Mukashi Kara no Uta – Part 3 (END)

akhirnya di post juga part terakhir yaaa…cuco rempong akika

Title: Mukashi Kara no Uta (Song For a Long Time Ago)

Author: Nine-tailed Fox

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol. Wu Yi Fan, Huang Zi Tao, Oh Sehun, Do Kyungsoo

Length: Chapter 3 0f 3

Disclaimer: –

Summary: –

Warning: This is BOYS LOVE STORY. THIS IS CHANBAEK STORY.

Jika terjadi kemiripan, typo atau hal lain yang tidak berkenan, semua itu tidak disengaja

mukashi kara no uta

* * *

Apa yang Chanyeol harapkan setelah ia memohon maaf pada Baekhyun? Jujur, pahit baginya untuk mengakui kalau pria mungil tersebut adalah mantan kekasihnya saat ini. Jika dulu ia dan Baekhyun berdiri dengan saling berhimpitan, maka kini bagaikan ada jurang lebar nan dalam yang memisahkan dirinya dan lelaki manis itu. Baekhyun berada dekat, tapi juga jauh…sekuat apa pun ia mengulurkan tangan, bahkan seujung jari pun ia tak dapat menyetuhnya.

 

Chanyeol ingin menjerit dan mengatakan betapa situasi itu menyiksanya tanpa ampun, bahkan kini…kantor dengan meja milik Baekhyun yang tak pernah ditempati sang pemilik, seperti neraka baginya. Tak ada objek lain selain diri sendiri yang dapat ia persalahkan atas semua kebodohan serta pemikiran pendeknya yang menyebabkan semua ini terjadi, yang menyebabkan Baekhyun terlepas dari jangkauannya.

 

“Direktur Park, apakah anda akan ikut dengan kami berkunjung ke rumah Baekhyun dan melihat bagaimana keadaannya?”

 

“Eum, tidak. Terima kasih, beritahukan saja besok padaku kabar yang kalian dapatkan hari ini…”

 

“Saya mengerti, Direktur.” Pegawai itu pun mengundurkan diri bersama beberapa temannya yang lain.

 

Sebagai orang berpendidikan tinggi, sangat mudah baginya untuk berkelit dari segala yang berhubungan dengan Baekhyun─ lebih tepatnya tidak melibatkan orang lain dalam arus hubungannya dengan pria mungil tersebut. Untungnya Yifan sangat pengertian untuk tidak membahas masalah Baekhyun bila mereka tengah berkumpul berdua, berbeda dengan Huang Zitao yang kini tak Chanyeol pedulikan habis-habisan.

 

Untuk sementara, biarlah ia memikirkan semua ini seorang diri. Biarlah Baekhyun menjadi miliknya seorang walau hanya dalam pikiran dan angan.

 

.

 

Dua bulan lebih beberapa hari sudah sejak kecelakaan itu terjadi. Baekhyun yang satu minggu lalu meninggalkan rumah sakit, kini hanya dapat mengerjakan pekerjaan kantornya di rumah, ia bekerja secara online dan laptopnya tak pernah berhenti beroperasi lebih dari dua jam dalam sehari.

 

Sehun kini telah memasuki tahun pertamanya di universitas, adiknya itu telah resmi menjadi mahasiswa tepat tiga hari sebelum Baekhyun meninggalkan rumah sakit, ia juga telah memiliki teman dekat seorang laki-laki cantik bernama Luhan yang Baekhyun ramalkan akan menjadi kekasih Sehun dalam waktu dekat. Meski telah mahir mengendarai motor atau mobil dan juga telah memiliki surat izin mengemudi, Sehun tak memiliki kendaraan pribadi, tiap harinya ia berangkat ke universitas dengan menggunakan kereta bawah tanah. Tapi seringkali adiknya itu menggantikannya mengemudi tiap kali pergi ke suatu tempat seperti super market atau bank, ngomong-ngomong Baekhyun kini tak perlu lagi meminjam mobil Tao karena sang ayah berbaik hati memberinya mobil van kuno bekas beliau gunakan saat muda dulu.

 

“Hyung, berhentilah mengurusi dokumen-dokumen mu saat kita sedang makan…” ucap Sehun ketus dengan sumpit di tangan kanan dan mangkuk nasi di tangan kiri.

 

Baekhyun melebarkan matanya menatap Sehun, bersama sumpit di tangan kanan dan selembar dokumen di tangan kiri. Ia buru-buru menukar dokumennya dengan mangkuk nasi “Oh, baiklah. Maafkan aku.”

 

Sekedar informasi, Sehun kembali mengecat rambutnya dengan warna normal yaitu coklat gelap saat mulai memasuki universitas, lebih tepatnya saat berkenalan dengan Luhan. Tidak ingin dianggap aneh─ begitu alasannya, Baekhyun hanya mengerenyit bingung saat itu. Apa Sehun lupa berapa ribu kali ayah, ibu serta dirinya mengatakan bahwa gaya rambut warna-warninya dulu itu aneh?

 

“Sehun…”

 

“Ya?”

 

“Kapan kau akan mengajak Luhan makan siang bersama lagi? Aku ketagihan masakan cina buatannya…”

 

“Baiklah, akhir pekan ini akan kubawa dia kemari.” Sehun mengambil telur gulung dengan sumpitnya. Informasi lagi, makan malam kali ini giliran Sehun yang memasak.

 

Pintar, baik hati, tampan, berpenampilan menarik, sopan, bersih, pandai memasak dan…populer. Sial! Mengapa adiknya itu begitu sempurna?

 

Suasana kembali sunyi dan tak ada aktivitas lain selain menyantap makanan. Sebelumnya, Baekhyun telah memperingatkan Sehun untuk tidak mengungkit masalah Chanyeol tak peduli seberapa besar keinginan mulutnya untuk bertanya perihal tersebut, dan…well─ Sehun mematuhinya. Tetapi jantungnya sendiri tak pernah berhenti berdetak tiap kali otaknya memutar kenangan dirinya bersama lelaki bertubuh tinggi tersebut. Dan bila hal itu terjadi di tengah acara makan seperti ini, Baekhyun akan berhenti mengunyah dengan kedua belah bibir yang masih mengapit sumpit. Pemuda manis itu pada akhirnya melamun, menyisakan setengah porsi nasi dalam mangkuknya.

 

Suara Chanyeol.

 

Senyum Chanyeol.

 

Tawa Chanyeol.

 

Rengekkan Chanyeol.

 

Keluhan Chanyeol.

 

Blablabla Chanyeol. Satu dua tiga Chanyeol. Begini begitu Chanyeol.

 

Baekhyun sedikit kurus akhir-akhir ini dikarenakan porsi makannya yang berkurang cukup banyak. Sehun menyadari hal tersebut, tapi ia enggan berkomentar lebih lanjut. Diam adalah pilihannya, benar-benar diam tanpa komentar, juga tanpa helaan nafas.

 

Keduanya mungkin benar-benar berjodoh karena saling memikirkan di waktu dan tempat yang berbeda. Hanya saja, jalan perjodohan tidak selalu semulus kain sutra berkualitas tinggi.

 

Sepintas, Baekhyun dan Chanyeol terlihat seperti orang bodoh. Tetapi bukankah cinta selalu diiringi dengan tindakan bodoh?

 

.

 

Akhir pekan ini adalah waktunya berbelanja bulanan. Sehun memarkikan mobil di salah satu tempat kosong di basement, setelahnya Baekhyun lebih dulu meninggalkan mobil untuk mengeluarkan beberapa kantung belanjaan mereka, Sehun turut melakukannya dan ia membawa bagian lebih banyak dari sang kakak. Keduanya berjalan berdampingan menuju apartemen mereka seraya membicarakan soal apa yang akan Baekhyun masak untuk makan malam, kebetulan hari ini giliran Baekhyun memasak sementara Sehun akan mencuci peralatan makan setelahnya. Mereka masih bersenda gurau saat meninggalkan lift, namun langkah keduanya terhenti ketika belum sempat memasuki apartemen.

 

Kyungsoo yang awalnya bersandar pada daun pintu, segera berdiri tegap saat menangkap kehadiran Baekhyun dan Sehun. Pria mungil itu tersenyum seraya melambaikan tangan singkat, sementara dua bersaudara di hadapannya hanya saling melempar pandang.

 

“Bisa kita bicara sebentar?” ucapnya dengan tatapan mata lurus mengarah pada Baekhyun.

 

.

.

.

Hari ini cuaca tidak terlalu dingin untuk menikmati secangkir es krim. Kebetulan ditaman dekat apartemen selalu terdapat sebuah mobil caravan penjual es krim tiap sore menjelang. Kyungsoo dan Baekhyun, masing-masing dari mereka membeli secangkir plastik es krim, Strawberry Mocca untuk Baekhyun dan Chocolate Cookies untuk Kyungsoo. Keduanya duduk berdampingan di salah satu kursi taman yang memang didesain hanya untuk dua orang, Baekhyun tengah sibuk membuka plastik oreo yang kebetulan dijual di tempat es krim sebagai pernik tambahan. Ia mengambil satu, lalu membelahnya menjadi dua kemudian memberikan salah satu kepada Kyungsoo.

 

“Terima Kasih…” Kyungsoo menerima keping oreo itu dengan senang hati, ia mendapatkan bagian yang terdapat krim vanilla-nya.

 

Baekhyun mengais es krim-nya dengan keping oreo tersebut, menjadikannya sebagai sendok dan memakannya bersamaan dengan es krim. Ia mengemutnya sesaat sebelum ditelan, menjadikannya nampak menggemaskan di mata Kyungsoo yang mengamatinya diam-diam.

 

“Baekhyun, apa kau baik-baik saja berjalan tanpa alat bantu?” tanya Kyungsoo yang memilih mengancurkan oreo-nya dan menaburkannya di atas es krim.

 

Baekhyun mengangguk pelan, masih sambil mengemut es krim dalam mulutnya “Aku baik-baik saja. Memang sedikit terasa sakit, tapi kata dokter sebaiknya aku melakukan ini agar lebih cepat lancar berjalan.”

 

“Begitukah? Lalu bagaimana dengan kondisi ingatanmu?”

 

Pemuda yang ditanya terdiam sejenak, ia menghela nafas, menatap langit dengan kedua belah bibir ter-pout hingga menyentuh bagian bawah hidungnya.

 

“Aku tidak tahu…” jawabnya pelan “Aku yakin ada satu hal dalam ingatanku yang belum kembali, tapi aku tak dapat mengingat apa itu.”

 

Tapi aku tahu, karena hatiku terasa hampa.

 

Kyungsoo dapat melihat sirat keputusasaan di dalam mata pria kecil di sampingnya, satu yang ia yakini jika ingatan yang hilang tersebut pastilah ada kaitannya dengan Chanyeol. Baekhyun belum menyadari betapa besar cinta yang dimiliknya untuk Chanyeol, ia hanya terlalu lugu dan lurus, ia butuh seseorang untuk memapahnya dan menuntunya pelan-pelan. Dan Kyungsoo percaya, orang yang dapat melakukan hal itu hanyalah Chanyeol.

 

“Baekhyun…”

 

“Hm?” gumamnya menjawab.

 

“Apa kau bersedia, menggantikanku menjadi tokoh utama?”

 

Orang yang ditanya menatap sang penanya dengan wajah bingung serta mata tipisnya yang sedikit melebar “Mh…maksudnya?”

 

Kyungsoo menghela nafas hingga suara desahannya terdengar, kedua belah bibirnya membentuk senyum membuatnya nampak seperti seseorang paling bebas sedunia.

 

“Maksudku adalah, aku akan mundur dari peranku sebagai tokoh utama dan menunjukmu sebagai penggantiku…”

 

Baekhyun tertegun, ia mulai menyadari arah pembicaraan Kyungsoo, laki-laki itu pasti hendak membahas masalahnya dengan Chanyeol. Namun yang tidak ia pahami adalah, apa maksud Kyungsoo dengan mundur? Bukankah Baekhyun telah mengembalikan apa yang seharusnya menjadi miliknya? Bersama Chanyeol adalah hak milik Kyungsoo…lalu mengapa ia mundur?

 

“Kau pasti…mempertanyakan alasan mengapa aku mundur bukan?”

 

Keterdiaman Baekhyun menjadi jawaban positif bagi Kyungsoo, ia kembali memperlihatkan senyum tulusnya yang begitu indah dipandang.

 

“Jika ditanya apakah aku ingin meneruskan semua ini atau tidak…maka tanpa ragu akan kujawab ‘ya’…” ucapnya lancar, tanpa hambatan. Ia melihat Baekhyun membuka mulut hendak mengeluarkan suara, namun dengan cepat Kyungsoo mendahuluinya “’Lalu mengapa?’ apa itu yang ingin kau katakan?”

 

Meski ragu, Baekhyun mengangguk pelan. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah Kyungsoo memang orang yang seperti itu? Sulit diterka dan selalu mengejutkan? Nampaknya, benar.

 

“Ketika aku kembali memainkan peran itu setelah sekian lama, aku menyadari bahwa ada orang lain yang lebih pantas untuk peran itu sekarang. Peran itu bukan lagi milikku, Baekhyun…”

 

Baekhyun terdiam. Jujur ia terlalu kaget dengan penuturan Kyungsoo, terlebih karena laki-laki itu melakukan hal ini dengan begitu mudahnya. Penggemar rasa stroberi itu hanya menatap kekasih Chanyeol ─mungkin kini mantan, tapi entahlah─ di sampingnya tengah menghabiskan isi cangkir plastik es krim nya.

 

Kyungsoo yang sadar tengah diperhatikan dengan mata sendu kembali berucap “Jangan memasang wajah sedih seperti itu, Baekhyun. Aku bisa menjadi tokoh utama dalam kisah yang lainnya…kisah cerita, yang benar-benar hanya untukku…”

 

Kemudian pria itu menggenggam erat sebelah tangan Baekhyun.

 

“Oleh karena itu, mau kah kau menjadi tokoh utama mendampingi Chanyeol?”

 

Pada akhirnya itu lah yang Kyungsoo akan sampaikan. Sungguh Baekhyun belum siap meski hatinya telah mengetahui apa yang sesungguhnya ia inginkan. Kembali bersama Chanyeol adalah keinginan terbesarnya saat ini, sebesar keraguannya untuk memenuhi hal tersebut…pria tinggi itu pernah mengkhianatinya sekali, bukan tidak mungkin akan terjadi kedua kali, ketiga kali dan seterusnya. Intinya, Baekhyun hanya takut…dan ragu apakah kali ini Chanyeol masih benar-benar mencintainya seperti dulu?

 

Kyungsoo pun bukannya tidak menyadari apa yang Baekhyun rasakan, karena yang tersakiti di sini bukanlah fisik semata melainkan perasaan manusia, sesuatu yang lebih ringkih ketimbang jalinan sarang laba-laba.

 

“…A-aku…”

 

“Baekhyun…” ucap Kyungsoo pelan membuat Baekhyun menoleh untuk menatapnya “Apa kau pernah terjatuh dan kemudian lututmu terluka?”

 

Pemuda yang ditanya mengangguk pelan.

 

“Saat kau mengobati luka itu…apakah awalnya terasa perih?”

 

Baekhyun mengangguk pelan untuk kedua kalinya.

 

“Sebuah luka memang harus melewati rasa sakit terlebih dahulu agar cepat tersembuhkan, tidak ada obat yang rasanya enak kecuali obat khusus untuk anak kecil. Karena itu, jadilah sosok tegar yang mampu melampaui rasa sakit…agar tidak ada seorang pun yang dapat menyakitimu dengan seenaknya…”

 

Kyungsoo tersenyum lebar, lebih lebar dari biasanya hingga kedua mata besarnya nampak menyipit dan menghilang tertelan tulang pipinya. Sepertinya, Kyungsoo belajar tersenyum seperti itu dari Chanyeol.

 

Senyum yang selalu berhasil menenangkan hati Baekhyun.

 

“Apa kau mengerti?”

 

Angin berhembus lembut menghantarkan beberapa helai daun terhempas melewati Kyungsoo dan Baekhyun. Sang tokoh utama masih bertahan dalam keterdiamannya, hanya saja sorot kedua matanya terpaku sempurna pada laki-laki bermata bulat di sampingnya. Sekeras apa pun Baekhyun terbelalak, besar matanya tak kan pernah bisa menyaingi Kyungsoo. Detik selanjutnya, lengkungan senyum dapat terlihat menghiasi paras manis Baekhyun, ia mengangguk cepat sebanyak dua kali, mengakibatkan senyum di wajah Kyungsoo menjelma menjadi tawa riang yang membuat kedua mata bulatnya nyaris terbenam pipi.

 

“Tapi bukan berarti aku akan langsung menerima Chanyeol kembali…” celetuknya jahil.

 

Kyungsoo tersenyum jahil seraya mengangkat sebelah alisnya. Baekhyun itu kuat, ia tahu itu dengan jelas.

 

“Ya ampun…bekas luka ini membuatmu terlihat makin menggemaskan Baekhyun.” Kyungsoo mengusap pipi kiri Baekhyun, sementara ibu jarinya bergerak pelan merasakan bekas luka berwarna merah muda yang bentuknya menyerupai hati dan sedikit timbul.

 

Baekhyun tersenyum lega, bukan kepalang bahagia dirinya, karena hubungannya dan Kyungsoo tidak mengarah pada sesuatu yang buruk.

 

“Ah! Sepertinya dirimu sudah ada yang menjemput…” seru Kyungsoo yang langsung berdiri dari duduknya. Es krim mereka telah lama tandas, Baekhyun pun turut berdiri setelah menemukan sosok tinggi Sehun tengah berjalan menghampiri mereka seraya menyusupkan kedua tangannya kedalam saku celana army yang dikenakannya.

 

Kyungsoo melambaikan tangan seraya menyapa Sehun, sementara sang pemuda tampan hanya tersenyum simpul kemudian membungkukkan tubuhnya.

 

“Nah, kalau begitu aku pamit duluan, Baekhyun.”

 

“Ung.” Baekhyun mengangguk “Sampai berjumpa lagi…”

 

“Tentu saja. Aku akan membawakan buah tangan untuk kalian sepulangnya dari Thailand nanti.”

 

“Apa?! Thailand?!”

 

Pemuda bermata bulat itu tersenyum penuh arti “Aku akan pergi liburan…dengan kekasihku…”

 

Kedua bersaudara itu saling berpandangan, Sehun hanya menggendikkan bahu tanda tak mengerti.

 

“Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Akan kuceritakan lebih jelasnya lain kali.” Ucap Kyungsoo saat menemukan tatapan penuh tanya dari Baekhyun. Ia kemudian mendekatkan diri pada Baekhyun, mengusap lagi pipi kiri pemuda manis tersebut kemudian mengecup pelan sebelah pipi yang satu lagi. Sang pemilik pipi yang kini merona tipis itu menatap Kyungsoo tak percaya, ternyata…pemuda ini cukup jahil.

 

Kembali terdengar kekehan kecil dari mulut pelaku yang telah membuat kedua pipi Baekhyun merona tipis.

 

“Aku pergi dulu. Sampai jumpa.” Ucap Kyungsoo pada akhirnya. Ia berbalik memunggungi Sehun dan Baekhyun. Melangkah menghampiri sebuah mobil sedan biru metalik yang entah sejak kapan telah terparkir di dekat pintu keluar taman. Baekhyun dapat melihat seorang laki-laki berkulit kecoklatan tengah siap membukakan pintu untuk Kyungsoo.

 

Sehun tak langsung mengajak Baekhyun pulang, karena nampaknya sang kakak masih betah memandangi kepergian Kyungsoo bahkan ketika mobil yang membawa pemuda bertubuh mungil itu menghilang dari pandangan.

 

Senyum terukir di wajah tanpa Baekhyun sendiri sadari. Ia senang dengan akhir kisahnya dan Kyungsoo yang terhindari dari hal-hal buruk, tanpa adanya kebencian akibat kejadian masa lalu.

 

“Hyung, ayo kita pulang.”

 

“Baiklah.”

 

.

.

.

 

Siang itu Baekhyun bermimpi. Dalam keadaan tertidur di ruang tamu beralaskan karpet santai yang halus dan lembut. Terdapat beberapa bantal, laptop serta berlembar-lembar berkas yang merupakan pekerjaannya. Awalnya ia mendengar suara Chanyeol bernyanyi diiringi dawai gitar yang mungkin dimainkannya, kemudian sosok laki-laki rupawan itu muncul dalam penglihatannya.

 

Tanggal 6 Mei.

 

Teman-teman sekantor memberinya kejutan tepat ketika istirahat siang. Baekhyun mendapatkan beberapa bingkisan serta serpihan konfeti yang menempel di pakaian dan tubuhnya. Lalu Kyungsoo menghampirinya dan memberinya hadiah sebuah boneka llama yang sangat lucu.

 

“Hadiah ini, Chanyeol yang memilihnya untukmu.” Ucap Kyungsoo dalam mimpi, suaranya terdengar menggema.

 

Baekhyun mulai gelisah dalam tidurnya. Keningnya berkerut menandakan otaknya bekerja lebih keras dari biasanya saat ia terlelap. Pemuda manis itu mencengkram erat seprai bantal guling yang tengah dipeluknya.

 

Terdengar suara detak jarum jam, bunyinya seolah menghantam telinga. Ketika itu ia tengah melamun, entah melamunkan apa. Dalam mimpi, Baekhyun melihat dirinya tengah melamun seorang diri di kantor. Jam menunjukan pukul sebelas malam sebelum akhirnya ia angkat kaki dari mejanya dan meninggalkan kantor.

 

Seseorang mencegah pintu lift tertutup.

 

Baekhyun tidak percaya bagaimana saat ini ia dapat berada satu lift dengan Chanyeol, hanya berdua.

 

Dan ketika ia membuka mata, bibirnya tengah menyatu dengan bibir Chanyeol.

 

“Mmhh…”

 

Kedua mata bening itu terbuka, benar-benar terbuka menghadapi dunia nyata. Hal pertama yang Baekhyun lihat adalah langit-langit apartemennya yang berwarna putih. Kemudian ia bangkit seraya menahan pening di kepala. Ia mengerang pelan, Baekhyun dapat merasakan adanya ribuan jarum yang menancap rapi di otaknya. Rasa sakit tersebut memancing keping-keping ingatan menunjukan diri dari persembunyiannya.

 

“Arrghh…”

 

Detik pertama, muncul visualisasi rombongan pejalan kaki. Baekhyun teringat kala itu ia tengah menikmati jalan-jalan siang bersama Tao dan Yifan. Meninggalkan restoran setelah makan pancake kemudian berjalan berdesak-desakan di trotoar daerah pertokoan.

 

“Shh…” Baekhyun menekan pelipisnya. Ia mulai gelisah.

 

Adegan selanjutnya adalah ketika ia menunggu di tepi jalan. Terdengar suara Tao dan Yifan yang berseteru, tapi tetap saja hal tersebut tak berhasil mengusik lamunannya akan seorang laki-laki tampan bertubuh tinggi dan bermata bulat.

 

“Ah…arrgghh!!” kali ini Baekhyun menjambak poninya sendiri. Ia berteriak karena sungguh demi dewa di langit, kepalanya seperti akan pecah.

 

Kemudian terdengar suara logam terjatuh. Baekhyun mengerang lebih keras. Kali ini apa lagi? Ingatan apa lagi yang akan muncul?

 

Baekhyun menemukan dirinya berlari mengejar sebuah benda bundar yang bergulir ke tengah jalan raya. Ia tersenyum ketika akhirnya benda itu telah berada dalam genggaman tangannya, tapi tak lama kemudian terdengar suara Tao berteriak memanggil namanya, memintanya untuk segera menyingkir dari tempatnya berdiri. Baekhyun bingung, ia tidak mengerti, apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa Tao begitu panik?

 

“Arrgghh!!” mulut mungil itu kembali mengalunkan jeritan pilu bersamaan dengan munculnya ingatan akan sebuah truk besar melaju kearahnya disertai lengkingan klakson panjang.

 

Dalam keadaan kacau pemuda mungil itu terengah, kepalanya masih terasa akan pecah. Isi kepalanya seolah buyar dan perutnya bergejolak menimbulkan rasa mual. Kedua bola matanya menatap sekitar dengan nyalang, tidak ada siapa pun.

 

Semua kosong.

 

Semua hampa.

 

Hanya ada dirinya, Chanyeol dan cincin itu.

 

Cincin itu?

 

Tanpa sadar Baekhyun meraba lehernya sendiri. Tidak ada apa-apa, ia tak mengenakan kalung atau hiasan leher lainnya.

 

“Ci…cincin. Cincinku?”

 

Baekhyun berdiri dan segera berlari menuju kamarnya, dibongkarnya satu persatu benda yang pertama kali ditangkap penglihatannya. Tapi sayang, benda berharga pemberian Chanyeol itu, tak juga ditemukan. Maka ia pun segera melesat meninggalkan kamar menuju pintu keluar, dengan tanpa henti mulutnya merapalkan kata ‘cincin’.

 

“Eh? Byunnie, kau mau kemana?!!” seru Tao panik melihat Baekhyun berlari seperti orang kesetanan saat mereka berpapasan di lorong apartemen. Baekhyun seperti tak menyadari keberadaannya.

 

Sementara itu, Yifan yang datang bersama Tao segera menghubungi ponsel Chanyeol secara diam-diam.

 

.

 

Baekhyun belari melawan arus, tanpa alas kaki serta sesekali menabrak pejalan kaki lain. Uap panas beberapa kali berhembus keluar dari mulutnya, hasil nafas terengah yang terus dipaksaan untuk memacu. Tenaganya mulai terkuras banyak, kaki-kaki kecilnya pun mulai terasa kram dan mungkin akan mati rasa nantinya, kondisinya belum pulih dan ia sudah melakukan marathon seperti ini? Jelas saja…yang ada dipikirannya hanya menemukan cincin pemberian Chanyeol, kejadian ini seperti déjà vu.

 

Bukan hanya satu orang yang mengumpat kecerobohannya dalam berlari, helaiannya poni rambutnya terhempas ke atas saat dihantam udara. Waktu itu, perjalanan tidak sejauh dan sesulit ini karena mereka menggunakan mobil Wu Yi Fan. Mulutnya terbuka sebagai alternatif lain pernafasannya karena hidung tak mau lagi diajak berkompromi. Baekhyun terus berlari melewati tanjakan dan turunan hingga sampailah di tempat dimana ia mengalami kecelakaan.

 

“Hei!!! Kau ingin mati hah?!!!”

 

Seorang pengemudi taksi mengumpatnya saat Baekhyun menjerumuskan diri begitu saja ke tengah jalan, padahal lampu belum berubah warna dan kendaraan masih melesat bebas. Beruntunglah ia tidak langsung tertabrak mobil.

 

Satu bunyi klakson terdengar melengking membuat telinga pengang, disusul oleh satu per satu pengendara lain yang juga membunyikan klakson mereka. Sepertinya kelakukan tak waras Baekhyun membuat pengguna jalan dan kendaraan merasa geram. Beberapa orang terdengar meneriakinya, memakinya serta memarahinya, tapi ada pula yang hanya melihatnya, mungkin ia dianggap gila atau semacamnya, mungkin juga di ujung sana ada yang telah menelepon rumah sakit jiwa.

 

Baekhyun tak peduli. Masa bodoh ia mengacaukan lalu lintas bila itu dapat membuatnya menemukan cincin pemberian Chanyeol. Tidak dapat menemukannya di rumah, mungkin saja terjatuh di tempat ini saat kecelakaan terjadi.

 

“Di mana? Di mana? Di mana sebenarnya benda itu!”

 

Arus lalu lintas sempat terhenti, memberi ruang bagi Baekhyun untuk memuaskan hasrat pencariannya. Ia terlihat benar-benar seperti orang gila sekarang, melongok ke sana kemari, berlari ke sana kemari hanya untuk mencari benda kecil berbentuk bundar dengan ukiran namanya di dalamnya.

 

“Arrgh! Di mana dia!!”

 

Frustasi, lelah dan penat. Baekhyun menjambak rambutnya penuh amarah, pakaiannya sudah kotor dan lembab karena peluh. Ia bertekad untuk tetap mencari sebelum akhirnya terdengar suara seseorang meneriakan namanya dengan lantang.

 

“Baekhyun!!”

 

Suara itu membuat tubuhnya membeku. Baekhyun menahan nafasnya, kedua matanya sedikit melebar hingga akhirnya memutuskan untuk berbalik…dan menemukan Chanyeol berdiri tak jauh darinya.

 

Kali ini tenggorokkannya yang tercekat, sepertinya Chanyeol juga karena tak ada satu pun dari mereka yang mulai bersuara. Bagi Baekhyun sendiri, ini adalah pertama kalinya ia melihat lagi sosok Chanyeol setelah sekian lama. Model rambut pria itu telihat sedikit berbeda, mungkin baru saja dipangkas walau warnanya tetapa sama, hitam pekat. Tubuhnya tetap tegap dan nampak gagah terutama apabila mengenakan coat coklat panjang seperti sekarang. Oh astaga, pria itu tetap mempesona.

 

“Baekhyun…” suaranya melembut.

 

Nafasnya mulai kembali normal, beberapa kali meneguk liur meringankan sesak di dada. Kening Baekhyun terlihat berkerut, kala matanya menemukan sesuatu yang membuat jantungnya berdentum sedikit lebih cepat.

 

Cincin itu…

 

Ya, cincin itu. Benda yang dicarinya setengah mati. Benda pemberian Chanyeol. Menggantung sempurna di genggaman tangan kiri pria tersebut. Baekhyun menemukannya lebih dulu sebelum Chanyeol menunjukkan padanya. Tak kuasa menahan keinginannya untuk segera mendapatkan benda itu, Baekhyun kembali berlari hanya untuk terjatuh setelah baru hanya satu langkah bergerak.

 

Oh my, benar saja…kakinya terasa nyeri bukan main.

 

Dan ketika Chanyeol hendak berlari menghampiri, langkahnya turut terhenti ketika menemukan kalau bahu sempit pria mungil itu tengah bergetar, semakin lama semakin kencang.

 

Baekhyun menangis. Ia menjerit seperti anak kecil yang baru saja terjatuh dari sepeda. Semua orang menatapnya iba. Matanya berair dan wajahnya terlihat merah. Untuk beberapa detik Chanyeol menatapnya sendu, hatinya perih…tak peduli Baekhyun-nya menangis karena menahan rasa sakit atau menangis terharu karena telah menemukan cincin pemberiannya, Chanyeol hanya ingin terus berlari, menghampiri tubuh tanpa daya itu, memeluknya lalu mengangkatnya seperti sepasang pengantin baru kemudian membawanya ketempat di mana hanya ada ia dan dirinya.

 

“Aku mendapatkanmu…lagi.” Gumam Baekhyun lemah…dalam rengkuhan Chanyeol.

 

.

 

Baekhyun masih terseguk saat Chanyeol memijat kakinya. Beberapa luka ditemukan ditelapak kaki Baekhyun setelah pemuda kecil itu berlari sepanjang jalan tanpa mengenakan alas kaki, mungkin ia menginjak kerikil atau material lain yang bentuknya kecil tapi tajam. Terlepas dari semua itu, kaki Baekhyun yang belum pulih sepenuhnya terpaksa kembali merasakan nyeri luar biasa selepas kejadian ini. Entah apa kata dokter nanti, tapi Chanyeol yakin kalau laki-laki pecinta stroberi yang saat ini tengah dirawatnya itu, tidak akan dapat berjalan dengan normal untuk jangka waktu panjang.

 

Sang pemuda rupawan selesai membalut kedua kaki pasien dadakkannya dengan perban kain berwarna krem yang biasa ia gunakan saat sedang pegal atau terkilir, ukurannya cukup panjang, mampu menutupi kulit Baekhyun hingga dua senti di atas lutut. Baekhyun kini tengah duduk di sofa panjang tanpa sandaran sementara dirinya berlutut di lantai beralaskan permadani hangat dan lembut. Postur kaki Baekhyun terlihat kaku, Chanyeol mengalami kesulitan saat membantu pemuda kecil itu berganti pakaian dengan piyama biru miliknya karena pakaian Baekhyun sendiri telah kotor dan sedikit terkoyak akibat terjatuh tadi. Chanyeol menurunkan kembali gulungan celana Baekhyun ketika dirinya selesai merawat kaki pemuda mungil tersebut.

 

Saat Chanyeol menengadah untuk melihat keadaan Baekhyun, ia menemukan kalau pria kecil itu tengah menatapnya dengan bibir bawah tergigit penuh. Baekhyun terlihat sangat lucu seperti anak anjing yang diletakan dalam dus di pinggir jalan dengan tulisan ‘Bawalah aku pulang’.

 

Dan ia pun memutuskan untuk membawa tubuh mungil tersebut dalam pangkuannya dengan posisi berhadapan. Untung saja sofa ini tanpa sandaran, sehingga Baekhyun tak perlu menekuk kakinya yang pasti akan terasa sangat sakit.

 

Awalnya tidak ada yang bicara. Baekhyun memang diam namun tidak dengan Chanyeol, pria bermata unik itu kini sibuk mengais poni rambut Baekhyun yang mulai memanjang, nyaris beradu dengan bulu mata ketika mata tipis itu berkedip, ia juga menyelipkan anak rambut Baekhyun ke belakang telinga yang sepertinya sia-sia karena rambut tersebut terlalu licin untuk dapat diatur. Kemudian pria yang lebih tinggi memakaikan kalung berbandul cincin pemberiannya untuk Baekhyun kepada sang pemilik aslinya. Baekhyun langsung menangkap cincin tersebut dan memainkannya dalam senyum.

 

“Bagaimana mungkin kau bisa begitu ceroboh meninggalkan rumah tanpa alas kaki, berlari dalam keadaan patah kaki dan menerobos lalu lintas tanpa takut tertabrak hanya untuk mencari cincin ini?”

 

Baekhyun berpaling dari cincinnya dan menatap Chanyeol tanpa dosa “Kau berharap aku minta maaf?”

 

“Tidak.” Chanyeol menggelengkan kepala “Tapi aku berharap kau menyesal dan bersumpah tidak akan mengulanginya lagi.”

 

“Kau pikir ada orang yang ingin terancam bahaya dua kali? Dan apa kau pikir ada orang yang tidak menyesal melakukan sesuatu yang membuat kakinya terancam lumpuh seumur hidup?”

 

“Ada. Orang itu adalah kau, Baekhyun-Byun.”

 

Baekhyun masih menatap Chanyeol tanpa dosa, kali ini ia memiringkan kepala dengan bibir yang sedikit melengkung ke bawah “Sejak kapan kau mengerti diriku sejauh itu?”

 

Chanyeol memejamkan mata selama dua sampai tiga detik, lalu diikuti dengan hembusan nafas pelan namun panjang dan dalam. Ia mencondongkan kepala untuk mengecup sisi kanan leher Baekhyun, tidak ada respon negatif, kecupan terus berlangsung beberapa kali, terus naik hingga kecupan berakhir di pipi empuk nan lembut sang pemuda berparas manis.

 

“Kau belum memaafkan aku?” tanya Chanyeol yang telah melingkarkan tangannya di pinggang ramping Baekhyun.

 

“Menurutmu?” tanya balik Baekhyun dengan bibir yang sedikit mengerucut.

 

“Menurutku…belum.”

 

“Kalau sudah tahu kenapa tanya?”

 

“Aku hanya ingin mendengar pengakuan langsung darimu. Siapa tahu perkiraanku tidak benar.”

 

“Kalau begitu sayang sekali. Perkiraanmu soal aku belum memaafkanmu sangat tepat…Tuan Park Chanyeol.”

 

Chanyeol melenguh kali ini, suaranya terdengar seperti orang yang tengah merajuk manja. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Baekhyun hingga wajahnya bersentuhan dengan dada sang pemuda mungil, mencari posisi nyaman.

 

“Tapi aku sangat ingin kau kembali padaku.” Katanya dengan nada merengek.

 

Kemudian Baekhyun menghantamkan kepalan tangannya pelan ke puncak kepala Chanyeol dengan wajah merengut “Bukan aku kembali padamu tapi kau yang kembali padaku.”

 

“Jadi, apa kau ingin aku kembali padamu?” tanya Chanyeol dengan wajah riang lalu menyempatkan diri untuk mengecup dagu Baekhyun.

 

Baekhyun menatapnya tanpa senyum, terkadang bola matanya menatap kearah lain seolah-olah tengah berpikir “Ya…tidak…”

 

Pemuda bertubuh tinggi itu menatapnya kesal “Jawabanmu tidak jelas…”

 

“Kau saja yang tidak mengerti.” Ucap Baekhyun acuh, lalu melanjutkan “Aku sudah bilang pada Kyungsoo kalau aku tidak akan memaafkanmu begitu saja.”

 

Ah~ Chanyeol mengerti. Tapi ia tidak mengira kalau ─mantan─ kekasihnya itu akan menemui Baekhyun sebelum berangkat liburan ke Thailand bersama kekasih barunya, Jongin. Err─ ini sungguh rumit, ia sama sekali tidak pernah mengatakan langsung pada Kyungsoo bahwa hubungan di antara mereka telah putus, tapi kekasih ─mungkin mantan─ nya itu telah memiliki seorang kekasih lain. Semua terjadi begitu saja tanpa terduga dan terencana, Chanyeol hanya menerima panggilan dari Yifan mengenai Baekhyun yang sepertinya sedikit lepas kendali dan tak menerka akan berada di situasi semacam ini, di mana dirinya memiliki kesempatan untuk memperbaiki kembali hubungannya dengan Baekhyun.

 

“Baiklah…” Chanyeol berkata lembut seraya kedua tangannya mengelus pelan kedua paha Baekhyun, matanya mengerling nakal “Apa yang kau inginkan?”

 

“Maksud…mu?” tanya Baekhyun tak yakin, matanya sekali melirik tangan nakal Chanyeol yang sebentar lagi akan menyentuh bokongnya.

 

“Kita sama-sama mengajukan persyaratan. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu asalkan kita kembali menjadi sepasang kekasih, tapi kau pun harus menuruti apa pun pintaku jika kau ingin permintaanmu kupenuhi. Bagaimana?”

 

“Licik.”

 

“Lebih tepatnya…cerdik.”

 

Baekhyun tersenyum miring dengan kepala sedikit mendongak “Penuhi apa pun permintaanku tanpa banyak protes.”

 

“Tentu.”

 

“Aku punya dua permintaan…”

 

“Hei, tapi─”

 

“Tanpa banyak protes. Ingat?”

 

“…Baiklah.”

 

Wajah Chanyeol telah merengut sempurna, membuat Baekhyun susah payah menahan keinginannya untuk terbahak puas karena telah berhasil mengusili si raja usil. Ia mengambil tangan Chanyeol yang telah berhasil mencapai bokongnya, Baekhyun mendelik geram saat Chanyeol hendak protes akibat hal tersebut.

 

“Pertama. Sepulangnya dari rumah sakit nanti, aku tidak mau menggunakan kursi roda meski pun dokter menyuruhku melakukannya.” Jari lentiknya bergerak nakal memainkan kancing kemeja Chanyeol “Dengan kata lain, kau harus menggendongku kemana pun aku mau pergi sampai kakiku sembuh total.”

 

Chanyeol memutar kedua bola matanya “Manja.”

 

“Lalu yang kedua.” Baekhyun terus saja bicara tanpa menghiraukan pemuda tampan di hadapannya “Kau harus bernyanyi untukku, kapan pun aku memintamu melakukannya…”

 

Baekhyun tak tahu sejak kapan ia begitu menggilai suara Chanyeol, nyanyian serta permainan gitar pemuda tampan tersebut. Setiap hari, setiap ia memejamkan mata, selalu hanya alunan lagu nyanyian Chanyeol yang terngiang di telinganya, bayangan si pemuda tinggi bermain gitar, juga suara khasnya yang selalu berseru memanggil nama Baekhyun. Dan Baekhyun pun tersadar jika selama ini jauh di lubuk hatinya, sosok Chanyeol tidak pernah pergi. Sosok itu selalu ada, dalam gelap, menanti Baekhyun membuka kembali pintu hati dan membagi secercah cahayanya. Dicengkramnya dengan erat kemeja Chanyeol, bibir bawahnya terlipat kedalam. Dalam diam mengakui bahwa rasa rindunya terhadap Chanyeol tak pernah berkurang sama sekali. Ketika mendapati kini pemuda rupawan tersebut telah berada tepat di hadapannya, ia ingin menangis bahagia walau pun sedikit berat hati menjatuhkan air mata.

 

Sang pemuda tampan tersenyum lembut, sekian lama hidup bersama Baekhyun membuatnya dapat dengan mudah membaca mimik wajah pemuda manis tersebut. Sebelah tangannya meraih dagu Baekhyun dan membenturkan bibirnya pada pipi pria kecil tersebut.

 

Setelahnya ia pun berkata “Sekarang, dengarkanlah permintaanku.”

 

Baekhyun tak berkesempatan untuk mengucapkan sepatah kata pun ketika Chanyeol mengucapkan permintaannya melalui sebuah bisikan pelan, yang tak butuh waktu walau hanya satu detik untuk membuat rona merah tipis mewarnai pipi putihnya.

 

“Kau…pasti bercanda.” Ucap Baekhyun ragu ketika ia dan Chanyeol kembali berpandangan.

 

“Bunuh aku jika aku hanya bercanda.”

 

“Kalau begitu kau pasti tidak serius.”

 

“Tidak pernah seserius ini sayangku…”

 

Beberapa detik awal keduanya masih terdiam, Chanyeol sangat percaya diri kalau Baekhyun tidak akan menolak permintaannya. Dan hal tersebut terbukti setelah beberapa detik kemudian senyum lembut mulai nampak menghiasi paras cantik sang pria mungil, senyum tipis nan indah.

 

Baekhyun mengangguk.

 

“Jadi?” Chanyeol mengerling jahil.

 

Pemuda yang bertubuh lebih mungil, tertawa kecil memperlihatkan sedikit gigi kecilnya. Dan kening Chanyeol pun menjadi tempat sempurna bagi Baekhyun untuk mendaratkan kecupan lembutnya.

 

“Aku setuju.”

 

Menikah denganmu.

 

.

.

.

 

Perkiraan Baekhyun benar soal ia diharuskan menggunakan kursi roda oleh dokter akibat cedera kakinya yang bertambah parah berkali-kali lipat. Tapi Chanyeol menepati janjinya untuk menggendongnya kemana pun selama masa penyembuhan, sehingga kini kursi roda otomatis milik Baekhyun hanya terlipat rapi di sisi sempit antara lemari dan dinding. Ia memutuskan untuk rehat sementara dari pekerjaannya, sedangkan Chanyeol lebih memilih untuk bekerja secara online dan keluar hanya untuk kepentingan tertentu saja, Sehun mulai disibukkan dengan kegiatan kuliah sebagai mahasiswa semester awal, organisasi, tugas dan juga kencan bersama Luhan yang ini telah resmi menjadi kekasihnya. Lalu Kyungsoo? Pria kecil itu mengabarinya lewat media sosial kalau kini tengah berada di Jepang, mungkin ia telah memutuskan untuk setia mendampingi Jongin yang bekerja sebagai pemilik salah satu judul majalah wisata.

 

Sore ini angin berhembus lembut, Baekhyun duduk di teras rumah yang terbuat dari kayu sehingga ia tak perlu menggunakan alas duduk karena tidak terlalu dingin seperti keramik, ia hanya menggunakan selembar selimut tipis berbahan lembut untuk mencegah angin menerpa kulitnya lebih dalam. Kakinya yang masih terasa sakit belum dapat ditekuk sehingga mengharuskannya duduk dalam posisi kaki lurus.

 

Terdengar bunyi lentingan lonceng angin di tangannya, Baekhyun mengangkatnya sejajar dengan wajah sehingga bunyi tersebut begitu nyaring di telinga. Bunyinya merdu dan terdengar murni, sinar matahari sore terperangkap jelas dalam kaca bening yang menjadi unsur utama dalam pembuatan lonceng angin tersebut. Bentuknya bulat dengan lubang sedikit lebar di bagian bawahnya untuk menggantung tali pemberat yang akan terayun saat angin berhembus dan menimbulkan bunyi, benda ini adalah kiriman Kyungsoo dari Jepang.

 

“Ingin menggantungnya di sebelah mana?” tanya Chanyeol mengalihkan perhatian sang pria kecil, pemuda tinggi itu datang dengan membawa sebuah paku melengkung dan sebuah palu.

 

Baekhyun menggumam seraya menatap langit-langit teras, kemudian telunjuk kanannya terarah ke sudut kanan langit-langit “Di sebelah sana saja…”

 

Okay.”

 

Kemudian Chanyeol menegakkan tangga lipat yang sebelumnya telah ia sandarkan di dinding, setelahnya ia pun naik dan mulai menancapkan paku melengkung di langit-langit dengan bantuan palu, Baekhyun hanya tersenyum menatapnya dari bawah. Tak sabar menggantungkan lonceng angin miliknya di sana.

 

“Bagaimana?” tanya Chanyeol setelah lonceng angin Baekhyun menggantung apik di sana.

 

“Sempurna.” Jawab sang pria kecil.

 

“Aku kembalikan benda ini dulu ke tempatnya, tunggulah sebentar…”

 

Baekhyun mengangguk ketika Chanyeol berbalik seraya menggotong tangga lipat beserta palu yang terselip di antara jari panjangnya, pemuda tinggi itu melangkah menuju gudang tempat penyimpanan perkakas rumah tangga.

 

Bunyi lonceng angin kembali menyita perhatiannya, benda itu masih berkilau diterpa sinar jingga yang hendak terbenam di balik awan. Senyum tipis terlukis di paras cantiknya, hatinya terasa tentram hanya dengan mendengar bunyi lonceng itu dan sudah ia putuskan bahwa benda tersebut akan menjadi benda kesayangannya mulai detik ini.

 

“Apa kau sangat menyukai benda itu?” Chanyeol entah sejak kapan telah duduk di sampingnya, nampaknya Baekhyun terlalu terbuai oleh bunyi lonceng hingga tak menyadari keberadaan pemuda rupawan tersebut.

 

“Ng!” Baekhyun mengangguk mantap “Aku saaa~ngat suka!”

 

Chanyeol terkekeh sejenak sebelum kembali berkata “Kalau begitu aku akan meminta Kyungsoo mengirimkannya lagi untukmu. Kau ingin berapa buah? Lima? Sepuluh? Dua puluh?”

 

Sepasang jari telunjuk dan jari tengah muncul tepat di hadapan wajah Chanyeol “Dua puluh! Aku ingin dua puluh buah!”

 

“Dua puluh? Kau ingin menempatkannya di mana lagi?”

 

“Di sana. Di sana. Di sana dan di sana.” Ujar Baekhyun menunjuk ke segala arah secara acak.

 

“Bodoh kau. Itu akan sangat berisik.” Chanyeol memperbaiki posisi selimut yang menutupi bahu mungil sang kekasih.

 

“Biar saja. Aku suka.”

 

“Baiklah, baiklah. Kau akan mendapatkan apa pun yang kau inginkan.” Ucap Chanyeol pasrah seraya menarik tubuh kecil Baekhyun agar bersandar pada tubuh tegapnya.

 

Setelah itu pembicaraan masih terus berlanjut, terlebih Baekhyun yang tak berhenti berceloteh mengenai betapa sukanya dia pada lonceng angin pemberian Kyungsoo. Dia juga berkata kalau akan memeluk Kyungsoo sangat erat kalau pemuda manis itu kembali ke Korea Selatan nanti.

 

Chanyeol bersyukur karena Baekhyun adalah orang yang selalu menjadi dirinya sendiri. Saat terbangun dari koma atau pun ketika dokter mengatakan kakinya akan membutuhkan waktu lama untuk dapat pulih total, Baekhyun tak pernah kehilangan kemampuannya untuk tersenyum dan menebar tawa. Dan Chanyeol sama sekali tak berkeberatan jika dirinya harus direcoki oleh celotehan Baekhyun yang terkadang terdengar absurd di telinganya setiap hari, pasalnya Baekhyun itu kalau sudah ribut bicaranya jadi tidak karuan.

 

“Bagaimana kakimu? Apa masih nyeri saat akan digerakkan?”

 

“Begitulah.” Jawab Baekhyun lesu “Tapi aku tidak sabar untuk terapi besok. Aku ingin segera kembali berjalan normal.”

 

Baekhyun terlihat bersemangat dan tak pernah menyerah untuk sembuh, membuat Chanyeol menarik senyum tulus seraya mengusap bekas luka berbentuk hati di bawah mata kiri Baekhyun.

 

“Oh iya, Baekhyun…”

 

“Hm?”

 

“Kapan Sehun datang? Bukankah kamarnya sudah siap ditempati?”

 

Selama dua minggu ini, Sehun memang tidak tinggal bersama Baekhyun dengan alasan ingin memberikan waktu bagi kedua pengantin baru itu untuk menghabiskan waktu hanya berdua saja di rumah baru yang Chanyeol beli. Tapi tentu saja, Baekhyun bukan raja tega yang akan membiarkan sang adik berlama-lama tinggal seorang diri di apartemen lamanya, ia tetap mengharuskan Sehun untuk tinggal bersamanya dan Chanyeol, setidaknya sampai adiknya itu mendapat pekerjaan setelah lulus kuliah nanti.

 

Sehun bilang ingin tinggal bersama sang kekasih, tapi jelas saja Baekhyun menolak keras…dengan alasan demi keselamatan kehormatan Luhan yang langsung membuat Sehun bungkam seribu bahasa.

 

“Sehun akan datang besok pagi atau siang, hari ini ia terlalu lelah seusai berkencan dengan Luhan di taman bermain, jadi ingin langsung pulang dan tidur, begitu katanya di telpon…” jawab Baekhyun seraya membenamkan wajahnya di dada sang belahan jiwa. Tubuh Chanyeol, meski sedikit keras tetap nyaman di peluk…dan tubuh keras, padat berisinya itu hasil dari fitness disetiap akhir pekan.

 

Chanyeol hanya menggumam paham dengan mulut yang membulat. Kedua mata bulatnya beradu pandang dengan mata tipis pria kecil yang telah resmi menjadi pendamping hidupnya tiga minggu yang lalu, ia tertawa karena mata tipis itu berpendar jenaka.

 

“Manisnya Baekhyun-ku…” ujarnya seraya membenturkan keningnya pada kening Baekhyun hingga ujung hidung mereka pun saling bersentuhan.

 

Baekhyun tertawa geli karena setelahnya Chanyeol mengecup pelan setiap bagian wajahnya tanpa henti hingga ia mengerang kecil karena malu.

 

.

.

.

 

Hari ini adalah pertama kalinya Luhan menginjakan kaki di rumah baru milik kakak dari kekasihnya. Ia telah sering bertemu dengan Baekhyun, sudah akrab pula, akan tetapi ia baru hanya tiga kali bertemu dengan Chanyeol yaitu saat membantu keduanya pindah rumah selama dua hari dan ketika pria tinggi rupawan itu mengikat janji seumur hidupnya dengan Baekhyun di depan altar sebuah gereja kecil. Upacara pernikahan kedua pria itu berlangsung secara sederhana namun kekhidmatan dan kemurnian ritual suci tersebut tetap menyelimuti setiap tamu undangan yang hadir. Mungkin, itu lah yang sering disebut-sebut sebagai kekuatan cinta kasih, tak peduli upacara tersebut mewah atau tidak, megah atau tidak, meriah atau tidak, selama kedua mempelai saling mencintai dan mengasihi, tetap akan menjadi upacara yang suci dan sakral di hadapan Tuhan.

 

Memang terlalu cepat untuk memiliki keinginan dirinya dan Sehun akan dapat melangsungkan upacara pernikahan layaknya Chanyeol dan Baekhyun, tapi pemikiran tersebut tak dapat ia hindari begitu saja.

 

Ketika itu, Luhan sedang membantu Sehun memindahkan barang-barang dari mobil ke kamarnya yang baru di rumah sang kakak dan kakak iparnya. Kotak terakhir di mobil adalah yang berisi koleksi buku-buku Sehun, sebagian besar merupakan buku mengenai psikologi sesuai jurusan kuliahnya saat ini, setelah menutup kap belakang mobil, dengan kedua tangannya Luhan membawa kotak berukuran besar tersebut. Dan ketika melewati dapur saat hendak menuju kamar di mana Sehun menunggu, Luhan tak dapat mencegah dirinya untuk tertegun mengamati bagaimana interaksi antara Chanyeol dan Baekhyun yang tengah memasak saat itu. Chanyeol mencuci beras di tempat cuci piring sementara Baekhyun duduk di meja makan seraya memotong sayuran, pria yang lebih kecil terlihat lebih banyak berbicara sementara pria yang lebih tinggi menanggapinya dengan antusias sambil sesekali menoleh ke belakang di mana sang pria kecil berada, keduanya akan tertawa lepas saat mendapati hal yang lucu dari pembicaraan mereka.

 

Menurut Luhan, mereka lebih terlihat seperti teman─ maksudnya Chanyeol dan Baekhyun memang telah menikah, hubungan mereka seharusnya lebih dari teman, tapi mereka tetap mampu terlihat seperti teman akrab.

 

Suasana di dapur ketika itu, terasa sangat hangat.

 

“Aku tidak mengertiiiii~!” seru Luhan memalingkan wajahnya dari buku di tangannya ke arah sang kekasih yang tengah sibuk merakit Nintendo wii-nya di bawah lemari kecil tempat diletakannya sebuah televisi LED layar datar.

 

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Sehun tanpa berpaling dari pemainan kesukaannya tersebut.

 

Luhan meletakan buku yang tadi disimaknya di lantai, tanpa menutupnya terlebih dahulu…kemudian pria cantik itu menggumam dengan suaranya yang halus.

 

“Ng~” gumamnya sebelum berkata “Menurut cerita yang kudengar darimu, bagiku sangat mustahil Chanyeol dan Baekhyun dapat bersatu kembali. Lalu bagaimana mereka dapat menjadi seperti sekarang ini?”

 

“Entahlah.” Sehun acuh tak acuh, ia masih sibuk merapikan permainannya.

 

“Apa itu kekuatan cinta?”

 

“Entahlah.”

 

“Memangnya kekuatan cinta itu seperti apa, Sehun?”

 

“Entahlah.”

 

Kesal atas jawaban sang kekasih yang seperti robot konslet, Luhan mengambil bukunya lalu menghantamkannya ke puncak kepala Sehun.

 

“Auh!!” Sehun mengaduh dengan tangan yang secara refleks mengusap kepalanya lalu mengaduh pada Luhan “Kenapa kau menyakitiku?!”

 

“Kau tidak menanggapiku dengan serius.” Ucap Luhan bersungut-sungut.

 

Sehun menghela nafas kemudian memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya sesaat dan duduk bersila menghadap sang kekasih.

 

“Aku tidak tahu, okay?” ucap Sehun lembut, ia lalu mengusap permukaan pipi halus Luhan dengan punggung jemarinya “Aku hanya tahu kalau mereka saling mencintai.”

 

“Hanya karena itu?” tanya Luhan dengan raut wajah tanpa dosa.

 

Sehun mengangguk pelan “Iya, hanya itu.”

 

Pada akhirnya Luhan pun tak bertanya lebih lanjut, sepasang kekasih itu hanya duduk diam berhadapan, tapi tetap saja hatinya penasaran setengah mati meski tak langsung ia utarakan pada Sehun. Dan kalau di sini ia bebas berpendapat, maka dengan gamblang akan ia katakan bahwa Chanyeol itu jahat, ia akan membujuk Baekhyun agar jangan segera memercayai ucapan laki-laki pengkhianat seperti itu.

 

Astaga. Ia benar-benar tidak mengerti, cinta itu indah, tapi apakah hal indah akan selalu rumit seperti ini? Seperti cinta yang lebih rumit daripada puzzle dan labirin.

 

“Suatu saat nanti kita juga akan mengerti mengapa mereka dapat berakhir seperti ini.”

 

Luhan memberengut menatap Sehun, ia ingin jawaban sekarang kalau boleh jujur “Kenapa nanti, Sehun?”

 

Sebuah kecupan singkat nan hangat, hinggap di pipi kecil Luhan, meninggalkan jejak merah muda segar di sana. Sang pemberi kecupan pun tersenyum lembut, tampan sekali, membuat warna yang awalnya merah muda segar itu pun menjelma menjadi merah matang.

 

“Karena kisah cinta kita baru saja dimulai, sayang…” ucap Sehun “Sekarang ayo berdirilah, mereka pasti telah selesai menyiapkan makan siang.” Kata Sehun setelah berdiri dan mengulurkan tangannya pada Luhan.

 

Tanpa berkata apa pun, Luhan mengangguk seraya mengulurkan tangan menyambut tangan Sehun yang segera menariknya bangkit. Keduanya lalu berjalan keluar kamar dengan tangan saling bertautan. Luhan berjalan sedikit di belakang Sehun, diam terpaku menatap tangannya yang berada dalam genggaman tangan sang kekasih yang memang lebih lebar dan terasa hangat, kemudian beralih memandang punggung kokoh Sehun. Bibir merah mudanya perlahan menunjukkan sebuah senyum, ia tak pernah mengira jika menyukai seseorang akan terasa begitu mendebarkan seperti ini.

 

Benar, kisah cintanya dimulai dari sini.

 

.

 

“Mundur sedikit, Chanyeol. Kita masih terlalu dekat.”

 

“Tapi kalau terlalu jauh, aku tidak bisa menangkapmu jika kau terjatuh nanti.”

 

“Ayolah, aku akan baik-baik saja walau terjatuh.” Rengek Baekhyun seraya mengibaskan tangannya pada Chanyeol, bermaksud menyuruh pemuda itu untuk mundur sedikit lebih jauh lagi.

 

Chanyeol berkacak pinggang “Kau serius ingin melakukan ini?”

 

“Tentu saja.” Baekhyun mengangguk tanpa ragu “Aku harus banyak latihan jika ingin kembali berjalan normal.”

 

Chanyeol menghela nafas panjang, Baekhyun adalah orang dengan keinginan kuat, percuma ia berdebat jika harus berujung pada ketidakberdayaannya menolak permintaan sang kekasih─ pendamping hidup maksudnya. Dengan berat hati akhirnya ia pun melangkah mundur beberapa kali, hingga punggungnya menyentuh dinding sementara Baekhyun berdiri di depannya dengan jarak yang cukup jauh, sekitar sepuluh langkah.

 

“Aku akan mulai berjalan.”

 

Dengan penuh semangat, Baekhyun mengangkat satu kakinya dan berhasil menapak lantai dengan hanya sedikit rasa nyeri. Tangan kanannya tanpa sadar menggapai sofa mencari penampang, satu persatu langkah terus ia ambil dengan menahan sedikit rasa nyeri di kaki.

 

Chanyeol dapat menemukan kedua belah bibir Baekhyun yang sesekali mendesis pilu, ia tahu jika pemuda kecil itu tengah menahan rasa sakit. Jujur saja ia tak pernah dapat memahami sebesar apa rasa sakit di kaki Baekhyun itu, tapi ia tahu jika itu sakit, sangat sakit, benar-benar sakit. Ia masih sering bermimpi buruk tentang Baekhyun yang terbujur kaku di ranjang rumah sakit, lengkap dengan iringan bunyi tetesan darah beserta bunyi mesin alat-alat medis yang menjadi satu-satunya harapan hidup bagi pemuda kecil itu. Ketika tanpa sengaja ia melamun pun, suara jerit tangis Baekhyun yang menahan sakit di tengah jalan itu seringkali menghantui pendengarannya, membuatnya nyaris melampaui batas kewarasan.

 

“Ah, aku mulai bisa melakukannya.” Suara riang Baekhyun jujur membuat Chanyeol merasa perih di dadanya.

 

Jika harus ada seseorang yang dipersalahkan atas kondisi Baekhyun saat ini, itu adalah dirinya sendiri. Tapi jangan salahkan dirinya bila saat ini ia menatap sendu pada pendamping hidupnya itu, patutkah ia merasa gembira jika ia sendirilah yang menjadi penyebab utama kelumpuhan sementara Baekhyun? Angannya mulai berandai-andai akan berbagai hal, andai saja ia tidak meninggalkan Baekhyun, andai saja ia tidak memilih Kyungsoo, andai saja ia tidak memberikan Baekhyun sebuah cincin, andai saja…

 

“Baekhyun…”

 

“Ng, ya?” jawab Baekhyun tanpa menatap Chanyeol, ia masih fokus dengan langkah kakinya.

 

“Untuk semua yang telah berlalu…” Chanyeol menghela nafas, melemaskan kedua bahunya yang semula kaku, ia masih terpaku dalam sendu memandang sang pendamping hidup yang sepertinya lebih senang memperhatikan kondisi kakinya yang mulai membaik “Untuk semua waktu yang telah hilang, untuk semua hal yang tak mungkin lagi dapat kukembalikan seperti sedia kala…”

 

Senyum tipis masih terlihat menghiasi paras menawan penyandang marga Byun, secara perlahan wajahnya sedikit terangkat membuat tatapannya lurus langsung mengarah pada pemuda bertubuh tinggi di depannya. Dalam satu kedipan mata, Baekhyun dapat melihat kedua belah bibir Chanyeol bergerak melantunkan sebuah kata yang menggaung nyaring di telinganya.

 

“Maafkan aku.”

 

Dan suara sesuatu yang jatuh pun terdengar.

 

Tubuh Chanyeol tersentak hebat saat menyadari bahwa Baekhyun telah ambruk dan kini tengah menahan nyeri di kakinya. Pemuda tinggi itu segera berlari menghampiri dengan wajah penuh terselimuti gurat kecemasan.

 

“Maafkan aku, apa kau baik-baik saja?”

 

“Tuhaaaa~n ini sakit sekali!” ringis sang pemilik kaki, baik Baekhyun mau pun Chanyeol sama sekali tak berani menyentuh bagian tubuh yang terasa sakit tersebut.

 

“Tunggulah sebentar, aku akan segera menghubungi dokter.”

 

Chanyeol berdiri dan segera melangkah untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di meja ruang keluarga, namun sebelum langkahnya semakin menjauh, Baekhyun segera berseru dan membuatnya membeku.

 

“Apa kau pikir aku akan memaafkanmu setelah kau mengucapkannya berkali-kali?!!”

 

Seruan tersebut membuat sang lelaki berparas rupawan itu membeku untuk beberapa detik, barulah setelahnya ia berbalik menghadap Baekhyun, tanpa ada niat mendekat atau pun mengucapkan beberapa patah kata. Mulutnya sedikit terbuka menandakan adanya kata yang tersangkut di kerongkongannya, sementara kedua bola matanya menghadirkan sebuah tanda tanya besar.

 

“Dengar Tuan Park, aku sama sekali belum memaafkanmu. Meski kau mengucapkan kata itu berkali-kali, meski kau juga tak pernah berhenti mengatakan betapa kau mencintaiku…hati yang kau lukai ini tak kan sembuh hanya dengan itu.”

 

Ucapan Baekhyun terdengar seperti ketukan palu hakim di pengadilan, ini kali pertama Chanyeol mengetahui bagaimana rasanya menjadi seorang terdakwa. Jika hanya dengan ucapan dapat membuat seseorang mendekam di penjara, tak diragukan lagi dirinya akan ada di balik jeruji besi saat ini, meratapi nasib memandang punggung sempit Baekhyun yang menjauh. Hidup bersama dalam satu atap, dengan seseorang yang telah menghancurkan hatimu…itu adalah hal yang mustahil. Tuhan pun, akan menghukum makhluk-Nya yang melakukan dosa.

 

Jantungnya terasa hancur, bagaimana ia akan bernafas di kemudian hari bila orang yang paling ia kasihi enggan membagi maaf padanya? Setiap kesalahan pasti ada balasanya…Chanyeol tak berhak berkeluh kesah akan hal itu, ia memahaminya.

 

“Begitukah?” Pemuda rupawan itu tersenyum pahit sambil mengangguk kaku, lalu berucap kembali sebelum berbalik “Aku mengerti. Tunggulah, aku akan segera memanggil dokter.”

 

Baekhyun mendesah, mencuri nafas di sela kesulitannya menahan rasa nyeri. Ia kembali memaksakan kakinya untuk berdiri ketika Chanyeol membelakanginya, sebelah tangannya bertempat di salah satu lututnya yang menjadi sumber rasa sakitnya.

 

“Hal itu sudah lama berlalu dan kau baru mengungkitnya sekarang? Apa ini permintaan maafmu yang paling tulus?”

 

Kedua kalinya Chanyeol membeku karena ucapan Baekhyun, kemudian ia berbalik dengan nafas yang tertahan, menatap sosok Baekhyun adalah hal yang sulit ia lakukan saat ini. Ia merasa, jika dirinyalah yang telah menghancurkan tubuh kecil itu.

 

“Kenapa kau diam? Apa sekarang kau merasa sangat bersalah sampai tak mampu berbicara?” lanjut Baekhyun lagi sebelum mendesah untuk kedua kali “Jika kau telah menghancurkan hatiku yang lama, kau tidak perlu memperbaikinya…kau hanya perlu menggantinya dengan yang baru.”

 

Chanyeol mengatup mulutnya rapat, kedua alisnya sedikit terangkat dengan mata membulat seperti anak kecil yang baru saja mempelajari hal baru.

 

“Anggaplah diriku dan dirimu yang lalu telah mati. Kita terlahir kembali untuk memulai hidup yang baru. Bukankah kini kita telah terikat satu sama lain? Kita mengakhirinya dengan perpisahan dan memulainya dengan kembali bersatu.” Baekhyun memperlihatkan cincin platina polos berkilau yang melingkari jari manis tangan kanannya “Tak bisakah kau hidup tanpa terus menerus mendengarkan lagu lama? Kau tidak bosan? Setidaknya jangan melibatkanku, bersedihlah seorang diri.”

 

Kemudian tatapan Baekhyun turun menatap lantai, dan berdiri dalam diam seraya bertumpu pada sandaran sofa. Kakinya terlalu sakit untuk bergerak walau hanya selangkah, dan akan sangat tidak keren jika meminta bantuan Chanyeol.

 

“Kalau begitu…kau tidak memaafkan diriku yang dulu, tapi menerima diriku yang sekarang?” suara khas sang pria bertubuh tinggi melantun jelas. Baekhyun tak menatap langsung sang pemilik suara, namun suara tersebut tak lagi bergetar sebagaimana saat ia mengucapkan maaf.

 

“Hmm…” Baekhyun mendengung dengan nada sedikit angkuh “Ternyata kau pandai menyimpulkan─”

 

Namun sayangnya, Baekhyun tak menyaksikan bagaimana Chanyeol melangkah secepat kilat ke arahnya. Ia hanya tahu kalau kini tubuh kecilnya telah direngkuh erat oleh laki-laki yang beberapa detik lalu masih berdiri jauh di hadapannya. Aroma tubuh Chanyeol yang begitu ia hapal segera terhirup dan menyamankan hatinya. Meski awalnya mengejutkan, namun itu hanya berlangsung beberapa detik saja…kini ia hanya merasa nyaman walau Chanyeol memeluknya begitu erat dan pernafasannya terasa terhimpit.

 

“Kau bocah kurang ajar yang paling aku cintai, Byun Baekhyun. Apa kau tahu itu?”

 

Baekhyun tersenyum tipis seraya membalas rengkuhan sang pendamping hidup “Aku tahu kalau kau paling mencintaiku, tapi aku tidak tahu kalau aku adalah bocah kurang ajar bagimu.”

 

Perlukan itu mengendur lalu mengerat lagi. Chanyeol memejamkan mata, menikmati setiap detik pelukannya terhadap Baekhyun. Mungkin gila tapi ia berani mati untuk hal ini.

 

“Katakan apa yang kau inginkan? Rumah mewah? Mobil baru? Jalan-jalan keliling dunia? Belanja gila-gilaan? Katakan saja…”

 

“Mengejutkan. Hanya itu yang dapat kau tawarkan?”

 

Chanyeol masih enggan melepas pelukannya “Memetik bintang. Terbang ke langit ketujuh. Bahkan jika kau memintaku pergi ke neraka, aku akan melakukannya untukmu.”

 

“Lupakan saja. Kau tidak akan bisa melakukannya.” Baekhyun mendengus tapi tetap tersenyum.

 

“Tidak, aku sungguh akan melakukannya.”

 

“Ck, bermimpilah.”

 

Keduanya nampak tak ingin memisahkan diri, bahkan walau makanan yang tersaji di meja makan mulai mendingin.

 

Tak seorang pun menyadari kehadiran dua orang laki-laki yang mengintip serta mencuri dengar dari balik rak buku.

 

“Sulit dipercaya. Mereka berdua memalukan.” Ucap Sehun setelah mendengus dengan cara yang sama seperti sang kakak.

 

Luhan hanya tersenyum tipis menanggapi rutukan Sehun, kemudian kembali beralih memandang Chanyeol dan Baekhyun yang masih belum memisahkan diri hingga detik ini, tak tahu lah lemak kuah sup daging di meja makan telah menggumpal.

 

“Lupakan makan malam di rumah. Kita pergi keluar.”

 

“Ung. Kurasa lebih baik seperti itu.” Luhan menyambut uluran tangan Sehun dan pergi keluar rumah dengan menjaga langkah kaki agar tak bersuara.

 

Keduanya keluar dengan telah mengenakan mantel di tubuh masing-masing. Segera bertautan tangan tepat setelah Sehun menutup pintu rumah. Baru beberapa langkah menjauhi pintu, suara seseorang yang sedikit asing membuat gerakan kaki keduanya terpaksa terhenti.

 

“Aku dapat menebak apa yang terjadi di dalam hingga kalian memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah.” Kata Kyungsoo yang bersandar pada pintu mobil yang terparkir tepat di depan gerbang rumah Chanyeol dan Baekhyun. Sehun dapat melihat seorang laki-laki berkulit sedikit gelap berdiri tepat di samping Kyungsoo. Keduanya tersenyum ramah “Masih tersisa tempat untuk dua orang di mobil Jongin. Malam ini biarkan aku yang bayar semua tagihannya.”

 

Dan mobil pun melaju menjauhi gerbang dengan membawa empat orang laki-laki di dalamnya, diiringi oleh butiran salju yang menghiasi udara malam.

 

… … … … …

 

“Chanyeol!”

 

“Hm?”

 

“Aku ingin mendengarmu bernyanyi.”

 

“Baiklah. Lagu apa yang ingin kau dengar, Baekhyun?”

 

“Aku ikut pilihanmu saja.”

 

“Okay.”

 

Semua orang berperang setiap hari

Mereka memiliki perang-nya masing-masing

Mengapa kau masih saja menangis sambil memeluk lututmu?

Apa hidupmu hanya untuk itu?

 

Aku tahu kau bersedih

Tapi aku kesal karena itu membuatmu tak melihatku sama sekali

Kau terlalu terlarut sampai tak menyadari kalau aku selalu ada di sampingmu

Itu menyebalkan

 

Aku benar-benar marah

Kuputuskan untuk pergi saja, berlari meninggalkanmu sendirian

Tapi aku tidak bisa, akhirnya kakiku kembali melangkah ke tempat semula

 

Kuulurkan tangan dan mengajakmu berperang bersama

Perang ini harus segera berakhir

Agar kita dapat melanjutkan hidup

 

Kau dan aku

Lyrics by Me (Nine-tailed Fox)

~THE END~

 

40 thoughts on “Mukashi Kara no Uta – Part 3 (END)

  1. akhirnya update juga setelah lama berlalu
    tuhkan ini jadi pelajaran
    penyesalan itu walau di maafkan tetap saja ada bekasnya
    kayak chanyeol yang tidak berhenti merasa bersalah
    oh iya author yang baik cerita-cerita yang lain kapan di lanjut
    rindu saya sama semua cerita kamu

  2. ….bentar-bentar,saya lupa unem saya di chap sebelumnya (-…)
    Akhirnya update!! (^^^) Gak tau dapet wahyu (-ga) dari mana,akhirnya saya berpikir untuk ngecek wp inii //nyengir

    Akhirnya nikah ya~
    baekhyun nyari cincin ampe gila-gilaan gitu…..
    Scene hunhannya lucu EHEHEHEE ><
    Udah segini aja ya? '-'

  3. waaaaaa akhirnya update juga hiks #terharu

    so sweet banget ceritanya…. aku suka aku suka ^_^

    buat authornya, tetap semangat bikin ff nya… ffnya keren2… ^_^

  4. aaaaaaa aku baru nge cek runrunka lagii ;A;
    dan untungnya tersaji FF keren macem iniii ^^

    suka banget sama ceritanyaaaa~~ ayo bikin lagi thorrr dan juga buat hyobin eonnie, ayo sajikan FF lagii ^^

    semangat untk semua author menghadapi tugas kuliahnya/? kkk
    HWAITING~!!

  5. AKHIRNYA BISA NGEKOMEN YA ALLAH.kemaren paket habis yasudah /curhat/.tapi sumpah pas ini dipost itu aku lagi sekolah dan lagi jam pelajaran *slaps aku mekik kesenengan gitu yaampun.aku fikir bakal sad ending.atau malah ending ngegantung soalnya biasanya 9tail kalo bikin akhir selalu bikin geregetan saking gantungnya hehehe.tapi unyu banget ternyata nauzubillaaaahhh overdosis bisa.aku ampe rekomendasiin ini ff ke temen aku hahaha,wellll adegan skinship disini selalu bikin merinding entah kenapa.mulai pas yang baeknya diciumin.pahanya dielus.sampe ke bokong. *slapspart2 entah kenapa tetep manis dibaca.yaampun.udah ah kalo ngereview ffnya author 9tail gabakal ada abisnya.perv bangetㅠㅠditunggu thor karya selanjutnya!

  6. waww… it’s a fvckin amazing!!!
    jinjja jinjja
    gw mewek dlu#plakkk
    ya ampun baek, can i take you home?
    kyute (?) nya elu di ff ni tak tertandingi#plakk

    suka bnget kta2 ini “Sebuah luka memang harus melewati rasa sakit terlebih dahuluagar cepat tersembuhkan, tidak ada obat yang rasanya enak kecuali obat khusus untuk anak kecil. Karena itu, jadilah sosok tegar yang mampu melampaui rasa sakit…agar tidak ada seorang pun yang dapat menyakitimu dengan seenaknya…”
    entah gw ska klimat itu…
    jleb bnget sumpah
    ahhh.. kk nine tailed fox kawaii emang~
    sukiii~~~

    keep writing!!

  7. Akhirnya update jugaaa
    Maaf baru komen di part ini, soalnya aku agak males ngekomen#digampar
    Bagus banget~
    Ngga tau kenapa ff author beda dari yg lain, keren deh pokoknya
    Di tunggu cerita yg lain thor

  8. Akhirnya update jugaaa
    Maaf baru komen di part ini, soalnya kemaren2 aku agak males ngekomen#digampar
    Bagus banget~
    Ngga tau kenapa ff author beda dari yg lain, keren deh pokoknya
    Di tunggu cerita yg lain thor

  9. I-ini…… keren!
    Adegan paling gue suka itu pas setelah chanyeol gantung lonceng awawawww kok rasanya mereka manis bgt disitu ♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

  10. Akhir yg manis ^^
    Semua memang hanya masa lalu,jd kenapa harus di ingat meskipun itu menyakitkan.Yang terpenting jalani masa sekarang sebahagia mungkin🙂

  11. woah, finally ffnya upadated. setelah sekian lama aku menunggu/? wkwk. yang lainnya yang masih gantung update juga dong ka/? udah gak sabar😀

  12. yakk akhirnya update juga …
    Keren bgt thor ^^ (y)(y)
    Aish kisah chanbaek manis banget😀
    Sehun cuek abis ma luhan😀
    Akhirnya happy end juga😀 ^^

  13. kyaaaaa ヽ(^。^)ノ
    mengharukaaaan
    lulu sampe ngiri xD #plak
    sequeeel pleaseee…
    masak diendinya kristao g nampak ╯︿╰
    kaisoo mejeng ciee
    hunhan always lovable ♡♥♥♥

  14. eh udah update dan aku telat bacanya -_- makasih ya udh sempatin waktu buat bikin ff ini.. happy ending ^^ thor ff yg new hun for my han itu dilanjut gak? aku nunggu lanjutannya semua ff di runrunka ini ya.. semangat terus thor ^^

  15. Saoloh. So sweet bgt. Akhirny mereka bersatu,sekali lagi ME-RE-KA. Aku jg sempat senyum2 sendiri pas baca scene wktu chanyeol mengobati kaki baekhyun itu,wlw obrolan mereka santai tp terkesan hangat dan lucu. Suka bgt sm scene yg itu. Dan baekhyun memang benar, kalau hati yg tersakiti tdk akan mungkin bisa d sembuhkan tp bisa d gantikan dgn hati yg baru..dan penyesalan pasti dtg ny belakangan ah tp setidakny cerita ini mempunyai pesan tersendiri. Btw chanyeol gombal amat ya,hahahahaha. Utk hunhan saoloh mrk bnrn unyu2 dah cerita cintanya. Good story thor d tunggu cerita lain nya.

  16. satu kata ….. ff kamu keren sangat author-nim …. maaf baru bisa nge coment di part ini …. soalnya baru nemu eh udah END😦 .

    …. tetap berkarya ya …. kami para readers selalu mendukungmu

  17. Wuaaahhhhhh… Akhirnya di lanjut juga setelah nunggu berabad abad lamanyaaaa….
    .
    Hiiiuuuuuhhhhhh my chanbaek feel… Ternyata ceritanya gk sampe baek sembuh yaa.. Tp gpp… Ini udah lebih dr keren bingiiittzzzzz…
    .
    Di tunggu fanfic chanbaek selanjutnya yaaa… Terus berkarya *halah*

  18. yeay akhrnya chanbaek happy ending juga.
    dari awal aku suka bnget sama cerita ini, hurt nya dapet bnget dan sedikit hiburan dari Taoris.
    aku selalu suka dan menikmati cerita yg km buat, hhheee.
    terus brkarya menulis cerita Chanbaek ya🙂

  19. wuahhhhhhhhhhh……. Keren sekali.. huhh.. ChanBaeknya manis,romantis, lucu, dan….dann… itu pokoknya….!!!!!!!!!!!!!
    haduhh,,, seneng banget happy ending..
    very great work and nice story Authornim!!!!!

  20. wuahhhhhhhhhhh……. Keren sekali.. huhh..
    ChanBaeknya manis,romantis, lucu, dan….dann… itu
    pokoknya….!!!!!!!!!!!!!
    haduhh,,, seneng banget happy ending..
    very great work and nice story Authornim!!!!!

  21. AAAAKKKKKKKK SENENG BANGET BANGET BANGET!!!! AKHIRNYA INI HAPPY ENDING

    SETELAH DI CHAP CHAP SEBELUMNYA YG BIKIN BANJIR + SESEK NAFAS SEMUANYA DIBAYAR DI CHAPTET INI. SEMUANYA BAHAGIA DAN NEMUIN JALANNYA MASING-MASING❤

    LOFFYYUU SO MAACCC THOOORR, MAKASIH BUAT FF MANISNYAAAA❤

  22. Weoweoweoweo /digampar/
    HAPPILY EVER AFTER, YEAHHHHH!!!
    .
    .
    Rasa nano-nano dalam hati perlahan menghilang..
    Dan aku suka sekali -teramat sangat- dengan karakter Baekhyun..
    Aaaaaa!!
    Romantis.. Nyaris membuatku meleleh :”3
    Semoga ada ff seperti ini lagi..
    Keep writing and fighting!!

  23. Annyeong..baru nemu ff ini …ffnya bagus2 dan author pintar memainkankan perasaan reader sampai masuk ke inti cerita..ada kata2 yg bagus..”Sebuah luka memang harus melewati rasa sakit terlebih dahulu agar cepat tersembuhkan, tidak ada obat yang rasanya enak kecuali obst khusus untuk anak kecil…katena itu, jadilah sosok yang mampu melewati rasa sakit…agar tidak ada seorangpun yang dapat menyakitimu dengan seenaknya…” terus terang itu pengalaman setiap orang termasuk aku tentunya….tapi kata-katanya masuk dalam dalam hati…daebak pokoknya…terus menulis saeng…trus updet chap yang tertunda…selalu sehat selalu…fighting!!!

  24. Huaa!! udah baca dari awal baru komen disini..😄 sugoi! Subhanallah.. fellnya kerasa banget sumpah.. mewek pas baca, bayangin pas ketabrak, pas chanyeol minta maaf, pas chanyeol mangku baek.. duh.. overdosis.. diabetes mendadak😄😄

  25. Huee kakk kau berhasil memporak porandakan hatikuu. Sumvaah ini ngefeel bangeeeet, dan beruntungnya aku menemukan epep ini. Dari chap 1 bru komen di chap ini *mian kakakk kata katanya greget dan aku suka😀 aku menangis tersedu sedu bacanya *aduhhlebaybgt pokoknya top markotop deh buat kakaknyaa. Ngomong ngomong aku reader bru blog ini hehee. Fighting dan tetep berkaryaa ya kak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s