,sumpah. Ini dy cinta yg bnr2 cinta. Tdk egois,rela melepas org yg d cintainy bahagia bersama org lain. Plg senang dah sama kalimat kyungsoo ” posisiku sebagai peran utama,cukup sampe d sini” benar gk kalimatnya? Maaf kalo salah. Aku gk tw end ny gmn tp ku berharap chanbaek bersatu. Btw soal wufan,entahlah ku gk tw mw blg apa? Kykny dgn tao yg jatuh kepelukan ny itu sdh ckup menggambarkan bagaimana penilaian ku pd seorang wufan.

  11. haihai i’m back. hoho sorry baru review lagi. sebenernya gue udah baca semlm tapi baru review sekranga. maapon yah author-nim /bow/

    aaa nyesek gue kalo ada diposisi baek, harus ngerelain org yg jelas2 masih dia cintai. ugh
    tapi disni gue liat penyesalan cy nya dlm bgt. feel nya dapet banget gitu, jadi agak kasian juga sama cy nya :3
    dan untuk taoris sbg pendukung nya juga pas gitu. kebayang liat kris ngejar2 tao :v waks biasanya kan dia dpt peran cowo keren yg memilika hati bagi es gitu. Haha

    ih seriusan suka cara author bawain ff nya. gaya bahasa ugh (y)

  12. SESAK NAFAAASSS😥

    sebenernya rada kesel sama chanyeolnya (masih) tapi mau gimana lagi… sumber bahagianya baekhyun kab chanyeol😥

    sedih baangettt….
    chanyeolnya ‘sakit’ karena kesalahannya
    baekhyunnya ‘sakit’ karena ketakutannya

    kyungsoo juga kasian… tapi untungnya dia baik dan tau diri… makasih loh ya

    chanyeol emang harus ngebayar rasa sakit baekhyun sih… tapi masih pengen bisa happy ending toh 2-2nya masih saling sayaangg {} huhuu daebak thooor

  13. Asghsjsjkjshksjhks…
    Ndak kebayang bagaimana lukanya Baekhyun..
    Kadang yang cuma jatuh dari sepeda aja sakit sekali apalagi sampai ketabrak Truk begitu /abaikan/
    .
    .
    Sehunieee..
    Adik yang pengertian sampai bela-belain datang ke Seoul demi jaga kakaknya /hug/

    Tao sama Yifan nikahin aja xD
    meskipun greget tetap meramaikan ya??

    Kyungsoo sudah melepas Chanyeol..
    Jleb sangad tuh Chanyeol..
    Baekhyunnya trauma Yeolleo….
    See ya Next chapter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s