THE BETRAYED ANGEL ENDING

The Betrayed Angel

 

Inspirated of ‘Uragiri wa Boku no Namae wo Shitteiru’

Mangaka :  Hotaru Odagiri

  

Author : Kim Hyobin

tumblr_mqqu7xYkvP1soo5o0o1_1280

EXO FanFiction

 

 

Cast : Luhan – Oh Sehun – Kim Jongin / Kai

Main Pair : KAIHAN – HUNHAN

Other : HUNHO – KRISTAO  – CHANBAEK – KRISHO – HUNTAO

Other : Kim Minseok / Xiumin – Do Kyungsoo / D.O – Wufan / Kris – Huang Zitao / Tao – Byun Baekhyun – Park Chanyeol – Kim Jongdae / Chen – Kim Joonmyeon / Suho

Genre : Fantasy – Drama – Romance – Action – ANGST

 

Warning : Shounen Ai/ BOY x BOY / YAOI / BL

THIS IS JUST FICTION!

FICTION!

NOT REAL AT ALL!!

 

 

 

 

Sebuah panah yang terbuat dari petir menembus dada seseorang.

 

 

“A—A…”

 

 

Hanya tatapan tidak percaya dari semua orang disanalah yang menyambut pemuda dengan mata tajam yang mengeluarkan air mata. Ia berucap tajam sembari mengendalikan petir dikedua tangannya.

 

 

“..Aku mempercayaimu…

 

 

… Penipu.”

Dunia tak akan pernah sama

Tidak seterusnya selaras

Pekik tertahan yang kau coba lontarkan—

 

Hilang

 

Melebur bersama dendam pekat yang menipumu akan kebebasan

Langit merah yang penuh air mata

Lagu kematian yang samar terdengar

 

Apakah pengantar tidur panjang yang lelap?

 

Mimpi buruk tak akan menggaduh sang pujaan

Redup dalam dentuman tentang peliknya jalan keluar dari kehidupan

 

Apakah kau akan pergi?

 

Begitu saja?

 

Setelah kau seenaknya menitik satu tragedy seakan tak ada dalangnya?

 

The Betrayed Angel

ENDING

 

Ia  bukan sombong.

Ia tidak bermaksud menjadi tokoh jahat. Siapa yang menginginkan terlahir dengan ingatan masa lalu yang jelas dan dendam tak terlupakan. Harga diri adalah masalah serius baginya. Meski jaman berubah, meski dunia sudah menjadi satu… tujuan hidupnya tidak akan pernah berubah. Ia pikir, ia mencari keadilan. Dengan menyelesaikan masa lalu, ia ingin.. ketika mereka terlahir kembali. Tidak akan ada lagi ingatan tersebut. Tidak ada lagi beban masa lalu yang menghantui mereka. Tidak ada lagi kesedihan masa lalu yang membelenggu.

Ia memikirkan mereka.

Bukan hanya diri sendiri.

Karena ia juga lelah, jika nanti terlahir kembali dengan dendam yang sama.

Ia lelah, selalu menjadi tokoh jahat yang tak pernah bebas dari kesesakkan.

Hitam yang selalu ia lihat, tak pernah menjadi putih. Ia selalu menjadi pendosa, meski ia tak ingin.

Tetapi… akhirnya selalu akan seperti ini, bukan?

Selalu, tokoh jahat yang mati akan disambut dengan kegembiraan—

Sehun, tersenyum tipis kala itu. Ia merasa perih disekujur tubuh, apalagi dengan bagian dadanya yang tertembus petir. Namun ia tidak roboh, masih berdiri tegap disana. Melirikkan mata dinginnya pada sosok pemuda yang masih mengendalikan petir dikedua tangan. Cukup tak tahu dan tak mengerti akan keadaan yang terjadi saat ini. Apakah dia dikhianati?

Lagi?

“Chen..” suara Sehun berbeda. “Apa- apaan.. ini?”

Chen.

Pengendali petir tersebut tidak bergeming. Pemuda itu seakan tidak perduli dengan pedang petirnya yang masih bersemayam didada Sehun. Darah segar tertumpah dari bibir tipis Sehun. Menandakan bahwa ia melemah secara dratis. Petir itu tak akan pernah bisa lenyap, Chen terlalu kecewa hingga tak akan mengingat kebaikan palsu yang Sehun bisikkan padanya dahulu.

Bukankah kita impas?

“Sehun!!” Luhan langsung menangkap tubuh Sehun sebelum jatuh terhuyung. Pemuda tampan itu kehilangan dayanya. Apalagi listrik yang menjalari tubuhnya membuat semua organ tubuh Sehun mengeram. Suho sudah bebas dari penjara angin yang dibuat Sehun. Kai yang berada didekat sana terdiam, tidak menyangka Chen.. anggota klan-nya yang dahulu nyaris membunuhnya untuk mengikuti Sehun… ternyata malah berbalik menyerang Sehun.

Semua yang terjadi memang tidak bisa kita duga sama sekali.

Mau seperti apapun, pengkhianatan pasti akan selalu ada

Meski berkhianat untuk hal yang lebih baik

 

Pengkhianat tetap saja pengkhianat

“Sehun, bertahanlah!” Luhan memegang pedang petir yang menancap didada Sehun, ia tidak perduli akan tangannya yang ikut mengeram karena aliran listrik. Susah payah, Luhan melepaskannya dari dada Sehun.

Aku tak ingin berpisah seperti ini—

Menidurkan kepala Sehun dipangkuannya kemudian mengusap darah disudut bibir Sehun dengan jemarinya. Kai tidak menyukai pemandangan ini, namun ia tidak bisa berbuat banyak. Luhan memang sangat menyayangi Sehun dijaman ini. Luhan tidak mengingat perasaannya, sama sekali tidak.

“Se…hun…”

Samar- samar Sehun melihat wajah Luhan. Kepalanya pening luar biasa, bahkan kakinya sudah mati rasa. Apakah ini yang disebut dengan ambang kematian? Mengapa ia yang berbaring lemah seperti ini? Seharusnya ia menang… seharusnya Luhan yang ia lihat mati.

Tetapi, mengapa…

“Sehun… tidak…” Luhan menggenggam tangan Sehun dengan erat, tidak menyangka Sehun membalas genggaman tangan itu tak kalah erat. “Jangan pergi, Sehun… Aku tidak bisa tanpamu. Aku—aku menyayangimu.”

Sehun tidak sanggup mengatakan apapun. Rasa sakit itu seperti menyadarkannya. Ia juga… ia juga menyayangi Luhan.

Ia menyayangi Luhan.

Maka dari itu ia memanfaatkan segala cara, mengaktifkan Matahari Merah didalam diri Kai, menggunakan bom waktu Tao, memanfaatkan segala cara… agar ia tidak membunuh Luhan dengan tangannya sendiri. Karena ia tidak akan bisa membunuh Luhan secara langsung. Ia tidak bisa.

Bukankah bukti itu sudah cukup?

“..H..an..”

Bagaimanapun caraku untuk mengelabui hatimu—

—Kebenaran akan selalu tampak

 

Luhan mendekatkan wajahnya kewajah Sehun, menahan isakan karena ia tidak sanggup melihat Sehun seperti ini. Air mata Luhan jatuh satu persatu kepipi Sehun. Seakan Sehun ikut menangis bersama Luhan. Namun tidak, Sehun tidak akan menangis. Ego dan harga diri masih mengurung dirinya.

“..Ak..u..memben..ci..mu.”

Aku menyukaimu.

Luhan tersenyum tipis, ia menyentuh pipi Sehun sayang. “Kau boleh membenciku, tapi aku… aku—“

“Jang..an..mengatakan..nya.” Sehun memegang dadanya sendiri, sakit yang ia rasakan makin memburuk.

Aku menyukaimu.

“Mengapa? Kau tahu.. Sehun.. Kau tahu bagaimana perasaanku padamu, kan?” Luhan semakin terisak.

“Ber..henti..”

Aku menyukaimu.

 

Luhan diam.

Ia menangis dalam diam, menempelkan keningnya pada kening Sehun. Tangan mereka berdua masih terkait dengan sangat erat. Itulah yang membuat Luhan yakin bahwa Sehun memiliki perasaan yang sama dengannya. Meski mereka bermaksud saling membunuh beberapa waktu yang lalu, namun Luhan tidak akan pernah membenci Sehun karena hal itu. Ia akan selalu mengerti Sehun. Mereka manusia biasa, mereka lemah jika takdir sudah bertindak. Meski mereka memiliki kekuatan yang membedakan mereka, tapi itu semua tidak bisa menjauhkan mereka dari takdir akan kematian.

Bisakah kau memberitahuku satu alasan pasti

Mengapa manusia berubah?

Suho tidak bergerak, ia tidak bisa melakukan apapun melihat bagaimana Luhan menyayangi Sehun meski Sehun terus mencoba membunuhnya. Kini Sehun tak berdaya didalam dekapan Luhan. Jika Luhan dendam padanya, Sehun pasti sudah hancur sedari tadi. Meski begitu, saat ini… Luhan mengusap wajah Sehun, berbisik kata- kata manis dan kasih sayang, menggenggam erat tangan Sehun yang dingin dan basah akan keringat.

Manusia bukan berubah—

Keadaan yang memaksa semuanya berubah

Bukan keinginan

Percuma, yang ditembus oleh petir tersebut adalah dadanya. Ruang disekitar jantungnya sudah hancur… Sehun tidak akan tertolong. Luhan tahu itu, maka ia terus saja mengatakan semua yang seharusnya Sehun ketahui. Sebelum semua terlambat.

“Aku—mencintaimu.”

Sehun terbatuk semakin parah.

“Aku mencintaimu sejak kita tumbuh dipanti asuhan. Aku menyayangimu, menyukaimu dan aku selalu berdoa agar kita tidak pernah terpisah.” Luhan terisak hebat. “Aku akan… selalu memegang janji kita… untuk bersama. Meski kau mencintai orang lain.. meski kau membenciku.. meski kau tidak akan pernah memaafkanku…Aku—“

Terakhir.

Gerakan terakhir Sehun adalah kala tangannya menarik tengkuk Luhan hingga bibir mereka bersentuhan. Hanya beberapa detik, hingga Luhan bisa merasakan dengan jelas bagaimana nafas Sehun hilang. Tubuh angkuh yang tadinya maha kuasa kini terkulai tanpa jiwa. Mata tajam dingin tersebut sudah menutup. Mengakhiri dendam yang selama ini tanggung seorang diri.

Bebas…

Apakah rasanya selega ini?

“SEHUN!!”

Bukan hanya Luhan yang menangis seperti orang gila saat ini. Suho pun demikian, berlari kearah tubuh Sehun yang sudah tidak bernyawa, menangis bersama Luhan.

“Sehun!! Buka matamu!! Ini—Ini tidak mungkin terjadi! Sehun!!!” Suho memegang kedua pipi Sehun yang sudah terasa dingin. Pemuda manis berwajah tenang itu menangis sejadi- jadinya.

Kai menunduk dalam, menyesal akan kematian anggota klannya. Sedangkan, Chen… ia pun ikut menangis. Petir dikedua tangannya sudah hilang sedari tadi. Bersamaan dengan hembusan nafas terakhir Sehun. Rasa sesak yang kini Chen rasakan membuktikan bahwa apa yang ia lakukan pada Sehun cukup mengguncang hati dan keteguhannya selama ini. Tetapi—hanya ini satu- satunya cara.

Cara aku menyelamatkanmu—

Ya… semua berduka saat itu. Sang Guardian yang selama ini hidup dalam dendam abadi, akhirnya teridur.

Apakah semua ini sudah berakhir?

“Bukankah aku menyelamatkanmu, Sehun?” Chen berbisik lirih. “Hanya ini satu- satunya cara menyelamatkanmu dari penyesalan membunuh orang yang benar- benar kau cintai.”

Baekhyun baru sampai disana, terdiam ketika matanya menilik dua pemuda yang menangisi seseorang. Baekhyun tidak tahu siapa yang terbaring disana.. hanya saja Bakehyun bersyukur itu bukan Luhan. Ia lihat Kai dan Chen yang menunduk,  menahan air mata dengan wajah yang sangat terluka. Akhirnya, Baekhyun berjalan mendekati Luhan dan Suho, mengusir prasangka. Tetapi, nampaknya dugaan Baekhyun adalah benar.

“Se..Sehun…” Baekhyun membekap mulutnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Sehun… Sehun tewas? Oh Tuhan, Baekhyun sungguh tidak percaya ini.

“Sehun!!” Luhan masih mengguncang tubuh Sehun yang sudah kehilangan jiwa. Suho memegang lengan Sehun yang mulai dingin, ia berharap pemuda itu akan menyayanginya lagi. Namun, tidak akan ada yang berubah. Di zaman ini, Sehun belum dapat mengubah apapun. Meski akhirnya ia terlahir dengan darah dan klan yang benar.

Apakah masa depan akan berubah?

“Luhan.” Baekhyun mendekati Luhan yang kini mengarahkan wajahnya pada Baekhyun yang duduk disebelahnya.

“Baekhyun..”

Baekhyun mengusap wajah Luhan dengan lembut lalu tersenyum sedih. Ia angkat tangan Luhan lalu meletakkan sesuatu ditelapak tangan pemuda cantik yang kini tersentak hebat.

“I..Ini…” Luhan tahu betul boneka rusa kecil yang pernah Sehun berikan padanya. Hadiah ulang tahun untuk Luhan. Sehun yang mengatakan bahwa boneka ini akan menjaga Luhan, seperti halnya Sehun yang akan selalu menjaganya.

 

“Maaf… aku hanya bisa memberikan benda seperti ini padamu.” Sehun tersenyum tipis. Ia kewalahan memilihnya untuk Luhan, ia tak begitu pandai membeli sebuah hadiah.

 

Berbeda dengan Sehun yang tidak nampak puas, Luhan terlihat sangat teramat sangat senang. Ia pandangi gantungan kunci berbentuk rusa mungil itu dengan tatapan berbinar.

 

“Sehun… terima kasih…” Luhan terharu, ia tersenyum dengan air mata bahagia. Ia sangat senang karena Sehun begitu memikirkannya.

 

“Selamat ulang tahun.” Sehun mengusap kepala Luhan sayang. “Jangan sampai hilang. Dia akan menjagamu jika aku tidak ada.”

 

Luhan mengangguk mantap, ia senang sekali karena diberi hadiah oleh Sehun. “Aku akan terus menjaganya. Tetapi… Sehun jangan pernah pergi, ya.”

 

Sehun tersenyum senang. “Tidak akan. Kita akan selalu bersama, kan?”

 

Luhan tertawa pelan lalu memeluk Sehun dengan erat. “Selalu!”

Luhan menggenggam erat boneka rusa kecil itu dan kembali terisak hebat, ia jatuhkan kepalanya didada Sehun. Ia tidak bisa menahannya lagi, kisah cintanya sangat tragis, ia kehilangan orang yang sangat ia cintai melebihi siapapun.

Adakah kehendakmu untuk memulai janji baru?

Janji yang tidak akan kau ingkari lagi?

“SEHUN!!”

Kau sudah menyelamatkanku—

Kini saatnya aku yang menyelamatkanmu…

 

Ketika kekecewaan menembus dadamu

Luka tidak akan hilang karena ketulusan

Kau yang paham, aku tak akan mati sesesak ini

Selamanya akan selalu ada darah disetiap luka

Akan selalu ada waktu

Ingat aku tak akan membawa satu ikatan

Sejak awal genggamanmu tak pernah erat

Setelah berbisik kau akan berlari pergi

 

 

Kau tidak ingin aku mengikuti…

 

 

 

 

… kau hanya ingin mencintai degan benar.

 

 

Percaya bahwa aku benar.

Duka juga tidak luput dari tempat itu.

Seharusnya ia yang mati, seharusnya ia terbaring tak berdaya dilantai kotor tersebut. Namun… Ialah yang kini terduduk disana menatap seseorang yang bahkan tidak ia ketahui siapa terbaring tak bernyawa. Seorang pemuda pengendali api meraung dan mengguncang tubuh lelaki yang sudah tak bernyawa, berteriak meminta agar lelaki itu kembali. Ia, Huang Zitao, hanya akan selalu diam.

“Tidak!! Hyung!! Kumohon jangan biarkan ini terjadi!! KRIS HYUNG!!!”

Benar, Tao hanya bisa menatap kosong sosok tampan yang terbaring dihadapannya. Tanpa mendapat satupun petunjuk dengan apa yang terjadi sebenarnya.

 

Sakit… rasanya sesak.

 

Wajah datar Tao adalah bukti bahwa ia tidak mengerti… Mengapa lelaki itu mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan nyawa Tao?

Siapa dia?

“Kris-hyung!! Kris-hyung!!!” Chanyeol, si pengendali api, merebahkan kepalanya didada Kris yang sudah tidak berdetak lagi. Tubuh itu sudah tak bernyawa, ia menukarkan jiwanya pada kematian agar Tao selamat.

Agar Tao tetap hidup dan bisa merasakan kebahagiaan lain, selain kebahagiaan palsu yang diberikan oleh Sehun.

Matamu yang bertiraikan sutra air mata

Tidak seorangpun selain aku yang paham indahnya

Namun… Tao tidak tahu harus melakukan apa. Apakah ia harus berterima kasih pada Kris? Yang bahkan tidak ia ketahui siapa dengan pasti—Tao tidak suka ini.

Mengapa air matanya keluar tanpa sebab?

Mengapa hatinya sakit bukan main? Mengapa ia tidak ingin lelaki ini mati?

Mengapa…

Mengapa ia tidak bisa merasakan apapun—

“Tao..”

Panggilan Chanyeol menyentak Tao yang menangis diam. Ia arahkan wajahnya dari Kris menuju Chanyeol. Pengendali api yang Tao anggap menyeramkan itu kini mengusap air mata Tao yang tertumpah. Senyuman tipis tergambar diwajah Chanyeol. Bagaimanapun, Kris mengatakan pada Chanyeol untuk menjaga Tao.

Pesan terakhir Kris.

“…Jangan pikirkan apapun. Kau tidak salah, jangan memaksakan dirimu untuk mengingat hal yang tidak bisa kau ingat.”

Tao menunduk, menatap wajah tampan Kris membuat hatinya sakit dan sesak. Walau ia tidak mengerti mengapa… pemuda tampan itu mengorban hidupnya untuk Tao. Mengacaukan pertahanan dan emosi Tao dalam sekejap.

“Siapa dia?” isak Tao tak tertahankan. “Siapa dia?”

Chanyeol tidak pernah merasa sakit tentang kehidupan orang lain, namun saat ini ia ikut sakit… ternyata, meski Kris sudah mengorbankan nyawanya untuk Tao. Orang yang paling ia cintai melebihi dirinya sendiri.. Tao tetap tidak ingat. Tao tetap tidak mengingat masa lalu mereka.

“Mengapa dia menolongku!! Mengapa dia menukarkan nyawanya dengan nyawaku pada kematian?! SIAPA DIA!!”

Apakah ini yang dinamakan bertepuk sebelah tangan?

“Kau ingin tahu tentangnya?” Chanyeol berusaha menahan kesedihan.

Tao masih menatap Kris yang terlihat sangat tenang, apakah dia bahagia mengorbankan nyawanya untuk Tao? Mengapa saat ini wajahnya seperti tertidur pulas?

Mengapa ia meninggalkan Tao dalam kesesakkan begitu saja?

“Jika hal itu akan menyakitiku… tidak.”

 

Kapankah kita bertemu kembali?

Jika pertemuan kita begitu singkat saat ini…

Berjanjilah.. Suatu saat nanti, ketika kita dipertemukan kembali

Jangan pernah melepaskanku

Jangan biarkan aku melupakanmu—lagi.

 

 

 

Suasana dunia benar- benar tidak terkontrol. Apa yang baru saja terjadi bisa dikatakan tidak masuk akal. Tentu saja, siapa yang akan menyangka gempa, petir, salju, air bah, dan angin kencang terjadi disaat yang bersamaan. Diperburuk dengan hujan meteor dan pergerakan bulan serta matahari yang selama ini tak pernah terjadi. Tidak ada satupun tempat yang luput dari penghancuran itu. Benar- benar bisa dihitung dengan jari bangunan yang masih kokoh disana.

Ironis, bencana alam yang dianggap akhir dari dunia itu terhenti begitu saja.

Semua yang kacau seakan kembali dengan patuh pada fungsinya masing- masing.

Seperti… bencana tiap bencana yang tadi datang tak pernah menyapa. Menyisakan berbagai jejak yang bisa dikatakan mengerikan. Bukan kenangan indah, tentunya.

Lagu merdu yang menjadi pengantar sebelum tidur lelap

Dikumandangkan dengan sangat syahdu

Indah… Apakah tidur panjangmu akan lama?

 

 

 

Luhan.

Pemuda bertubuh mungil itu berdiri paling depan. Jejeran makam didepannya matanya tentu bukanlah hal yang ia dan kerabatnya inginkan. Lima orang kerabat yang tidak pernah diinginkan kepergiaannya. Menyedihkan karena tangisan tak kunjung redam. Bukan hanya Luhan yang berada dilapangan hijau tersebut. Chanyeol, Baekhyun, Tao, Suho, Chen, dan Kai juga berada disana. Menatap pilu kelima makam yang berada tepat dihadapan mereka.

 

Kemuliaan membalut jiwa yang mati atas kebaikan.

Luhan menutup mata indahnya, perlahan. Menahan air mata yang sudah terasa panas dipipinya. Kelelahan jelas tergambar pada raut wajah cantik itu. Berharap ketika ia membuka mata, Sehun lah yang berada dihadapannya. Bukan makam. Tapi semua harus pupus karena harapan tinggallah harapan. Pemuda berparas cantik tersebut, membungkukkan tubuhnya. Menyentuh rerumputan hijau yang ditata untuk memperindah makam- makam tersebut.

“…Berjanjilah..” bisikan Luhan bisa didengar oleh kerabat lainnya.

“…dikehidupan selanjutnya—kau harus menjawab perasaanku. Apapun—“ isakan sudah lolos dari bibir Luhan. “—apapun jawabanmu…berjanjilah, Oh Sehun.”

Isakan berubah menjadi tangisan, Luhan nyaris terduduk sebelum Kai menangkap tubuhnya. Memeluk pemuda cantik itu dari belakang. Menenangkan Luhan yang masih saja menangis pilu sembari menggumamkan nama Sehun. Luhan menggenggam boneka rusa mungil itu dan memeluknya, dada Luhan terasa sakit bukan main.

Mengapa kasih sayangnya harus berakhir seperti ini?

Mengapa takdir tak membiarkan ia dan Sehun bersama?

Keheningan yang tercipta membuktikan bahwa luka dan rasa kehilangan yang mereka rasakan begitu pekat. Namun bukan hanya Luhan yang menangis saat ini… dengan perasaan yang sama, jutaan manusia dimuka bumi juga merasakan kehilangan yang mendalam karena perkelahian mereka yang memporak- porandakan segalanya.

Keegoisan mereka akan dendam dan masa lalu mengundang duka mendalam

Entah berapa korban jiwa atas musibah yang menggemparkan dunia. Yang pasti dunia sedang kacau balau dan memerlukan bantuan. Untuk mengembalikan semuanya pada kondisi semula, anggota klan harus saling bekerja sama. Meski satu hari telah berlalu dari bencana besar tersebut, duka yang mereka rasakan masih sangat pekat.

Apakah kehilangan selalu semenyedihkan ini?

Chanyeol yang dari tadi terdiam, melirik pemuda berambut raven kemudian memegang erat tangan Baekhyun. Mengerti dengan arah pandang Chanyeol, Baekhyun hanya bisa tersenyum sedih. Tao, pemuda raven yang tidak pernah bicara setelah semuanya terjadi, memilih diam didepan sebuah makam bertuliskan nama ‘KRIS’.  Mata indah Tao tidak pernah lepas memandangnya.

Kuharap… kau bisa menjelaskannya. Satu hari nanti.

Ia tidak menangis, memang. Tetapi, Chanyeol dan Baekhyun bisa merasakannya. Kesedihan atas apa yang dirasakan Tao pasti sangat menyesakkan. ‘Tidak tahu apa- apa’, itu jauh lebih buruk daripada kesakitan. Seperti, dipermainkan dan tidak sadar ditertawakan oleh takdir.

“..Jika kau melihat semuanya pada malam itu, Baekhyun…” bisik Chanyeol lirih. “Kau mungkin akan berfikir, kenyataan yang menyesakkan dan menyedihkan ternyata bisa benar-benar terjadi.”

Baekhyun mengangguk. “Tidak perlu melihatnya secara langsung, Chanyeol.. mata dan aura Tao sungguh memilukan. Melihat dan merasakan auranya saja, aku bisa menduga… sedalam dan semenyesakkan apa dukanya kini.”

“…Aku tidak pernah melihat…kisah yang lebih menyedihkan.” Tambah Chanyeol.

Baekhyun mendesah pelan, wajahnya sedih sekali. “Inilah takdir.”

Bolehkah aku berharap—

Dikehidupan selanjutnya… kau datang kembali

Kita hidup bersama…

 

…kita jatuh cinta bersama.

Setiap makam diberi lambang sesuai dengan lambang klan. Kelima makam yang sejajar tersebut dihiasi oleh mawar putih dan bunga matahari. Baekhyun yang memilih bunga-bunga tersebut, ia dapatkan diantara rusuhnya kekacauan yang menyapa bumi.

Baekhyun berusaha menghibur Tao sedangkan Chanyeol mencoba berbicara dengan Chen, Suho dan Kai menenangkan Luhan yang masih terisak cukup hebat. Semua mencoba membangun kembali ikatan yang sempat rusak dahulunya. Meski senyuman tipis hanya jawaban mutlak untuk saat ini, tetapi senyuman itu tulus dari dalam hati.

“Luhan…” Kai mengusap wajah manis Luhan yang basah. Pemuda tampan itu mengangguk pelan. “Sudah saatnya kita memperbaiki segalanya, bukan?”

Luhan menatap Kai denga taat. Ia tersenyum tipis lalu mengusap air matanya. Luhan menatap makam Sehun sesaat dan mengangguk. Ia menghela nafas dan menyambut uluran tangan Kai.

Maaf…

Aku tak bisa mencegah segalanya terjadi

Aku kembali kehilanganmu

“Tao…”

Suara lembut Luhan menyentak Tao yang tersenyum pada Baekhyun. Mata bengkak yang sayu itu menangkap senyuman tipis diwajah mungil Luhan. Mereka memang sama-sama terluka dan kehilangan, namun itu bukanlah alasan untuk tidak memperbaiki segalanya. Satu uluran tangan mengarah pada Tao, tangan Luhan.

“…kita perbaiki semuanya. Ayo, pengendali waktu…” Ajak Luhan lembut sekali. Luhan tahu bagaimana perasaan Tao, dulu ia juga sama seperti Tao. Tidak mengingat apapun tentang masa lalu.

Pasti menyakitkan.

“Aku…” Tao sempat ragu, akan tetapi Baekhyun memegang pundaknya. Tersenyum kearah Tao lalu membimbing pemuda itu untuk menyambut uluran tangan Luhan.

Kai dan Suho tahu betul bahwa hanya pengendali waktu yang dibutuhkan oleh matahari untuk menata alam semesta ini kembali. Karena hanya waktu yang tidak pernah bisa dikendalikan oleh matahari.

“Apakah kita akan… mengembalikan segalanya?” tanya Tao pelan sekali. Ada harapan terselip disana.

Luhan mengangguk. “Hanya nyawa yang tidak bisa kembali, Tao… kita cukup memperbaiki kerusakan yang kita lakukan.”

Tao tersenyum tipis. “Benar juga, apa yang baru saja aku pikirkan… Maafkan aku.”

Semua tahu apa yang dimaksud oleh Tao. Jika memang bisa dilakukan sejak awal, tidak akan mungkin ada duka saat ini. Tidak akan mungkin ada tangisan saat ini.

“Kai.” kali ini tangan Luhan mengarah pada Kai. Ayunan tangan Luhan langsung disambung oleh Kai. Mereka berdua tersenyum tipis, sampai akhirnya tangan Kai juga terkait dengan tangan Tao. Mereka bertiga membuat lingkaran.

Kemanapun kau pergi…

Perasaanku tak akan pernah mati

Chen dan Suho mendekati ketiga pemuda tersebut. Seakan memberi semangat pada ketiga pemuda yang akan menyelesaikan segala kesalahan yang menjejak dimuka bumi. Chanyeol dan Baekhyun berdiri dibelakang Luhan. Keduanya memegang pundak Luhan. Begitupun dengan Suho dan Chen yang memegang pundak Kai.

“Kita mulai.” Kai melihat keduanya.

Luhan dan Tao mengangguk, keduanya menutup mata secara bersamaan.

Semoga kita bisa hidup didunia yang damai

Tanpa ingatan masa lalu yang membebani

 

Menjadi manusia yang baru—

Disaat itu—

Cahaya terang yang sangat suci mengelilingi mereka, tidak pernah Baekhyun melihat cahaya seindah dan sesuci itu sebelumnya hingga matanya menjatuhkan air mata. Chanyeol, Chen, dan Suho pun merasakan hal yang sama. Cahaya terang itu sangat murni tapi tidak menyakitkan mata sama sekali. Tubuh mereka mulai terangkat, tidak menyentuh tanah lagi. Disaat bersamaan, mata mereka tertutup perlahan.

Gloria…

Bergumam…

 

Servatis a periculum

 

Servatis a maleficum

 

 

[Save us from danger]

 

[Save us from evil]

Apakah ini yang terjadi jika mereka bersatu sejak awal?

 

 

Keputusasaan dan masa depan bergabung dengan harmonis dalam kegelapan

 

Aku ingin mencintai dunia yang mempesona ini sekali lagi

 

Aku sembunyikan mimpiku dalam mataku

 

Sampai hatiku tercemar…

 

Dalam perjalanan menuju cahaya

 

Aku ingin mencintai dunia yang berlumuran darah ini tanpa rasa takut

 

Menghitung hari- hari penuh tangisan yang sudah terlewati

*Kumpulan Lirik Lagu Lacrymosa- Kalafina.

 

 

Pemuda dengan paras cantik itu mengerucutkan bibir merahnya. Ia baru saja mengecek ponselnya dan mendapatkan pesan. Pesan yang dikirimkan oleh agensi yang mengasuhnya satu tahun ini. Well, seperti nya ia harus cepat karena rapat dadakan tentang kejelasan masa depannya akan segera dimulai.

“Semoga kali ini aku bisa debut.” Bisiknya penuh harap. Ia simpan kembali ponselnya dan melangkahkan kaki dengan penuh semangat. Tak terasa kaki kurus miliknya sudah memasuki gedung megah milik agensi-nya.

“Ah, annyeonghaseyo.” Sapa salah satu staf pada pemuda cantik yang menunduk sopan sebagai jawaban.

Kakinya kembali melangkah menuju ruangan yang biasa ia dan teman- temannya yang lain untuk berlatih. Namun, kali ini ia tidak tahu siapa saja yang mendapatkan pesan singkat tersebut. Ia hanya bisa berdoa agar semua yang terjadi sesuai harapannya.

“Tungguuuu!!!”

Tangan pemuda cantik yang akan membuka pintu ruangan tentu saja terhenti. Ia melihat pemuda lain yang memanggilnya tadi terengah- engah. Rambutnya berwarna coklat dan tubuhnya cukup tinggi. Wajah tampan yang ia miliki cukup berantakan karena luluhan keringan.

“…Berjanjilah..”

“Kau juga akan masuk?” tanya pemuda cantik sopan.

“…dikehidupan selanjutnya—kau harus menjawab perasaanku. Apapun—“

 

 

Pemuda tampan yang sudah mengontrol nafasnya tersenyum manis. “Namaku Sehun. Oh Sehun.”

“—apapun jawabanmu…berjanjilah, Oh Sehun.”

 

Pemuda cantik itu mengarahkan tangannya pada pemuda bernama Sehun. “Namaku Luhan.”

Mereka berjabat tangan, tersenyum satu sama lain. Tidak ada ingatan apapun tentang masing- masing. Meski kini mereka saling bertatapan, seperti mengamati wajah dihadapan mereka.

Apakah akan indah?

Benar… mereka merasa begitu dekat, entah perasaan dari mana. Seperti sudah begitu familiar dan kenal cukup lama. Namun, tidak satupun dari keduanya yang ingat akan masa lalu.

Harapan tidak akan mengkhianati

“Ehem!!!”

Baik Luhan dan Sehun langsung melepas tautan tangan mereka. Menggaruk tengkuk mereka yang rasanya sama sekali tidak gatal. Bagaimana tidak kikuk jika dihadapan mereka adalah kepala agensi tempat selama ini mereka bernaung.

“Nampaknya kalian sudah saling mengenal.” Ujar lelaki paruh baya itu dengan sunyuman ramah diwajah.

Sehun dan Luhan hanya mengangguk hormat sembari tersenyum kaku. Tidak menyangka akan bertemu dengan kepala agensi dalam keadaan seperti tadi.

“Saya harap kalian berdua juga berteman baik dengan kesepuluh anggota lainnya.”

“EH?!” Luhan merasa ia salah dengar.

“Sepuluh?” Sehun juga tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Ya…” Lelaki paruh baya itu membuka pintu ruangan sembari tersenyum menatap kesepuluh anak muda lainnya didalam sana. Mempersilahkan Sehun dan Luhan masuk kedalam. Melihat dengan jelas kesepuluh pemuda yang sudah menunggu sedari tadi. Kesepuluh pemuda yang menyambutnya dengan berbagai ekspresi.

 

Apakah aku sudah berhasil merubah takdir kita?

“…Selamat datang di EXO PLANET.”

THE END

 

 

Maaf menunggu bertahun- tahun untuk chapter ini.

Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membacanya.

Jujur aku terharu sama komen di post permintaan maaf aku. Kalian memang baik banget. Aku terharu, ini g bohong. Susah banget dapat feeling lagi kalau boleh ngaku, kadang aku masih liat- liatin EXO (Liatin Chanyeol sama Sehun maksudnya) sampai skrg meskipun aku lebih terfokus sama ZTAO.

Aku lanjutin ff ini demi kalian. Maaf jika mengecewakan. Love you.

See ya ^^

2 thoughts on “THE BETRAYED ANGEL ENDING

  1. Huwaaaaaa
    pas buka email kemaren, yakin lah kakak kedip2 g percaya berkali2 kl ini apdet
    huhuhu
    br baca sekarang, soalnya musti ngulang dari awal sih
    wkwk
    ngarepnya kemaren sih Sehun jangan mati,
    terluka parah aja gt, bonyok, tp sadar
    tapi emang g mungkin kayaknya ya
    huhuhu
    untung lah mereka bertemu lagi di kehidupan selanjutnya

    eniway, thanks banget yaaaaa udh mau namatin ff ini….
    ^_^

  2. Sumpahhhh, gak nyangka ini updateee. Nunggu bertahun-tahun akhirnya update jugaaaa T.T dan syukurlah endingnya gak mengecewakan T.T sempet nangis waktu sehun meninggal huhu T.T untung aja mereka ketemu dikehidupan selanjutnya T.T makasih banget kak udah mau ngelanjutin T.T semangat kedepannya♡♡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s